<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280</id><updated>2012-01-20T01:39:46.233-08:00</updated><category term='Festival Lagu dan Tari Ya Samman'/><category term='Bertemu Tuhan di Dalam WC'/><category term='SEDEKAH RAME BERSATU DENGAN ALAM DENGAN KESADARAN KOLEKTIF'/><category term='OPINI'/><category term='CERPEN'/><category term='KOLOM'/><category term='Audisi “Dewi Fortuna” Belum Dapat Peran Perempuan'/><category term='“Ya Samman” Tour di Tiga Kota'/><category term='Festival Tari dan Lagu “Ya Samman” Diundur 21 Juli'/><category term='Usai Konser'/><category term='Aliansi Seniman di Palembang Tolak Alifungsi Museum Tekstil Menjadi Hotel'/><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7883190794558106961</id><published>2012-01-16T21:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T21:38:37.329-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>SUFISME CALEG GAGAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemilu 9 April 2009, telah membuat sebagian calon legislatif (Caleg) yang gagal, menjadi tidak rasional. Sebagian dari mereka kemudian membuang akal sehat, dengan melakukan hal-hal diluar logika normal manusia pada umumnya. Penutupan Sekolah Dasar karena merasa berjasa atas pembangunannya, pembongkaran saluran air rakyat, karena atas bantuannya, pengambilan kembali ambal masjid yang diberikan pada masa kampaye, melarikan diri dari tanggungjawab utang piutang, sampai mengakhiri hidup dengan gantung diri. Tragis. Tetapi inilah realitas yang tengah kita hadapi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesal, kecewa akibat gagal dalam pen-calegan adalah manusiawi! Tetapi jika dirunut, semua ini akibat dari kecenderungan manusia yang selalu mengukur urusan gagal dan berhasil, dengan “logika sebab dan akibat” (kausalitas). Sehingga dalam memahami kalah-menang pemilu menjadi kalkulasi untung-rugi; berapa yang diberikan, dan berapa yang diperoleh. Ketika tidak ada kesesuaian antara pengeluaran dan pendapatan, yang timbul kemudian stress dan depresi. Atau sebagian mencurigai pihak lain; mengapa ini bisa terjadi? Ada apa dibalik kekalahan? Apakah ini rekayasa? Ada manipulasi suara? KPU yang tidak profesional? Semua cenderung menyalahkan pihak lain. Ini semua terjadi, karena sebagian caleg dan tim-suksesnya memahami realitas politik dalam perspektif kausalitas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar atau tidak, asumsi negatif terhadap hasil pemilu,  sebenarnya sudah keluar dari term politik itu sendiri, yang mengatakan; politik tidak bisa dihitung seperti matematika (bukan kausalitas). Pengamat politik selalu mengatakan; konstelasi politik tidak bisa dihitung dengan logika; satu ditambah satu sama dengan dua. Bukankah kalimat ini sudah sedemikian mengkristal bagi sekian banyak politisi kita? Lantas mengapa harus menuduh salah terhadap institusi KPU? Atau mengapa harus mengkambinghitamkan pihak lain, bila politik memang bukan rumus matematika yang menerapkan hukum kausalitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma politik non matematik dalam konteks politik ini, bila kemudian dipahami dalam konteks hakikat (bukan syariat), maka langsung atau tidak, membahas politik maka tidak lepas dari dunia sufi. Sebab, ketika politik dikatakan; tidak bisa diukur secara matematik, maka ia akan berpulang pada keyakinan terhadap kekuatan gaib diluar batas logika manusia, bukan hukum kausalitas. Ketika, dunia politik terkait dengan kesadaran sufistik, maka kegagalan caleg, sebaiknya bukan menciptakan tuduhan-tuduhan dan asumsi buruk terhadap pihak lain, justeru membangkitkan kesadaran, bahwa realitas politik tidak kemudian dipandang dari perspektif politik murni (hukum kausalitas) tetapi juga dalam perspektif norma hukum ke-gaiban langit yang selama ini sering diabaikan dalam politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan oleh Syeh Ibnu Athoillah, dalam Kitab-nya Al-Hikam, melalui Kiai Imron Jamil asal Jombang, dalam konsep tasawuf tatanan dunia, (baca; realitas politik-red) memang tidak didasari dengan hukum kausalitas. Antara sebab dan akibat merupakan kutub berbeda yang tidak berbanding lurus sebagaimana yang selama kita pahami. &lt;br /&gt;Fakta sejarah membuktikan, betapa hukum kausalitas dalam konteks politik tidak selalu berbanding lurus; setelah Habibie menggantikan Soeharto, Gus Dur menjadi presiden Indonesia.  Dalam logika politik, saat itu perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tidak signifikan untuk mengangkat Gus Dur. Secara fisik-pun, Gus Dur tidak memenuhi syarat dari kriteria presiden. Tetapi ketika Tuhan mengatakan; jadi, maka jadilah (Kun Fayakun), maka yang muncul adalah ‘akibat’ yaitu Gus Dur menjadi presiden, meskipun tanpa ‘sebab’ politik yang rasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun dalam perjalanan waktu, Tuhan kemudian menciptakan keduanya. (Sebab dan akibat). Gus Dur jatuh oleh parlemen sebagai ‘akibat’ dugaan terlibatnya Gus Dur dalam kasus Bruneigate. Walapun saat itu, Mahkamah Agung sudah menyatakan Gus Dur bebas dari  Bruneigate, tetapi ketika Tuhan berkehendak Gus Dur harus turun (sebagai akibat), maka melalui Dekrit Presiden, Gus Dur lengser, kemudian mengusung Megawati naik menggantikan presiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ranah politik dipahami dalam perspektif sufistik, maka akan menguatkan pemahaman, ‘kebijakan langit’ tidak menciptakan realitas dunia dengan hukum kausalitas. Tuhan menciptakan sebab dan akibat dengan ruang yang berbeda. Tidak setali tiga uang. Analoginya, sebab sebagai kutup positf, dan akibat sebagai kutub negatif.  Ketika dalam realitas politik beberapa caleg yang gagal mempertemukan keduanya (positif-negatif), yang terjadi kemudian bukan terangnya bola lampu neon dan cerahnya batin dan pikiran caleg, melainkan menjadi dua kutub yang konsleting atau terjadinya hubungan arus pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, depresi, stress atau lebih parah lagi, sampai bunuh diri. &lt;br /&gt;Padahal diluar kesadaran, sebagian caleg sering begitu ringan mengatakan; manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Tetapi dalam banyak hal, ketika hasil jerih payah tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanannya, sebagian kita kemudian sering menuduh atau mencurigai pihak lain yang salah. Dan yang lebih parah lagi, sebagian kita berburuk sangka kepada Sang Pengatur Bumi. Ketika ini terjadi, ada nilai ketauhidan, yang bergeser, walau sehelai rambut sekalipun. Akhirnya berlari ke dukun dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kegagalan caleg ini, ada tiga hal yang perlu menjadi bahan renungan. Pertama; dalam kebijakan langit ada yang disebut nilai kepantasan. Artinya bagi caleg yang gagal, adalah kepantasan lebih baik di mata Tuhan, (bukan dimata manusia), ketimbang harus duduk di parlemen tetapi banyak mudharat bagi yang bersangkutan. Dengan kata lain, kegagalan akan menjadi nikmat dan rahmat, ketika kagagalan dijadikan sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan terhadap caleg gagal, agar terhindar dari peluang berbuat dosa (korup) atau membohongi rakyat. Logikanya, kalau anak kita sedang sakit pilek, maka kita tidak akan membelikan minuman es, meskipun anak kita sampai menangis. Kita melarang karena kita sayang dan takut pilek anak kita bertambah parah. Pelarangan minum es terhadap anak kita juga bagian pemeliharaan kita, supaya anak kita tidak bertambah sakit. Kita ingin anak kita sembuh dan sehat. Pun demikian halnya kebijakan langit. Ketika sebagian caleg gagal duduk di parlemen, sebenarnya Tuhan sedang mencegah, supaya pileknya para caleg tidak lebih parah dari sebelumnya. Tugas caleg gagal adalah, bagaimana menyembuhkan pilek-nya agar dikemudian hari lain di mata Tuhan mendapat posisi kepantasan untuk duduk di parlemen. Kita sering menganggap diri kita pantas menjadi mahluk yang berhak mendapat kedudukan, jabatan dan kekayaan, tetapi kita sendiri tidak pernah sadar bagaimana kita harus lebih dulu memantasi diri untuk menjadi hamba yang terpilih di mata Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; Pengorbanan yang telah diberikan, seharusnya dimaknakan kecintaan Tuhan terhadap seorang hamba, bukan malah sebaliknya. Banyaknya harta yang telah dikeluarkan dalam kampaye, telah menjadi sarana Tuhan untuk melakukan pencucian harta di rumah kita, yang mungkin selama ini ada hak orang lain, tetapi tidak pernah kita berikan. Gagal dan banyaknya korban materi untuk rakyat, adalah bahasa langit untuk memaksa hamba, agar bersedia mengeluarkan hartanya untuk orang lain, yang selama ini di tahan di dalam rumah. Mengutip Andrea Hirata dalam Novel Laskar Pelangi ; yang seharusnya kita bangkitkan adalah, bagaimana kita bersiap diri untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan bersiap diri untuk menerima sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketiga; kerugian berkorban materi untuk rakyat pada masa kampaye, bukanlah menjadi sesuatu yang merugikan. Mengapa harus merasa rugi berbuat baik pada masa kampaye? Toh, ketika kita lahir juga telanjang. Maka, menjadikan pengorbanan dan kegagalan caleg untuk kembali pada ketelanjangan rohani di hadapan Tuhan, akan menjadi lebih berarti ketimbang sekedar keluhan dan penyesalan. Ketika kebaikan dan pengorbanan di-ikhlaskan sebagaimana kita membuang air besar (tidak diingat dan tidak disebut-sebut), maka kebaikan itu akan menjadi istana surga, melebihi dari sekedar kedudukan sebagai anggota parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; bagi yang lolos menjadi anggota dewan, Tuhan sedang memberi tugas kepada mereka menjadi panitia bumi di parlemen, untuk ikut mengelola negara dan mewakili rakyat. Ketika nanti anggota dewan tidak memegang amanat, maka suatu ketika Tuhan dengan secepat kilat akan segera memecat panitia di parlemen dengan membenturkan mereka pada kasus korupsi, pembakalan hutan, suap menyuap tender dan lain sebagainya. Melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tuhan akan mamnjangkan tangan-Nya di bumi. Demikianlah, bahasa Tuhan untuk mempertemukan kembali seorang hamba yang lupa amanat, agar kembali ke pangkuan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, apapun hasil dari semua perjalanan kampaye 2009, berhasil atau gagal sebaiknya dihadapi dengan kecintaan kepada Sang Maha Pencipta. Sehingga baik dan buruk dari hasil jerih payah, bukan membuat lalai dengan amanat-Nya, tetapi mengantarkan kita pada ketaatan dan kedekatan, bukan pada pengingkaran Tuhan. Kita mempunay kewajiban untuk terus berjuang, berdoa dan berihtiar, tetapi soal hasil akhir, kapan, dimana, jumlahnya berapa, itu bukan urusan kita. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTN Karang Asam&lt;br /&gt;Tanjung Enim, 17 April 2009 &lt;br /&gt;*) Penulis adalah Pekerja Seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7883190794558106961?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7883190794558106961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7883190794558106961&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7883190794558106961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7883190794558106961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2012/01/sufisme-caleg-gagal.html' title='SUFISME CALEG GAGAL'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-5287530571914201535</id><published>2012-01-03T01:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T02:01:03.811-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-MBv01mUVvmw/TwLRl7sYfVI/AAAAAAAAAV0/0RBo3OKmb54/s1600/262627_1403132496191_1768734220_643852_433821_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-MBv01mUVvmw/TwLRl7sYfVI/AAAAAAAAAV0/0RBo3OKmb54/s320/262627_1403132496191_1768734220_643852_433821_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693343328558939474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namaku Ibnu Hajar. Tapi orang lebih suka memanggilku dengan nama singkat ; Benu, alias : B-e-en-u, Benu. Panggilan yang sebenarnya tidak terlalu rela kudengar. Tapi, sepertinya, orang lebih enak menyebut Benu, ketimbang harus memanggilku dengan Ibnu. &lt;br /&gt;Sekali lagi, namaku Ibnu, kenapa menjadi Benu? Ah, dasar memang! Sepertinya, realitas kita memang sudah memicu orang semaunya memilih jalan hidup, termasuk memanggil atau menyebut nama orang. Sekedar satu detik untuk mengatup bibir pada huruf 'b' saja sudah tidak mau, apalagi untuk melakukan perubahan. Ah, wajar saja kalau kemudian banyak orang terdidik untuk memilih hidup dengan logika lompat katak.&lt;br /&gt;"Logika lompat katak?" tanya Ibu pada suatu ketika. &lt;br /&gt;"Iya, Bu,"&lt;br /&gt;"Apa itu?"&lt;br /&gt;"Ya, kenyataan kita saat ini, Bu. Hidup mau enak, punya uang banyak, pakaian mau bagus, tetapi kerja keras tidak mau. Akhirnya menjalani hidup selalu potong kompas, menyuap, menyogok, membunuh, merampok. Dan Anehnya, Bu. Hidup seperti katak ini bukan saja dilakoni oleh orang bawah, tetapi juga para atasan kita."&lt;br /&gt;"Ah, masa begitu, Nak?"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Bener, Bu!" jawabku meyakinkan. &lt;br /&gt;"Kalau tidak percaya, nih Ibu Baca koran pagi ini. Politik Uang marak, menjelang Pemilihan Walikota. Dan ada lagi Bu, Menjelang Suksesi, Gubernur bagi-bagi uang Siluman."&lt;br /&gt;"Lho, itu kan demi kebaikan, Nak."&lt;br /&gt;"Ya, kebaikan untuk LPJ-nya. Besok atau Lusa, kita dibuatnya lapar lagi, Bu. Itu sama saja potong kompas, sama seperti hidupya katak. Lompat sana-lompat sini. Jadi mereka itu, Bu, tak ubahnya seperti katak."&lt;br /&gt;"Hus, jaga mulutmu!" hardik Ibuku rada marah.&lt;br /&gt;Ibu, kembali merajut kain. Aku masih bercerita tentang apa saja, yang aku suka.&lt;br /&gt;Namaku masih Ibnu, dipanggil orang dengan Benu!. Tahun 80-an, aku tinggalkan sekolah. Padahal, kata orang, sekolahku adalah bagian dari penjara suci di negeri ini. Tapi aneh, tempat-tempat yang selama ini kuanggap suci, sakral, atau orang-orang yang kuangap tak pantas melakukan tindakan kekerasan dan keji, justeru telah mengguruiku menjadi manusia amoral.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? sejak sekolah, guruku sudah mengajari aku dengan kekerasan. Memukul, menjemur, menendang, bahkan salah seorang teman ada yang tangannya disundut rokok, hanya gara-gara lupa mengerjakan Pe-er.&lt;br /&gt;"Puih! Sekolah macam apa itu!" aku mengumpat.&lt;br /&gt;Makanya, sejak ia keluar sekolah, temanku itu, sampai sekarang, menjadi manusia pendendam, suka melakukan kekerasan terhadap teman sendiri. Kalau ini yang terus terjadi, berarti, sekolah hanya akan menciptakan manusia yang siap akan menjajah manusia lain. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus merdeka dari penindasan siapapun. Guru, pejabat atau presiden sekalipun tidak boleh dan tidak berhak menjajah siapapun. Kalau semut saja bisa menggigit, kenapa aku harus diam?&lt;br /&gt;Masih tahun 80-an. Aku keluar dari asrama, yang dianggap orang-orang sebagai penjara suci itu.&lt;br /&gt;Bukan lantaran aku tidak lagi butuh Tuhan, atau karena aku berniat untuk memprotes kebijakan Tuhan, tetapi justeru karena para guru di sekolahku telah keluar dari aturan Tuhan. &lt;br /&gt;Tahun kedua, menjelang aku keluar, di sekolahku sudah dibangun ratusan kamar VIP. Kamar ini diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya, yang sudah tentu hidup serba enak dan tidak siap hidup susah di asrama. Belum lagi satu tahun berjalan, di sekolahku sudah terjadi kelompok-kelompok, antara kaya dan miskin. Antara penghuni kamar VIP dan penghuni kamar kelas gembel sepertiku. Bahkan, di dalam kelas-pun, murid-murid menjadi terbelah-belah. Barisan penghuni kamar VIP berbanjar dengan VIP. Sebaliknya penghuni kelas gembel berbanjar dengan kelas gembel. Padahal Tuhan tak membeda-bedakan antara satu sama lain.&lt;br /&gt;"Oi, kalian tak perlu berpisah-pisah seperti itu. Disini kita sama, dia makan nasi, kita makan nasi, tidak ada yang berbeda," teriakku suatu kalis aat istirahat siang, tanpa berniat sama sekali untuk menidentifikasi diri sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;Tapi, aku hanya sendiri. Hanya beberapa kawan saja yang kut mendukung aksi protes, untuk segera menutup kamar VIP. Bahkan sikap bersama, dari Wali murid kelas gembel yang menolak kamar VIP, tak juga merubah sistem di sekolahku. Kesenjangan antara kelas VIP dan kelas gembel terus terjadi.&lt;br /&gt;Sentimen psiklogis dan juga jurang materi tak bisa dihindarkan, bahkan makin menular kemana-mana. Muncullah di sekolahku dua buah kantin. Kantin VIP dan kantin sederhana. Ternyata sekolahku makin detik makin parah. Dan pagi usai shalat subuh, aku kabari Ibu bahwa aku tidak lagi sekolah.&lt;br /&gt;"Bu, aku ingin sekolah di dalam WC."&lt;br /&gt;"Ah, macam-macam saja kamu, Nak! Kenapa mesti di WC, sekolah lain kan banyak?"&lt;br /&gt;"Iya, Bu. Sekolah lain mungkin tak jauh berbeda. Ada kesenjangan. Ada perkelahian. Ada suap menyuap untuk menambah nilai, atau masih saja ada penjajahan manusia atas manusia. Tanpa ada buku, guru mengancam tidak meluluskan ujian. Dan di sekolah, guru bukan manusia yang disegani lagi, tetapi menjadi monster yang menakutkan, seperti boneka jaelangkung."&lt;br /&gt;"Lantas apa yang akan kau peroleh, jika sekolah di dalam WC?". &lt;br /&gt;"Di WC, aku temukan persamaan hak antara si gembel dengan pejabat, Bu. Tak akan ada yang berak mengeluarkan emas atau perak, tapi tai, t-a-i. Ya semua, bukan kelas gembel atau pejabat, semua t-a-i."&lt;br /&gt;"Terus, selain itu, di dalam WC, tidak akan lagi kutemukan kesejangan miskin atau kaya, sejak kelas pinggiran sampai kelas presiden, tak ada yang berak sambil berdiri, semua jongkok atau duduk."&lt;br /&gt;Ibu sesaat tersenyum. "Ada-ada saja kau ini, Nak."&lt;br /&gt;"Kenapa Ibu mesti tersenyum, ini kenyataan lho, Bu.". &lt;br /&gt;"Iya, Ibu tahu, tapi kok kedengaranya lucu."&lt;br /&gt;"Memang Bu, ini lucu bagi siapa saja yang tidak pernah berpikir filosofi di dalam WC."&lt;br /&gt;Ibu makin tertawa; "WC kok dibuat Filosofi."&lt;br /&gt;"Lho, kenapa tidak, Bu. Aku masih ingat Bu, apa yang Ibu katakan, Nak jadikan setiap mahluk itu guru, dan setiap tempat itu sekolah. Makanya, di dalam WC-pun aku akan sekolah."&lt;br /&gt;Ibuku makin penasaran, kenapa aku memilih sekolah di dalam WC. Dan saat itu, aku belum tahu benar, apakah Ibu mengizinkanku atau tidak. &lt;br /&gt;"Supaya Ibu tahu, kenapa aku meminta izin sekolah di dalam WC, karena di dalam WC aku merasa terdidik untuk disiplin. Sebab aku tidak akan berlama-lama melamun di dalam WC, kalau mamang aku selesai membuang tai. Sebab, Ibu pernah bilang, Nak, hidup ini tidak akan selesai dengan lamunan. Oleh sebab itu, Bu, aku juga tidak mau berlama-lama di dalam WC. Itu namanya disiplin Bu"&lt;br /&gt;"Karena alasan itu, lalu kau ingin sekolah di dalam WC?"&lt;br /&gt;"Ada lagi, Bu! Di dalam WC, aku dididik untuk tidak menciptakan fitnah. Sebab, setiap aku selesai berak, aku kan harus membersihkan kotoran. Ini artinya sama seperti yang pernah Ibu katakan padaku, Nak jangan sebarkan kotoran dan fitnah dimanapun kamu bermukim.". &lt;br /&gt;"Dan terakhir, Bu. Ini yang mungkin tidak pernah dirasakan banyak orang."&lt;br /&gt;"Apa itu?"&lt;br /&gt;"Di dalam WC, aku menemukan kebesaran Tuhan.". &lt;br /&gt;"Hei, kenapa Tuhan kau bawa-bawa dalam WC!" Ibuku agak tersinggung.&lt;br /&gt;"Jangan marah dulu, Bu. Ibu kan pernah bilang, Tuhan menebar pelajaran dimana-mana. Dan menurutku, di dalam WC pun, Tuhan sedang memberi simbol kebesaran-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat, Ibu menghentikan merajut kain. Keningnya mengerut. Pertanda Ibu masih penuh tanda tanya. Aku menggeser lalu lebih mendekat dari posisi Ibu.&lt;br /&gt;"Begini, Bu, aku tidak bisa membayangkan, berapa besar biaya untuk berobat bagi orang yang dalam tiga hari tidak bisa berak. Akan berapa juta rupiah harus dikeluarkan, jika aku ini tidak bisa mengeluarkan tai dari dalam perut! Makanya, setelah selesai berak, aku ingat kata-kata ibu, Nak sering-sering bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dan buatku, satu hari bisa berak satu kali saja adalah bagian kebesaran Tuhan yang patut kunikmati dan kusyukuri. Itulah, Bu, kenapa aku saat ini memilih untuk sekolah di dalam WC. Di WC kutemukan kedamaian, tidak ada protes, tidak ada suap menyuap, tidak ada pertengkaran, yang ada hanya kerelaan untuk duduk sesaat, membuang kotoran, demi kesehatan tubuh kita."&lt;br /&gt;"Ibu tidak setuju!"&lt;br /&gt;Aku terperanjat. &lt;br /&gt;"Kenapa, Bu, Kenapa?!"&lt;br /&gt;"Jangan kau sekolah di dalam WC, tapi masuklah ke dalam Kakus."&lt;br /&gt;Aku masih binggung &lt;br /&gt;"Apa bedanya WC dengan kakus Bu."&lt;br /&gt;"WC ada di setiap tempat termasuk di hotel-hotel dan rumah-rumah mewah, sementara kakus hanya ada di dusun dan pinggir sungai.". &lt;br /&gt;"Maksud, Ibu?"&lt;br /&gt;"Nak, di dalam WC itu ada tisu, ada mesin pengering tangan, ada sabun, ada sikat dan peralatan moderen, yang banyak diproduksi oleh para pemilik modal.". &lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Jangan kita tergantung pada para pemilik modal itu hanya gara-gara soal asesoris WC. Makanya, kalau kamu sekolah di dalam WC nanti akan lupa dengan kedamaian dan kebebasan kakus yang keluar dari ketergantungan. Modalnya hanya penutup kain dan jongkok, lain tidak."&lt;br /&gt;"Supaya tidak tergantung dengan peralatan WC, aku harus bagaimana, Bu?"&lt;br /&gt;"Ya, rebut pabriknya dan kuasai!"&lt;br /&gt;"Lalu?!"&lt;br /&gt;"Lalu bangun dan tebar kakus di setiap tempat, dan ajari mereka bagaimana membuat alat pembersih kakus. Kalau itu sudah kau rebut, nak, tak akan ada lagi penjajahan manusia atas manusia, tak ada lagi ketergantungan kita pada pemilik modal, kita akan mendiri, dan tiadk akan ada lagi kesenjangan. Yang ada hanya kedamaian, sama seperti kedamaian kita di dalam kakus."&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar ajaran Revolusi WC dari Ibkuu. Aku baru sebatas menyerap Filosofi WC tapi Ibuku sudah sampai pada Revolusi WC. &lt;br /&gt;Tiba-tiba perutku mual."Aduh Bu, perutku, perutku."&lt;br /&gt;"Kenapa perutmu, Nak?"&lt;br /&gt;"Aku...aku kebelet Bu. Aku mau ke WC, eh... ke kakus Bu."&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dari dalam WC. Pukul : 03. 59 WIB &lt;br /&gt;Palembang, 4 Mei 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;br /&gt;Harian Pagi Sumatera Ekspres &lt;br /&gt;Palembang  Tahun 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-5287530571914201535?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/5287530571914201535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=5287530571914201535&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5287530571914201535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5287530571914201535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2012/01/bu-ijinkan-aku-sekolah-di-dalam-wc.html' title='Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-MBv01mUVvmw/TwLRl7sYfVI/AAAAAAAAAV0/0RBo3OKmb54/s72-c/262627_1403132496191_1768734220_643852_433821_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-4628366915007323488</id><published>2011-12-26T21:23:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T21:32:11.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Persahabatan Mati Lampu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VpQrRD60R9o/TvlXuOz7rcI/AAAAAAAAAVA/AAQt-RnDz9U/s1600/idea-lamp.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 274px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VpQrRD60R9o/TvlXuOz7rcI/AAAAAAAAAVA/AAQt-RnDz9U/s320/idea-lamp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690676055920848322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, di tahun 2002, saya lupa bulan apa. Di Er-Te saya sedang mendapat giliran mati lampu. Dan sebelumnya, PLN memang sudah memberitahu tentang giliran mati lampu ini,  sekalipun, tidak jarang pemberitahuan itu melenceng dari jadwal. Nah, menurut jadwal giliran, seharusnya malam itu di Er-te saya tidak mendapat giliran mati lampu. Oleh karena meleset dari jadwal itulah, kemudian beberapa warga uring-uringan, marah-marah, kesal dan lain sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di sisi lain, saya juga melihat, beberapa warga keluar dari rumah, menuju warung membeli lilin, ada juga yang tandhang atau mencari sahabat ke rumah tetangga. Saya melihat, mereka kemudian berkumpul, sambil menunggu hidupnya lampu, dengan ngobrol dan bercengekarama seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis, anda masuk di bagian mana. Apakah anda masuk di kelompok yang marah-marah dan kesal, atau masuk kelompok orang yang biasa saja menghadapi mati lampu. &lt;br /&gt;Nah, dari peristiwa mati lampu, sebenarnya ada nilai yang mungkin selama ini tidak pernah kita pikirkan, tetapi justeru muncul di saat mati lampu. Mungkin, selama ini kita selalu disibukkan oleh bermacam aktifitas kantor atau pekerjaan keseharian. Sehingga, sepulang dari kantor, anda tidak pernah melakukan silaturahmi ke para tetangga, karena sudah terlalu lelah dengan pekerjaan satu hari penuh. Demikian juga, oleh karena kita sering berbelanja di Supermarket, anda pun sangat jarang membeli lilin di warung tetangga, yang mungkin membutuhkan keuntungan dari tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang saya katakan, dari mati lampu, ada nilai dan pesan sosial yang mungkin selama ini kita lupakan. Sebab, dari mati lampu, dalam masing-masing warga tiba-tiba muncul semangat kebersamaan untuk berkumpul dengan tetangga,  berbagi kesejahteraan dengan warung sebelah dengan membeli lilin, atau bahkan kita pun memiliki emosi yang serupa, yaitu kekesalan terhadap musuh yang sama yaitu : mati lampu.( baca; kegelapan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa di saat mati lampu kemudian kita berkumpul, mengerubungi lilin atau lampu minyak? Atau kenapa pula di saat mati lampu kita kemudian lebih memilih mencari teman ngobrol, ketimbang tidur-tiduran di dalam kamar sendirian? Apalagi alasannya, kalau bukan karena anda, saya dan kita tidak menginginkan adanya kegelapan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tetapi, semangat kebersamaan  dan menyatu dalam satu gerakan emosi, dalam kisah mati lampu, tidak pernah kita petik, untuk kemudian tetap kita lestarikan dalam kedirian kita.   Selama ini tidak menginginkan rumah kita gelap, tetapi kita  sering berdiam diri di rumah masing-masing yang berpagar tinggi, atau di kamar masing-masing tanpa berfikir, kalau sebenarnya kita membutuhkan sahabat, yaitu orang lain. Setelah kegelapan itu hadir di depan mata, kita baru tersadar, bahwa kita sedang berada dalam kegelapan dan tidak ingin sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati lampu, ternyata bukan sekedar mendorong kita untuk sebatas marah terhadap PLN, tetapi ada nilai dan pesan sosial yang mesti diajarkan pada hati dan pikran kita, yaitu semangat kebersamaan, untuk melawan kegelapan. Apakah kegelapan di rumah kita, kegelapan di dalam dada kita, di dalam hati nurani kita atau bahkan kegelapan dalam sistem bangsa dan ketatanegaraan kita. Mestikah kita membiarkan kegelapan, jika kita bisa membeli lilin dan mengumpulkan kayu bakar dalam satu “ikatan api” kebersamaan untuk melawan kegelapan? **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-4628366915007323488?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/4628366915007323488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=4628366915007323488&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/4628366915007323488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/4628366915007323488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/12/persahabatan-mati-lampu.html' title='Persahabatan Mati Lampu'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VpQrRD60R9o/TvlXuOz7rcI/AAAAAAAAAVA/AAQt-RnDz9U/s72-c/idea-lamp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3643563274805825050</id><published>2011-12-26T21:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T21:23:28.615-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Jangan Usir Ayam Di Ruang Tamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-gP-PX15mdHA/TvlVvEhEzhI/AAAAAAAAAU0/bSk8Sf1LF2o/s1600/anak%2Bayam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gP-PX15mdHA/TvlVvEhEzhI/AAAAAAAAAU0/bSk8Sf1LF2o/s320/anak%2Bayam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690673871314013714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya atau juga anda, mungkin lebih sering memilih mengusir ayam dari dalam rumah, ketimbang membiarkannya. Setiap orang, selalu tidak rela jika ada seekor ayam masuk ke dalam rumah. Di teras pun, saya atau juga anda akan cepat-cepat mengusir dengan kasar, tanpa mengetahui tujuan ayam masuk ke rumah kita. Kenapa kita selalu cenderung mengusir ayam dari dalam rumah? Sebab yang pasti, karena kita, selalu berprasangka buruk terhadap ayam yang masuk ke rumah kita. Prasangka itu  muncul, karena kebanyakan kita, tidak pernah tahu data ghaib dari Tuhan tentang apa niat ayam masuk ke dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kita selalu khawatir, jangan-jangan ayam itu akan berak sembarangan, dan mengotori lantai. Kenyataan perilaku ayam yang selalu berak sembarangan di lantai rumah kita, kemudian menjadi satu persangkaan buruk bagi setiap ayam. Padahal, anda atau juga saya tidak mau dikatakan, semua manusia itu jelek. Sama juga ayam, kalau saja kita mengetahui bahasa ayam, maka ayam pun akan protes kalau dikatakan, semua ayam itu jelek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ayam ini saya punya kisah sendiri. Tahun 2002, satu hari menjelang Hari Raya Idul Adha, saya berkunjung ke rumah Kiai Abdul Madjid di Tanjung Enim. Seperti tuan rumah pada umumnya, Kiai Majid begitu hormat menyambut saya. Semula saya diam. Saya hanya mendengarkan perbincangan sederhana, antara Kiai Madjid dengan tamu yang datang lebih dulu dari pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah asyiknya perbincangan, seekor ayam masuk ke ruang tamu, persis di tempat kami sedang berbincang. Semula saya akan mengusir ayam itu. Tetapi dicegah oleh Kiai Madjid. Ayam itu kemudian berjalan tanpa beban ketakutan. Sementara Kiai Madjid masih berbincang dengan tamu, saya mengamati ayam, sambil di benak saya bertanya-tanya kenapa Kiai Madjid melarang saya mengusir ayam dari ruang tamunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, ayam betina yang masuk ke dalam ruang tamu dibiarkan saja. Merasa tidak diusik, ayam ini tiba-tiba mendekat, persis di samping Kiai Majid duduk. Ia memosisikan diri, seperti hendak bertelur di sebuah sarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari mengepulkan asap rokok-nya, Kiai Majid hanya melirik, gerangan apa yang akan dilakukan oleh ayamnya ini. Saya juga ikut mengamati. Kiai Majid tak sedikitpun mengusik ulah ayam yang ada di sampingnya. Tak lama kemudian, ayam ini melompat dari atas kursi, dan keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Majid tersenyum puas, di saat melihat satu butir telur ada di samping duduknya. Ternyata, tidak selamanya, ayam masuk ke dalam rumah akan mengotori dan mengeluarkan tinja. Terbukti, ayam Kiai Majid memberi satu butir telur bukan tinja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku ayam Kiai Majid, paling tidak telah menyadarkan kita pada nilai kemanuisaan kita, yang sering mendahulukan prasangka buruk dari pada prasangka baik kepada orang lain. Secara sadar atau tidak, ayam Kiai Majid, telah mengingatkan kita, untuk memupuk berpikir positif atau dalam bahasa agamanya khusnuzhon, berbaik sangka kepada siapapun, termasuk juga pada ayam. Sebab, selama kita mendahulukan sikap buruk sangka, maka selama itu pula kita akan disiksa oleh perasaan kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah ini, saya hanya akan menyampaikan pesan dari ayam Kiai Majid, kalau ayam saja bisa memberikan yang terbaik bagi manusia, berupa telur, kenapa kita, yang jelas-jelas manusia, tidak atau bahkan lupa untuk memberi yang terbaik kepada sesama. Padahal, Tuhan sudah menyatakan,  Tidaklah engkau akan sampai pada kebaktian atau ketaatan yang sempurna, sebelum engkau memberikan sesuatu yang terbaik..” Mungkin, kita memang harus lebih banyak belajar lagi dari ayamnya Kiai Majid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Enim, Idul Adha 1423 H  / 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3643563274805825050?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3643563274805825050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3643563274805825050&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3643563274805825050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3643563274805825050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/12/jangan-usir-ayam-ddi-ruang-tamu.html' title='Jangan Usir Ayam Di Ruang Tamu'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gP-PX15mdHA/TvlVvEhEzhI/AAAAAAAAAU0/bSk8Sf1LF2o/s72-c/anak%2Bayam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-65040477118658197</id><published>2011-12-26T21:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T21:11:32.266-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Dialog Sungai</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-tIYlfhkAl7E/TvlSwwtdoyI/AAAAAAAAAUo/TlM503GkWAY/s1600/sungai-musi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 314px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tIYlfhkAl7E/TvlSwwtdoyI/AAAAAAAAAUo/TlM503GkWAY/s320/sungai-musi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690670601822118690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya dan teman-teman se-profesi, menyusuri Sungai Musi Palembang. Sekalipun melibatkan unsur pimpinan menejemen, tetapi, perjalanan ini, sifatnya, berjalan santai.  Ibarat orang sedang mencari angin, diluar tempat kerja, tanpa schedule, tanpa jam dan batas waktu yang jelas. Katanya, acara jalan-jalan ini sebagai salam kesan dan pesan dari salah satu pimpinan kami yang akan meninggalkan Palembang. Tetapi justeru inilah, yang mebuat saya dan teman-teman, dapat dengan bebas--untuk memaknai perjalanan, dengan segala penglihatannya, baik secara dhohir, maupun batin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh pagi menjelang siang,  kami berangkat dari Dermaga Benteng Kuto Besak. Terus menyusuri beberapa perkampungan pinggir Sungai Musi, ke arah Pulau Kemaro.  Sejak awal keberangkatan, saya sengaja berada diatas atap perahu. Sehingga, saya bisa menikmati alam secara bebas tanpa sekat apapun. &lt;br /&gt;Suatu ketika,  perahu yang saya tumpangi berlintasan dengan sebuah perahu kecil tanpa mesin, yang banyak disebut orang dengan sampan.  Diatas sampan itu, ada dua orang yang sedang menggayuh dayung. Dan ketika sampan itu  tinggal beberapa meter akan berlintasan dengan kami, seketika itu juga si pengemudi perahu mesin yang kami tumpangi, tiba-tiba menurunkan gas. Dengan sendirinya, kecepatan perahu kami berkurang.  Dan beberapa detik kemudian, setelah berlalunya sampan itu, si pengemudi, kembali menarik gas-nya dan kecepatannya kembali normal. &lt;br /&gt; Melihat peristiwa ini, ada tanda tanya yang kemudian muncul di benak saya. Karena saya awam  terhadap “pergaulan” air, maka saya tanyakan pada awak perahu. Saya turun dan mendekati tukang perahu.&lt;br /&gt; “Mas, kenapa waktu waktu kita berpapasan dengan sampan tadi, parahu kita harus direm gasnya?” tanya saya kepada si tukang perahu.&lt;br /&gt; “O, Itu memang sudah biasanya seperti itu, Pak. Setiap kali ada perahu besar atau perahu mesin yang berlintasan dengan perahu kecil, yang lebih besar harus mengurangi gasnya. Kalau tidak direm gas-nya, nanti sampan kecil itu bisa oleng kena ombak perahu besar, bisa-bisa sampan itu terbalik dan karam,” jawab si tukang perahu.&lt;br /&gt;Kisah ini memberi satu pelajaran lagi bagi hati dan pikiran kita. Ternyata, diatas air ada etika dan hukum tidak tertulis yang sudah menjadi kesepakatan bersama antara pengemudi perahu mesin dengan sampan. Kenyataan “pergaulan sampan dan perahu mesin” menggambarkan betapa berharganya sebuah kesepakatan tidak tertulis, tetapi justeru dapat membentuk satu kesantunan peradaban air. Kenapa saya sebut sebuah kesantunan? Karena pergaulan sebagaimana perahu mesin dan sampan, hampir sangat jarang ditemui dalam  pergaulan di darat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau meminjam bahasa Budayawan Emha Ainun Nadjib, mungkin saya, atau anda sering melihat bagaimana peradaban kendaraan di darat, yang lebih mengutamakan pada kesadaran gas dari pada kesadaran rem. Tetapi, diatas Sungai Musi, justeru sebaliknya, mengedepankan kesadaran rem, dari pada kesadaran gas.  &lt;br /&gt;Kesadaran rem seorang pengemudi perahu yang kami tumpangi, sekaligus mewakili keinginan penumpang, yaitu keinginan selamat secara bersama-sama, dan berharap untuk tidak tenggelam ke dalam Sungai Musi. Kesadaran untuk saling menyelamatkan antar satu sama lain inilah, yang  saat ini seakan mulai pudar. Kalaupun  ada, paling-paling hanya kesepakatan untuk saling menyelamatkan dari jeruji penjara.&lt;br /&gt;Mungkin, karena kita tidak belajar dari kesantunan peradaban sungai ini, kemudian yang muncul dari kedirian kita adalah kegersangan. Muara kecil dalam diri kita yang bernama “hati nurani”, tak pernah kita dialiri oleh  kesantunan air, sehingga, dalam keseharian, kita memilih untuk saling mendahukukan emosional kita, merasa ingin menang sendiri, atau merasa paling benar sendiri, lantas mengantarkan kita pada kecenderungan, untuk selalu memandang rendah dan salah pada orang lain.  &lt;br /&gt;Kenyataan ini, tentu sebagai akibat dari kealpaan kita  untuk berdialog dengan air.  Air, tak pernah lagi kita ajak bersentuhan dengan muka kita dan hati kita. Komunikasi dengan siraman air rohani, juga sering kita putuskan.  Air muka persahabatan pun sering kita libas dengan persoalan materi. Bahkan, air mata pengakuan kesalahan, tak lagi kita tumpahkan dihadapan Tuhan.  &lt;br /&gt;Kalau tukang perahu dan sampan saja bisa belajar dari peradaban dan kesantunan aliran air Sungai Musi, kenapa kita tidak?**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-65040477118658197?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/65040477118658197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=65040477118658197&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/65040477118658197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/65040477118658197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/12/dialog-sungai.html' title='Dialog Sungai'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tIYlfhkAl7E/TvlSwwtdoyI/AAAAAAAAAUo/TlM503GkWAY/s72-c/sungai-musi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3475848784598140048</id><published>2011-08-18T23:41:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T23:45:31.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Bidadari itu dibawa Jibril</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-TMoMiyIHKaA/Tk4F3_ZbkeI/AAAAAAAAARw/E7Qh4FfkfLQ/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 286px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-TMoMiyIHKaA/Tk4F3_ZbkeI/AAAAAAAAARw/E7Qh4FfkfLQ/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642453842610852322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;oleh A. Mustofa Bisri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;***Rembang, Akhir Ramadan 1423&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3475848784598140048?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3475848784598140048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3475848784598140048&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3475848784598140048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3475848784598140048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/08/bidadari-itu-dibawa-jibril.html' title='Bidadari itu dibawa Jibril'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-TMoMiyIHKaA/Tk4F3_ZbkeI/AAAAAAAAARw/E7Qh4FfkfLQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1976106784027871808</id><published>2011-08-18T23:26:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T23:40:08.361-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>"Cerita Tiga Kata” Benny Arnas, Cerpen Koran Paling Mutakhir “Pada Sebuah Pagi” : Kajian Feminisme dalam Sastra Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VGm6Gal2skc/Tk4EHMSeLUI/AAAAAAAAARo/dHcVzPTsE8A/s1600/azhari-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 314px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VGm6Gal2skc/Tk4EHMSeLUI/AAAAAAAAARo/dHcVzPTsE8A/s320/azhari-01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642451904746106178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Muhammad Azhari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memahami cerpen “Pada Sebuah Pagi” karya Benny Arnas, bertema perempuan sebagai salah cerita pendek terpilih yang dimuat di Harian Pagi Sumatera Ekspres, Minggu 17 Juli 2011, menandai babak baru dalam penulisan prosa fiksi populer di media massa cetak di Indonesia yang sarat dengan atmosfer “tawar menawar” terhadap realitas ruang dan waktu. Fenomena yang tersirat di antara tiga kata seakan  melengkapi dan memperkukuh eksperimen penulis terhadap kecenderungan paling mutakhir dalam penulisan cerita pendek menjadi cerita (sangat) pendek.              &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks cerita, temanya identik dengan dunia tawar-menawar. Tak jarang, “perempuan” kerap menawar barang—sekalipun mempunyai harta lebih—dan sudah mencapai harga minimal. Jika tidak menawar, perempuan akan dianggap melawan kodrat dan budaya menerima segala bentuk penindasan. “Ibu muda menawarnya. 2500 saja, katanya. Gadis kecil bertahan. Ibu muda menyeringai. Wajahnya beringsut masam. Aku minta setengah. Setengah porsi saja. Katanya tanpa menoleh. 1.750, ’kan, tegasnya. Gadis kecil diam. Ia malas berdebat. Ia tersenyum saja. Ia membuat pesanan.” (Arnas, Sumatera Ekspres, 17 Juli 2011) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benny Arnas, penulis buku Bulan Celurit Api, cerpenis yang tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, mencoba mengangkat isu gender kembali ke dalam cerpennya. Di samping itu, teori-teori yang berkaitan dengan praktik penulisan perempuan yang digagas Helene Cixous terhadap tubuh perempuan melalui patriarki pun menjadi tema utama dalam feminisme. Menurut Woolf (dikutip Sofia, 2010:13), diartikan sebagai sebuah teori mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri semua perempuan. Terdapat delapan teori feminis (Arivia, 2003:152--154 dalam Sofia, 2010:13-14), yakni feminisme radikal, feminisme marxis dan sosialis, feminisme liberal, feminisme psikoanalisis, feminisme eksistensialisme, feminisme posmodern, feminisme multikultural dan global, serta feminisme ekofeminisme.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, Ratna (2004:184) mengemukakan bahwa feminisme lahir pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own (1929). Secara etimologis, feminis berasal dari kata femme (woman) yang berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Secara lebih luas, feminisme adalah gerakan wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan. Secara lebih sempit, khususnya sastra, feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami, karya sastra, baik dalam kaitan-kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi pembaca.                              &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada perkembangan selanjutnya, dekonstruksi pun diterapkan dalan kajian feminisme. Maka dari itu, berkembang pula istilah androcentric (berpusat pada laki-laki), phallocentric (berpusat pada [kelamin] laki-laki), androtext (teks yang ditulis lak-laki), gynotext (teks yang ditulis perempuan), dan gynocritic (kritik sastra feminis oleh kaum perempuan).                                                            &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berkenaan dengan teori feminisme, Helene Cixous menolak phallocentric dan menyatakan bahwaperempuan memiliki geografi kenikmatan seksual yang lebih banyak dan lebih luas dari laki-laki. Dalam teorinya, Cixous memusatkan kajian feminisme pada aspek oposisi biner dan praktik penulisan perempuan dengan tubuh. Oposisi biner yang dimaksud Cixous merupakan menunjukkan salah satu bagian yang dianggap penting, satunya lagi tidak. Pada novel ini yang menjadi oposisi biner itu adalah tokoh Ibu Muda (kikir) dan Gadis Kecil (dermawan).               &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada cerpen ini, sejak awal kita diperkenalkan dengan dua tokoh paling penting dan sangat berpengaruh dalam penceritaan,  yaitu Ibu Muda dan Gadis Kecil. Keduanya dari kalangan berbeda. Ibu Muda adalah tokoh intelektual yang hidup berkecukupan, sedangkan Gadis Kecil hanya pedagang makanan di sebuah kedai kecil. Ibu Muda memesan makanan kepada Gadis Kecil untuk menjaga staminanya dalam sebuah penelitian. Gadis Kecil yang berupaya bertahan hidup, akhirnya membantu Ibu Muda. Ibu Muda menawar harga makanan yang dipesan sampai harga minimal. Setelah kenyang, Ibu Muda beralasan bahwa dirinya lupa membawa uang, namun Gadis Kecil mengikhlaskan makanan yang dilahap habis oleh Ibu Muda itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Tidak apa, Bu. Gadis kecil tersenyum. Tidak usah panik. Tidak perlu bayar. Kata-katanya sangat halus. Namun terasa menusuk” (Arnas, Sumatera Ekspres, 17 Juli 2011). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kalimat itu menggambarkan kemualiaan hati Gadis Kecil kepada orang yang sangat membutuhkan dan patut dikasihani, Ibu Muda. Sebelumnya, Gadis Kecil sudah ditekan oleh Ibu Muda dengan menawar makanan yang dijualnya.&lt;br /&gt;Betapa takjubnya Ibu Muda mendengar pernyataan Gadis Kecil. ”Mungkin Ibu diutus-Nya (Tuhan). Saya bisa beramal. Saya sangat bersyukur. Ia ke belakang. Meninggalkan ibu muda.”  (Arnas, Sumatera Ekspres, 17 Juli 2011).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepenggal cerita kemanusiaan yang tergambar dalam cerpen tersebut dipaparkan dengan bahasa yang singkat; hanya tiga kata. Itu menandakan bahwa pentingnya bersedekah karena hidup di dunia  memang sangat singkat, seperti yang ditawarkan Benny Arnas dalam cerpennya. Dari gaya penulisannya, langkah-langkah Benny sejalan dengan teori menulis fiksi yang dikemukakan Asep Samboja (2007:31), di antaranya: (1) pemilihan tokoh yang menjadi tulang punggung cerita; (2) tokoh Ibu Muda yang semakin bermasalah, sehingga tokoh akan semakin unik dan cerita semakin menarik; (3) topik memperjuangkan sesuatu sehingga menjadi gereget; serta (4) inventarisasi topik menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan orang lain, dengan masyarakat, dengan alam, dengan dirinya sendiri; serta orisinalitas ide ”cerita tiga kata” dikemukakan pertama kali oleh Benny Arnas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejumlah sastrawan ternama seperti Umar Kayam, AA Navis, Kuntowijoyo, hingga Pramoedya Ananta Toer, dobrakan penting dalam sastra sangat ditunggu. Maman S. Mahayana pernah mengklaim bahwa Hari Minggu adalah hari cerpen Indonesia, di mana  bangsa ini sangat menikmati temuan-temuan mutakhir dalam penulisan kreatif. Inilah mungkin masa-masa pencerahan akan lahirnya sastrawan muda yang diharapkan dapat membawa dan mengenalkan budaya bangsa pada dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah sastra  di Indonesia, setiap periode memiliki nama dan gaya penciptaan  tersendiri, sebagai persetubuhan antara sastra daerah, sastra Indonesia, dan sastra dunia. Cerpen masih menjadi karya primadona yang mendapatkan tempat di hati pembaca. Dalam hal ini, Nurgiyantoro (1995:10) mengemukakan, cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam—suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen memiliki tempat khusus di koran-koran, khususnya di rubrik Citra Budaya Sumatera Ekspres. Sekian ratus cerpen lahir dari tangan para cerpenis setiap minggu, namun hanya seperbagian berhasil dimuat dalam rubrik koran. Kehadiran cerpen di sebuah koran merupakan bentuk fasilitasi yang menarik dari redaksi, dengan memformulasikan antara fakta (berita) dan fiksi (cerita). Menjelajahi koran, pembaca dimanjakan selalu bersinggungan dengan fakta berupa berita.. Kecenderungan cerpen di koran yang harus beriringan dengan peristiwa di dalamnya. Di tengah kondisi pers sebagai industri, kebebasan eksperimentatif dan eksploratif estetik cerpenis terus diasah untuk diselaraskan dengan space dan iklan,  termasuk penyesuaian tema, peristiwa, maupun bahasa.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis adalah Editor, Penulis, dan Aktor Teater di Palembang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arnas, Benny. Cerita Pendek ”Pada Sebuah Pagi; Cerita Tiga Kata”. Harian Pagi&lt;br /&gt;        Sumatera Ekspres, Minggu 17 Juli 2011.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mahayana, Maman S. 2006. Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen &lt;br /&gt;         Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada&lt;br /&gt;         University Press.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Tekni Penelitian Sastra. Yogyakarta:&lt;br /&gt;        Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Samboja, Asep. 2007. Cara Mudah Menulis Fiksi. Jakarta: Bukupop.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sofia, Adib. 2010. Kritik Sastra Feminis: Perempuan dalam Karya-Karya Kuntowijoyo.&lt;br /&gt;        Yogyakarta:  Citra Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1976106784027871808?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1976106784027871808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1976106784027871808&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1976106784027871808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1976106784027871808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/08/cerita-tiga-kata-benny-arnas-cerpen.html' title='&quot;Cerita Tiga Kata” Benny Arnas, Cerpen Koran Paling Mutakhir “Pada Sebuah Pagi” : Kajian Feminisme dalam Sastra Indonesia'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VGm6Gal2skc/Tk4EHMSeLUI/AAAAAAAAARo/dHcVzPTsE8A/s72-c/azhari-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7774651964813093101</id><published>2011-08-18T23:08:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T23:15:47.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Sastra dan Identitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-AwlCAJTMoWs/Tk3_W76UQyI/AAAAAAAAARg/m28aAV-4DjQ/s1600/Puisi%2BCinta%2BTerbaru%2B2010.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AwlCAJTMoWs/Tk3_W76UQyI/AAAAAAAAARg/m28aAV-4DjQ/s320/Puisi%2BCinta%2BTerbaru%2B2010.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642446677669593890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Elisa Dwi Wardani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, pembicaraan mengenai identitas dipandang perlu ketika identitas berada dalam suatu krisis. Hal ini mengingatkan kita kepada dua pandangan yang bertentangan mengenai identitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang pertama adalah pandangan essentialism yang percaya bahwa identitas bersifat tetap, universal, dan tidak terpengaruh oleh wacana dari luar. &lt;br /&gt;Dari sudut pandang tersebut, identitas menjadi tidak mungkin untuk berubah sehingga pengaruh-pengaruh dari luar dianggap sebagai ancaman terhadap keutuhan sebuah identitas. Pandangan inilah yang melahirkan berbagai stereotip yang beredar di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pandangan anti-essentialism meyakini identitas sebagai sesuatu yang bersifat cair, terbentuk oleh wacana-wacana dari luar yang kemudian diinternalisasi dan menjadi bagian dari diri seseorang, serta bahwa identitas merupakan penstabilan makna secara temporer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan anti-essentialism yang postmodernis tersebut melihat identitas sebagai sebuah konstruksi yang dipengaruhi oleh berbagai wacana dari luar yang saling terkait. Hal tersebut memungkinkan seseorang untuk mengikatkan dirinya pada lebih dari satu konstruksi identitas pada saat yang bersamaan atau mengikatkan dirinya kepada konstruksi makna yang lain di lain waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas di dalam postmodernisme sangat terkait erat dengan bahasa karena pembentukan identitas seseorang tidak lepas dari bahasa. Identitas diri seseorang bahkan terdiri dari dan terbentuk oleh bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa dan praktik berbahasa menurut Foucault, sanggup menempatkan seseorang pada posisi sebagai subjek dalam bahasa, misalnya sebagai “perempuan”, “laki-laki”, “homoseksual”, “gila”, “orang asing”, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, bahasa dan praktik berbahasa juga dapat dipakai sebagai alat untuk memposisikan seseorang sesuai dengan keinginan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan manusia-manusia yang bisa diperlakukan sesuai keinginan, yang bisa diukur, dinilai, dilatih, dihukum, disiksa dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bahasa bisa dimanipulasi oleh kekuasaan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sebagai media dalam sastra, bahasa memiliki kekuatan untuk menjadi salah satu diskursus yang membentuk identitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan oleh penyair Taufiq Ismail, penyair adalah penguasa kata-kata. Walaupun seorang penyair, seperti kata Taufiq Ismail, mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana teks adalah bukan sesuatu yang muncul dari kehampaan yang mandiri namun dibentuk oleh suatu praktik diskursus, maka pencerahan sang penyair tersebut tentunya berasal dari pemaknaan sang penyair pribadi mengenai wacana-wacana yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi sang penyair pada gilirannya akan direproduksi dalam representasi yang terwujud dalam karya sastra. Dengan kata lain, pada akhirnya kuasa yang ada dalam kata-kata yang diolah oleh seorang penyair akan menghasilkan sebuah realitas tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JK Rowling dan serial Harry Potter-nya yang mengisahkan tentang seorang anak yang memasuki sekolah penyihir Hogwarts sempat menimbulkan reaksi hebat di kalangan pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara JK Rowling mengakui bahwa dia menerima banyak surat dari anak-anak yang dialamatkan kepada Profesor Dumbledore, kepala sekolah penyihir Hogwarts, yang meminta supaya mereka bisa diterima di sekolah tersebut. &lt;br /&gt;Beberapa dari para pengirim surat tersebut menyatakan bahwa mereka sangat sedih dan sangat berharap bahwa sekolah penyihir tersebut benar-benar ada. Hal ini menunjukkan betapa karya sastra adalah sebuah reproduksi yang mampu menjadi realitas itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas antara realitas dan representasi telah menghilang, karena representasi sekarang telah menjadi sebuah realitas. Apa yang khas mengenai sastra menurut Ignas Kleden adalah sifat dialektikanya yang menghubungkan makna tekstual dan makna referensial, dan kemampuan sastra untuk mengedepankan makna tekstual. Hal ini menjelaskan bagaimana karya sastra bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang terbentuk dalam karya sastra menurut Lacan bagaikan cermin yang merupakan refleksi yang palsu dari identitas diri kita yang sesungguhnya karena ia hanya memberikan sesuatu yang bersifat imajiner. Meskipun demikian, sepanjang hidup kita, kita selalu mencari keotentikan dan identitas kita dalam ilusi yang sayangnya tergantung dari cara orang lain menunjukkan bagaimanakah wujud kita tersebut. &lt;br /&gt;Karya sastra yang terdapat di seputar kita boleh dikatakan menjadi salah satu diskursus yang saling terkait dengan diskursus-diskursus lain yang saling berebut untuk menjadi sebuah point of attachment bagi konstruksi identitas kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ke 21 sering disebut-sebut sebagai abad di mana kemajuan teknologi berkembang pesat yang menyebabkan menghilangnya batas-batas. Dampaknya, manusia akan terhubung satu dengan yang lainnya seolah-olah tanpa ada waktu, ruang dan tempat yang membatasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut memiliki potensi untuk mengaburkan identitas manusia itu sendiri. Dengan keterbukaan ala globalisasi, manusia nampak menjadi homogen. Dalam hal inilah sastra sebagai salah satu diskursus pembentuk jati diri memiliki peluang untuk ikut menstabilkan makna jati diri seorang manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika batas-batas membaur, dan bukan hanya batas-batas antar ruang dan waktu saja yang membaur, namun juga batas-batas antara disiplin ilmu, maka persoalan-persoalan akan membutuhkan pendekatan yang lebih interdisipliner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tidak berlebihan apabila sastra dinantikan sebagai sebuah agen yang mampu mengkonstruksi identitas, yang akan mampu untuk ikut menjawab tantangan mengenai persoalan identitas manusia**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Elisa Dwi Wardani&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma **) Artikel ini kerja sama Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma dengan KR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7774651964813093101?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7774651964813093101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7774651964813093101&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7774651964813093101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7774651964813093101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/08/sastra-dan-identitas.html' title='Sastra dan Identitas'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AwlCAJTMoWs/Tk3_W76UQyI/AAAAAAAAARg/m28aAV-4DjQ/s72-c/Puisi%2BCinta%2BTerbaru%2B2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-2436360855461990822</id><published>2011-08-17T12:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T12:36:54.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Pak Menteri, Seprainya Tolong Dirapikan Dulu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xEh3SEvHJjk/TkwYP0Kz2CI/AAAAAAAAAQw/_FaaD1CdKHs/s1600/pak-menteri-dan-pak-dirjen.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xEh3SEvHJjk/TkwYP0Kz2CI/AAAAAAAAAQw/_FaaD1CdKHs/s320/pak-menteri-dan-pak-dirjen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641911093169477666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya punya waktu libur yang cukup di rumah. Liburan itu kemudian saya manfaatkan untuk ikut melakukan bersih-bersih ruang tamu, ruang makan sampai tempat tidur. Apa yang saya lakukan sebagai hiburan, setelah dalam beberapa pekan saya disibukkan oleh pekerjaan yang tidak berhubungan dengan kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya tidak pernah kursus di lembaga pendidikan perhotelan, saya mencoba belajar bagaimana merapikan tempat tidur, membersihkan kamar dan ruang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya membersihkan lantai ruangan dengan sapu dan kain pel, saya kemudian merapikan tempat tidur. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Usai bersih-bersih, saya berdiri mengamati lantai yang sudah mengkilat dan harum. Isteri saya ikut nimbrung di belakang saya melhat hasil pekerjaan saya. Ia tersenyum. Sementara kedua anak saya, Anisa dan Muhammad Kahfi, sudah asyik bermain di ruang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok, tempat tidurnya belum dirapikan?,” tanya isteri saya setengah mengkritik.&lt;br /&gt;“Setelah ini, baru merapikan tempat tidur,” jawab saya tanpa menimbang kalimat apa yang akan muncul dari mulut isteri saya.&lt;br /&gt;“Mestinya tempat tidur dulu di rapikan, baru lantai yang disapu,” isteri saya meluruskan pola kerja saya pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang ada undang-undang yang mengatur harus merapikan tempat tidur dulu baru menyapu lantai?” jawab saya setengah tidak menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan masalah undang-undang! Tapi kalau membersihkan tempat tidurnya belakangan, nanti lantainya kotor lagi oleh debu dari atas seprai. Belum lagi kertas-kertas kecil bekas mainan anak-anak kita juga jadi sampah,” isteri saya berargumen meluruskan sistem kerja saya yang dinilai tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang tidak boleh, kalau menyapu lantai dulu baru merapikan tempat tidur?” kata saya masih belum terima dengan aturan yang setengah dibuat-dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu namanya dua kali kerja. Lantai sudah bersih, nanti kotor lagi, terus disapu lagi. Tidak efesien. Terlalu banyak menyita energi,” kata isteri saya agak bersungut kesal.&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu bagaimana? Apa karena alur pekerjaanku dianggap salah kemudian sia-sia?” tukas saya memandang kearah isteri saya.&lt;br /&gt;“Bukan sia-sia. Tapi kurang tepat. Pekerjaan Ayah sudah baik tapi belum benar, atau sebaliknya sudah benar tapi belum baik,” kata isteri saya mengutip istilah Budayawan Emha Ainun Nadjib,&lt;br /&gt;“Jadi?!” kata saya mulai kesal.&lt;br /&gt;“Ya tidak jadi-jadian, Kok jadi!?” isteri saya tidak lebih kesal dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau bekerja di pemerintahan seperti yang Ayah lakukan, kasihan rakyat,” kata isteri membuat saya terkejut.&lt;br /&gt;“Kok sampai sejauh itu?”&lt;br /&gt;“Lho, kenapa heran. Selama ini kan rakyat selalu jadi sasaran yang dipersalahkan. Kalau ada tindakan anarkis, rakyat yang jadi korban. Konflik politik di tingkat atas, rakyat juga yang jadi bingung. Kalau para wakil rakyatnya suka ngomong bohong, atau debat soal yang tidak ada kaiatannya dengan rakyat, kotorannya juga tertumpah di hati rakyat. Hukum di negeri ini juga begitu, kan? Kalau sudah ke bawah seperti pisau, tajam. Tapi kalau keatas jadi tumpul. Rakyat malah diajak kong kalikong jual beli pasal, supaya tuntutannya menjadi ringan atau bisa bebas tanpa tuntutan. Itu kan yang megajari dari para pengelola negara yang duduk diatas kursi. Kotorannya masih juga rakyat yang nanggung. Makanya, kalau seprainya dibersihkan belakangan, nanti kotoran dari tempat tidur akan balik lagi ke lantai yang sudah disapu,” kata isteri saya nyerocos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu bagaimana?” saya kembali memancing argumentasi.&lt;br /&gt;“Yang dibersihkan dan dirapikan harus bagian atasnya dulu. Pak Menteri, Pak Presiden, dan aparat penegak hukum, harus membersihkan seprai tempat tidur dulu, supaya rakyat yang sudah bersih-bersih di bawah tidak dikotori lagi oleh debu-debu seprainya Pak Menteri dan Pak Presiden. Kalau kebersihan itu tidak dilakukan dari yang paling atas dulu, nanti lantai di bawah yang sudah bersih, hanya akan menjadi tong sampah. Apa mau kalau rakyat hanya menjadi tumpahan sampah dari pengelola negara yang tidak bermoral?” isteri saya terus menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pekerjaan besar hanya akan baik, kalau diawali menyelesaikan dengan baik pekerjaan kecil. Jadi menyelesaikan pekerjaan dengan cara yang baik dan berkualitas hari ini, juga menjadi penentu hasil di masa depan. Kalau dari awal salah cara dan metode, jangan  harap hasilnya akan baik dan benar. Mosok kita sebagai rakyat kecil mau terus-terusan jadi tong sampah dari seprainya Pak Menteri dan Pak Presiden, nggak lah yaw!” tegas isteri lagi.&lt;br /&gt;“???” Saya tercenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 10 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-2436360855461990822?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/2436360855461990822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=2436360855461990822&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2436360855461990822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2436360855461990822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/08/pak-menteri-seprainya-tolong-dirapikan.html' title='Pak Menteri, Seprainya Tolong Dirapikan Dulu'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xEh3SEvHJjk/TkwYP0Kz2CI/AAAAAAAAAQw/_FaaD1CdKHs/s72-c/pak-menteri-dan-pak-dirjen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3094386705636187963</id><published>2011-08-17T12:12:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T12:16:18.689-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bertemu Tuhan di Dalam WC'/><title type='text'>Bertemu Tuhan di Dalam WC</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-OVyQeeRB5JQ/TkwTSC6hzuI/AAAAAAAAAQg/PYPp14j7WUQ/s1600/wc-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-OVyQeeRB5JQ/TkwTSC6hzuI/AAAAAAAAAQg/PYPp14j7WUQ/s320/wc-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641905633929318114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernahkan Anda bertemu Tuhan di dalam WC? Kalau saya setiap saat. Saya tidak tahu persis, apakah Anda juga bertemu atau tidak. Pertanayaan saya ini, sudah pasti mendorong Anda untuk sedikit mengerutkan kening, kemudian secara spontan mungkin Anda akan memarahi, memaki saya, dan menyebut kalau saya kurang ajar, karena saya sudah membawa nama Tuhan ke dalam WC : sebuah  tempat biasa kita membuang tinja, atau satu ruangan yang selama ini kita anggap lokasi pembuangan barang dan sampah najis yang menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh dan berhak marah atau tidak setuju. Sebab Anda sudah pasti tidak ingin nilai-nilai dan kesucian Tuhan ternoda oleh kekurangajaran saya, yang membawa nama Tuhan ke dalam WC. Bahkan untuk menjaga stabilitas kesucian ajaran kebaikan, semua agama juga mengajarkan, tidak ada satu kalimat Tuhan pun yang boleh diucapkan disaat kita berada di dalam WC.  Dalam agama saya, secara jelas ada syariat, yang melarang mengucapkan kalimat Tuhan, atau membaca secuil ayat Al-Quran pun di dalam WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (10/32), “Berzikir dengan kalbu (hati) disyariatkan setiap saat dan di mana saja berada, baik di dalam toilet maupun di tempat lainnya. Yang makruh hanyalah berzikir dengan lisan dalam toilet dan semacamnya dalam rangka mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali membaca basmalah sebelum berwudhu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bukan hanya kiai, ustadz, pasteur, Bikku, bahkan Anda juga akan marah, ketika mendengar ada seseorang yang secara spontan mengucapkan kalimat Tuhan di dalam WC, setelah terlepas dari tekanan tinja di ujung anus.  Kemarahan ini karena Anda tidak ingin ada seseorang yang menciderai agamnama Tuhan dengan membawanya ke dalam WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di sisi lain, saya juga punya hak untuk marah, apalagi melarang Anda untuk menyebut nama Tuhan dalam hati, sekalipun Anda sedang di dalam WC sekalipun. Larangan yang selama ini disampaikan mengucapkan kalimat Tuhan dalam konteks syariat (lisan dlohiriyah), bukan hakikat batiniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, spontanitas hati Anda menyebut nama Tuhan di dalam WC, sudah tentu tidak pernah akan lebih dulu meminta izin pada saya, atau sebaliknya akan memberitahu saya setelah Anda keluar dari WC. Itu hak prerogatif Anda sebagai mahluk Tuhan yang berkewajiban menyatakan terima kasih pada Tuhan, yang telah memerintahkan tinja keluar dari dalam perut kita, kecuali Anda lupa atau berlagak lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun saya tak bisa marah saat hati Anda menyebut nama Tuhan saat Anda di dalam WC, karena telinga saya tidak diberi kewenangan oleh Tuhan untuk menembus dan mendegarkan kalimat suci dari batin Anda saat Anda di dalam WC, sehingga saya tidak punya waktu dan otoritas sedikitpun untuk melarang siapapun menyebut nama Tuhan, apalagi dalam hati, sekalipun Anda sedang di dalam WC. Jangankan saya, malaikat saja hanya bisa mencatat perilaku fisik (syariat) seorang hamba, apalagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian perilaku batin, saat Anda di dalam WC, bukan menjadi kewenangan dan otoritas saya, karena saya tidak pernah merasa atau mengaku-ngaku kalau saya telah menciptakan Anda. Jadi yang berhak member point positif dan negative perilaku batin Anda di dalam maupun di luar WC sudah pasti Sang Penguasa Langit dan Bumi yang telah menciptakan Anda, saya dan kita, sekaligus yang telah mengatur sirkulasi tinja, kapan harus keluar, apakah hari ini, besok pagi, sore atau malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tinja sesekali harus tertahan lebih dulu, itu bukan hukuman bagi Anda, tetapi lebih menjadi bentuk kasih saying Tuhan terhadap Anda, karena Anda selalu lupa mengucapkan terima kasih saat membuang tinja. Karena Anda masih dianggap hamba-Nya, sesekali mungkin diantara kita ada saja yang harus kesakitan menahan tinja untuk beberapa hari, lalu harus lebih dulu ke dokter. Saat itu, Tuhan sedang memeluk kita. Kesadaran kita pada posisi kehambaan sedang dipaksa oleh Tuhan, karena mungkin oleh disebabkan ragam aktifitas duniawi, sebagian kita telah melupakan siapa sebenarnya Yang Maha Pengatur sirkulasi tinja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagian kita, seringkali menganggap urusan tinja menjadi barang sepele. Seorang ibu akan menangis pilu sepanjang hari, saat melihat anaknya sudah tiga hari tidak bisa berak. Kita juga akan siap keluar biaya berapapun jumlahnya untuk memaksa tinja keluar dari perut anak kita. Bahkan semua proses kehidupan bisa menjadi tidak berjalan baik, jika urusan tinja dikelola tidak baik. Rapat besar sekalipun di istana presiden akan terhambat, jika tinja masih menekan ujung anus kita. Bukan tidak mungkin, rapat kenegaraan akan tidak serius, bahkan ditunda sesaat hanya lantaran Pak Presiden atau sebagian pemegang kebijakan negeri ini sedang kebelet buangair besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kemudian menghitung kelegaan rohani usai membuang kotoran seberat 3 Ons ini dengan uang, akan berapa rupiah harus kita keluarkan untuk membayar Tuhan yang telah memformat putaran tinja dan makanan busuk secara bergantian setiap hari? Pernahkah kita kalkulasikan berapa juta atau berapa triliun jika sejak kita lahir kemudian kita harus membayar urusan tinja ini dengan nominal rupiah? Kalau Anda tidak sanggup membayar, masih beratkah Anda untuk sekadar berucap ; terima kasih pada Tuhan, usai melepas kotoran yang baunya busuk ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengiringi pujian terhadap Tuhan dalam hati usai melepas tinja di dalam WC, apakah termasuk penodaan kesucian Tuhan? Masihkah Anda marah, kalau hati saya secara spontan juga menyebut nama Tuhan ketika saya masih di dalam WC? Apakah saya kurang ajar terhadap kesucian Tuhan, karena hati saya menyebut ayat Tuhan di dalam WC, hanya sekadar bentuk rasa syukur saya karena pagi itu saya masih bisa berak?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diucapkan diluar WC kan bisa? Kenapa harus di dalam? Agama kita sudah mengajarkan doa masuk dan keluar WC. Kenapa kamu buat aturan sendiri?!” tukas Wak Kenthir  memprotes saya.&lt;br /&gt;“Syari’atnya memang begitu, Wak. Tetapi nilai kedalaman do’a itu dalam batin yang mengucapkan, bukan sebatas lisan,” sanggah saya, membuat Wak Kenthir setengah tidak setuju.&lt;br /&gt;“Jadi tidak cukup dengan lisan?!”&lt;br /&gt;“Tidak!?” &lt;br /&gt;“Lho?” &lt;br /&gt;“Ya, bukan lho! Lisan itu perwujudan syari’at, hakikatnya dalam batin Wak Kenthir. Kalau istri Wak Kenthir mengatakan sayang dan cinta pada Wak secara lisan, tetapi hatinya tidak, gimana?” tanya saya memancing emosi Wak Kenthir.&lt;br /&gt;“Itu tidak mungkin! Isteri saya sayang dan cinta lahir dan batin. Kamu ini aneh-aneh saja! Soal Wc kok bawa-bawa isteri saya!” katanya sedikit bersungut kesal.&lt;br /&gt;“Ini umpama, Wak. Jangan marah dulu!” saya meredakan emosi yang hampir meledak.&lt;br /&gt;“Kalau ucapan lisan itu bisa dibohongi, kalau hati tidak bisa, Wak. Kata Pak Kiai, suara hati dituntun malaikat, kalau lisan hanya gugur kewajiban kalau hatinya tidak ikut membenarkan,” kata saya lagi.&lt;br /&gt;“Jadi yang lisannya baik tapi perilakuknya buruk, gimana?” Wak Kenthir penasaran.&lt;br /&gt;“Ya, itu tadi. Kita ini sering manjaga kesucian nama Tuhan hanya dalam syariat, tetapi dalam hakikatnya masih sering melanggar,” kata saya kemudian membuat kening Wak Kenthir sedikit berkerut. Sepertinya ada kalimat yang tidak dipahami.&lt;br /&gt;“Maksud saya, begini, Wak. Sebagian kita sering menyebut nama Tuhan, baik di dalam maupun di luar WC. Tetapi perilaku fisiknya tidak mencerminkan kalimat yang diagungkan. Seperti dalam demo-demo, teriak Allahu Akbar! Allahu Akbar! Tapi perilaku fisiknya beringas, garang dan cenderung anarkis. Bukan malah sebaliknya, kalimat yang diucapna membuat hatinya lembut, dan menyadarkan kehambaan diri, siapa kita dan siapa Tuhan,” kalimat saya terputus sampai disitu, karena Wak Kenthir akan segera beran jak dari hadapan saya.&lt;br /&gt;“Maaf, saya kebelet. Saya mau ke WC menemui Tuhan, ” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali itu, Wak Kenthir ingin membuang tinja di dalam WC, sebagai perawatan kesehatan jasmani. Tetapi kesadarannya hatinya ingin menyebut nama Tuhan saat membuang tinja, Wak Kenthir sedang ingin merawat rohaninya, yang acapkali ternoda oleh keangkuhan diri sebagai akibat dari ketidaksadarannya pada kehambaan di hadapan Tuhan.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 18 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Jurnalis dan Pelaku Sastra Indonesia tinggal di Palembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3094386705636187963?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3094386705636187963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3094386705636187963&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3094386705636187963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3094386705636187963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/08/bertemu-tuhan-di-dalam-wc.html' title='Bertemu Tuhan di Dalam WC'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-OVyQeeRB5JQ/TkwTSC6hzuI/AAAAAAAAAQg/PYPp14j7WUQ/s72-c/wc-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-9060910527003849052</id><published>2011-07-18T11:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T11:28:52.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='“Ya Samman” Tour di Tiga Kota'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Usai Konser'/><title type='text'>Usai Konser, “Ya Samman” Tour di Tiga Kota</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-FkYSgTRRd70/TiR7S_SvB6I/AAAAAAAAAP8/FibFzBBAbZ4/s1600/Jhonson.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FkYSgTRRd70/TiR7S_SvB6I/AAAAAAAAAP8/FibFzBBAbZ4/s320/Jhonson.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630761000277837730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SastraMUSI Online&lt;/span&gt; - Lagu Ya Samman karya kamsul A Harla, direncanakan bakal tour di tiga kota, Baturaja, Sekayu dan Ogan Komering Ilir. Hal itu terungkap dalam audienci tim manajemen Lagu Ya Samman (PAReS management dan Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur), dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwsata (Disbudpar) Sumsel, Senin, (18/7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audienci ini diterima langsung Kepala Disbudpar Sumsel, H.Moehamad Jhonson,SE, didampingi Drs.Dadang Irawan, Kabid Pengembangan Seni Budaya, Heri Wijaya,SH Kasi Pengembangan Kebudayaan dan Chandra Amprayadi,SH, Kepala UPTD Taman Wisata Budaya Kerajaan Sriwijaya (TWBKS) Sumsel. Sementara dari panitia, Kamsul A Harla (Pencipta lagu Ya Samman), Muhammad Syahrian,SH (Direktur PAReS management), Imron Supriyadi,S.Ag (Direktur Program Venesia dari TIMUR) Palembang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, Direktur PAReS management Palembang, Muhammad Syahrian,SH mengatakan tour Ya Samman di tiga kota ini dilakukan sebagai tindaklanjut Festival Tari dan Lagu Ya Samman pada hari Kamis, 21 Juli 2011nanti. “Program ini sengaja kami gagas, sebagai lanjutan dari acara festival dan konser Ya Samman. Bagi pemenang, baik tari dan lagu bukan tidak mungkin jika nanti akan kita libatkan dalam tour ini. Sebab, dalam festival ini kita melibatkan siswa dan siswi SMP/SMA dan sanggar tari di 15 Kabupaten kota se-Sumsel,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Imron Supriyadi, Direktur Program Lembaga Kebudayaan Venesia dari TIMUR Palembang menambahkan, Festival Tari dan Lagu Ya Samman sekaligus untuk menginventarisasi sanggar seni tari dan lagu di setiap sekolah di Sumsel. “Jika kita punya database yang jelas di setiap sekolah, akan memudahkan kita untuk melihat potensi apa yang perlu dikembangkan, terutama di sejumlah sekolah. “Banyak hal yang perlu digali dan dikembangkan bagi setiap sekolah, terutama dalam bidang seni,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal itu, Kepala Disbudpar Sumsel, H.Moehamad Jhonson,SE menyatakan, pihaknya menyambut baik atas kerja kreatif yang dilakukan panitia. Diharapkan, dengan program yang digagas dapat menjadi ruang kreasi bagi pelaku seni tari dan lagu di Sumsel, terutama bagi siswa dan siswa dan siswi  di setiap sekolah dan sanggar seni tari di Sumsel. “Gagasan tour Ya Samman ini bisa kita bantu, di tahun 2012. Makanya perlu koordinasi dengan Pak Dadang yang memegang bidang pengembangan seni dan budaya. Nanti proposalnya disampaikan ke Pak Dadang, supaya bisa diagendakan di tahun depan,” tambahnya.&lt;br /&gt;Menurut  Jhonson, lagu Ya Samman sangat identik dengan Dunia Melayu dan Dunia Islam. Sebab, kalau melihat konten dan iramanya, lagu Ya Samman ciptaan Kamsul A Harla ini sarat dengan nuansa melayu. “Potensi ini perlu dimaksimalkan, sehingga bukan hanya sebatas rutinitas saja, tetapi setiap program harus punya target yang jelas. Setelah acara, mau apa. Ini yang penting. Jadi harus ada out put yang jelas dan jangan sampai membuat event asal jadi. Kalau asal jadi, bisa memalukan daerah,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana informasi sebelumnya, pada hari Kamis 21 Juli 2011, akan digelar Konser Tari dan Lagu Ya Samman, di Graha Budaya Jakabaring Palembang pukul 16.00-17.30 WIB. Sebelum konser, di pagi harinya, pukul 08.00-16.00 WIB akan dilakukan kompetisi tari dan lagu Ya Samman, dengan melibatkan sekolah dan sanggar seni tari di Sumsel. “Report terakhir hari ini (Senin/18/7), sudah ada tujuh kabupaten dan kota yang siap ikut serta dalam kompetisi ini,” pungkas Muhammad Syahrian,SH. (rel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-9060910527003849052?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/9060910527003849052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=9060910527003849052&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/9060910527003849052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/9060910527003849052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/07/usai-konser-ya-samman-tour-di-tiga-kota.html' title='Usai Konser, “Ya Samman” Tour di Tiga Kota'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FkYSgTRRd70/TiR7S_SvB6I/AAAAAAAAAP8/FibFzBBAbZ4/s72-c/Jhonson.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-5054579256262598306</id><published>2011-07-07T15:06:00.001-07:00</published><updated>2011-07-07T15:15:26.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Tuhan, Mohon Maaf Saya Batal Ke Makkah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1VxAg2UU32I/ThYvzxDsLZI/AAAAAAAAAPs/-_jFK_wug3A/s1600/Makkah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1VxAg2UU32I/ThYvzxDsLZI/AAAAAAAAAPs/-_jFK_wug3A/s320/Makkah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626737350834662802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin Rais, tokoh reformasi Indonesia pernah mengaku belum menunaikan ibadah haji, ketika dirinya sempat membaca kisah yang dituturkan tokoh sosialisme Islam, Ali Syariati. Dalam tulisannya, sosiolog muslim ini mengisahkan tentang orang yang mendapat haji mabrur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, Tuhan memerintahkan salah satu malaikat –Nya untuk mendata ulang siapa saja umat muslim yang hari itu digolongkan sebagai haji mabrur (diterima) dan haji mardud (tertolak).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dilakukan pendataan, dari jutaan manusia muslim yang lolos sebagai haji mabrur ternyata hanya dua orang. Salah satunya yang mabrur tidak pergi ke Makkah. Kontan saja kisah ini membuat sebagian umat muslim heran, termasuk juga Amin Rais. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pergi ke Makkah bisa masuk dalam golongan haji mabrur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Syariati, berkisah tentang seorang yang hendak menunaikan ibadah haji. Tetapi ketika hendak membayarkan ongkos perjalanan haji (ONH-sekarang) dalam perjalanannya bertemu dengan perempuan tua renta yang memiliki beberapa orang anak. Keadaan perempuan itu tak berdaya. Untuk menghidupi diri dan anak-anaknya, keluarga itu harus mengais rejeki dari uluran tangan para tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, seseorang  yang hendak membayarkan ONH-nya, dia urungkan. Semua biaya haji yang akan dibayarkan kemudian diserahkan kepada perempuan itu, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Hari itu juga seseorang itu pulang, dan batal berangkat ke Makkah. Niatnya menunaikan ibadah haji dia tunda sampai mendapat panggilan kedua. Tetapi niatnya menunaikan ibadah haji tetap tertambat dalam ruang batinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi kemudian,  ketika Tuhan memerintahkan malaikat untuk mendata ulang tentang siapa yang masuk golongan haji mabrur, ternyata salah satunya adalah seseorang yang telah membantu perempuan tua dengan kerelaan dan ke-ikhlasan memberikan ONH-nya kepada perempuan itu, meski dia harus batal berangkat ke Kota Suci Makkah.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Ketika kisah ini saya sampaikan kembali di sebuah pertemuan jamaah masjid di Palembang, kontan saja mengundang banyak tanggapan dari sejumlah jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, itu ndak bener. Mosok ndak berangkat ke Makkah kok dapat Haji Mabrur. Rumusnya dari mana!? Buku yang anda baca itu yang mesti dikaji ulang, jangan-jangan aliran sesat!” protes Haji Kusni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bener, Ji. Umat islam sedunia, sampai hari ini kan belum ada kesepakatan baru untuk menentukan kota lain selain Makkah untuk ibadah haji. Ini kok malah ada yang tidak berangkat ke Makkah tapi dapat haji mabrur. Ndak bener, itu,” sergah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ada juga yang mengganti Makkah dengan tujuh kali beribadah di masjid Demak. Kata mereka kalau sudah tujuh kali datang ke Masjid Wali Songo itu, nilainya sama dengan kita menunaikan ibadah haji ke Makkah,” timpal lainnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu tambah rusak! Itu namanya keblinger,” tegas Haji Kusni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam hukum  fiqh memang begitu. Kalau orang tidak berangkat ke Makkah tidak mungkin akan bisa menunaikan ibadah haji. Ini malah dapat haji mabrur. Kalau tidak berangkat ke Makkah sudah pasti akan mengurangi prasyarat ibadah haji. Dasar hukumnya jelas, haji hanya ditunaikan di Kota Makkah. Titik!” kata jamaah lain.&lt;br /&gt;“Yang kita bicarakan ini bukan berangkat fisik, Pak,” saya menyela. &lt;br /&gt;“Lalu apa?” Haji Kusni penasaran.&lt;br /&gt;“Saya sepakat kalau Kota Makkah sebagai pusat menunaikan ibadah haji. Tetapi yang kita bahas ini keberangkatan seseorang yang punya niat baik untuk berbuat. Berbagi rejeki bagi sesama mahluk Tuhan, menurut saya keberangkatan ruh kebaikan menuju kecintaan-Nya. Jadi bukan berangkat secara fisik yang ke Makkah. Maksud saya, ada nilai plus yang menurut Tuhan, nilainya bisa sebanding dengan haji mabrur, meskipun dia tidak berangkat ke Makkah, ” saya mencoba menjelaskan pesan dari kisah yang ditulis Ali Syariati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ya tidak bisa begitu. Jadi apa arti keberangkatan kami yang sudah tiga kali ke Makkah, kalau ada orang yang dapat haji mabrur tetapi tidak pergi ke Makkah. Kalau begitu, kita cari orang miskin saja, kemudian uang ongkos hajinya kita berikan pada mereka, dan kita tidak perlu ke Makkah. Kan beres!” timpal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu akan lebih bagus, ketimbang anda pulang pergi ke Makkah sampai dua atau tiga kali. Wajib hajinya kan hanya satu kali. Itu juga kalau kita mampu.  Kalau suatu ketika anda punya rejeki lebih, sementara anda punya niat ke Makkah dan ketemu dengan keluarga miskin yang memerlukan uluran tangan kita, kenapa anda tidak mengambil jatah mabrur dengan memberikannya kepada orang miskin itu?” saya memancing argumentasi jamaah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sembarangan kalau biacara. Biaya haji itu sekarang sudah 35 juta. Uang segitu itu banyak. Cara mendapatkannya juga tidak mudah. Enak saja kalau tiba-tiba diberikan kepada orang miskin. Saya ingin bertemuTuhan di Makkah, bukan dengan orang miskin di pinggir jalan!” tegasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Uang 35 juta yang anda punya tidak akan bisa membayar detak jantung dan napas kita dalam satu hari saja. Jadi, mencintai orang miskin dengan cara berbagi rejeki kepada mereka, akan lebih baik ketimbang kita memilih ibadah ritual pribadi ke Makkah sampai berulang kali. Bukankah orang miskin juga mahluk Tuhan yang perlu dicintai? Mencintai orang miskin, sama halnya kita mencintai yang menciptakan orang miskin. Jadi kalau ada orang yang mendapat haji mabrur, tetapi tidak berangkat ke Makkah, karena orang itu bukan mencintai kemiskinan, tetapi karena dia cinta pada Dzat yang Maha Pencipta orang miskin,” saya mengakhiri perdebatan. Semua diam. Mereka saling pandang, bermain dengan pikirannya masing-masing. Saya permisi pulang. **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl.Swadaya - Palembang, 7 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Jurnalis dan Pelaku Sastra di Palembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-5054579256262598306?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/5054579256262598306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=5054579256262598306&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5054579256262598306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5054579256262598306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/07/tuhan-mohon-maaf-saya-batal-ke-makkah.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Tuhan, Mohon Maaf Saya Batal Ke Makkah&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1VxAg2UU32I/ThYvzxDsLZI/AAAAAAAAAPs/-_jFK_wug3A/s72-c/Makkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-854963670571336644</id><published>2011-06-28T12:27:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T12:45:40.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEDEKAH RAME BERSATU DENGAN ALAM DENGAN KESADARAN KOLEKTIF'/><title type='text'>SEDEKAH RAME BERSATU DENGAN ALAM DENGAN KESADARAN KOLEKTIF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-kbawL56RoSI/TgovLA9sUEI/AAAAAAAAAPk/DxZm6LddSP8/s1600/Copy%2Bof%2BEko.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 314px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kbawL56RoSI/TgovLA9sUEI/AAAAAAAAAPk/DxZm6LddSP8/s320/Copy%2Bof%2BEko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623358951009308738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh ; Eko Putra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu kesadaran yang tumbuh dan diyakini masyarakat secara kolektif dan terus-menerus hidup di dalam kultur masyarakat tersebut. Kemudian secara vertikal menjadi bagian yang tidak terpisahkan antara masyarakat terhadap kesadaran itu sendiri, hal demikian ini disebut sebagai tradisi. Tentu, konsepsi semacam itu sangat banyak berkembang di dalam masyarakat. Baik itu berbentuk lelaku, keyakinan, pandangan-pandangan, gagasan, dan pola-pola interaksi di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah bentuk kesadaran seperti itu masih ada di tengah serbuan modernisasi yang kurang dicermati secara arif oleh generasi terkini ? Di mana segala sesuatu diukur dengan statistik, pertimbagan material. Individualistis dan pragmatis. Pertanyaan ini, barangkali terlalu absurd dan terlalu gegabah untuk diungkapkan. Tetapi, bagi saya pribadi ini cukup menggelisahkan. Karena secara sadar, saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang boleh jadi masih memiliki tradisi-tradisi yang sampai hari ini masih tumbuh. Namun, perlahan tradisi-tradisi yang dimaksud mulai tersingkirkan. Dalam pada ini, kegalauan saya barangkali tidak dapat ditebus dengan apapun, kecuali menyikapinya dengan mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan realitas kekinian.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di dalam tulisan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah tradisi yang dapat saya katakan "masih ada" dan diyakini secara kolektif oleh masyarakat di daerah saya. Tetapi, sebelum terlalu jauh saya membicarakan banyak hal. Ingin saya tegaskan, bahwa saya hanya menggunakan standar pemikiran di mana segala koherensi kepustakaan dengan tangan besi saya abaikan. &lt;br /&gt;Sebab, jujur saja saya bukanlah seorang akademisi yang bergerak di bidangnya jika ditelisik dari latar keilmuan. Pun, hingga saat ini, ijazah yang saya miliki hanya sebatas sekolah lanjutan atas, dan belum pernah tercatat sebagai mahasiswa di perguruan tinggi manapun. Yang mungkin saja, dapat diartikan keilmuan yang mestinya saya miliki untuk menjadi bahan tulisan ini sangat terbatas. Jadinya, apa-apa yang saya ungkapkan nantinya tidak lebih dari sebuah ocehan. Yang mana konteksnya berangkat dari pengalaman secara empirikal, dengan terlibat langsung di tengah "ruang masyarakat."&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Begini. Di wilayah saya, tepatnya di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin-Sumatera Selatan, di mana saya berada, dilahirkan, dan dibesarkan. Sampai hari ini, ada sebuah tradisi yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Sedekah Rame, itulah namanya. Seyogyanya, masyarakat pendukung tradisi ini berlaku bagi seluruh Marga. Marga itu sendiri diartikan, sebagai bagian dari struktural pemerintahan yang diberlakukan sejak zaman Kesultanan Palembang yang mana pemimpinnya adalah seorang Pesirah. Marga kemudian membawahi Dusun-Dusun wilayahnya, yang mana Dusun dipimpin oleh seorang Keria atau Ginde. Namun sejak diberlakukan UU No 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa, sistem Marga didefinisikan menjadi Kecamatan yang dipimpin oleh seorang Camat. Kemudian Dusun didefinisikan menjadi Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Terlepas dari semua itu. Berlakunya tradisi ini, sudah sejak lama terpusat dan dipusatkan hanya pada satu Desa, yakni Desa Kertayu, yang kemudian hanya Desa inilah yang masih tetap melakukannya secara terus-menerus. &lt;br /&gt;Menurut masyarakat yang pernah saya tanyakan. Mengapa tradisi ini, hanya dipusatkan dan terpusatkan di Desa Kertayu. Di karenakan leluhur yang dulunya menumbuhkan tradisi tersebut dimakamkan di desa Kertayu. Leluhur yang dimaksud, disebut oleh masyarakat sebagai Puyang Dulu Dusun. Puyang ini bagi masyarakat dianggap memiliki karomah. Sehingga salah satu, mitos yang kemudian sampai hari ini berlaku, kuburannya dianggap keramat dan bertuah. Atas dasar inilah, mengapa prosesi Sedekah Rame dilakukan di desa Kertayu. Yakni, agar rangkaian nyekar ke kuburannya, dapat dilakukan dengan jarak tempuh yang lebih dekat. &lt;br /&gt;Lalu, apa dan bagaimana Sedekah Rame itu sendiri secara harfiah? Lelakunya seperti apa? Jika ditilik dari muasal kata pembentuknya, Sedekah Rame merupakan sebuah frasa yang terbentuk dari dua kata. Yakni Sedekah dan Rame. Kata Sedekah sendiri merupakan sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Arab shodaqoh yang berarti memberi. Sedangkatan kata Rame sesungguhnya terbentuk dari kata Berame, yang kemudian dilenyapkan suku depan kata menjadi Rame, yang artinya bersama. &lt;br /&gt;Nah, jika ditinjau secara etimologi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sedekah Rame merupakan sebuah prosesi saling memberi bersama. Dengan demikian, apakah sarana yang dijadikan untuk saling memberi. Berupa panganan. Berbentuk apa, bahannya seperti apa, bagaimana membuatnya, kapan itu dibuat dan dilaksanakan. &lt;br /&gt;Panganan yang dimaksud adalah lemang, yakni sebuah panganan dengan bahan bakunya adalah beras ketan. Beras ketan yang digunakan ini dapat berupa beras ketan putih, beras ketan merah atau beras ketan hitam. Untuk ketan putih dan ketan merah bagi masyarakat wilayah Kecamatan Sungai Keruh menyebutnya padi pulut karena beras ini jika ditanak akan terasa melekat seperti pulut. Sedangkan ketan hitam, disebut oleh masyarakat sebagai padi arang karena beras dan nasinya berwarna kehitaman. Proses membuat lemang itu kemudian disebut melemang. Seperti apa proses melemang itu secara jelasnya?&lt;br /&gt;Lemang, dimasak dengan menggunakan media bambu yang masih muda batangya. Tetapi tidak semua bambu dapat digunakan. Pertimbangannya, selain ukuran dan bentuk bambu. Agar tidak menyulitkan pengolahan. Biasanya bambu yang digunakan adalah bambu yang disebut &lt;br /&gt;buluh dabuk, karena selain struktur lingkar kulit batangnya agak tipis, ukuran diameternya cukup besar, bambu ini memiliki ruas yang relatif panjang. Bambu muda yang dimaksud, kira-kira ruas paling tuanya sebanyak enam hingga delapan jarak dari rebung pangkalnya.&lt;br /&gt;Lemang sendiri dapat dibuat dalam tiga aneka rasa. Rasa yang pertama yaitu manis, kemudian lemak, dan terakhir lemak manis. Penamaan ini disesuaikan dengan bahan pelengkapnya. Jika ia lemang manis&lt;br /&gt;maka selain ketan, pencampur yang digunakan adalah pisang. Untuk lemang lemak bahan yang dicampur adalah santan yang diberi sedikit garam. Sedangkan lemang lemak manis adalah kombinasi antara lemang lemak dan lemang manis, hanya saja campuran garam tidak dipergunakan. Terkecuali lemang lemak yang biasanya akan dilapisi oleh daun pisang di dalam tabung bambu. Adonan yang telah dibuat, langsung dimasukkan ke dalam tabung bambu. &lt;br /&gt;Setelah dimasukkan ke dalam tabung bambu. Langkah yang dilakukan adalah pengobongan api. Tabung-tabung lemang disusun sedemikian rupa. Lurus searah. Api dinyalakan sampai mengunggun. Jika diperkirakan telah matang. Maka boleh dihentikan prosesi pembakaran. Lemang diangkat, dan siap untuk disantap. &lt;br /&gt;Itu adalah rangkaian pembuatan lemang. Lalu kapan Sedekah Rame itu dilakukan. Lazimnya, tradisi ini dilakukan setelah masyarakat telah selesai ngetam. Satu hingga dua bulan setelah panen padi. Panen padi yang dimaksud adalah panen padi yang dilakukan oleh masyarakat desa yang menggarap ladang berpindah yang disebut ume. Tetua desa/adat akan memberitahukan kapan waktu pelaksanaan Sedekah Rame. Maka dengan serentak seluruh masyarakat akan mempersiapkan hajatan tersebut, dengan panganan utama lemang tadi. Sampai hari H yang telah ditentukan. Tetua yang dimaksud akan memandu ritual. Yang mana ritual ini kemudian secara akuturasi disesuaikan dengan kaidah-kaidah religi yang berkembang di dalam masyarakat. Tentu saja, di hari H yang telah ditentukan itu, tidak hanya lemang yang dijadikan sarana dan simbol. Namun, ada sarana pelengkap yang digunakan, yaitu punjung dan langer. &lt;br /&gt;Punjung merupakan jenis panganan yang juga terbuat dari beras biasa bukan pulut yang ditanak dengan santan dan garam. Boleh dikatakan semacam tumpeng bagi masyarakat tanah Jawa. Tetapi, agak sedikit berbeda dari segi bentuk, biasanya tumpeng Jawa berwujud nasi kerucut dan dibiarkan terbuka di atas talam dan hanya satu dengan ukuran yang besar. Yang mana laukpauk dan sayurnya juga dalam satu wadah. Tetapi punjung berbentuk limas dan selalu dibungkus oleh daun pisang yang akan membuat aroma nasi punjung begitu harum dan gurih. &lt;br /&gt;Ukuran punjung biasa yang saya lihat kira-kira setara dengan besar buah kelapa. Atau bisa lebih kecil dari itu, dan berjumlah ganjil. Jumlah yang paling sering dibuat adalah sebanyak tujuh buah. Jumlah ganjil ini, merupakan filosofis dari manifestasi ketuhanan yang dianggap ganjil. Selain nasi, punjung juga akan disertai oleh lauknya. Lauk yang paling sering disediakan adalah ayam guling yang dimasak dengan cara dipanggang. Yang nantinya jumlah ayam disesuaikan dengan jumlah nasi yang dibuat.&lt;br /&gt;Selanjutnya langer. Ini persis seperti mandi balimau yang dilakukan oleh masyarakat Minang. Harfiahnya, langer terbuat dari daun jeruk nipis atau jeruk purut yang diiris halus kemudian dimasukkan dalam rendaman air. Namun sebelum diiris halus dan direndam pada daun diikat lembar-lembarnya menjadi satu kesatuan, lalu dirapalkan bacaan-bacaan oleh ahli, semacam mantera kebaikan yang telah diselaraskan dengan ajaran-ajaran spiritual yang berkembang di masyarakat. &lt;br /&gt;Daun jeruk ini sendiri, dapat dibawa ke rumah masing-masing penduduk. Yang apabila telah dibacakan rapalannya, dibuat sendiri oleh penduduk di rumah air mandiannya. Mandi langer dilakukan dengan tujuan agar terlepas dari balak dan selamat dipenuhi kebaikan.&lt;br /&gt;Punjung dan langer fungsinya hanya terbatas pada hari H yang telah ditentukan. Karena kedua sarana ini merupakan medium yang digunakan dalam ritual. Media yang paling utama adalah lemang, sebab lemang secara menyeluruh dibebankan kepada masyarakat. &lt;br /&gt;Nah, karena setiap penduduk membuat lemang. Apakah, lemang ini hanya akan dinikmati sendiri. Tidak. Inilah wujud paling nyata dari prosesi ini. Setiap penduduk akan saling bertandang, saling bertukar atau mencicipi lemang antara masing-masing penduduk. &lt;br /&gt;Sesuai asal katanya, terjadilah saling memberi bersama. Misal Kuyung Odi ke rumah Wak Mamat, Wak Mamat akan memberi Kuyung Odi lemang. Wak Mamat bertandang ke rumah Bik Sulam, Bik Sulam membekali Wak Mamat lemang. Bik Sulam silaturahmi ke rumah Kuyung Odi, Kuyung Odi akan memenyapkan lemang kepada Bik Sulam. Begitulah. Prosesi dinamis. Saling berbagi. Saling rasa antara satu dan yang lainnya. &lt;br /&gt;Tradisi saling berbagi lemang ini terjadi dalam rentang waktu berkisar sampai satu pekan hingga persediaan lemang yang dimiliki masing-masing telah habis. Tentu saja, saling berbagi ini tidak hanya terbatas pada warga desa Kertayu. Tetapi, seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan ini, itu juga berlaku pada masyarakat desa-desa sekitar yang berada di dalam Kecamatan Sungai Keruh. Namun, masyarakat desa lain, biasanya hanya akan bertandang ke desa Kertayu akan mendapatkan bingkisan pula dari warga yang dikunjunginya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seiring berkembangnya zaman dari waktu ke waktu. Prosesi Sedekah Rame memang terus dilakukan di Desa Kertayu, tapi dalam beberapa tahun catatan saya. Walaupun kendali ritual barangkali masih dipegang oleh tetua, tapi proses penyerentakan akhirnya disesuaikan dengan Pemerintah terkait. Karena Bupati, Camat, dan para Kepala Desa, seringkali hadir dalam acara ini. Secara afirmasi ini dapat dikatakan sebagai wujud apresiatif pihak berwenang untuk menjaga tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Sejatinya, hal ini memang perlu hubungan yang harmonis dan dukungan yang realistis dari Pemerintah untuk peduli dalam lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan tuturan saya seperti ini. Bagi saya pribadi, Sedekah Rame sendiri sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofis. Rangkaian-rangkaian yang dilakukan. Mulai dari pemilihan waktu pelakasanaan yang dilakukan setelah panen. Merupakan wujud rasa syukur, atas hasil panen yang didapat. Pembuatan lemang yang hanya menggunakan beras ketan, lalu dimasak melalui bambu muda yang dipanggang. Dapat ditafsirkan bahwa segala hawa yang muncul setelah nikmat panen. Diharapkan agar terbakar, kemudian matang dengan dibungkus secara unik. Pun, juga punjung dan langer yang dijadikan sarana. Bahwa segala kesatuan akan membentuk sebuah keselarasan, sebuah gagasan yang menyatukan pemikiran secara kolektif.&lt;br /&gt;Jikapun salah satu rangkaiannya, ada proses nyekar ke makam Puyang Dulu Dusun. Itu merupakan sebuah penghormatan bagi seseorang yang dianggap telah memberikan pengaruhnya di dalam masyarakat banyak. Inti ajaran yang ditumbuhkan oleh leluhur Kami tersebut. Agar seluruh Marga tehimpun dalam sebuah persatuan yang kokoh, selaras dengan konsep alam dengan kesadaran yang arif dan dinamis. Begitulah kira-kira. &lt;br /&gt;Jika demikian. Apakah kita masih setia dengan pemikiran yang arif dalam tradisi. Di tengah konteks kekinian yang semakin gamang ini? &lt;br /&gt;Semoga cahaya selalu menyalakan jiwa kita.&lt;br /&gt;Sumber : http://ekoputra-puisi.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-854963670571336644?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/854963670571336644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=854963670571336644&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/854963670571336644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/854963670571336644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/06/sedekah-rame-bersatu-dengan-alam-dengan.html' title='SEDEKAH RAME BERSATU DENGAN ALAM DENGAN KESADARAN KOLEKTIF'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kbawL56RoSI/TgovLA9sUEI/AAAAAAAAAPk/DxZm6LddSP8/s72-c/Copy%2Bof%2BEko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-8153628084865177898</id><published>2011-06-28T11:56:00.001-07:00</published><updated>2011-06-28T11:59:37.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Festival Tari dan Lagu “Ya Samman” Diundur 21 Juli'/><title type='text'>Festival Tari dan Lagu “Ya Samman” Diundur 21 Juli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5TmcKDRYwSk/TgokfeJ5ndI/AAAAAAAAAPU/yR2RVVrhUOs/s1600/tari%2Bsamman.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 209px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5TmcKDRYwSk/TgokfeJ5ndI/AAAAAAAAAPU/yR2RVVrhUOs/s320/tari%2Bsamman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623347207814618578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SastraMUSI News&lt;/span&gt;- Mengirngi jadwal akademik sejumlah sekolah di sumsel, pelaksanaan estival Tari dan Lagu “Ya Samman” karya Kamsul A Harla diundur. Acara yang seharusnya dilaksanakan pada 25 Juni 2011 diundur pada Kamis 21 Juli 2011, di Graha Budaya Jaka Baring Palembang.&lt;br /&gt;Menurut  Muhammad Syahrian,SH, ketua pelaksana festival mengatakan, pengunduran ini berkaitan dengan jadwal akademik di sekolah di Sumsel.“Kita banyak mendapat konfirmasi dari sejumlah sekolah yang siap menjadi peserta, tetapi dari sebagian mereka menginformasikan, kalau tanggal 25 Juni, ada sebagian sekolah yang masih aktif menjalankan agenda akademik setelah mereka melaksanakan ujian akhir nasional.&lt;br /&gt;Jadi  pengunduran pelaksanaan ini kami lakukan, untuk memberi ruang bagi sejumlah sekolah yang pada 25 Juni tidak bisa mengirim peserta. Kita berharap dengan pengunduran ini sekolah yang akan menjadi peserta bias lebih menyiapkan diri dalam latihan, sehingga bisa lebih maksimal,” katanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti diinformasikan sebelumnya, festival tari dan lagu Ya Samman ini akan melibatkan sekolah di Sumsel, dari tingkat SMP dan SMA atau yang sederajat. Menurut Syahrian, festival ini dilakukan selain untuk menggali potensi seni tari dan music di kalangan pelajar di Sumsel, juga sebagai salah satu bentuk media sosialisasi tentang lagu Ya Samman itu sendiri.&lt;br /&gt;“Kita mengharapkan, dengan pengunduran ini beberapa sekolah masih punya  esempatan untuk mendaftar,” ujarnya, sembari menginformasikan bagi sekolah yang akan mendaftar bias menghubungi panitia, di nomor telpon 085273397761, atau 085832482569,dan email : panpel_festival@yahoo.com.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Direktur PAReS management Palembang ini menegaskan, lagu Ya Samman selama ini sudah dikenal masyarakat. Tetapi dalam beberapa event yang selama ini muncul ke pemukaan, banyak masyarakat di Sumsel belum mengetahui kalau lagu ini merupakan produk wong Sumsel.&lt;br /&gt;“Kami bekerjasama dengan lembaga kebudayaan Venesia dari Timur, mencoba mengusung lagu ini dalam bentuk ferstival, supaya putra-putri di Sumsel bukan hanya bisa menyanyikan saja, tetapi juga mengetahui, kalau lagu ini memang karya cipta seniman musik di Palembang,” tegasalumnus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini seraya menambahkan kalau lagu ini benar-benar ciptaan Kamsul A Harla, seniman musik di Palembang dan bukan karya orang lain. (release).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-8153628084865177898?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/8153628084865177898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=8153628084865177898&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/8153628084865177898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/8153628084865177898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/06/festival-tari-dan-lagu-ya-samman.html' title='Festival Tari dan Lagu “Ya Samman” Diundur 21 Juli'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5TmcKDRYwSk/TgokfeJ5ndI/AAAAAAAAAPU/yR2RVVrhUOs/s72-c/tari%2Bsamman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7774288746755781058</id><published>2011-05-16T08:24:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T08:35:13.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aliansi Seniman di Palembang Tolak Alifungsi Museum Tekstil Menjadi Hotel'/><title type='text'>Aliansi Seniman di Palembang Tolak Alifungsi Museum Tekstil Menjadi Hotel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-SsNntPvK33A/TdFCOLMUxWI/AAAAAAAAAPI/nKlmLT6iOgQ/s1600/erwan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 314px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-SsNntPvK33A/TdFCOLMUxWI/AAAAAAAAAPI/nKlmLT6iOgQ/s320/erwan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607335822343062882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Iir Sugiarto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sastramusi Online&lt;/span&gt; - Geliat seniman di Palembang, setelah lengang dari aksi protes terhadap dinamika berkesenian, kali ini kembali melakukan protes keras terhadap alih fungsi Museum Tekstil Sumsel yang akan dijadikan hotel berbintang oleh pemerintah provinsi (Pemrov) Sumsel.&lt;br /&gt;Hal itu terungkap dalam pertemuan sejumlah seniman Palembang di Dewan&lt;br /&gt;Kesenian Palembang (DKP), Senin (16/05/2011). Dalam pertemuan itu  disebutkan pengallihan Museum Tekstil menjadi hotel dianggap sejumlah oleh seniman di Palembang seagai bentuk perusakan cagar budaya.&lt;br /&gt;Erwan Suryanegera, salah satu tim yang menamakan diri Aliansi Seniman Menggugat (ASM) mengatakan, pertemuan yang di lakukan pada hari ini merupakan salah satu bentuk&lt;br /&gt;untuk melakukan pembahasan tentang alifngsi museum tekstil menjadi hotel. “Dan sebagaian teman kita telah sependapat bahwa saatnya kita menolak atas perubahan gedung tersebut menjadi hotel, karena dalam museum itu terdapat benda-benda bersejarah yang harus dijaga kelestariannya,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih lanjut, Erwan menjelaskan penolakan ini dilakuka karena museum tersebut merupakan salah satu cagar budatya.  Dalam UU No 11 Thn 2010 tentang perlindungan cagar budaya yang sudah berumur 50 tahun keatas harus dilestarikan dan dipelihara.&lt;br /&gt;Erwan menambahkan, terkait dengan hal ini, pihaknya akan menghadap ke Walikota Palembang, agar tidak mengeluarkan Izin Membangun Bangunan (IMB) atas pembangunan hotel  di area museum tekstil tersebut.&lt;br /&gt;Senada dengan itu, kepada sejumlah wartawan di Palembang, Vebri Al Intani salah satu seniman Palembang lainnya menyebutkan   dari hasil pertemuan para seniman yang telah dilakukan, telah mengerucurt pada kesimpulan, yang intinya seniman di Palembang menolak  atas alih fungsi Museum Tekstil menjadi Hotel. “Untuk mengimplementasikan penolakan itu, kita (para seniman-red) Palembang akan mengadakan aksi dalam waktu dekat ini. Dalam aksi ini kita akan mendatangi kantor  Walikota Palembang, dan mendesak mendesak pemerintah kota untuk tidak mengeluarkan IMB terhadap pembangunan hotel tersebut. Selain itu kita juga akan mendatangi kantor gubernur Sumsel untuk meminta gubernur agar menghentikan alifungssi tersebut,” kata Koordinator  Lembaga kebudayaan Kobar 9 ini tana menyebut kapan kepastian aksi itu akan digelar. [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dapunta.com/seniman-palembang-tolak-alifungsi-museum-tekstil-menjadi-hotel/11542.html"&gt;http://www.dapunta.com/seniman-palembang-tolak-alifungsi-museum-tekstil-menjadi-hotel/11542.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7774288746755781058?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7774288746755781058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7774288746755781058&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7774288746755781058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7774288746755781058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/05/aliansi-seniman-di-palembang-tolak.html' title='Aliansi Seniman di Palembang Tolak Alifungsi Museum Tekstil Menjadi Hotel'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-SsNntPvK33A/TdFCOLMUxWI/AAAAAAAAAPI/nKlmLT6iOgQ/s72-c/erwan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3752938757502723070</id><published>2011-05-09T12:42:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T12:45:51.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audisi “Dewi Fortuna” Belum Dapat Peran Perempuan'/><title type='text'>Audisi “Dewi Fortuna” Belum Dapat Peran Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-IvwXiMOFEdk/TchEVRkG0nI/AAAAAAAAAOw/cKNNNVw6nBw/s1600/IMG_1712%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-IvwXiMOFEdk/TchEVRkG0nI/AAAAAAAAAOw/cKNNNVw6nBw/s320/IMG_1712%2Bcopy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604804868545368690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Audisi naskah drama panggung “Dewi Fortuna” karya Imron Supriyadi, salah satu penulis di Palembang, belum mendapatkan peran perempuan, baik pemeran utama maupun pembantu perempuan. Meski ada beberapa perempuan yang ‘diincar’ oleh sutradara Jaid Saidi, tetapi menurutnya perlu ada kompetitor. “Kalau ada kompetitor, baik yang yang perempuan maupun wanita, kita akan bisa punya banya pilihan. Ini yang masih kita cari. Yang laki-laki juga masih punya peluang munculnya kompetitor peran, supaya ebih dinamis,” tukas Jaid Saidi saat Audisi hari kedua, di Palembang, Senin (9/5/2011)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, jebolan Bengkel Teater WS Rendra ini menambahkan, setelah dilakukan bedah naskah pada audisi pertama, pihaknya akan melakukan diskusi internal kepada penulis. Ini berkaitan dengan beberapa adegan yang menurut Jaid perlu ditambah dan dikurangi. “Saya memang sudah diserahi oleh penulis untuk menggarap naskah ini dalam bentuk pementasan. Tetapi saat saya mengusulkan tambahan adegan dan tambahan dialog, saya harus diskusi dulu dengan penulis, karena ini hak intelektual penulis,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaid menilai, dalam bedah naskah itu ada beberapa koreksi yang datang dari sejumlah seniman, yang menurut Jaid tidak akan mengurangi esensi naskah, bahkan memperkuat adegan. Jaid mencontohkan perlunya ada adegan antar pengacara dari masing-masing pembela, juragan Tirta dan Sobah sebagai tersangka. “Ini akan kita diskusikan dengan penulis, sehingga tidak akan terjadi saah persepsi ketika pementasan nanti ada tambahan dan pengurangan adegan,” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpisah, Yosep Sutrisno, salah satu pelaku teater yang bakal mendukung “Dewi Fortuna” menyarankan agar penulis bisa lebih terbuka menerima saran dan kritik terhadap naskah yang sudah ditulis. “Memang ini hak mutlak penulis. Tapi Bung Jaid sebagai sutradara punya taste sendiri yang sangat mungkin bisa diakomodir oleh penulis,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Imron Supriyadi, penulis naskah ini saat dikonfirmasi via handphone tentang usulan itu, belum bisa menjelaskan secara detil. “Saya bukan tidak setuju dengan usulan tambahan adegan itu, tapi dalam soal ini saya perlu ketemu dulu dengan Bung Jaid. Saya tidak bisa menjelaskan ini lewat telpon. Nanti kalau saya sudah diskusi dengan sutradara akan kita jelaskan lagi,” tukas Imron yan masih berada diluar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, Darwin Syarkowi, mantan praktisi teater Kreta IAIN Raden Fatah Palembang dalam diskusi online menilai, penulis dalam naskah “Dewi Fortuna” tidak secara jelas membahas kasus hukum. Sebab, kalau melihat sinopsisnya, menurut Area Manager Smart FM Palembang ini sejumlah dialog tidak secara detil menyebut sejumlah pasal, seperti mengutip KUHP dan lainnya. “Menurut saya, naskah ini hanya sebuah satire atau sindiran dalam konteks hukum saja, bukan sedang bicara soal hukum secara utuh,” tulisnya, di wall paper FB, Senin (9/5/2011) di Palembang. [*] (rel/dpt)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3752938757502723070?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3752938757502723070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3752938757502723070&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3752938757502723070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3752938757502723070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/05/audisi-dewi-fortuna-belum-dapat-peran.html' title='Audisi “Dewi Fortuna” Belum Dapat Peran Perempuan'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IvwXiMOFEdk/TchEVRkG0nI/AAAAAAAAAOw/cKNNNVw6nBw/s72-c/IMG_1712%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-8971403866396763180</id><published>2011-05-08T01:13:00.000-07:00</published><updated>2011-05-08T01:21:51.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Festival Lagu dan Tari Ya Samman'/><title type='text'>Juni 2011, Festival  Lagu dan Tari “Ya Samman” Siap Digelar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-YcWqnLSRz6k/TcZSjSIaAMI/AAAAAAAAAOo/Df7ovEoebi8/s1600/Muhammad%2BSyahrian%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 314px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-YcWqnLSRz6k/TcZSjSIaAMI/AAAAAAAAAOo/Df7ovEoebi8/s320/Muhammad%2BSyahrian%2Bcopy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604257552425156802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lagu “Ya Samman” sampai hari ini sangat familiar di sejumlah pelaku seni, terutama seni tari dan musik di Palembang dan Sumsel. Tapi sebagian pihak masih ada yang belum mengetahui kalau lagu Ya Samman adalah adalah karya Kamsul A Harla, putra asli Sumsel. Berdasar dengan itu, pada tangal 25 Juni bertempat di Graha Budaya Jaka Baring Palembang festival Lagu dan Tari ‘Ya Samman’ Insya allah akan dilaksanakan, sebagai bentuk sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Target utama acara ini supaya lagu ini tidak sembarang diklaim orang lain, karena ini memang produk orang kita di Sumsel. Kita agak tidak enak hati saat melihat launching Sea Games ke-16 di Jakarta tempo hari, lagu Ya Samman dibuat oleh panitia dengan inisial no name, (tanpa nama pencipta-red). Ini jelas melukai hak intelektual pencipta lagu,” tegas Muhammad Syahrian, SH, kepada pers di Palembang, Minggu, (8/5/2011).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Direktur PARes Manajemen sebagai pelaksana event, menegaskan kejadian di launching Sea Games beberapa waktu lalu tidak boleh terjadi keduakalinya di saat pembukaan Sea Gems di Palembang. “Pada pembukaan Sea Games di Palembang nanti, tidak boleh lagi ada istilah no name. Waktu di Jakarta memang panitia Sea Games yang tidak koordinasi dengan lembaga seni di Sumsel untuk mencari tahu siapa pencipta lagu Ya Samman. Ironisnya, koreografer juga tidak melakukan verifikasi pencipta lagu ini, jadinya pakai istilah no name. Kedepan ini tidak boleh lagi terjadi,” tegasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mantan aktifis Universita Muhamamdiyah Palembang (UMP) ini menjelaskan, dalam acara ini  akan digelar dua cabang seni yaitu, tari dan lagu, yang melibat sekolah SMP dan SMA se-Sumsel. Masing-masing sekolah akan mengutus peserta dua group dari masing-masing cabang seni. “Karena acara ini melibatkan langsung sekolah, jadi kita harus menunggu selesainya pelaksanaan Ujian Nasional. Kita tidak ingin memecah konsentrasi siswa atau program akademik terganggu oleh event ini. Makanya acara ini sempat megalami pengunduran jadwal, karena harus disesuaikan dengan jadwal ujian nasional,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanannya nanti, menurut Rian pihaknya juga menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak, seperti Taman Wisata Budaya Kerajaan Sriwijaya, (TWBKS), Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur, dan lembaga lain termasuk media. Sebab program ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sejumlah pihak. “Informasi lebih lanjut bisa menghubungi melalui sms nomor 085832482569, 0852 733 97361, atau langsung datang ke kantor panitia, di jalan Swadaya Lorong Sukadarma II no 47.A Palembang,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya soal persyaratan, Rian—panggilan akrabnya menjelaskan, jumlah group musik tidak lebih dari 6 Orang, kemudian wajib menyanyikan lagu Ya Saman. “Lagu ini boleh di-aransemen se-bebas-bebasnya. Juga peralatan musik bebas (elektrik, atau perkusi). Dan semua persoalan teksnis  peralatan musik ditanggung peserta. Panitia hanya menyiapkan Sound Sistem dan Alat Musik,” tegasnya.&lt;br /&gt;Tentang tari, Rian mengatakan, jumlah group (penari-red) maksimal 6 Orang. Setiap goup wajib menampilkan satu tari dengan iringan lagu Ya Saman. “Soal waktu pementasan, sesuai dengan waktu lagu Ya Saman (1 kali putaran). Dan satu hal yang mesti diingat adalah, tarian ini bukan jenis tarian moderen, seperti Cheer Leader dan sejenisnya. Yang penting,  tarian ini bercirikan tari tradisional sesuai dengan tema lagu, yang didasari filosofi dan nilai-nilai syair lagu. (release)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITERIA PESERTA &lt;br /&gt;FESTIVAL TARI DAN LAGU ‘YA SAMMAN’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;Acara ini akan melibatkan Siswa SMP dan SMA di 15 Kabupaten dan Kota se-Sumsel, dengan estimasi peserta sebanyak 500  orang peserta, dengan rincian : Setiap Kabupaten dan Kota akan mengirim 4 Tim (2 Tim Musik dan 2 Tim Tari) masing-masing tim memiliki pesonil 6 orang. Masing-masing Tim dari 15 Kabupayen dan Kota akan mengirim peserta sebanyak 24 Orang (Tim Tari dan Lagu) plus tim official.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN&lt;br /&gt;Acara ini direncanakan akan dilaksanakan pada Hari  Sabtu Tanggal 25 Juni 2011 di Gedung Graha Budaya Jaka Baring Palembang Pukul 09.00 sampai Selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENTUK KEGIATAN&lt;br /&gt;Bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan ini, Yakni : &lt;br /&gt;• Kompetisi Tari dan lagu&lt;br /&gt;Adalah Kompetisi Tari dan Lagu Yang diiukuti oleh untusan masing-masing sekolah dari 15 kabupaten/kota di Sumatera selatan yang Mengetengahkan lagu ya Samaan sebagai icon dalam pembukaan Sea Games XXVI di Sumsel.&lt;br /&gt;• Seasion Acara &lt;br /&gt;Dalam kegiatan ini untuk mewarnai jalannya kompetisi Festival tari dan lagu ya samaan dengan menampilkan:&lt;br /&gt;1.Performance dari sosok pencipta lagu ya samaan &lt;br /&gt;2.Peformance deri musisi sumsel dalam hal ini Pilus and Partner &lt;br /&gt;3.Performance dari deklamator Puisi  Jaid Saidi&lt;br /&gt;4.Sarana ruang publikasi dari sponsor yang turut menyukseskan kegiatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN JURI&lt;br /&gt;Penjurian akan melibatkan sejumlah pelaku seni tari dan lagu berkompeten di bidangnya.&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan untuk menciptakan komparasi dan kritik terhadap perkembangan seni tari dan lagu di Sumsel, secara obyektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRIETRIA PESERTA&lt;br /&gt;A. Persyaratan Umum&lt;br /&gt;1. Mengisi formulir pendaftaran&lt;br /&gt;2. Menaati peraturan yang ditentukan panitia&lt;br /&gt;3. Hadir 15 menit sebelum acara dilaksanakan&lt;br /&gt;4. Peserta adalah siswa SMP/MTs/SMA/SMK/MA berdomisli di Sumsel &lt;br /&gt;5. Peserta merupakan utusan sekolah (melampirkan rekomendasi dari sekolah)&lt;br /&gt;6. Transportasi dan penginapan peserta ditanggung peserta sendiri&lt;br /&gt;7. Menampilkan lagu atau tari dengan iringan lagu Ya Saman&lt;br /&gt;8. Membayar biaya pendaftaran Rp. 150.000 rupiah / Group&lt;br /&gt;9. Sekolah boleh mengirim lebih dari 1 tim masing-masing lomba (max.2 tim)&lt;br /&gt;10. Bagi peserta yang belum mendapatkan CD lagu Ya Saman harap menghubungi  panitia No.HP. 0852 733 97361 An. Rian 0858 3248 2569 &lt;br /&gt;Harga CD Rp. 35. 000 per keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Persyaratan  Khusus (Lagu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jumlah Group Musik tidak lebih dari 6 Orang&lt;br /&gt;2. Menyanyikan Lagu Ya Saman&lt;br /&gt;3. Lagu boleh di-aransemen se-bebas-bebasnya&lt;br /&gt;4. Peralatan Musik Bebas (elektrik, atau perkusi)&lt;br /&gt;5. Teknis Peralatan Musik (Kabel, Spull) ditanggung Peserta &lt;br /&gt;6. Panitia hanya menyiapkan Sound Sistem dan Alat Musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Persyaratan  Khusus (Tari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jumlah Group (Penari) tidak lebih dari 6 Orang&lt;br /&gt;2. Menampilkan satu Tari dengan iringan lagu Ya Saman&lt;br /&gt;3. Durasi Tari sesuai dengan waktu Lagu Ya Saman (1 kali putaran) &lt;br /&gt;4. Tarian Bukan jenis tarian Moderen (Bukan versi Cheer Leader)&lt;br /&gt;5. Tarian bercirikan Tari Tradisional sesuai dengan Tema Lagu &lt;br /&gt;6. Tari yang ditampilkan didasari Filosofi dan nilai-nilai syair lagu&lt;br /&gt;7. Kostum ditanggung Peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Demikian, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan semua pihak untuk mendukung program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 8 Mei 2011&lt;br /&gt;Panitia Pelaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-8971403866396763180?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/8971403866396763180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=8971403866396763180&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/8971403866396763180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/8971403866396763180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/05/juni-2011-festival-lagu-dan-tari-ya.html' title='Juni 2011, Festival  Lagu dan Tari “Ya Samman” Siap Digelar'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-YcWqnLSRz6k/TcZSjSIaAMI/AAAAAAAAAOo/Df7ovEoebi8/s72-c/Muhammad%2BSyahrian%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3079870701765325767</id><published>2011-02-06T22:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-06T22:57:56.160-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Surga Digital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-X6yzy15I/AAAAAAAAAOg/Uzj3eEze910/s1600/surga%2Bdigital.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-X6yzy15I/AAAAAAAAAOg/Uzj3eEze910/s320/surga%2Bdigital.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570838300407814034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu dluhur sudah dua jam berlalu. Tapi terik matahari masih seperti seterika diatas kepala. Hawa panas di Karang Asam--kompleks di karyawan PT.Tambang Batubara Tanjung Enim, bukan sepenuhnya dari langit, melainkan dampak panas dari uap Batubara. Jarak kompleks Karang Asam yang hanya berjarak sekitar 5 kilo meter dari lokasi penggalian tambang, sangat memungkinkan udara panas Batubara tertumpah di kawasan setiap kompleks Karang Asam dan kawasan lain di Tanjung Enim.&lt;br /&gt;Suasana terik siang itu, tak mengurungkan niat sejumlah ibu-ibu menuju Masjid Al-Muhajirin. Jumat Sore, memang sudah menjadi jadwal rutin pengajian di Masjid Al-Muhajirin. Sebagian ibu-ibu, sebagian lagi remaja, dan sebagian lain ada laki-laki, yang mayoritas karyawan PT.Tambang Batubara yang kebetulan bekerja pada shiff malam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tujuh malam, mereka baru keluar dari rumah menuju ke halte penjemputan bis perusahaan yang mengantar karyawan ke lokasi pertambangan. Dan besok jam enam pagi, mereka baru akan kembali ke rumah. Begitulah rutinitas sejumah karyawan PT.Tambang Batubara di kompleks kami. &lt;br /&gt;Bagi yang sempat dan mau meluangkan waktunya ikut pengajian setiap Jumat sore datang ke masjid bergabung dengan jamaah pengajian ibu-ibu. Bagi yang kelelahan atau yang malas-malasan, memilih di rumah menonton teve, atau melakukan apa saja yang membat mereka bisa refresh kembali, menyiapkan energi untuk esok hari.&lt;br /&gt;Jumlah jamaah siang itu tak beda jauh dengan sebelumnya. Selisihnya hanya satu atau dua orang saja. Jamaah ibu-ibu selalu mendominasi pengajian di Masjid Al-Muhajirin. Tetapi dominasi perempuan pada setiap pengajian, hampir terjadi di setiap masjid. Bukan hanya di kompleks Karang Asam saja, tetapi juga terjadi di ratusan masjid lain diluar Tanjung Enim. &lt;br /&gt;Sambil menunggu kedatangan Ustadz Farud, puluhan perempuan di Masjid Al-Muhajirin melakukan membaca Al-Quran secara bergantian (tadarus). Sementara jamaah laki-laki, memilih berbincang tentang apa saja. Sebagian lain duduk diam menghadap ke arah mihrab masjid. Tidak jelas, apakah berdzikir dalam i’tikaf, atau duduk sekadar terkantuk-kantuk. Sebab, ada saja dari sekian jamaah laki-laki yang duduk seperti i’tikaf, tiba-tiba kepalanya terayun-ayun maju-mundur seperti mau jatuh. Saat kemiringan badannya terbawa oleh kepala yang makin tertunduk, seketika itu pula terbangun dan melihat kanan-kiri. Mungkin khawatir kalau gerakannya menjadi tertawaan jamaah lainnya.&lt;br /&gt;Alunan pengajian di Masjid Al-Muhajirin, tiba-tiba berhenti. Suaranya tidak lagi terdengar keluar masjid. Speaker masjid mati. &lt;br /&gt;  “Naaah, mati lampu, Bu. Kita berhenti dulu!” kata salah satu jamaah.&lt;br /&gt;“Kenapa mesti berhenti? Kita terus saja. Lagi pula ustadznya belum datang,” kata lainnya lagi menimpali kalimat sebelumnya.&lt;br /&gt;“Nggak enak, Bu, kalau tidak pakai speaker. Ini kan syiar agama juga, supaya alunan ayat-ayat ini di dengar oleh warga kompleks ini,” tukas yang lain.&lt;br /&gt;“Ibu-ibu, karena sekarang sedang mati lampu, gimana kalau kita bicara arisan jamaah kita. Nanti kalau listriknya sudah hidup, kita tadarus lagi,” kata Ibu ketua pengajian.&lt;br /&gt;“Kalau menurut saya, soal arisan kita bicarakan ba’da ashar saja. Sekarang kita lanjutkan dulu tadarus. Jangan gara-gara listrik mati, kemudian kita berhenti tadarus,” timpal jamaah lain kurang setuju dengan usulan ibu ketua.&lt;br /&gt;“Ya, ini hanya usulan saja. Keputusannya saya serahkan ke ibu-ibu. Gimana?” Ibu ketua setengah meminta persetujuan pada jamaah.&lt;br /&gt;Kali itu, tema arisan lebih menarik ketimbang melanjutkan tadarus. Jadilah jamaah pengajian itu berubah topik, dari tadarus menjadi arisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Seketika handphone Ustadz Aslam berbunyi. Ringtone-nya suara adzan. Seketika tamu yang dihadapannya berhenti bicara. Klik! Ustadz Aslam mematikannya.&lt;br /&gt;“Ustadz mau sholat dulu? Silakan!” kata Andi, seorang karyawan perusahaan yang kali itu sedang bertamu di rumah Ustadz Aslam. Sebagai orang non muslim, Andi sangat menghargai hak beribadah Ustadz Aslam.&lt;br /&gt;“Nanti saja, kita selesaikan urusan ini, dulu. Shalat tepat waktu itu dalam ajaran Islam hanya anjuran. Sementara bicara tentang rencana mendirikan yayasan pendidikan ini urusan umat. Jadi kalau dilihat dari manfaat dan mudharatnya, bicara umat lebih penting dari pada shalat yang sifatnya sangat pribadi. Kita lanjutkan, tidak apa-apa. Saya shalatnya nanti saja,” kata Ustadz Aslam setengah membela diri agar tidak dituduh mengabaikan ringtone suara adzan.&lt;br /&gt;Andi, kemudian megeluarkan segepok uang untuk membantu pendirian Yayasan yang akan dikelola Ustadz Aslam. Wajah Ustadz Aslam kali itu terlihat sumringah, saat tumpukan uang itu berada di depan matanya. Entah apa yang terlintas di benak Ustadz Aslam. Tetapi dari ronanya, ada sejumlah rencana yang sulit ditebak, apakah langsung digunakan membangun gedung Yayasan, atau malah berbalik ke hal lain. Entahlah. Bgitulah manusia kebanyakan. Saat belum memili uang, ada niat kebaikan untuk berbagi. Tetapi setelah uang di depan mata berubah lagi rencana.&lt;br /&gt;“Pak Ustadz, jumlah bantuan dari perusahaan kami, hanya dua puluh lima juta. Ini kwitansinya mohon ditandatangani,” Andi menyodorkan lembaran kuitansi.&lt;br /&gt;Usai pendantanganan, perbincangan Andi dan Ustadz Aslam terus berlanjut. Tak sadar, ringtone suara adzan kembali berbunyi.&lt;br /&gt;“Pak, Ustadz, kayaknya sudah ashar, Pak. Gimana dluhurnya, Pak?” tanya Andi seketika. Bahasa tubuh Ustadz Aslam kali itu tak dapat dipungkiiri kalau dirinya setengan malu pada Andi yang mengingatkan keduakalinya. Apalagi Andi adalah non muslim. Tetapi karena Andi tetangga dekat, buat Ustadz Aslam pertanyaan Andi itu tak membuatnya tersinggung. Bahkan dianggap biasa.&lt;br /&gt;“Dalam Islam itu, ada yang namanya shalat jamak. Jamak Qasar, jamak tak-khir dan jamak taqdim, semuanya shalat yang dirangkap, antara ashar dan dluhur bisa digabungkan, kecuali maghrib dan shubuh,” jawab Ustadz Aslam tanpa memerinci persyaratan boleh dan tidaknya shalat jamak jika hanya sekadar menemui tamu. &lt;br /&gt;Karena Andi tidak banyak tahu tentang Islam, jawaban Ustadz Aslam dianggap benar, apalagi Ustadz Aslam dimata Andi sebagai sosok agamawan yang tahun banyak hukum agama. Kali itu Andi hanya menggut-manggut saja. Andi tidak tahu kalau itu hanya alibi Ustadz Aslam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Farid tidak bisa hadir mengisi pengajian Jamaah ibu-ibu di Masjid Al-Muhajirin masih sibuk dengan urusan arisan. Listrik yang sudah kembali hidup tak juga dihiraukan. Tadarus tak juga dilakukan. Jamaah laki-laki yang sebelumnya ingin mendengarkan pengajian, sudah lenyap entah kemana. Mang Bidin, penjaga masjid Al-Muhajirin sudah datang. Itu pertanda 30 menit lagi waktu ashar akan tiba.&lt;br /&gt;“Mang, putar saja kaset ngaji. Kami masih bahas soal arisan ibu-ibu,” kata Ibu ketua pengajian menyuruh Mang Bidin.&lt;br /&gt;Alunan ayat suci al-quran seketika mengalun melalui speaker masjid. Suara Nanang Qosim yang membacakan Suroh Al Baqarah mengiringi cuap-cuap jamaah pengajian ibu-ibu. Mang Bidin hanya duduk menunggu waktu ashar. Tugas pokoknya memukul bedug dan adzan setiap waktu shalat. Usai ashar, tak ada lagi tadarus. Jamaah bubar. Pulang menuju rumahnya masing-masing. Suara ayat suci al-quran akan terdengar kembali menjelang maghrib, ketika Mang Bidin memutar kaset kembali. Begitulah yang terjadi d sejumlah masjid. Kalau lampu mati, tak ada suara ayat suci al-quran. Sejumlah jamaah memilih duduk dengan obrolan masing-masing menunggu shalat tiba, ketimbang membaca al-quran atau berdzikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Di alam lain, Tuhan dan Malaikat sedang berbincang serius. Jutaan malaikat diundang dalam majelis itu, tanpa terkecuali. Malaikat Ridwan penjaga surga menjadi pendamping rapat kali itu. Sejumlah malaikat berbisik. Mereka saling tanya gerangan apa, sehingga Tuhan harus mengundang rapat hari itu, tanpa ada pemberitahuan sebeumnya. &lt;br /&gt;Sebagai pemimpin alam semesta, Tuhan  langsung memimpin majelis itu. Suasana hening. Tak ada satu pun Malaikat yang berani berucap. Tuhan menatap satu persatu, siapa Malaikat yang tidak hadir kali itu. &lt;br /&gt;“Wahai para Malaikat. Sejak zaman digital yang aku ciptakan, ternyata di muka bumi telah membuahkan banyak masalah,” Tuhan membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Apa itu, Tuhan?” tanya salah satu Malaikat.&lt;br /&gt;“Di era digital seperti sekarang, fasilitas yang telah aku tiupkan lewat para ahli teknologi, bukan membuat hamba-hambaku makin taat kepadaku, tetapi sebagian hambaku mengabaikan printahku,” papar Tuhan belum spesifik.&lt;br /&gt;“Bisa diperjelas lagi, Tuhan. Saya belum mengerti kemana arah pembicaraan Tuhan dalam soal ini,” tukas malaikat lain pensaran.&lt;br /&gt;“Maksudku begini. Teknologi dengan suara adzan di handphone, program al-quran dan hadits digital di laptop dan komputer, pengeras suara di masjid-masjid, sampai KTP elektronik yang berebel agama, ternyata seumuanya palsu,” Tuhan suaranya makin meninggi. Ronanya ada gambaran kemarahan yang tersimpan.&lt;br /&gt;Sejumlah Malaikat makin cemas. Sebagian lagi ada yang ketakutan dicabut jabatannya sebagai malaikat. &lt;br /&gt;“Malaikat Rokib dan Atid! Pencatat kebaikan dan keburukan!” Tuhan memanggil memecah keheningan. Kedua Malaikat itu seketika menggigil ketakutan. Seakan ada sebuah kesalahan besar, sehingga hari itu keduanya akan mendapat hukuman.&lt;br /&gt;“Kami, Ya Tuhan! Apa kesalahan kami?” kedua Malaikat menghadap. Takutnya bukan kepalang. Untung tak sempat pipis di tempat.&lt;br /&gt;“Kamu berdua melihat jamaah di Masjid Al Muhajirin?” tanya Tuhan pada kedua Malaikat.&lt;br /&gt;“Iya. Kami sudah catat semuanya. Tidak ada yang terlewatkan, Tuhan,” kata Malaikat Rokib, laporan.&lt;br /&gt;“Apa kesimpulan kalian?” Tuhan setengah menguji kejelian kedua Malaikat.&lt;br /&gt;Rokib dan ATid kemudian melaporkan semuanya.&lt;br /&gt;“Jamaah Masjid Al-Muhajirin hanya akan mengaji kalau listiknya hidup, sehingga suara pengajiannya bisa didengar di kompleks itu. Jadi kesimpuan kami, Tuhan, jamaah itu melakukan tadarus bukan atas nama-Mu tetapi hanya ingin didengar oleh mahluk sejenis mereka,” kata Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Artinya, mereka itu hanya ingin didengar oleh manusia, bukan atas namaku! Mereka masih ingin dinilai manusia supaya mereka dikatakan oleh manusia sebagi jamaah yang paling rajin mengaji. Bukan begitu, Malaikat?” tanya Tuhan lagi.&lt;br /&gt;“Betul, Tuhan. Betul!” Rokib dan Atid serempak menjawab.&lt;br /&gt;“Lalu  bagaimana dengan Aslam, yang mengaku ustadz itu. Aku lihat sudah dua kali panggilanku berdering, tetapi tidak bangun jga dari duduk?” Tuhan bertanya lagi. Tuhan seolah sedang inspeksi mendadak pada catatan kedua Malaikat itu.&lt;br /&gt;“Manusia satu itu agak parah, Tuhan! Dering handphone-nya yang menyebut nama-Mu, hanya menjadi ringtone saja, tetapi perintah-Mu tidak dijalani. Bahkan, bukan hanya Aslam saja Tuhan. Hampir sebagian manusia sejenis Aslam melakukan hal serupa. Suara ayat-ayat suci hanya menjadi ringtone, tetapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan dering handphone-nya,” kata Malaikat Atid.&lt;br /&gt;“Lalu, bagaimana dengan Mang Bidin?” tanya Tuhan lagi.&lt;br /&gt;“Bidin itu orang susah. Dia hanya mendapat uang dari mengurus masjid, selain itu tidak ada penghasilan lain,” jelas Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Bukan itu yang aku tanyakan! Kalau soal itu, aku lebih tahu dari pada kamu! Maksudku, catatan kalian tentang pengajian dari kaset itu,” Tuhan menjelaskan.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, kalau menurut hukum yang Tuhan berikan di dunia, sekecil apapun kebaikan tetap akan mendapat pahala. Masalahnya, kenapa bukan Mang Bidin yang mengaji, tetapi justru tape recorder-nya yang mengaji. Saya kira ini juga bagian dari penipuan, terhadap Tuhan!” kata Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Malaikat Ridwan!” Tuhan memanggil penjaga surga. Malaikat Ridwan tak jauh berbeda dengan kedua Malaikat sebelumnya. Keringat dingin seketika menjalari tubuhnya. Perasaan takut itu melebihi dari segalanya.&lt;br /&gt;“Saya, mengahdap Tuhan!” katanya sopan.&lt;br /&gt;“Kamu sudah dengar semuanya dari kedua malaikatku, Rokib dan Atid?”&lt;br /&gt;“Sssu..su..dah, Tuhan!” jawab Malaikat Ridwan benar-benar takut kali itu. Dia merasa kalau-kalau salah menjawab.&lt;br /&gt;“Seauai dengan perkembangan zaman yang teah aku ciptakan, aku juga ingin kamu punya ide, bagaimana mengatasi masalah ini. Apakah kamu ada usul dalam soal ini?” tanya Tuhan pada Malaikat Ridwan.&lt;br /&gt;“Tuhan, kami ini adalah mahluk ciptaan-Mu yang tidak punya hak membuat kebijakan, kecuali hanya menerima perintah-Mu. Jadi, apapun keputusan dalam masalah ini, kami semua Malaikat hanya menerima perintah, dan akan taat kepada-Mu?” Malaikat Ridwan sadar posisi. Tak mungkin Malaikat akan berani membuat kebijakan atau usulan dalam masalah yang sedang dibahas kali itu.&lt;br /&gt;“Bagus! Itu artinya, kalian semua para Malaikatku masih menjadi mahluk yang taat, bukan seperti manusia, yang hanya mengaku taat, tetapi besok lupa lagi,” katanya.&lt;br /&gt;“Para Malaikat! Di era digital ini, aku akan menambah satu lagi pintu surga baru,” Tuhan menyebutkan idenya.&lt;br /&gt;“Tuhan, mohon ampun sebelumnya. Apa ide itu tidak terlalu berlebihan. Sebab, pintu surga yang ada sekarang saja, menurut saya sudah cukup. Tentu dalam pembuatan pintu sorga ini, pasti juga akan menambah fasilitas. Semua itu butuh biaya operasional yang tidak sedikit, Tuhan,” Malaikat Ridwan setengah keberatan.&lt;br /&gt;“Ridwan, kamu ini kok bodoh sekali! Aku ini Tuhan. Maha Kaya. Maha Pemberi. Alam semesta ini adalah milikku. Jadi setiap manusia hanya akan meminta apapun kepadaku, bukan kepada yang lain,” kata Tuhan membanggakan dirinya.&lt;br /&gt; “Bagaimana dengan manusia yang meminta kepada mahluk serupa, seperti ke dukun atau ke...,” celetuk Malaikat Malik, penjaga neraka.&lt;br /&gt;“Itu penghianatan bulat-bulat! Itu namanya menduakan aku. Aku yang menciptakan,  jadi harusnya mereka meminta kepada aku yang mecniptakan bukan pada mahuk ciptaan.  Malik! itu tugasmu. Siapapun yang menduakan aku, jebloskan ke pintumu!” tegas Tuhan memerintah.&lt;br /&gt;“Jadi, pintu apalagi yang akan dibuat di alam akhirat ini,Tuhan?” Malaikat Ridwan memberanikan diri bertanya.&lt;br /&gt;“Aku ingin menambah satu lagi pintu surga, namanya pintu surga digital,” jelas Tuhan pada Malaikat.&lt;br /&gt;“Pintu surga digital? Apa maksudnya?” Malaikat Ridwan bingug.&lt;br /&gt;“Surga digital, akan menampung benda-benda apapun, handphone, tape recorder, KTP elektronik, laptop, netbook, dan semua benda yang didalamnya ada ayat-ayat suciku,” Tuhan menjelaskan rincian programnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pemiliknya?” tanya Malaikat lain.&lt;br /&gt;“Pemiliknya tidak bisa ikut. Sebab, yang menyebut namaku bukan pemiliknya, tetapi benda-benda yang mereka miliki. Mereka mengabadikan suara ayat-ayat dalam alat-alat digital, sementara pola tingkahnya tidak sesuai dengan suara yang keluar dari alat-alat itu,” jelas Tuhan detil.&lt;br /&gt;“Apakah alat-alat mereka itu tidak bisa menolong mereka masuk surga, digital?” tanya yang lain lagi.&lt;br /&gt;“Bisa, selama mereka memanfaatkan alat-alat itu untuk mendekatkan dirinya kepadaku. Kalau ternyata suara ayat-ayatku dalam alat digital hanya didengar dan dibanggakan di depan mahluk, untuk apa?! Mereka itu bukan ingin taat dengan suaraku di alat digital yang mereka miliki, tetapi mereka hanya minta dipuji oleh mahluk sesama mereka. Itu kesalahan mereka,” Tuhan menjelaskan.&lt;br /&gt;Rapat selesai. Pintu surga digital resmi dibuka. Seleksi Malaikat yang akan menjaga pintu surga ini dilakukan dengan ketat. Sejumlah ilmu tentang era digital langsung ditiupkan Tuhan ke sejumlah Malaikat.&lt;br /&gt;Dalam waktu tidak lama, sejumlah alat-alat digital masuk ke dalam surga. Para pemilikmya hanya melihat bengong. Mereka diseret ke neraka oleh Malikat Malik. Alat digital yang selama ini mendengungkan ayat-ayat Tuhan tak bisa menolong mereka mengantarkan masuk surga digital. Jangankan masuk, untuk sekadar mengintip saja tidak bisa. Para pemilik alat  digital menjerit. Menyesal dan ingin kembali ke bumi membawa alat-alat mereka, untuk kemudian kembali pada ketaatan. &lt;br /&gt;Tapi janji telah sampai. Tak ada jalan lain kecuali harus menjalani hukuman setimpal, sesuai amalnya semasa di dunia. “Ya, Tuhan, kalau jadinya begini, aku lebih baik memillih menjadi gunung atau tanah saja, yang selalu taat kepadamu. Aku tekah bodoh memilih jadi manusia,” sesal Ustadz Aslam, yang kemudian ditendang ke neraka, setelah sebelumnya handphone-nya direbut Malaikat Ridwan untuk dibawa ke Surga Digital.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembag 17 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3079870701765325767?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3079870701765325767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3079870701765325767&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3079870701765325767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3079870701765325767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/02/surga-digital.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Surga Digital&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-X6yzy15I/AAAAAAAAAOg/Uzj3eEze910/s72-c/surga%2Bdigital.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1894147117521602256</id><published>2011-02-06T22:49:00.000-08:00</published><updated>2011-02-06T22:52:11.993-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Mesir Anarki, Mesir Peduli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-WjpO_TFI/AAAAAAAAAOY/A-f1PCQUuRw/s1600/mesir.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-WjpO_TFI/AAAAAAAAAOY/A-f1PCQUuRw/s320/mesir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570836803188902994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua pekan terakhir Negeri Mesir, setelah sekian lama menjadi ‘air yang tenang’ kini bergolak. Kisruh dan keruh. Sampai hari ini, hampir separo lebih dari masyarakat dunia perhatiannya tersedot ke negeri itu. Ketenangan Mesir kini berubah menjadi lautan darah, doa dan air mata. Dua kubu antara pendukung dan anti Presiden Mubarak saling serang. Dua kepentingan sedang saling tarik menarik. Sistem pemerintahan tak berfungsi. Dan semua yang selama ini dilarang menjadi boleh. Sejumlah negara, termasuk Indonesia yang memiliki warga dan mahasiswa di Mesir terpaksa harus dipulangkan, demi keamanan jiwa mereka. Mesir yang selama ini banyak dirindukan sebagian mahasiswa, kini berubah menjadi negeri yang mengerikan. Tetapi apapun yang terjadi, pergolakan Mesir tetap saja menyimpan banyak hal yang patut kita catat sebagai bahan renungan bersama.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bukan pada gerakan menumbangkan pemerintahan Mubarak. Sebab menurut saya, kalau dalam konteks politik gerakan anti pemerintah, peristiwa reformasi Indonesia 1998 yang kemudian menggulingkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998, sudah lebih dari cukup untuk menjadi pelajaran politik bagi sejumlah pihak, termasuk negara-negara Asia lainnya. &lt;br /&gt;Tetapi dengan pergolakan Mesir, Pertama ; telah membuat sejumlah pejabat negeri ini ikut peduli terhadap nasib Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di negeri itu, sampai di tingkat presiden. Duta Besar (Dubes) Indonesia di Mesir yang selama ini mungkin tidak pernah terdengar ‘suaranya’ kemudian menjadi mediator antara warga Indonesia yang memiliki keluarga di Mesir dengan sejumlah jurnalis di Indonesia. Ada suara dan sikap peduli yang didorong paksa oleh realitas Mesir, sehingga Dubes Indonesia di Mesir harus memfungsikan diri sebagai ‘bapak’ dari sekian banyak mahasiswa dan orang tua Indonesia yang memiliki keluarga di Mesir. &lt;br /&gt;Kedua; seorang Presiden SBY dalam kasus ini ikut andil dengan sikap solidaritas memulangkan ribuan WNI di Mesir dengan memfasilitasi ribuan WNI sampai ke kampung halaman. Sebuah bentuk kepedulian yang cukup responsif bagi seorang Presiden yang segera mungkin menyelamatkan jiwa WNI di Mesir. Tentu aksi solidaritas ini bukan datang begitu saja. Sikap ini ada kondisi yang memaksa SBY harus melakukan sesuatu demi keselamatan WNI di Mesir. SBY jelas tidak ingin dikatakan Presiden yang tidak peduli terhadap keselamatan warganya di sebuah negara yang sedang carut marut, sebagaimana Mesir saat ini. Terlambat satu menit saja mengambil sikap terhadap WNI di Mesir, dalam sekejap, Presiden SBY akan menjadi ‘bulanan-bulanan’ media di Indonesia.&lt;br /&gt;Tetapi Prsiden SBY bukan pejabat kacangan. Bahkan, Jepang sudah menyebut SBY sebagai ‘Presiden Politik’ yang intelek dan cerdas. Berbagai penghargaan dari dunia internasional juga berdatangan. Presiden SBY dianggap sebagai sosok pemimpin yang telah mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap negeri Pancasila ini.&lt;br /&gt;Kepedulian Presiden SBY terhadap ribuan WNI di Mesir sudah tentu patut disikapi dengan aplaus positif. Meskipun sebelumnya, mantan Pangdam II Sriwijaya ini sempat diguncang oleh sinisme sejumlah pihak, ketika ada pernyataan; selama menjabat Presiden sudah tujuh tahun gajinya tidak mengalami kenaikan. Terakhir, putra kelahiran Pacitan 9 September 1949 ini kembali diterpa angin negatif dalam kasus buku SBY yang menyebar di sejumlah sekolah. Jauh sebelum itu, kasus Bank Century dan Monarki Yogyakarta, juga sempat mengguncang istana. &lt;br /&gt;Tetapi lagi-lagi harus diakui, Presiden SBY merupakan Presiden yang penuh siasat dan taktik. Latar belakang militer, menjadi sejarah yang telah mengakar dalam tubuh seorang SBY. Rebut dan Kuasai atau terus berjuang sampai ajal menjemput, merupakan darah militer yang sudah demikian kuat mengalir dalam tubuh SBY. &lt;br /&gt;Kita bisa menengok ke belakang, betapa sebagian pejabat dan rakyat Indonesia menolak George W Bush datang ke Indonesia ketika itu. Parlemen sempat akan menggear hak angket terhadap kunjungan Bush. Tetapi apa yang terjadi, Presiden Negara Adidaya Amerika Serikat itu tetap saja melenggang, dan parlemen kita bisa ‘bungkam’ serubu bahasa. Kalau SBY bukan jenderal yang pintar, sangat sulit menekan parlemen menjadi komunitas ‘mulut bisu’ dalam kunjungan Bush ke negeri ini. Sehingga musuh dalam konteks apapun akan dapat teratasi dengan ‘cerdas’ oleh SBY.&lt;br /&gt;Tetapi pergolakan Mesir bukan musuh bagi SBY atau juga bagi kita. Sikap peduli pemerintah Indonesia merupakan ‘pahala’ dari langit untuk Presiden SBY dalam membangun aksi solidaritas dan nasionalisme. Sebab diakui atau tidak, kalau sekiranya Mesir tidak begolak, tidak sedikit WNI yang memutuskan tetap tinggal dan menjadi warga negara Mesir. Tetapi ketika kebijakan langit menciptakan Mesir menjadi lautan jeritan, darah dan air mata, WNI di Mesir berbondong-bondong ingin pulang ke Indonesia. Ada spontanitas semangat nasionalisme yang ketika itu muncul. Kerinduan untuk tenang dan sejuk di kampung Indonesia, meski penuh dinamika korup, negeri ini tetap menjadi tumpuan hati bagi sejumlah WNI di Mesir. Kata pepatah ; lebih baik makan kangkung di rumah sendiri, dari pada makan dagnig di negeri orang. Tenryata pergolakan Mesir sedikit banyak telah mengembalikan ruh WNI terhadap kepemilikan Indonesia. Meski sesaat tetapi itu lebih baik dari pada tidak.&lt;br /&gt;Persis seperti kasus Manohara, yang dipaksa membangkitkan nasionalismenya terhadap Indonesia, setelah dalam ‘cengkeraman paksa’ dari putra mahkota di Malaysia. Ketika itu, keluarga Manohara sedemikian gencar melakukan kampanye simpatik agar sebagian bangsa ini, ikut memperjuangkan pembebasan Manohara dari putra mahkota di Malaysia. Secara spontanitas, muncul kesadaran kolektif di negeri ini untuk mempertahankan nasionalisme melalui kasus Manohara. &lt;br /&gt;Ketiga; silaturahim internasional. Mesir adalah miniatur dari sejumlah perintah dari langit untuk mengembalikan keeratan silaturrahim, bagi warga Mesir di sejumlah negara. Ada sikap kebersamaan dalam menciptakan musuh bersama, yaitu Mubarak harus segera turun dari kursi presiden. Pergolakan Mesir menjadi luapan emosi kebersamaan (silaturahim) warga Mesir yang tinggal di luar negeri Mesir. Aksi solidaritas secara moral terus berkumandang dan menggelora di jalan-jalan di belahan dunia.&lt;br /&gt;Bagi Indonesia, Mesir menjadi mediator silaturahim nasional, terutama bagi WNI yang selama ini belum sempat pulang kampung. Tetapi dengan Mesir bergolak, ada peluang yang sengaja dicipatakn oleh ‘pemegang otoritas kebijakan bumi’ agar WNI di Mesir harus pulang dan sujud kepada keluarga dan orang tua mereka yang sekian lama telah terpisah. Demikian keringnya rohani silaturahim kita terhadap negara, terhadap keluarga, terhadap orang  tua, baik bagi WNI dan warga Mesir, sehingga untuk membangkitkan dan menggelorakan silaturahim pada setiap kita, juga pada setiap warga Mesir, Tuhan harus menciptakan pergolakan Mesir lebih dulu. Kalau saja Mesir tidak bergolak, mungkin warga Mesir di sejumlah negara tidak menjadi luapan kebersamaan seperti yang terjadi di sejumlah negara. Pun bagi WNI. Kalau saja Mesir tidak bergolak, sangat mungkin kepulangan mereka ‘menghadap’ orang tua dan berkumpula dengan keluarga di negeri ini, tidak akan secepat yang saat ini terjadi. Akan banyak hal yang menjadi pertimbangan, kuliah belum selesai, kontrak kerja masih panjang, izin tinggal di Mesir belum habis dan masih banyak lagi alasan lain yang sangat tidak memungkinkan WNI pulang secepat seperti saat ini. &lt;br /&gt;Demikian halnya pada seorang Presiden SBY. Pergolakan Mesir telah membangkitkan spontanitas kepedulian dan aksi simpatik pada ribuan WNI di Mesir yang jiwanya terancam. Begitu terlupanya sejumlah pejabat negeri ini pada sikap peduli dan silaturahim internasional akiba siduk oleh urusan dalam negeri, sehingga kepedulian dan solidaritas itu harus dipaksa melalui pergolakan Mesir. Mesir adalah merupakan bentuk paksaan dari langit, agar kita dan semua kembali pada sikap saling peduli antar sesama, meski kita berada di tempat dan posisi yang berbeda.&lt;br /&gt;Keempat; TKI juga perlu dipulangkan. Jauh sebelum Mesir terguncang oleh realitas politik, ada komunitas WNI lain yang menurut saya menempati posisi prioritas untuk sesegera mungkin untuk dipulangkan sebagaimana WNI di Mesir, yaitu; nasib dua juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Jiran. Saya pikir, pergolakan batin mereka sudah lebih panjang dan dahsyat ketimbang WNI di Mesir. Problem yang diderita TKI saat ini, menurut saya tidak lebih kronis dari nasib WNI di Mesir. Sebab, deretan kasus yang menimpa TKI di negeri Jiran, bukan hanya mengancam perut mereka, tetapi juga jiwa, keluarga dan masa depan mereka di Indonesia. &lt;br /&gt;Kalau kemudian kita menyimak data kasus TKI yang pulang ke Indonesia penuh luka dan sebagian lagi tanpa nyawa, mestikah kepedulian seorang Presiden SBY hanya tertuju pada nasib WNI di Mesir? Bukankah TKI di negeri Jiran yang punya nasib tragis juga meski diselamatkan? Kalau Malaysia saja ada sekitar 2 juta TKI, lantas berapa banyak lagi TKI di negeri lain yang memiliki potensi untuk tidakdimanusiakan oleh majikan mereka? Haruskan menunggu ada luka dan kematian TKI baru muncul aksi solidaritas sebagaimana kasus-kasus sebelumnya? Menurut saya, bentuk kepedulian bagi WNI akibat pergolakan Mesir tetap saja menjadi bagian penting, tetapi nasib TKI di negeri Jiran tidak juga bisa diabaikan begitu saja. Sebab, derita mereka sudah berdasa warsa, sehingga mereka juga wajib mendapat kepedulian lebih dari WNI di Mesir.&lt;br /&gt;Presiden SBY tidak harus menunggu ada pergolakan serupa yang menimpa di Malaysia, baru kemudian mengambil sikap tegas terhadap upaya pemulangan TKI di negeri Jiran itu, seperti sikap peduli yang dilakukan pemerintah RI pada WNI di Mesir. Sebab pergolakan batin jutaan TKI di negeri Jiran itu menjadi perjalanan panjang yang akan terus menyejarah yang menaykitkan, jika tidak sesegara mungkin diakhiri. Kalau hanya dengan alasan TKI mendatangkan devisa negara sebesar 6,3 triliun per tahun, menurut saya pemerintah lebih cerdas bisa menyiasati dengan membuat cara lain untuk mengganti ‘jual beli manusia’ versus TKI dengan pola dan usaha lain di dalam maupun di luar negeri yang lebih manusiawi. Kita mengutuk adanya praktik traficking (jual beli manusia) tetapi kita juga membiarkan ‘jual beli’ TKI ke sejumlah negara. &lt;br /&gt;Sangat mungkin, sejumlah pihak akan membantah kalau pengiriman TKI menjadi bagian traficking. Sebab, yang selama ini dianggap traficking adalah ‘bisnis manusia’ yang tidak mendapat legalitas formal sebagaimana PJTKI yang jumlahnya ribuan di Indonesia. Bagaimana mungkin tidak saya sebut bagian traficking, kalau ternyata PJTKI di Indonesia dan penyalur di sejumlah negara masih juga ‘memakan’ keringat dari para TKI? Menurut mereka, taguhan paksa  dari jasa TKI itu sebagai profesional fee jasa penyaluran? Boleh saja dikatakan seperti itu, tetapi profesional fee tidak dengan cara menindas, nenipu atau bahkan melasukan pasport dan lainnya. Tetapi faktanya, hanya demi sejumlah rupiah, dan mendukung memasukkan devisa negara, sejumlah PJTKI siap berbuat apa saja, asal ‘jual beli manusia’ versus TKI mendapat legalitas formal dari pemerintah. Ini sama persis dengan larangan pemerintah membuka kompleks prostitusi (pelacuran), tetapi membiarkan ‘pelacuran intelektual’ seperti jual beli skripsi terus terjadi di ribuan kampus di negeri ini.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, terhadap nasib TKI di negeri Jiran, menurut saya masih sangat banyak peluang yang bisa dilakukan jika memang pemerintah memiliki political will dan political action dalam upaya mengentaskan jutaan TKI dari keterkungkugan para juragan atau majikan. Membiarkan nasib TKI tetap seperti saat ini, sama halnya kita dan pemerintah Indonesia sedang mengakui di mata internasional, kalau negeri ini adalah negeri eksportir babu alias negeri para pembantu.  Kalau pemerintah Indonesia bisa mengalokasikan anggaran tunjangan perumahan dan fasilitas bagi ratusan anggota dewan dengan triliunan rupiah, dari tingkat pusat dan daerah, mengapa tidak ada niat baik untuk mengalokasikan anggaran untuk membangun perusahaan yang kelak mampu menampung TKI yang dipulangkan ke negeri ini? &lt;br /&gt;Menurut saya, masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh untuk memberi ruang bagi TKI di negeri Jiran yang dipulangkan. Diantaranya adalah, merubah deal politik antara pemerintah dan investor. Dari tingkat Presiden sampai Bupati, argumentasinya adalah bukan hanya didasari menambah pendapatan negara, atau Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten dan Kota, tetapi berapa jumlah tenaga pengangguran eks TKI yang dapat diserap di perusahaan, juga menjadi posisi tawar bagi setiap investor yang akan menanamkan sahamnya di Indonesia. Sehingga, secara perlahan jutaan TKI yang mengadu nasib di negeri tetangga itu lambat laun dapat berkurang untuk kemudian diberdayakan sebagai tenaga kerja di sejumlah perusahaan yang disediakan pemerintah dari pusat dan daerah. Tidak ada yang tidak bisa, kalau kita memang mau melakukan dan mencobanya. Masalahnya kemudian adalah, tinggal pemerintah Indonesia mau atau tidak. **&lt;br /&gt;Palembang, 5 Februari 2011&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Penulis adalah Pelaku Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang, redaktur Dapunta.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Tulisan : http://www.dapunta.com/mesir-anarki-mesir-peduli.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1894147117521602256?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1894147117521602256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1894147117521602256&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1894147117521602256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1894147117521602256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/02/mesir-anarki-mesir-peduli.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Mesir Anarki, Mesir Peduli&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TU-WjpO_TFI/AAAAAAAAAOY/A-f1PCQUuRw/s72-c/mesir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-5816278046169976222</id><published>2011-01-25T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T21:41:48.262-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>ANTARA AKU, KITA DAN GAYUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-0Eu8HmXI/AAAAAAAAAOM/JtrXMqV0ago/s1600/gayus2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-0Eu8HmXI/AAAAAAAAAOM/JtrXMqV0ago/s320/gayus2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566365657865886066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayus Tambunan, tersangka penggelapan pajak di Indonesia, ternyata di kampung saya menjadi selebritis melebihi Ariel Peterpan. Hampir setiap kali saya dan sejumlah warga sedang asyik main gaplek, Gayus menjadi perbincangan menarik. Tentu dalam ruang dan logika yang sangat berbeda. Banyak kepala, banyak juga pendapat. Lain ladang lain belalang, lain sungai lain ikannya, dan lain lobang lain tikusnya. Sama seperti obrolan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gayus itu sebenarnya orang baik. Tetapi karena salah pergaulan, jadinya dia terjebak dalam penggelapan pajak. Jadi yang salah itu bukan Gayus, tetapi lingkungan dia bekerja yang mengajari Gayus jadi seperti sekarang,” ungkap Sis, salah satu guru di Palembang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tidak begitu, Mang, Sis. Mosok kalau anak kamu menari, kemudian tiba-tiba kaki anak kamu keselo atau terkilir, terus kamu menyalahkan lantai. Nggak fair, dong. Mestinya cara menari anak kamu yang perlu dibenahi, mungkin tehniknya salah, bukan malah menyalahkan lantai,” bantah Pras, seorang seniman di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu dia. Pemikiran seperti Pak Sis itu masih Orde Baru banget. Sebab, dalam sejarah di negeri ini, setiap kali ada masalah politik, kasus kriminal, pemerintah selalu mencari kambing hitam. Jadinya pelaku sebenarnya tidak terjerat pasal hukum, sementara pelakunya sendiri melenggang di luar penjara. Yang disalahkan selalu lantai, dan penarinya entah kemana,” ujar Ken, salah satu aktifis seolah membela Pras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kalau Gayus dari awal tidak diajari menggelapkan pajak, saya yakin Gayus tetap akan menjadi orang baik. Jadi yang salah ya gurunya Gayus itu. Gayus hanya akibat dari guru yang salah didik,” Sis tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya, kenapa Gayus mau melakukan itu? Berarti kan Gayus yang memang mau melakukannya. Coba kalau Gayus menolak dari awal. Pasti Gayus tidak akan bernasib seperti sekarang?” tukas Sar, pekerja pabrik di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gayus mau melakukan itu pasti ada sebab. Ya, sebabnya bisa macam-macam. Soal mentallitas, faktor ekonomi atau apa saja. Kita kan tidak bisa wawancara dengan Gayus. Kalau mau tahu sebenarnya, tanya langsung sama Gayus, kenapa dia mau melakukan itu?,” Sis kembali memancing argumentasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebabnya jelas. Gayus tidak bisa menjadi ikan di lautan, meski airnya asin dia tetap tawar. Coba kalau dia pakai prinsip ikan di laut, Gayus tetap akan bersih. Tetapi Gayus memilih menjadi nasi goreng. Campur antara nasi dan minyak menjadi satu rasa, itu masalahnya,” kata Pras sok berfilosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya juga manusia, Pras. Contoh saja anggota dewan. Dari awal mungkin ada saja anggota dewan yang ingin bersih dari korupsi. Tetapi setelah di dalam, dia ikut juga terhanyut dalam irama korupsi itu, karena memang iklimnya seperti itu. Jadi ya ikut-ikutan juga. Imannya memang kuat, Pras, tetapi iminnya yang nggak kuat,” tukas Amin, ditingkahi gelak tawa warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalau Gayus merasa cukup dengan gaji empat juta di perpajakan, menurutku tidak mungkin dia terjebak dalam lingkaran syetan itu. Mestinya dia bersyukur saja atas apa yang diterimanya dari gaji bulanan. Jadi tidak kejeblos dalam penggelapan pajak,” kata Ustadz Fir menimpali ucapan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ustadz, didunia ini berapa banyak manusia yang bisa merasa cukup dengan apa yang diterimanya sekarang. Tidak usah Gayus, Lha, sampean kan ustadz. Ternyata Pak Ustadz tidak cukup punya istri satu, akhirnya Pak Ustadz juga menikah lagi,” ujar Pras sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Fir jadi agak kikuk. Tak menyangka kalau ucapannya justru membuat dia terjebak. Ada rona yang kurang enak di wajah Ustadz Fir. Tetapi dia harus memaksa diri untuk tetap normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau itu privacy saya, Pras. Tidak ada hubungannya dengan Gayus. Kita ini membahas Gayus, bukan mempersoalkan saya punya dua isteri. Kamu ini ngawur, Pras. Kalau kamu mau, ya silakan saja punya dua istri seperti saya,” Ustadz Fir menyerang Pras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup itu relatif. Banyak orang yang pendapatannya terbatas, tetapi kehidupannya adem-adem dan tenang. Masalahnya itu karena kita tidak ada pengendalian diri. Selalu emosi dengan berbagai keinginan, sehingga kita tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Akhirnya apa? Ya kita sendiri terjebak dalam lingkaran nafsu yang sebenarnya akan membuat dia susah sendiri,” ujar Sis setengah berfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Guru, tapi susah untuk membentuk orang yang seperti kamu bilang tadi. Kita ini kan manusia biasa, bukan nabi. Sampai sekarang, saya juga masih sulit untuk memendam bermacam keinginan. Kalau menuruti keinginan, ya saya pilih saja jadi orang kaya, bukan jadi orang miskin,” ujar Naf, seorang pekerja kasar di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi buktinya sekarang, kamu kaya atau miskin?” tanya Sis pada Naf.&lt;br /&gt;Naf, terdiam. Saat itu Naf seperti sedang ditohok dengan pisau oleh Sis. Dia hanya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukuri saja apa yang kamu terima sekarang Naf. Tuhan tidak akan buta dengan usaha kamu sekarang. Jalani saja. Selama kamu niatkan untuk pengabdian pada Tuhan, Insya Allah semua akan membuahkan hasil,” kata ustadz Fir memenangkan Naf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Termasuk pada Gayus, kita juga harus bersyukur,” sela Pras sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gayus kita syukuri, Pras. Ngawur kamu?” tanya Ustadz Fir penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ustadz, Gayus itu banyak jasa, lho. Coba kalau tidak ada Gayus, malam ini kita tidak pernah akan membahas soal Gayus dan rasa syukur seperti yang dibilang Pak Ustadz tadi. Biasanya kita juga ngomong soal pekerjaan. Sekarang, kita bahas soal Gayus sampai kemana-mana. Kan itu bentuk sumbangan Gayus pada kita, supaya kita lebih cerdas memahami hidup dan kehidupan, Pak Ustadz,” Pras berargumen semaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu bisa-bisa saja kamu, Pras. Kamu itu seniman yang terlalu banyak bermain imajinasi. Menghayal. Jadi otakmu sering membuat tafsiran-tafsiran yang keluar dari logika normal manusia kebanyakan,” Ustadz Fir tidak terima dengan Pras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itu terserah Pak Ustadz. Setuju dan tidak setuju itu bukan urusan saya. Tapi secara tidak langsung, Gayus itu sudah memnyumbangkan banyak pemikiran pada kita. Juga pada bangsa ini. Sejak Gayus muncul ke permukaan, semua orang bicara korupsi. Kemudian lembaga-lembaga di negeri ini melakukan pembersihan sistem, jangan sampai ada korupsi di lembaga mereka. Muncul juga ide membuat kurkulum anti korupsi. Tetapi ada juga yang membuat gagasan korupsi yang sistematis dan legal,” Pras memancing masalah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Korupsi yang legal, Pras?” tanya Ken penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Korupsi tetapi legal. Tanya saja pada Pak Sis. Dia orang pendidikan, orang birokrasi, dia lebih tahu tentang ini,” Pras menyerang Sis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pras, kalau soal itu aku tidak tahu. Aku nggak berani ngomong, nanti aku salah,” kata Sis agak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah Pak Sis. Kamu itu sebenarnya tahu, tetapi tidak mau ngomong karena takut kalau diberitakan wartawan, kan?” kata Pras menohok Sis malam itu.&lt;br /&gt;Sis hanya diam. Sis mengalihkan perhatiannya pada buah gaple di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu saja Pras yang ngomong. Kamu kan orang bebas. Tidak ada risiko. Kalau aku kan PNS, jadi ya beginilah kalau PNS harus tunduk dan patuh pada sistem, meskipun sistem itu sedang memaksa kita untuk melakukan yang tidak baik,” Sis membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu! Pak Sis kan mengakui. Sebenarnya dalam negara kita ada  sistem yang seringkali memaksa orang speeri Pak Sis harus korup seperti Gayus. Sekarang ini, banyak laporan fiktif. Kadang-kadang kegiatannya belum selesai, laporan pertanggungjawabanya sudah tuntas. Kuitansi, jumlah peserta dan stempelnya ya palsu. Untuk mengambil uang dari pemerintah harus buat laporan dulu, padahal kegiatannya belum berlangsung. Apa itu tidak sama dengan Gayus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus ada lagi tunjangan perumahan anggota dewan lima belas juta yang dilegalisasi oleh Kementrian Dalam Negeri. Laporan yang harus sma denga  jumlah uang, meski harus direka-reka. Kan itu sama saja korup juga. Kita ini kadang menghujat orang korup seperti Gayus, tetapi dalam praktiknya, kita juga melakukan hal serupa seperti Gayus. Jadilah bangsa ini negeri Gayus. Sudahlah, kita ini berteraik maling karena bukan kita yang jadi maling!” ujar Pras tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu semua bermain dengan logika dan perasaannya masing-masing. Kami terus bermain gaple. Melihat dan menunggu buah keberuntugan untuk kemenangan malam itu. Demikian, juga Gayus yang juga menunggu buah kemenangan sidang dari kasus yang saat ini sedang dijalaninya.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang 13 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah, Pelaku Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kota Palembang, bekerja pada Dapunta.com&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber Tulisan : http://www.dapunta.com/antara-aku-kita-dan-gayus.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-5816278046169976222?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/5816278046169976222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=5816278046169976222&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5816278046169976222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5816278046169976222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/01/antara-aku-kita-dan-gayus.html' title='ANTARA AKU, KITA DAN GAYUS'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-0Eu8HmXI/AAAAAAAAAOM/JtrXMqV0ago/s72-c/gayus2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7702897232017023492</id><published>2011-01-25T21:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T21:38:01.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>KETIKA GAYUS INGIN MENJADI N”NABI”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-zAPYWhpI/AAAAAAAAAOE/J7tjd9KhZHU/s1600/gayus.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-zAPYWhpI/AAAAAAAAAOE/J7tjd9KhZHU/s320/gayus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566364481163265682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Gayus Tambunan, tersangka penggelapan pajak di Indonesia yang berniat menjadi staf ahli Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Indonesia (Polri) tak lepas dari pantauan warga di kampung saya. Dua pekan terakhir, hampir setiap habis maghrib menjelang isyak, di masjid kampung saya ada saja jamaah yang berbincang soal Gayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gayus itu sudah gila. Mosok sudah korup kok malah mau jadi staf ahli KPK. Dasar Bocah edan!” ujar Mang Yus agak kesal.&lt;br /&gt;“Iya, aku juga heran, Kok bisa-bisanya Gayus itu ngomong begitu. Apa dia itu tidak sadar kalau sekarang nama dia sedang hancur. E, sekarang malah mau jadi staf ahli. KPK dan Polri lagi! Siapa yang mau menerima orang seperti Gayus!” timpal Mang Sujak seakan setuju dengan Mang Yus.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu kan hanya akal-akalan Gayus, supaya dia dibilang orang yang sudah taubat. Kalau dia diterima jadi staf ahli, otomatis dia akan bebas dari jeratan hukum. Lagi pula, kalau pemerintah mau menerima itu, pemerintah juga gila. Lha, maling  pajak kok dijadikan staf ahli? Apa nggak tambah hancur negara ini?,” tukas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan kerjaan pengacara Gayus, supaya pengacaranya juga ikut tenar. Sudahlah, itu hanya politik jualan Gayus dan pengacaranya saja. Otaknya bukan Gayus, tapi orang-orang dibelakang Gayus,” kata Mang War, salah satu praktisi enterpreuner di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan beberapa jamaah di masjid kampung saya, tak beda jauh dengan tanggapan sejumlah pejabat di negeri ini. Niat baik Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri dianggap lelucon panggung ludruk yang sama sekali tidak masuk akal sehat kita.  Semuanya melihat baik Gayus sebagai dagelan politik Gayus yang ingin dianggap sebagai orang yang sudah menyesal dengan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah kita juga akan menolak niat baik anak kita yang sebelumnya terjerat narkoba, kemudian seketika ingin berbalik menjadi orang baik? Atau kita juga akan menghalangi iblis ketika suatu kali iblis datang kerumah kita kemudian ibllis menyatakan bertaubat dan ingin menjadi manusia bermoral sebagaimana nabi?&lt;br /&gt;Kita, selama ini sering memilih membangkitkan suudzon (prasangka buruk) pada sejumlah orang yang punya niat baik. Sehingga prasangka buruk itu kemudian menutup hati kita, lantas mengatakan niat Gayus itu dianggap gagasan orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika prasangka buruk sudah sedemikian tebal melingkupi akal dan hati kita, maka dia akan menjadi hijab (penutup) hati kita, untuk kemudian pancaran hati kita juga akan buram. Persis ketika kita berdiri di depan cermin. Taburilah cermin itu dengan debu sehingga cermin menjadi buram. Lalu kita ambil sebuah senter, atau lampu. Kemudian kita arahkan sinarnya ke cermin. Maka pantulan sinar yang mengarah pada muka kita juga akan buram, sebagaimana cermin yang sebelumnya memang buram oleh debu yang kita taburkan. Begitulah cerminan hati dan pikiran kita melihat niat Gayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun Gayus juga begitu. Mengapa niat Gayus harus dinilai negatif ketika ada dia ingin menjadi manusia bermoral seperti Nabi. Kalau ada tawaran pilihan pertanyaan; lebih baik mantan kiai atau mantan preman? Lebih baik mantan gadis berjilbab, atau mantan pekerja seks komersil? Lebih baik mantan ruhaniwan atau mantan koruptor? Logikanya, kalau mantan kiai akan menjelma menjadi preman. Kalau mantan gadis berjilbab bisa menjelma menjadi pekerja seks komersil? Kalau mantan ruhaniwan bisa menjelma menjadi koruptor. Sebaliknya, mantan preman tidak sedikit jadi kiai. Mantan pekerja seks komersil bisa menjadi perempuan berjilbab. Mantan koruptor bisa menjelma menjadi rohaniwan. Lantas berapa fakta di negeri ini orang yang selama ini kita anggap bermoral, tetapi pada kenyataannya kampanye kebaikan yang ditebarkan itu hanya lips service (buah bibir) atau kamuflase saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penialain terhadap niat Gayus sangat relatif. Tergantung dari mana kita akan menilai dan memandangnya. Kita sudah sedemikian tidak percaya para realitas kebaikan yang pada kenyataaannya sering dimanipulasi. Atau kita juga sudah seperti besi karat tebal yang sangat sulit dibersihkan, karena sudah terlalu lama kita menyimpan karat prangsa buruk dalam lintasan batin dan logika kita. Akibatnya, muatan negatif dalam syaraf kita lebih mendominasi jalan pikiran, sehingga yang melintasi otak dan hati kita sering memilih melihat sesuatu dari sisi negatif dari pada positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam soal ini, perlu kemudian kita juga mempertanyakan kembali, sebenarnya yang menolak niat baik Gayus itu karena hati kita yang buram oleh debu prasangka buruk, atau karena kita tidak ingin kasus besar pidana korupsi di negeri ini akan terbongkar oleh Gayus? Sebab disebut anggota DPR-RI, bukan tidak mungkin, ketika kasus Gayus ini diungkap akan banyak sejumlah orang kuat di negeri ini yang terlibat, baik dalam konteks politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Gayus duduk sebagai staf ahli KPK dan Polri, akan sangat banyak kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat negara juga ikut terbongkar. Ungkapan Gayus yang ingin membongkar kasus korupsi kelas kakap dan kelas paus, sudah pasti membuat sejumlah petinggi negeri ini menjadi kalang kabut. Sebab Gayus adalah saksi kunci, siapa-siapa saja perusahaan dan pejabat negara yang selama ini menggunakan jasa Gayus dalam mengemplang pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga argumentasi dalam dimensi moralitas yang digembar-gemborkan oleh para pejabat negara menolak Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri, tak lebih bentuk politik ketakutan para pejabat negara dan pengusaha agar Gayus tidak menyebut nama-nama koruptor kelas kakap dan kelas paus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi moralitas menolak Gayus, hanya sebuah politik pembelaan para pejabat negara dan pengusaha, agar mereka tetap selamat dari jeratan hukum terkait kasus korupsi yang mereka lakukan. Para pejabat negara sangat mengetahui iklim pikiran bangsa ini, sehingga hanya politik moralitas yang bisa menjadi benteng penolakan Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri. Hanya dengan kampanye atas nama moralitaslah sejumlah tokoh akan ikut menolak Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan ini sama halnya ketika kaum kafir Quraisy menolak kedatangan Nabi Muhammad Saw di Mekkah. Penolakan mereka bukan pada dimensi ideologi Islam, melainkan karena Nabi Muhammad Saw akan mengganggu stabilitas penindasan, perbudakan dan kapitalisme yang selama ini dilakukan Kafi Quraisy di Kota Mekkah. Argumentasi penolakan atas dasar Islam tidak masuk akal bagi ajaran nenek moyang mereka, hanya rekayasa sejumlah penguasa Mekkah (Kafir-Quraisy) yang ketika itu tidak ingin diganggu kemapanan kekuasaannya menjadi pememerataan hak dan kewajiaban antar sesama, sebagaimana ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Jadi penilakan meraka bukan karena Islamnya, tetapi karena ajaran Nabi Muhamad Saw yang bertentangan dengan iklim hukum pendindasan yang sudah lebih dulu mereka terapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayus memang bukan Nabi atau Rasul. Tetapi saat ini Gayus sedang menjadi manusia pilihan Tuhan yang sedang diundang Tuhan melalui sejumlah kasus yang melingkupinnya. Gayus memang ditugaskan Tuhan untuk membuka sejumlah kasus korupsi. Gayus juga seperti iblis yang membantu kita untuk mengantar banyak manusia masuk sorga, meski dia harus berkorban menyiapkan diri masuk neraka. Sama seperti lilin yang setia menerangi kegelapan, tetapi dirinya siap leleh dan terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayus, seperti juga Ahmad Mushodieq yang mengaku nabi. Datang dan lahir saat ini untuk membuka ruang pikiran dan batin kita. Tanpa Mushodieq  mungkin bangsa ini tidak pernah akan ada perbincangan serius para pejabat negara tentang agama. Karena Mushodiq, sejumlah pejabat negara kemudian duduk satu meja, antara Polri, Kemendagri, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah tokoh agama membahas kehidupan agama.&lt;br /&gt;Sedemikian parahnya bangsa ini yang telah meinggalkan nilai-nilai kerohanian, segingga Tuhan harus memaksa sejumlah pejabat negara untuk membicarakan agama dengan mengutus Nabi palsu Ahmad Mushodieq. Demikian juga dengan Gayus. Oleh karena sedemikian parahnya tingkat korupsi di negeri ini, sehingga Tuhan harus mengurus Gayus untuk menjadi tersangka. Gayus diundang Tuhan agar segera kembali pada-Nya. Sebab dalam kurun waktu tertentu ketika Gayus memanipulasi laporan pajak, sudah pasti Gayus sedang terlupa pada nilai-nilai kebaikan. Dan sekarang, Gayus tertangkap, ditugasi Tuhan untuk membantu pembongkaran kasus korupsi yang lebih besar di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal bagaimana sikap bangsa ini. Apakah akan menempatkan Gayus sebagai iblis yang tetap menjerumuskan manusia, atau merubah pikiran kita, untuk kemudian memposisikan Gayus sebagai iblis yang ingin bertaubat dan membantu bangsa ini untuk membongkar kasus korupsi di negeri ini? Pintu menuju kebaikan dari langit sudah dibuka melalui tertangkapnya Gayus. Sekarang tinggal para pejabat negara, mau atau tidak memulainya untuk membongkar kasus Gayus lain yang lebih besar lagi? [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 13 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah, Pelaku Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kota Palembang, bekerja pada Dapunta.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Tulisan : http://www.dapunta.com/ketika-gayus-ingin-menjadi-%E2%80%98nabi%E2%80%99.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7702897232017023492?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7702897232017023492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7702897232017023492&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7702897232017023492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7702897232017023492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/01/ketika-gayus-ingin-menjadi-nnabi.html' title='KETIKA GAYUS INGIN MENJADI N”NABI”'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-zAPYWhpI/AAAAAAAAAOE/J7tjd9KhZHU/s72-c/gayus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3784462360497595873</id><published>2011-01-25T21:17:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T21:19:20.338-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Surga Digital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-ur0y-YtI/AAAAAAAAAN8/BB-jL5NJogA/s1600/digital.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-ur0y-YtI/AAAAAAAAAN8/BB-jL5NJogA/s320/digital.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566359732383277778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dluhur sudah dua jam berlalu. Tapi terik matahari masih seperti seterika diatas kepala. Hawa panas di Karang Asam--kompleks di karyawan PT.Tambang Batubara Tanjung Enim, bukan sepenuhnya dari langit, melainkan dampak panas dari uap Batubara. Jarak kompleks Karang Asam yang hanya berjarak sekitar 5 kilo meter dari lokasi penggalian tambang, sangat memungkinkan udara panas Batubara tertumpah di kawasan setiap kompleks Karang Asam dan kawasan lain di Tanjung Enim.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suasana terik siang itu, tak mengurungkan niat sejumlah ibu-ibu menuju Masjid Al-Muhajirin. Jumat Sore, memang sudah menjadi jadwal rutin pengajian di Masjid Al-Muhajirin. Sebagian ibu-ibu, sebagian lagi remaja, dan sebagian lain ada laki-laki, yang mayoritas karyawan PT.Tambang Batubara yang kebetulan bekerja pada shiff malam. Pukul tujuh malam, mereka baru keluar dari rumah menuju ke halte penjemputan bis perusahaan yang mengantar karyawan ke lokasi pertambangan. Dan besok jam enam pagi, mereka baru akan kembali ke rumah. Begitulah rutinitas sejumah karyawan PT.Tambang Batubara di kompleks kami. &lt;br /&gt;Bagi yang sempat dan mau meluangkan waktunya ikut pengajian setiap Jumat sore datang ke masjid bergabung dengan jamaah pengajian ibu-ibu. Bagi yang kelelahan atau yang malas-malasan, memilih di rumah menonton teve, atau melakukan apa saja yang membat mereka bisa refresh kembali, menyiapkan energi untuk esok hari.&lt;br /&gt;Jumlah jamaah siang itu tak beda jauh dengan sebelumnya. Selisihnya hanya satu atau dua orang saja. Jamaah ibu-ibu selalu mendominasi pengajian di Masjid Al-Muhajirin. Tetapi dominasi perempuan pada setiap pengajian, hampir terjadi di setiap masjid. Bukan hanya di kompleks Karang Asam saja, tetapi juga terjadi di ratusan masjid lain diluar Tanjung Enim. &lt;br /&gt;Sambil menunggu kedatangan Ustadz Farud, puluhan perempuan di Masjid Al-Muhajirin melakukan membaca Al-Quran secara bergantian (tadarus). Sementara jamaah laki-laki, memilih berbincang tentang apa saja. Sebagian lain duduk diam menghadap ke arah mihrab masjid. Tidak jelas, apakah berdzikir dalam i’tikaf, atau duduk sekadar terkantuk-kantuk. Sebab, ada saja dari sekian jamaah laki-laki yang duduk seperti i’tikaf, tiba-tiba kepalanya terayun-ayun maju-mundur seperti mau jatuh. Saat kemiringan badannya terbawa oleh kepala yang makin tertunduk, seketika itu pula terbangun dan melihat kanan-kiri. Mungkin khawatir kalau gerakannya menjadi tertawaan jamaah lainnya.&lt;br /&gt;Alunan pengajian di Masjid Al-Muhajirin, tiba-tiba berhenti. Suaranya tidak lagi terdengar keluar masjid. Speaker masjid mati. &lt;br /&gt;  “Naaah, mati lampu, Bu. Kita berhenti dulu!” kata salah satu jamaah.&lt;br /&gt;“Kenapa mesti berhenti? Kita terus saja. Lagi pula ustadznya belum datang,” kata lainnya lagi menimpali kalimat sebelumnya.&lt;br /&gt;“Nggak enak, Bu, kalau tidak pakai speaker. Ini kan syiar agama juga, supaya alunan ayat-ayat ini di dengar oleh warga kompleks ini,” tukas yang lain.&lt;br /&gt;“Ibu-ibu, karena sekarang sedang mati lampu, gimana kalau kita bicara arisan jamaah kita. Nanti kalau listriknya sudah hidup, kita tadarus lagi,” kata Ibu ketua pengajian.&lt;br /&gt;“Kalau menurut saya, soal arisan kita bicarakan ba’da ashar saja. Sekarang kita lanjutkan dulu tadarus. Jangan gara-gara listrik mati, kemudian kita berhenti tadarus,” timpal jamaah lain kurang setuju dengan usulan ibu ketua.&lt;br /&gt;“Ya, ini hanya usulan saja. Keputusannya saya serahkan ke ibu-ibu. Gimana?” Ibu ketua setengah meminta persetujuan pada jamaah.&lt;br /&gt;Kali itu, tema arisan lebih menarik ketimbang melanjutkan tadarus. Jadilah jamaah pengajian itu berubah topik, dari tadarus menjadi arisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Seketika handphone Ustadz Aslam berbunyi. Ringtone-nya suara adzan. Seketika tamu yang dihadapannya berhenti bicara. Klik! Ustadz Aslam mematikannya.&lt;br /&gt;“Ustadz mau sholat dulu? Silakan!” kata Andi, seorang karyawan perusahaan yang kali itu sedang bertamu di rumah Ustadz Aslam. Sebagai orang non muslim, Andi sangat menghargai hak beribadah Ustadz Aslam.&lt;br /&gt;“Nanti saja, kita selesaikan urusan ini, dulu. Shalat tepat waktu itu dalam ajaran Islam hanya anjuran. Sementara bicara tentang rencana mendirikan yayasan pendidikan ini urusan umat. Jadi kalau dilihat dari manfaat dan mudharatnya, bicara umat lebih penting dari pada shalat yang sifatnya sangat pribadi. Kita lanjutkan, tidak apa-apa. Saya shalatnya nanti saja,” kata Ustadz Aslam setengah membela diri agar tidak dituduh mengabaikan ringtone suara adzan.&lt;br /&gt;Andi, kemudian megeluarkan segepok uang untuk membantu pendirian Yayasan yang akan dikelola Ustadz Aslam. Wajah Ustadz Aslam kali itu terlihat sumringah, saat tumpukan uang itu berada di depan matanya. Entah apa yang terlintas di benak Ustadz Aslam. Tetapi dari ronanya, ada sejumlah rencana yang sulit ditebak, apakah langsung digunakan membangun gedung Yayasan, atau malah berbalik ke hal lain. Entahlah. Bgitulah manusia kebanyakan. Saat belum memili uang, ada niat kebaikan untuk berbagi. Tetapi setelah uang di depan mata berubah lagi rencana.&lt;br /&gt;“Pak Ustadz, jumlah bantuan dari perusahaan kami, hanya dua puluh lima juta. Ini kwitansinya mohon ditandatangani,” Andi menyodorkan lembaran kuitansi.&lt;br /&gt;Usai pendantanganan, perbincangan Andi dan Ustadz Aslam terus berlanjut. Tak sadar, ringtone suara adzan kembali berbunyi.&lt;br /&gt;“Pak, Ustadz, kayaknya sudah ashar, Pak. Gimana dluhurnya, Pak?” tanya Andi seketika. Bahasa tubuh Ustadz Aslam kali itu tak dapat dipungkiiri kalau dirinya setengan malu pada Andi yang mengingatkan keduakalinya. Apalagi Andi adalah non muslim. Tetapi karena Andi tetangga dekat, buat Ustadz Aslam pertanyaan Andi itu tak membuatnya tersinggung. Bahkan dianggap biasa.&lt;br /&gt;“Dalam Islam itu, ada yang namanya shalat jamak. Jamak Qasar, jamak tak-khir dan jamak taqdim, semuanya shalat yang dirangkap, antara ashar dan dluhur bisa digabungkan, kecuali maghrib dan shubuh,” jawab Ustadz Aslam tanpa memerinci persyaratan boleh dan tidaknya shalat jamak jika hanya sekadar menemui tamu. &lt;br /&gt;Karena Andi tidak banyak tahu tentang Islam, jawaban Ustadz Aslam dianggap benar, apalagi Ustadz Aslam dimata Andi sebagai sosok agamawan yang tahun banyak hukum agama. Kali itu Andi hanya menggut-manggut saja. Andi tidak tahu kalau itu hanya alibi Ustadz Aslam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Farid tidak bisa hadir mengisi pengajian Jamaah ibu-ibu di Masjid Al-Muhajirin masih sibuk dengan urusan arisan. Listrik yang sudah kembali hidup tak juga dihiraukan. Tadarus tak juga dilakukan. Jamaah laki-laki yang sebelumnya ingin mendengarkan pengajian, sudah lenyap entah kemana. Mang Bidin, penjaga masjid Al-Muhajirin sudah datang. Itu pertanda 30 menit lagi waktu ashar akan tiba.&lt;br /&gt;“Mang, putar saja kaset ngaji. Kami masih bahas soal arisan ibu-ibu,” kata Ibu ketua pengajian menyuruh Mang Bidin.&lt;br /&gt;Alunan ayat suci al-quran seketika mengalun melalui speaker masjid. Suara Nanang Qosim yang membacakan Suroh Al Baqarah mengiringi cuap-cuap jamaah pengajian ibu-ibu. Mang Bidin hanya duduk menunggu waktu ashar. Tugas pokoknya memukul bedug dan adzan setiap waktu shalat. Usai ashar, tak ada lagi tadarus. Jamaah bubar. Pulang menuju rumahnya masing-masing. Suara ayat suci al-quran akan terdengar kembali menjelang maghrib, ketika Mang Bidin memutar kaset kembali. Begitulah yang terjadi d sejumlah masjid. Kalau lampu mati, tak ada suara ayat suci al-quran. Sejumlah jamaah memilih duduk dengan obrolan masing-masing menunggu shalat tiba, ketimbang membaca al-quran atau berdzikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Di alam lain, Tuhan dan Malaikat sedang berbincang serius. Jutaan malaikat diundang dalam majelis itu, tanpa terkecuali. Malaikat Ridwan penjaga surga menjadi pendamping rapat kali itu. Sejumlah malaikat berbisik. Mereka saling tanya gerangan apa, sehingga Tuhan harus mengundang rapat hari itu, tanpa ada pemberitahuan sebeumnya. &lt;br /&gt;Sebagai pemimpin alam semesta, Tuhan  langsung memimpin majelis itu. Suasana hening. Tak ada satu pun Malaikat yang berani berucap. Tuhan menatap satu persatu, siapa Malaikat yang tidak hadir kali itu. &lt;br /&gt;“Wahai para Malaikat. Sejak zaman digital yang aku ciptakan, ternyata di muka bumi telah membuahkan banyak masalah,” Tuhan membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Apa itu, Tuhan?” tanya salah satu Malaikat.&lt;br /&gt;“Di era digital seperti sekarang, fasilitas yang telah aku tiupkan lewat para ahli teknologi, bukan membuat hamba-hambaku makin taat kepadaku, tetapi sebagian hambaku mengabaikan printahku,” papar Tuhan belum spesifik.&lt;br /&gt;“Bisa diperjelas lagi, Tuhan. Saya belum mengerti kemana arah pembicaraan Tuhan dalam soal ini,” tukas malaikat lain pensaran.&lt;br /&gt;“Maksudku begini. Teknologi dengan suara adzan di handphone, program al-quran dan hadits digital di laptop dan komputer, pengeras suara di masjid-masjid, sampai KTP elektronik yang berebel agama, ternyata seumuanya palsu,” Tuhan suaranya makin meninggi. Ronanya ada gambaran kemarahan yang tersimpan.&lt;br /&gt;Sejumlah Malaikat makin cemas. Sebagian lagi ada yang ketakutan dicabut jabatannya sebagai malaikat. &lt;br /&gt;“Malaikat Rokib dan Atid! Pencatat kebaikan dan keburukan!” Tuhan memanggil memecah keheningan. Kedua Malaikat itu seketika menggigil ketakutan. Seakan ada sebuah kesalahan besar, sehingga hari itu keduanya akan mendapat hukuman.&lt;br /&gt;“Kami, Ya Tuhan! Apa kesalahan kami?” kedua Malaikat menghadap. Takutnya bukan kepalang. Untung tak sempat pipis di tempat.&lt;br /&gt;“Kamu berdua melihat jamaah di Masjid Al Muhajirin?” tanya Tuhan pada kedua Malaikat.&lt;br /&gt;“Iya. Kami sudah catat semuanya. Tidak ada yang terlewatkan, Tuhan,” kata Malaikat Rokib, laporan.&lt;br /&gt;“Apa kesimpulan kalian?” Tuhan setengah menguji kejelian kedua Malaikat.&lt;br /&gt;Rokib dan ATid kemudian melaporkan semuanya.&lt;br /&gt;“Jamaah Masjid Al-Muhajirin hanya akan mengaji kalau listiknya hidup, sehingga suara pengajiannya bisa didengar di kompleks itu. Jadi kesimpuan kami, Tuhan, jamaah itu melakukan tadarus bukan atas nama-Mu tetapi hanya ingin didengar oleh mahluk sejenis mereka,” kata Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Artinya, mereka itu hanya ingin didengar oleh manusia, bukan atas namaku! Mereka masih ingin dinilai manusia supaya mereka dikatakan oleh manusia sebagi jamaah yang paling rajin mengaji. Bukan begitu, Malaikat?” tanya Tuhan lagi.&lt;br /&gt;“Betul, Tuhan. Betul!” Rokib dan Atid serempak menjawab.&lt;br /&gt;“Lalu  bagaimana dengan Aslam, yang mengaku ustadz itu. Aku lihat sudah dua kali panggilanku berdering, tetapi tidak bangun jga dari duduk?” Tuhan bertanya lagi. Tuhan seolah sedang inspeksi mendadak pada catatan kedua Malaikat itu.&lt;br /&gt;“Manusia satu itu agak parah, Tuhan! Dering handphone-nya yang menyebut nama-Mu, hanya menjadi ringtone saja, tetapi perintah-Mu tidak dijalani. Bahkan, bukan hanya Aslam saja Tuhan. Hampir sebagian manusia sejenis Aslam melakukan hal serupa. Suara ayat-ayat suci hanya menjadi ringtone, tetapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan dering handphone-nya,” kata Malaikat Atid.&lt;br /&gt;“Lalu, bagaimana dengan Mang Bidin?” tanya Tuhan lagi.&lt;br /&gt;“Bidin itu orang susah. Dia hanya mendapat uang dari mengurus masjid, selain itu tidak ada penghasilan lain,” jelas Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Bukan itu yang aku tanyakan! Kalau soal itu, aku lebih tahu dari pada kamu! Maksudku, catatan kalian tentang pengajian dari kaset itu,” Tuhan menjelaskan.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, kalau menurut hukum yang Tuhan berikan di dunia, sekecil apapun kebaikan tetap akan mendapat pahala. Masalahnya, kenapa bukan Mang Bidin yang mengaji, tetapi justru tape recorder-nya yang mengaji. Saya kira ini juga bagian dari penipuan, terhadap Tuhan!” kata Malaikat Rokib.&lt;br /&gt;“Malaikat Ridwan!” Tuhan memanggil penjaga surga. Malaikat Ridwan tak jauh berbeda dengan kedua Malaikat sebelumnya. Keringat dingin seketika menjalari tubuhnya. Perasaan takut itu melebihi dari segalanya.&lt;br /&gt;“Saya, mengahdap Tuhan!” katanya sopan.&lt;br /&gt;“Kamu sudah dengar semuanya dari kedua malaikatku, Rokib dan Atid?”&lt;br /&gt;“Sssu..su..dah, Tuhan!” jawab Malaikat Ridwan benar-benar takut kali itu. Dia merasa kalau-kalau salah menjawab.&lt;br /&gt;“Seauai dengan perkembangan zaman yang teah aku ciptakan, aku juga ingin kamu punya ide, bagaimana mengatasi masalah ini. Apakah kamu ada usul dalam soal ini?” tanya Tuhan pada Malaikat Ridwan.&lt;br /&gt;“Tuhan, kami ini adalah mahluk ciptaan-Mu yang tidak punya hak membuat kebijakan, kecuali hanya menerima perintah-Mu. Jadi, apapun keputusan dalam masalah ini, kami semua Malaikat hanya menerima perintah, dan akan taat kepada-Mu?” Malaikat Ridwan sadar posisi. Tak mungkin Malaikat akan berani membuat kebijakan atau usulan dalam masalah yang sedang dibahas kali itu.&lt;br /&gt;“Bagus! Itu artinya, kalian semua para Malaikatku masih menjadi mahluk yang taat, bukan seperti manusia, yang hanya mengaku taat, tetapi besok lupa lagi,” katanya.&lt;br /&gt;“Para Malaikat! Di era digital ini, aku akan menambah satu lagi pintu surga baru,” Tuhan menyebutkan idenya.&lt;br /&gt;“Tuhan, mohon ampun sebelumnya. Apa ide itu tidak terlalu berlebihan. Sebab, pintu surga yang ada sekarang saja, menurut saya sudah cukup. Tentu dalam pembuatan pintu sorga ini, pasti juga akan menambah fasilitas. Semua itu butuh biaya operasional yang tidak sedikit, Tuhan,” Malaikat Ridwan setengah keberatan.&lt;br /&gt;“Ridwan, kamu ini kok bodoh sekali! Aku ini Tuhan. Maha Kaya. Maha Pemberi. Alam semesta ini adalah milikku. Jadi setiap manusia hanya akan meminta apapun kepadaku, bukan kepada yang lain,” kata Tuhan membanggakan dirinya.&lt;br /&gt; “Bagaimana dengan manusia yang meminta kepada mahluk serupa, seperti ke dukun atau ke...,” celetuk Malaikat Malik, penjaga neraka.&lt;br /&gt;“Itu penghianatan bulat-bulat! Itu namanya menduakan aku. Aku yang menciptakan,  jadi harusnya mereka meminta kepada aku yang mecniptakan bukan pada mahuk ciptaan.  Malik! itu tugasmu. Siapapun yang menduakan aku, jebloskan ke pintumu!” tegas Tuhan memerintah.&lt;br /&gt;“Jadi, pintu apalagi yang akan dibuat di alam akhirat ini,Tuhan?” Malaikat Ridwan memberanikan diri bertanya.&lt;br /&gt;“Aku ingin menambah satu lagi pintu surga, namanya pintu surga digital,” jelas Tuhan pada Malaikat.&lt;br /&gt;“Pintu surga digital? Apa maksudnya?” Malaikat Ridwan bingug.&lt;br /&gt;“Surga digital, akan menampung benda-benda apapun, handphone, tape recorder, KTP elektronik, laptop, netbook, dan semua benda yang didalamnya ada ayat-ayat suciku,” Tuhan menjelaskan rincian programnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pemiliknya?” tanya Malaikat lain.&lt;br /&gt;“Pemiliknya tidak bisa ikut. Sebab, yang menyebut namaku bukan pemiliknya, tetapi benda-benda yang mereka miliki. Mereka mengabadikan suara ayat-ayat dalam alat-alat digital, sementara pola tingkahnya tidak sesuai dengan suara yang keluar dari alat-alat itu,” jelas Tuhan detil.&lt;br /&gt;“Apakah alat-alat mereka itu tidak bisa menolong mereka masuk surga, digital?” tanya yang lain lagi.&lt;br /&gt;“Bisa, selama mereka memanfaatkan alat-alat itu untuk mendekatkan dirinya kepadaku. Kalau ternyata suara ayat-ayatku dalam alat digital hanya didengar dan dibanggakan di depan mahluk, untuk apa?! Mereka itu bukan ingin taat dengan suaraku di alat digital yang mereka miliki, tetapi mereka hanya minta dipuji oleh mahluk sesama mereka. Itu kesalahan mereka,” Tuhan menjelaskan.&lt;br /&gt;Rapat selesai. Pintu surga digital resmi dibuka. Seleksi Malaikat yang akan menjaga pintu surga ini dilakukan dengan ketat. Sejumlah ilmu tentang era digital langsung ditiupkan Tuhan ke sejumlah Malaikat.&lt;br /&gt;Dalam waktu tidak lama, sejumlah alat-alat digital masuk ke dalam surga. Para pemilikmya hanya melihat bengong. Mereka diseret ke neraka oleh Malikat Malik. Alat digital yang selama ini mendengungkan ayat-ayat Tuhan tak bisa menolong mereka mengantarkan masuk surga digital. Jangankan masuk, untuk sekadar mengintip saja tidak bisa. Para pemilik alat  digital menjerit. Menyesal dan ingin kembali ke bumi membawa alat-alat mereka, untuk kemudian kembali pada ketaatan. &lt;br /&gt;Tapi janji telah sampai. Tak ada jalan lain kecuali harus menjalani hukuman setimpal, sesuai amalnya semasa di dunia. “Ya, Tuhan, kalau jadinya begini, aku lebih baik memillih menjadi gunung atau tanah saja, yang selalu taat kepadamu. Aku tekah bodoh memilih jadi manusia,” sesal Ustadz Aslam, yang kemudian ditendang ke neraka, setelah sebelumnya handphone-nya direbut Malaikat Ridwan untuk dibawa ke Surga Digital.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembag 17 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3784462360497595873?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3784462360497595873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3784462360497595873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3784462360497595873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3784462360497595873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2011/01/surga-digital.html' title='Surga Digital'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TT-ur0y-YtI/AAAAAAAAAN8/BB-jL5NJogA/s72-c/digital.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3771752503801235422</id><published>2010-12-31T14:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T14:59:30.005-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>Nabi Khidir dan Kekalahan Tim Garuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TR5gOiAq_bI/AAAAAAAAAN0/jQiQSBrzvh4/s1600/imagesww.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TR5gOiAq_bI/AAAAAAAAAN0/jQiQSBrzvh4/s320/imagesww.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556984792985828786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, selokan di kampung saya tersumbat oleh onggokan sampah. Seperti sudah menjadi langganan, setiap kali Palembang diguyur hujan, sejumlah banjir melanda di sudut kampung dan gang, tak terkecuali di kampung saya. Akibat rutin yang kami hadapi menerima kiriman sampah dari jalur air yang lebih tinggi. Karena saking banyaknya, sampah kemudian menyumbat selokan yang berada persis di depan rumah saya.&lt;br /&gt;Kontan saja, kami satu persatu membersihkan onggokan sampah. Tetapi sampai lima belas menit lebih, ada gumpalan sampah yang tidak bisa keluar dari lobang selokan (gorong-gorong). Saat itu kemudian rame-rame mendorong dengan sekuat tenaga. Ternyata ada sepotong papan terganjal bongkahan batu di dalam selokan yang menyumbat jalannya air dan sampah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Untung aku datang kesini, coba kalau tidak pasti kerja ini tidak selesai oleh kalian,” tukas Asman, salah satu warga dengan sedikit sombong.&lt;br /&gt;“Alaaah, tanpa kamu kami juga bisa. Yang usul agar kita dorong rame-rame itu aku, bukan kamu!” tukas Dar menimpali tak mau kalah.&lt;br /&gt;“Sudahlah, soal begini saja ribut. Tidak baik. Yang penting selokan kita sudah lancar. Untung aku ada kayu panjang untuk mendorong batu, kalau tidak mungkin sulit kita mengeluarkan batu dan sampah dari selokan itu,” kata Sis, tanpa merasa kalau pembicaraannya juga bernada sama dengan yang lain.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Hanya karena sampah yang tersumbat di dalam selokan, sejumlah warga di kampung kami mengaku paling berjasa. Ada bongkahan kesombongan yang terlontar begitu saja tanpa ada kesengajaan. Semua merasa lebih dari yang lain. Tetapi itulah dasar kemanusiaan kita, yang lebih memilih mengedepankan keangkuhan diri ketimbang harus meredam ‘emosi keunggulan’ menjadi sikap kerendahatian.&lt;br /&gt;Kalau hanya sampah yang tersumbat saja bisa memunculkan kesombongan, apalagi jika Tim Garuda juga memenangi Piala Asean Football Federation (AFF) 2010. Jauh sebelum Tim Garuda diganyang Malaysia dengan selisih agregat 4-2, sejumlah petinggi di negeri ini, bukan hanya di kalangan persepakbolaan saja, tetapi tokoh politik, sampai tokoh agama sekalipun ikut mengelu-elukan Tim Garuda untuk menjadi pemenang. Bahkan PSSI dan tokoh sekaliber Abu Rizal Bakri juga menjanjikan sumbangan uang dan hibah tanah untuk kemajuan sepakbola Indonesia, ditengah masalah korban Lumpur Lapindo masih silang sengketa.&lt;br /&gt;Tetapi kalimat klise itu memang harus kita katakan kembali ; Manusia hanya berencana Tuhan yang menentukan.  Siapapun boleh menggagas keberhasilan. Pelatih Tim Garuda, Alfred Riedl juga berhak mengatur strategi untuk sebuah prestasi gemilang bagi Tim Merah Putih, tetapi sekali lagi, hasil bukan kita yang menentukan, karena masih ada ‘kekuatan gaib’ yang lebih berhak siapa yang memang mendapat kepantasan mendapat kemenangan dalam laga Piala AFF, yaitu; Malaysia.&lt;br /&gt;Kita memang tidak tahu persis apa sebenarnya rencana Tuhan terhadap kekalahan Tim Garuda. Ini sama halnya ketidaktahuan Nabi Musa atas perlakuan Nabi Khidir yang suatu ketika membunuh anak kecil, membocori kapal dan membentengi gubuk reot dengan tembok besar. Musa hanya tahu kalau perlakuan Khidir secara syariat adalah salah dan tidak wajar dilakukan oleh seorang nabi sekelas Khidir. Sama dengan sejumlah pengamat sepak bola, yang hanya tahu kalau kekalahan Tim Garuda sangat memalukan, dan dinilai sangat tidak wajar. Sebab, dalam laga kualifikasi Piala AFF, Malaysia sempat diganyang Indonesia 5-1. Tetapi mengapa disaat pertandingan yang menentukan justeru berbalik Tim Garuda yang dibantai Malaysia?&lt;br /&gt;Dari kekalahan ini, menurut saya ada sejumlah petikan kata dan muiara bijak (wisdom) yang seharusnya menjadi bahan renungan bagi semua, bukan saja bagi pemain tetapi juga bagi penggemar sepak bola Indonesia. Pertama; Pemeliharaan. Pada semua kegagalan, dalam bentuk apapun Tuhan sebenarnya sedang melakukan pemeliharaan batin bagi setiap hamba-Nya agar penduduk negeri ini (terutama penggemar, petinggi dan pemain sepak bola) tidak dihinggapi penyakit jumawa, merasa paling menang, merasa paling hebat dan merasa paling unggul dari yang lain. Dengan kekalahan ini Tuhan telah memelihara penduduk negeri Pancasila ini, untuk tidak terjerat dalam kesombongan kemenangan yang berkepanjangan, sampai Piala AFF berikutnya dilaksanakan kembali.&lt;br /&gt;Kedua, Kepantasan. Kalau kita memiliki dua anak, satu berumur 6 tahun dan satunya lagi berumur 20 tahun. Lalu suatu ketika keduannya meminta dibelikan sepeda motor, maka dengan bijak kita akan membelikan sepeda motor bagi anak kita yang berumur 20 tahun. Kenapa demikian? Karena anak kita yang berumur 6 tahun masih belum pantas mengendarai sepeda motor. Ktidaksediaan kita membelikan sepeda motor bagi anak kita yang berumur 6 tahun bukanlah kebencian, tetapi karena kita sayang dan cinta. Keengganan kita membelikan ini karena kita tidak ingin anak kita celaka dan luka akibat ulah ceroboh kita yang tidak memahami prinsip keadilan untuk berbagi. Kalaupun anak kita ingin mendapat jatah sepeda motor sebagaimana yang berumur 30 tahun, maka dia harus memantasi dirinya lebih dulu sampai berumur 17 atau 20 tahun, sehingga pengedalian fisik dan emosi sudah pantas mengendarainya. &lt;br /&gt;Pun demikian halnya Tim Merah Putih. Kapantasan menang Piala AFF 2010 kali ini baru sampai di pundak Malaysia. Di mata Tuhan Tim Merah Putih masih dianggap seperti anak kita yang berumur 6 tahun, sehingga untuk mendapat kepantasan kemenangan, Tim Garuda harus lebih dulu memantasi diri sampai berumur 20 tahun. Ini bukan hukuman atau petaka yang diberikan dari langit, tetapi sebaliknya menjadi buah kecintaan-Nya pada Tim Garuda. Sebab dengan kekalahan ini justeru akan membangkitkan kesadaran ‘umur emosi dan sadar ruang’ kita untuk lebih matang ketimbang sebelumnya.&lt;br /&gt;Ketiga; mengevakuasi hibah dan bonus. Ketika Tim Garuda masuk ke babak final sejumlah bonus dan hibah tanah sudah dijanjikan untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Sayangnya, kekuatan hibah dan bonus itu tak mampu menembus ‘kebijakan langit’ untuk memberikan kemenangan bagi Tim Merah Putih. Saya tidak bisa membayangkan, jika bonus rupiah dari PSSI dan hibah tanah dari Abu Rizal Bakri ini sebagian juga disediakan bagi anak yatim dan fakir miskin di negeri ini, mungkin bahasa langit akan menentukan lain bagi Tim Garuda ketika berhadapan dengan Malaysia. Tetapi sikap sejumlah petinggi negeri ini yang ‘meng-agungkan’ sepak bola, ternyata membuahkan kebijakan yang menurut kita sudah pasti Tuhan sedang tidak berpihak pada kita. Padahal, kekalahanlah yang terbaik untuk kita di mata Tuhan, dan saat itulah Tuhan sedang berphak pada kita.&lt;br /&gt;Hibah tanah 7,5 hektar untuk lapangan sepak bola dan asrama bagi para pemainnya, menurut saya menjadi tidak tepat ketika ada 80 persen kepala keluarga di Indonesia tidak memiliki tanah. Ada kelompok mayoritas (orang miskin) yang sedang tersakiti mendengar bonus dan hibah tanah bagi pemain sepak bola, yang mereka juga mungkin tidak bisa menjangkau ikut menikmati perumahan pemain sepak bola di komplek itu. &lt;br /&gt;Atas dasar itu, Tuhan sedang bicara pada kita, sebaiknya hibah dan bonus itu diberikan kepada yang  lebih prioritas ketimbang harus menebar bonus dan hibah tanah untuk sebuah politik popularitas pribadi, tanpa menafikan bagi dunia persepakbolaan kita.&lt;br /&gt;Keempat;Pahlawan Sepak Bola. Sadar atau tidak, keberhasilan Tim Garuda masuk final Piala AFF, banyak tokoh di negeri ini yang ikut numpang tenar. Sejumlah petinggi PSSI dan politisi juga ikut nimbrung ingin disebut sebagai ‘pahlawan’ sepak bola atas keberhasilan Tim Garuda masuk ke babak final. Ketika kemudian Tim Garuda kalah, Tuhan sedang meluruskan niat sejumlah petinggi di negeri ini untuk tidak selalu ingin disebut pahlawan. Numpang tenar dari keberhasilan PSSI dalam Piala AFF menjadi sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan, sehingga Tuhan pun memberikan kebijakan kekalahan bagi Tim Garuda.&lt;br /&gt;Semua ini adalah data-data gaib yang tidak perlu dibuktikan secara ilmiah. Justeru, ketika kita ingin meng-ilmiahkan sesuatu yang gaib sebenarnya kita juga sedang memperkecil wilayah Tuhan yang sudah jelas bukan wilayah kita. Tetapi data-data ghaib yang tidak kita ketahui inilah yang sebenarnya perlu kita pahami tentang hakikat dari sebuah kekalahan. &lt;br /&gt;Kita memang harus menjadi Musa yang terus mau beajar dari semua peristiwa, bukan hanya dalam dimensi tekstual (syariat) saja, tetapi juga harus menjadi Nabi Khidir, yang memahami makna interteks (hakikat) terhadap sebuah kekalahan untuk menuju prestasi yang lebih gemikang di kemudian hari. Semoga!** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 1 Januari 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis adalah Pelaku sastra, dan Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kota Palembang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3771752503801235422?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3771752503801235422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3771752503801235422&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3771752503801235422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3771752503801235422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/nabi-khidir-dan-kekalahan-tim-garuda.html' title='Nabi Khidir dan Kekalahan Tim Garuda'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TR5gOiAq_bI/AAAAAAAAAN0/jQiQSBrzvh4/s72-c/imagesww.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-775021131612976053</id><published>2010-12-27T23:50:00.000-08:00</published><updated>2010-12-28T00:03:35.338-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>SAKIT ITU NIKMAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRmZwT11NmI/AAAAAAAAANs/IUEga-PVVOw/s1600/118629.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRmZwT11NmI/AAAAAAAAANs/IUEga-PVVOw/s320/118629.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555640670577047138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu sore, Annisa (5 tahun), putri sulung saya jatuh terjerembab. Lutut kakinya lecet tergesek aspal. Tangannya juga bernasib serupa. Kulit arinya terkelupas. Ada bercak darah yang seketika mengembun dari pori-porinya. Tidak terlalu parah memang. Tetapi luka lecet di kedua lutut anak saya cukup beralasan jika dia harus menangis karena menahan rasa sakit. Untuk ukuran orang tua, luka itu memang tak seberapa. Tetapi bagi sebagian anak seusia anak saya sangat mungkin hal demikian itu memaksanya harus menangis.&lt;br /&gt;Tangisnya kian meledak saat saya kemudian keluar menyambutnya. Dia menganggap saya akan langsung memanjakan dan menggendongnnya. Tangannya menjuntai ke arah saya. Tetapi saya tidak langsung menerima permintaan itu. Kian meraunglah suara tangis anak saya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Sakit, kan?! Itulah hasilnya kalau jalan tidak hati-hati. Siapa yang salah?” tanya saya memancing argumentasi anak saya, untuk tidak menyalahkan orang lain ketika dia terjatuh.&lt;br /&gt;“Ca..caa…,” katanya terbata-bata menyebut nama panggilan akrabnya.&lt;br /&gt;  Selesai saya obati, anak saya terlelap bersama rasa nyeri lutut dan tangannya. Saya kemudian meninggalkan anak saya di dalam kamar sendirian, setelah sebelumnya saya mencium keningnya.&lt;br /&gt;Demikian indah rasa sakit itu, ketika kemudian mengantarkan anak saya bisa tidur siang. Jika tanpa ada kejatuhan, anak saya akan menolak untuk diperintah tidur siang. Jatuhnya anak saya adalah bahasa langit yang kemudian menyadarkan saya, betapa keinginan baik dari orang tua yang ditolak mentah-mentah oleh anak, kemudian diambil alih kewenangannya oleh Tuhan, dengan cara “sakit dan jatuh” lebih dulu, baru kemudian anak saya bersedia berbaring dan terlelap.&lt;br /&gt;Dalam skenario langit, Tuhan telah sedemikian banyak menciptakan jutaan rasa sakit yang acap kali kita anggap cobaan, teguran atau bahkan laknat. Tetapi sedemikian sombongkah kita jika kemudian menganggap rasa sakit yang menimpa kita sebut sebagai cobaan. Sudah berapa banyakkah kita berlaku adil atas karunia-Nya, sehingga kita menganggap rasa sakit itu sebagai cobaan? Seberapa taatkah kita? Lalu teguran. Seberapa salah yang telah kita lakukan sehingga kita menganggap rasa sakit yang kita derita sebagai teguran? Pernahkah kita kemudian melakukan perhitungan (muhasabah diri) atas segala kelalaian kita yang telah melakukan dosa ritual, dosa sosial  dan dosa struktural dalam system tatanegaraan kita, jika kemudian kita menyebut rasa sakit itu sebagai teguran?  Lalu laknat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Pantaskah Tuhan melakukan laknat terhadap mahluk ciptaan-Nya sendiri hanya lantaran kesalahan  yang sebenarnya kesalahan itu sendiri adalah bagian proses untuk mengantarkan mahluk-Nya menemukan kebenaran?&lt;br /&gt;Apapun julukan kita terhadap rasa sakit, tetap saja akan menjadi indah ketika rasa sakit itu bukan dijadikan sebagai keluhan, penderitaan apalagi halangan untuk tetap saya berterima kasih atas semua “bonus gratis” dalam hidup, yang Tuhan sendiri memerintahkan kita hanya untuk “mengabdi” tak ada lain.  Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk mengeluh, mengumpat apalagi menghujat terhadap rasa sakit. Sebab dengan rasa sakit kita akan sangat paham betapa nikmatnya sehat. Dengan rasa sakit kita makin banyak tahu tentang sakit-sakit lain yang mungkin selama ini diderita oleh banyak orang, sementara kita memilih mentertawakannya.  Dengan rasa sakit itu, Tuhan  sedang memanusiakan kita, agar kita tersadar kalau sebenarnya kita ternyata hanya bisa mengeluh saat ditimpa rasa sakit, dan akan tertawa, bahkan terjerumus dalam kelalaian saat kita sehat. Maka nikmatilah rasa sakit itu, sehingga dengan sakit itu kita akan lebih memahami Tuhan sedang menyapa kita, meski sapaan itu dengan rasa sakit. Demikian pula, sore itu, ketika anak saya jatuh sebenarnya bukan sedang melukai anak saya, tetapi sebaliknya Tuhan sedang mengasihi anak saya, memaksa anak saya untuk lelap sebentar demi keberlangsungan tenaganya di esok hari.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 5 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-775021131612976053?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/775021131612976053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=775021131612976053&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/775021131612976053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/775021131612976053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/sakit-itu-nikmat.html' title='SAKIT ITU NIKMAT'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRmZwT11NmI/AAAAAAAAANs/IUEga-PVVOw/s72-c/118629.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1203531842566235541</id><published>2010-12-25T11:03:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:12:38.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Selamat Pagi, Mr. Gagu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRZCAtdjmYI/AAAAAAAAALA/gbkpoZmpbvs/s1600/pisau.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRZCAtdjmYI/AAAAAAAAALA/gbkpoZmpbvs/s320/pisau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554699770379082114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang aku merasakan duduk diantara orang – orang pintar. Berjajar dalam setengah lingkaran, duduk diatas kursi empuk, yang dulu tak pernah akan terbeli  dri gajiku sebagai carik desa. Seakan, kini aku tengah bermimpi. Apalagi, ketika dibenakku terbesit masa lalu saat aku masih menjadi carik desa. Tapi ini bukan mimpi ! Untuk memastikn antara tidur  dan tidak, kucubit lengan kiriku. Ah, masih juga terasa sakit. Berarti, ini benar – benar nyata. “ Nah, ado nian “, batinku girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar – benar ketemu, bersalaman, tertawa bersama dengan orang – orang yang selama beberapa tahun , hanya kukenal melalui radio, atau kulihat di layar teve, jika kebetulan aku turut nonton di rumah Pak lurah. Sekarang, aku dan mereka sejajajr. Ini bearti, besok, lusa dan seterusnya, aku tak perlu lagi repot – repot menunduk – nunduk jika berpapasan dengan mereka sebagai tanda rasa hormatku. Sebab, mereka bukan Tuhan atau Nabi. Bahkan banyak orang bilang, itu feodal, warisan yang tak perlu dibudidayakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya keberadaanku sepuluh tahun lalu sudah seperti sekarang. Dielu – elukan oleh orang banyak, mungkin aku tak akan ditolak ketika aku ingin memperistri Raden Ayu Hapsari, putri bungsu Raden Mas Dosomuko. Tapi sepertinya, fodalisme masih begitu kuat mencengkram di keluarga itu. Ya, apa boleh buat, dengan berat hati, akupun harus berkata, “ sepertinya Tuhan punya maksud lain dibalik semua ini. Mungkin inilah perwujudan sifat rahman dan rahimNya Tuhan terhadapku”. Ah, itu hanya masa silam. Toh semua kini telah berubah. Masih terlalu banyak yang mesti harus aku kerjakan untuk memenuhi panggilan hati nurani.Kedudukan kini, adalah sebuah amanat yang tidak saja akan kupertanggungjawabkan di depan orang banyak lima tahun mendatang. Namun akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;Hari ini besok dan seterusnya, aku akan tetap duduk disini. Diatas kursi yang mungkin dulu setiap orang sanggup menjual apa saja demi kedudukan sekarang. Tapi aku dan orang – orang didalam gedung ini haruskah tetap menjadi sekelompok paduan koor atau paduan suara seperti tahun sebelumnya, duduk bersandar, memadukan sebuah lagu yang sama, lalu menganggukkan kepala sesuai dengan aba – aba dirgen, demi sebuah stabilitas ?.&lt;br /&gt;Sesekali, dalam ruang tertutup yang cukup besar itu, terdengar tepuk riuh yang kadang aku sendieri tidak tahu apa yang sedang ditepuki. Ditengan riuhnya tepuk tangan, sayup – sayup  kudengar beragan titipan dari pojok – pojok dussun. Suara itu terus menyusup dari lekuk –lekuk gedung itu, merayap, emnggetarakan gendang telingaku. Aku terperanjat.” Oh, disana dipojok dusun, msih ada ketertindasan. Masih ada ketidakberdayaan untuk menuntut hak sama atas pembagian rezeki nasional. Masih ada buruh yang dijadikan sapi perah. Masih ada pemerkosaan hak. Masih ada ancaman untuk  mereka yang suka berkumpul diberbagai LSM. Lagi, disana, di Kebon Semai, pasar 16 Ilir, amsih ada penekanan bagi pedagang kecil untuk membayar mahal satu los toko. Masih ada rencana penggusuran pasar buah. Lalu di perdusunan, masih ada ketakutan yang mencengkeram, sehingga merekapun takut untuk menyuarakan hak yang sudah sedemikian panjang terampas. Dan besok, apalagi yang muncul senada dengan itu ?.&lt;br /&gt;Sebuah berkas kubuka. Didalamnya masih mengabarkan tentang keterbelakangan. Keterpurukan batin. Kesenjangan sosial. Keringat sepertinya memnag sudah menjadi darah. Ia membasahi setiap pintu – pintu rumah reot dan piring – piring di dapur. Berpuluh nyawa terbuang tanpa tegur sapa. Ia hilang tak ada lagi kabar verita tentang siapapembunuhnya. Seorang Ibupun menangis, ketika menatap seonggok mayat yang telah membujur kaku denganulu hati yang robek oleh pisau lipat. Hanya airmata yang tiba – tiba jatuh membasahi kain putih dengan bercak darah itu. “ Tuhan, berikan segal keadilanMu kepada manusia – manusia yang telah mengambil hakMu sebelum tiba waktunya”, katanya sambil mengenadahkan kedua tangannya.&lt;br /&gt;Segumpal tanggung  jawab   berada dipundakku kin. Tapi apalah kekuatan yang dimiliki mantan cari desa sepertiku?. Bukankah atas jasa pak lurah yang telah mengantarkanku bisa duduk disini?. Lantas bagaimana jika kemudian aku harus sedikit menentangnya?. Ataukah ini sebuah pengingkaran atas jasa – jasanya ? Tapi, jika aku tak mampu bicara disini, bagaimana dengan tanggung jawabku yang mesti kuemban? Akankah aku hany duduk tanpa ada kata dan tindakan yang nyata bagi suara – suara dari pedusunan?.&lt;br /&gt;Pertanyan – pertanyan itu kian menggedor – gedor setiap denyut napasku, perasaanku, nuraniku, lantas mengalir ke urat – urat kecil bersama aliran darah yang telah 40 tahun menyetubuhiku. Aku terus bermain kata dengan kebingunan dan kebisuanku. Entah, mengapa di tengah keramaian, tempat aku duduk berdampingan dengan ratusan orang – orang disini aku tetap saja merasa sendiri. Ya , sendiri dalam keramaian, ramai dalam kesendirian.&lt;br /&gt;Tak berbeda dengan hari kemarin. Di gedung itu, aku masih duduk dan merasakan hal sama seperti sebelumnya. Kembali kubongkar beberapa berkas. Meneliti hurf per huruf, kata per kata dan sampai pertemuan itu usai. Tak ada yang dapat kuberikan pada tetangga untuk menjawab pertanyaan dan keluahn mereka.&lt;br /&gt;“ Ya semua akan kami tampung. Dan mudah – mudahan, dalam beberapa hari mendatang, sudah dirapatkan dan ada keputusan. Sudah ya begitu saja. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan”, Kata ku menjawab setiap kelompok warga yang datang menemuiku. Ini memang hanya sebuah retirika yang tidak semestinya diungkap pada zaman seperti sekarang. Namun, ya bagaimana. Paling tidak aku sudah menghibur hati mereka, meskipun dari denyut nadiku terdengar suara lantang, “ itu hanya sebuah alibi. Ini kompensasi untuk merdam akasi massa. Ini sebuah pengingkran amanat !”.&lt;br /&gt;“ Brak! Gluduk!”, Tiba – tiba aku terjungkal dari sebuah kursi. Aku tersungkur seolah ada kekuatan lain yang seketika menghempasku dari tempat dudukku. Aku menyeringai menahan kenyerian pinggang yang tersantuk lantai. Ternyata, jamu kuat yang setiap pagi kuminum satu jam sebelum berangkat, belum mampu merendam ras sakit. Kucoba untuk minta tolong pada orang – orang di sekitarku yang masih sibuk dengan bekas –berkas diatas meja. Aneh! Tak sesiapa yang menyapaku.&lt;br /&gt;“ Hoi!” Teriakku keras. &lt;br /&gt;Suasana sepertinya masih riuh. Mereka tak juga mendengar. Sekali lagi aku berteriak,&lt;br /&gt;“ Hoi! Kalian – kalian semua yang duduk di gedung ini! Masihkah kalian punya hati untuk   memapahku untuk kembali?! Bukankah kalian yang telah mengajakku kesini?! Kenapa kalian semua masih tak mau mendengar suaraku ?! Jika aku yang didalam gedung ini suaranya tak kalian dengar, bagaimana kalian akan mendengar suara yang ada diluar gedung ?! Apa kalian telah bisu ?! Masihkah kalian akan menjadi penakut seperti para pendahulu?!” Tak ada yang bicara. Ah , ternyata aku benar – benar sendiri disini.&lt;br /&gt;Dalam kepedihan batin digedung itu, aku hanya dapat menangis, mendampingi kursiku yang tetap akan membisu. Ketika aku dapat kembali duduk, aku masih juga ,merasakan kesendirian. Pak Lurah bersama orang – orang terdekatnya hanya termangu, saat melihtku keluar dan meninggalkan gedung itu. Semua aktribut kutanggalkan.&lt;br /&gt;Diluar gedung, seorang satpam tergopoh – gopoh menyambutku. Ia terburu – buru ingin memapahku saat ia melihatku jaln sempoyongan.&lt;br /&gt;“ Biarkan aku berjalan sendiri”, Kataku menepis niat baik satpam itu.&lt;br /&gt;“ Tapi, Pak....”, Ujarnya sambil berupaya terus memapahku.&lt;br /&gt;“ Kalau begitu, tasnya saja biar saya bawakan”, Ujar satpam itu membujuk.&lt;br /&gt;“ Jika kamu mau membawakan tasku, apa kau jugasanggup akan membawakan dosa ketika aku nanti memptanggung jawabkan berkas – berkas dalam tas ini dihadapan Tuhan?”&lt;br /&gt;Satpam bengong.&lt;br /&gt;Aku mengeloyor pergi menuju pintu gerbang depan.&lt;br /&gt;“ Ma”af, Pak, mobil bapak ada dihalaman belakang”, Tukas satpam itu memberitahu. Kucoba tersenyum kepad satpam itu. Ya , aku mampu tersenyum, tapi terasa getir, sama dengan gaji satpam di gedung itu yang tak cukup membiayai hidup.&lt;br /&gt;Hari ini, aku memang harus pulang kedesa. Akan kutinggalkan semua persoalan digedung itu. Untuk apa aku harus berlama – lama di dalam gedung, duduk diatas kursi, jika aku tak bisa banyak berbuat untuk sebuah tanggung jawab?.&lt;br /&gt;Niat kepulanganlu sampai juga ke telinga warga desa. Pagi baru menenggelamkan malam, para penduduk sudah berjajar di pinggir jalan, berbodong – bodong ingin menyambut kedatanganku. Beberapa hansip pun harus sibuk mengatur barisan, yang kurang beraturan. Suara peluit beberapa kali terdengar, sebagai tanda menertibkan barisan yang kurang rapi. Aku benar – benar diperlakukan seperti raja. Mereka menunggu seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan yang hendak membagi – bagikan uang kepada rakyat. Pasti, ada kebanggaan tersendiri jika mereka berjabat tangan dengan-ku.&lt;br /&gt;“ Ngeong....ngeong....ngeong”, Suara sirene menggetarkan setiap lekuk perdusunan. Warga desa makin tak sabar hendak melihat sosok seorang utusan daerah yang dulu hanya sebagai carik desa. Mereka saling dorong . Sambil melongokkan kepalanya dari kerumunan orang lainnya, agar bisa segera mungkin melihatku. Tapi suasana gembira dan keceriaan itu, seketika berubah menjadi sebuah kebisuan. Warga desa yang sebelumnya bercuap ria, meneriakakn yel – yel “ hidup wakil rakyat!”, pudar seketika. Mereka kemudian tertunduk dalam kedukaan, saat aku yang ditunggu – tunggu hadir dengan iringan sirene mobil jenazah. Dibarisan terdepan tampak jelas, fotoku terpampang. Dibelakangnya barisan mobilyang menyertai perjalananku sebagai penghirmatan terakhir. Dari balik jendela, tampak istriku menutupi kepala dengan kain hitam. Wajahnya sembab, menggambarkan sebuah kepedihan yang dalam. Masing – masing warga hanya termangu. Suasana pagi itu menjadi gagu. Mereka yang ada dipinggir jalan hanya saling pandang, lau menggelengkan kepala pertanda mereka tahu dengan persoalan apa yang telah merenggut nyawaku.&lt;br /&gt;Baru, sehari setelah pemakamanku, sebuah harian pagi mengabarkan tentang peristiwa yang menimpaiku, sebuah judul besar tertulis dihalaman satu.” Tak mampu penuhi janji warga, potong lidah sendiri”. Pada akhir berita itu, dikutip tulisan akhir sebelum aku mengakhiri hidupku,’’ Ma”afkan saya tak mampu memnuhi kepercayaan warga desa. Saya benar – benar tak bisa banyak berbuat. Sekali lagi ma’afkan saya. Saya tak bisa bicara lagi”. Langit gelap. Kemarin, malaikatsudah dulu menyambutku, “ Selamat Pagi, Mr. Gagu”. Semua wargapun menjadi gagu, menunggu datangnya cahaya baru untuk sebuah perubahan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magelang, 13 Februari 1998 (ditulis)&lt;br /&gt;Palembang, 28 Oktober 1999 (revisi) Sumeks,           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1203531842566235541?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1203531842566235541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1203531842566235541&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1203531842566235541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1203531842566235541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/selamat-pagi-mr-gagu.html' title='Selamat Pagi, Mr. Gagu'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRZCAtdjmYI/AAAAAAAAALA/gbkpoZmpbvs/s72-c/pisau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7484121083174256491</id><published>2010-12-25T10:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T10:59:04.594-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Sedang Tuhan Pun Bisa Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY-xx9tSrI/AAAAAAAAAK4/SCpmztnBXkI/s1600/tuhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY-xx9tSrI/AAAAAAAAAK4/SCpmztnBXkI/s320/tuhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554696215354755762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang Tuhan tak bisa mati! Tuhan bisa saja mati.! Tuhan sering dibunuh oleh semua. Bukan saja aku, tetapi, kau dan kita! Ya semua telah melakukan pembunuhan Tuhan. Bukan seorang kiai. Bukan seorang bhiksu dan pastor. Bukan pula seorang suster, sampai seorang birokrat dan para kaum gembel, semua juga melakukan pembunuhan Tuhan. Maka Tuhan pun bisa mati. Kalau dulu Nietcshe mempermaklumkan kematian Tuhan. Kini, aku mengatakan, Tuhan pun bisa mati. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sering terbunuh oleh kita. Bahkan kita sengaja membunuhNya. Kemarin, Warman teman kerjaku menceritakan bagaimana Tuhan telah tergadai oleh sepiring nasi. Lalu ditempat lain, Tuhan diperjual-belikan sebanding dengan harga kangkung. Tuhan sudah bisa ditawar. Tuhan dihargai murah. Tuhan diperdaya, dengan dalih mempertahankan hidup. &lt;br /&gt;Belum lagi puluhan pedagang lainnya, turut melakukan hal yang sama. Mereka membuang, dan menginjak Tuhan di hadapan para pembeli dengan terang-terangan. Pada sebuah kedai malam, tempat berkerumunnya para perempuan dan laki-laki, kembali Tuhan diperdaya. Tuhan dibutakan sama sekali. Dan proses pembunuhan Tuhan pun kembali terjadi. Tuhan benar-benar ditiadakan, sekalipun ketiadaan itu adalah Tuhan. Tawa dan canda membawa mereka semakin mengubur Tuhan. Larangan bukan lagi yang mesti ditakuti. Semua mereka jalani, tanpa lagi melihat Tuhan. Dan di dalam kamar remang, Tuhan pun terselip di balik kasur. Terlibas oleh dengus napas yang memburu hingga pagi tiba. &lt;br /&gt;Dalam gedung pemerintah, tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku mewakili rakyat. Ada seribu lagi cara orang-orang membunuh Tuhan. Ketika sebuah pabrik dilaporkan melakukan pencemaran. Maka, ratusan orang pun berduyun-duyun membawa nama Tuhan ke gedung itu. Katanya, demi lestarinya bumi Tuhan. Maka berteriaklah orang-orang tadi. Begitu juga orang-orang yang suka berkerumun di gedung pemerintah itu. Mereka bicara lantang. Seakan Tuhan berada di samping kanan kiri mereka. Lalu mengatas-namakan pelestarian lingkungan, demi terjaganya sungai titipan Tuhan, mereka memperdebatkan, sampai tak ada ujung pangkalnya. Esoknya, surat kabar bicara, limbah pabrik dianggap selesai. Bumi Tuhan kembali dinyatakan bersih dari pencemaran.&lt;br /&gt;Mulut-mulut pun terbeli oleh segepok rupiah. Maka suara Tuhan pun tergadai lagi. Kerusakan dianggap perbaikan. Perbaikan diangap mengganggu stabilitas pabrik. Mereka lalu membuat Tuhan menjadi Tuli. Orang-orang telah membutakan Tuhan dari ketidak-butaan. Maka, mereka juga telah membuat Tuhan menjadi mati. Tuhan telah Mati dalam kedirian mereka. Mati dalam detak jantungnya, sehingga Tuhan bisa seenaknya dipanggil dan diusir kapan saja. Tuhan tak ubahnya seperti seorang pembantu. Ia dipanggil ketika dibutuhkan. Lalu diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Tuhan hanya sekedar barang pelengkap. Tak ada yang berarti apa-apa. Ternyata Tuhan benar-benar mati. Mereka telah membunuhNya.&lt;br /&gt;Pada sebuah mihrab masjid, atau di gereja dan vihara. Bukan saja para kiai, pastor, dan bhiksu, mereka juga sama melakukan pembunuhan Tuhan. Kujumpai orang-orang yang mengaku moralis itu, berjibaku dengan kediriannya manusia yang paling dekat dengan Tuhan. Kiai, dengan ceramah dan petuah-petuahnya, menidurkan kaumnya menjadi kaum yang suka menghitung pahala. Para kiai sudah mengajari umatnya, mengukur ibadah dengan angka-angka. Ibadah ritual sudah bisa dihitung dengan material. Demikian pula pastor, dan bhiksu. Melakukan pendekakan diri kepada Tuhan, tanpa mempertanyakan dimana ia tinggal, dan berapa jumlah orang lagi yang masih merasakan lapar dan haus. Bukan kiai, pastor dan bhiksu, mereka semua membunuh Tuhan, sambil mereka asyik melakukan onani spiritual. Seolah sorga telah menjadi milik mereka. &lt;br /&gt;Tetapi, malam kemarin, Malaikat mengabariku. Katanya, "Pada saatnya nanti, di hadapan Tuhan, banyak manusia yang terbalik. Ada ulama, kiai, pastor dan bhiksu masuk neraka. Tetapi tidak sedikit para preman dan maling masuk sorga."&lt;br /&gt;Ketika para kaum moralis itu bertanya, maka Tuhan pun menjawab, "Kalian adalah manusia-manusia egois. Kalian merasa, bahwa hanya kalian saja yang berhak atas sorga. Bukan! Bukan sama sekali. Sebab, ketaatan bukan saja memuji dan memujaku sepanjang hari. Hei, kalian semua, para kiai, bhiksu dan pastor, ternyata dalam ketataan, kalian telah mengesampingkan semua keadaan yang namanya lapar, kehausan keterbelakangan, dan ketertindasan. Kenapa kalian hanya diam dengan keadaan seperti itu? Kenapa kalian tidak perjuangkan juga, sebagaimana kalian berjuang untuk mendapatkan sorga?" &lt;br /&gt;Semua begong. Dan tertunduk malu. Sebuah kekuatan asing tiba-tiba menarik mereka dengan kasar. Hanya lengkingan saja yang terdengar. Kemudian suara gemuruh meningkahinya. Lalu, kematian Tuhan pun terjdi di berbagai kantor pemerintah, swasta dan kantor agama sekalipun. Sekelompok orang berduyun-duyun melamar di lembaga agama. Katanya, mereka berniat untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dengan berbagai cara, mereka lalu masuk.ke dalamnya, setelah sebelumnya mereka juga harus menggadaikan Tuhan dalam diri mereka dengan harga 15 sampai 20 juta rupiah. Di sebuah kantor agama, tempat orang banyak bertanya tentang Tuhan. Tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku dekat dengan Tuhan. Di sana, masih juga ada pembunuhan Tuhan.&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya zat Tuhan takkan pernah mati. Ia akan tetap hidup. Soalnya, akankah Tuhan tetap hidup dalam kedirian kita? Bisakah kita terus mempertahankan Tuhan tetap bersemayam dalam kerohanian kita? Atau kita juga bagian dari orang-orang yang sering membunuh Tuhan?**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7484121083174256491?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7484121083174256491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7484121083174256491&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7484121083174256491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7484121083174256491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/sedang-tuhan-pun-bisa-mati.html' title='Sedang Tuhan Pun Bisa Mati'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY-xx9tSrI/AAAAAAAAAK4/SCpmztnBXkI/s72-c/tuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-5341417531665996662</id><published>2010-12-25T10:35:00.001-08:00</published><updated>2010-12-25T11:00:30.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Neo Lysistrata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY634CN3_I/AAAAAAAAAKs/h_1szkgwXxE/s1600/Untitled-8.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY634CN3_I/AAAAAAAAAKs/h_1szkgwXxE/s320/Untitled-8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554691922016985074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minggu terakhir, Pak Kardi, Boss di sebuah perusahaan yang bergerak di periklanan, sedang merasakan puncak kesuksesan. Betapa tidak, dalam enam bula terakhir, perusahaan yang dipimpinnya berhasil meraup untung diatas target. Kalau dibahasakan dengan istilah yang ngetrend, perusahaan Pak Kardi sedang mendapat surplus. Tentu saja, kesuksesan Pak Kardi ini, tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik karyawan ataupun kepercayaan klien yang sudah banyak mempercayai pada Pak Kardi untuk membuat iklan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Perusahaan Pak Kardi mendapat tawaran untuk membuat iklan yang aagak syuur. Pesanan iklan ini, sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan perempuan, tetapi, pihak klien meminta agar Pak Kardi bisa menampilkan iklan ini dengan sosok perempuan cakep dengan gaya sedemikian rupa. Tentu saja sebagai daya tarik publik.&lt;br /&gt; “ Jika iklan ini berhasil, you bisa teken kontrak lebih panjang lagi, Pak”, Begitu janji manis klien Pak Kardi ketika mengadakan negosasi dikantornya.&lt;br /&gt; Tentu saja, kesempatan ini tidak disia – siakan oleh Pak Kardi. Dalam waktu singkat, Pak Kardi sudah mendapat ide, sekaligus seorang perempuan yang akan menjadi tokoh utama dalam iklan itu. Berkat kerja tim yang sudah terlati, perusahaan Pak Kardi berhasil membuat iklan dengan gaya yang khas. Hampir tidak ada kesan mengadopsi dartiproduk lainnya. Iklan ini, ternyata bukan saja ditayangkan dilayar televisi, namun diterbitkan juga oleh beberapa media dalam dan luar negeri. Dengan simbol seorang perempuan yang berpose setengah bugil, iklan ini kemudian mencuat menjadi iklan yang digemari oleh semua kalangan. Bahkan seorang anak dibawah umurpun sempat hapal dengan joke – joke dalam iklan itu.&lt;br /&gt; Akhirnya, Pak Kardi mendapat selamat dari beberapa klien dan koleganya. Bahkan, hari – hari berikutnya, perusahaan Pak Kardi tak henti – hentinya mendapat tawaran untuk pembuatan iklan. Tapi resikonya, dalam beberapa hari belakang, Pak Kardi memang harus kerja ekstra dibanding hari sebelumnya. Konsekuensinya, Pak Kardi juga harus pulang larut. Bahkan, kadang – kadang Pak Kardi terpaksa tidur dikantor.&lt;br /&gt; Pada suaru malam, Pak Kardi baru saja pulang dari kerja. Pak Kardi tampak lusuh. Guratan diwajahnya, menggambarakan dirinya sedang begitu lelah. Dalam benaknya, terbnayang sambutan Tina, istri tercintanya dengan senyum ramah dan ciuman mesra. Tapi apa yang terjadi ? Semua bertolak belakang, dengan apa yang dibayangkan.&lt;br /&gt; “ Ini hasil kerjamu selama beberapa hari kau tak pulang kerumah ! Rupanya Papa sudah puas dengan berbagai model, ya!”, Serang Tina seketika, sembari melempar sebuah surat kabar ke hadapan suaminya itu.&lt;br /&gt; Pak Kardi sempat terkejut. Sebab, selama ini, yang ia ketahui, istrinya hanya tahu bahwa Pak Kardi bekerja sebagai pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Tentang bentuk,produk dan iklan apa Pak Kardi tak pernah cerita tentang itu.&lt;br /&gt; “ Tenang – tenang, Ma. Ia hanya seorang photo model, bukan seburuk yang kau bayangkan itu, Ma!.&lt;br /&gt; “ Alaah, laki – laki ! Dimana saja juga sama ! Jawabnya selalu begitu. Enggak, deh, Ma. Swer, deh, hanya kau yang aku cinta, percayalah, Ma”.&lt;br /&gt; “ Hemh ! Dasar  laki – laki !”. Begitu sinis jawab Tina.&lt;br /&gt; Malam itu, Pak Kardi, tak berhasil juga membujuk Tina istrinya untuk memahami hasil kerjanya. Bahkan , sampai sepertiga malam terakhir, Pak Kardi tak mendapat jatah seks dari Tina. Nah, mati lho, begitu kata haiti Tina, ketiak Tina mengelak untuk diajak bercinta malam itu.&lt;br /&gt; Pagi hri, rumah Pak Kardi tampak ramai puluhan wartawan media,wartawan foto dan wartawan elektronik . Semua pekerja pers itu memenuhi rumah Pak Kardi. Menik, anak perempuan satu – satunya dari keluarga itu sudah tahu apa yang akan diperbuat oleh Tina, mamanya.&lt;br /&gt; Hari itu, Tian dan Menik sekongkol untuk bersedia diekspose dengan setengah bugil. Sama seperti ketika Pak Kardi meng – ekspose pra model dibeberapa surat kabar. Sesaat para wartawan terperanjat. Sebab spesialisasi wartawan yang hadir beragam. Ada wartawan ekonomi, ada wartawan Hankam dan ada juga wartawan yang senang menjadi humasnya Pemda. Dan menunggu press release.&lt;br /&gt; “ Mas – mas wartawan nggak usah ragu. Ini sudah kesepakatan saya dan anak saya, kok ! “’ Begitu kata istri Pak Kardi menjelaskan kepada para wartawan, yang tampak heran.&lt;br /&gt; Beragam gaya, dan pakaian dikenakan setengah bugil. Jepretan – jepretan foto sudah tak terhitung lagi. Demikian juga Menik, ia secara bergilirandifoto berbagai gaya.&lt;br /&gt; ” Tante, posisis tante bisa agak menunduk lagi?” Celetuk wartawan, yang belakangan adalah wartawan yang suka gituan.&lt;br /&gt; “ Oh, bisa – bisa. Bgaimana ? Beginbi?, begini?, atau begini?, Kata Tina tak malu – malu lagi berganti – ganti gaya, sembari mem[perlihaykan bagian – bagian tubuhnya yang sebenarnya hanya hak suaminya.&lt;br /&gt; Bermacam gaya juga dilakukan oleh Menik, anak perempuan Pak Kardi. Ia tak kalah erotisnya dengan Mamanya yang masih genit. Tapi menurut bisik – bisik para wartawan, gaya Menik lebih memikat ketimbang Mamanya.&lt;br /&gt; “ Wah ya sudah pasti, Menik kan masih a-be-ge, lagi mengkel – mengkelnya”, Seloroh wartawan lainnya tak kalah ngeresnya.&lt;br /&gt; Hampir setengah hari para wartawan berada di rumah Pak Kardi, . Hanya untukmemotret Tina dan Menik.&lt;br /&gt; “ Eh, Mas wartawan, tolong  ya, gambar saya dibuat kaya begini ya, biar agar syuur, gitu, oke! “, ujar Tina, sembari menunjukkan model iklan yang diproduksi oleh perusahaan Pak Kardi suaminya.&lt;br /&gt; “ Gampang, itu bisa diatur”, jawab wartawan itu enteng.&lt;br /&gt; Malam mejelang, Pak Kardi pulang. Tina dan Menik menyambut dingin. Bahkan, Pak Kardi tak menemukan siapapun dirumah itu, kecuali hanya pembantu yang membukakan pintunya. Beberapa malam itu, Pak Kardi sudah menangkap sesuatu hal yang kurang enak di rumah itu.&lt;br /&gt; “ Menik!…Menik!” Pak Kardi memanggil anak peempuannya. Tak ada sahutan apapun dari dalam kamar Menik.&lt;br /&gt; Pak Kardi makin penasaran dengan situasi itu. Beberapa kali, ia mengetuk pintu kamar Menik, tapi ia tak berhasil menekan Menim untuk keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt; Dan betapa kagetnya, ketiak Pak Kardi masuk kamar pribadinya. Ia tak juga menemukan istrinya dikamarnya.&lt;br /&gt; Pak Kardi kembali melangkah mendekati kamar Menik.&lt;br /&gt; ‘’ Heh! Apa – apaan kalian! Kalu mau protes jangan begitu dong caranya. Semua kan bisa dibicarakan. Kalu kalian mau protes ya harus prosedural, struktural dan konstitusional, jangan ngamar begitu”, Ujar Pak Kardi yang sudah menduga, isteri dan anaknya telah sekongkol.&lt;br /&gt; Sesaat, Pak Kardi harus mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebentar – sebentar mondar – mandir didepan kamar Menik. Sesaat menyalakan rokok untuk membuang gelisah dan kekesalan. Tapi Pak Kardi tak juga menemukan jalan keluarnya, bagaimana harus menarik dua orang yang ada di dalam kamar.&lt;br /&gt; Sampai menjelang pagi, Menik dan Mamanya, tidak juga keluar dari kamrnya. Sementara, terpaksa Pak Kardi harus tidur di sofa ruangan tamu malam itu. Ia tidur tanpa selimut, sekaligus tidak juga ditemani oleh Tina isterinya.&lt;br /&gt; Pagi hari, sepertinya, Pak Kardi sudah tak bisa lagi menahan emosi dadanya yang penuh sejak semalam. Belum lagi, pagi itu, Pak Kardi membaca sebuah surat kabar pagi itu, dengan dua prifil perempuan sekaligus dengan pose setengah bugil. Kedua wajah itu benar – benar sudah ia kenali. Siapa lagi kalau bukan anak dan isterinya.&lt;br /&gt; Kali ini, Pak Kardi benar – benar kebakaran jenggot. Ia tak mendugas sama sekali kalau anak dan isterinya telah bersekongkol melakukan foto setengan bugil di depan kamera  untuk publikasi. Pak Kardi benar – benar terhempas batinya. Ia merasa ditampar! &lt;br /&gt;Seolah, keberadaannya sebagai suami tidak lagi dihargai.&lt;br /&gt; Amarahnya muncul. Beberapa kali, Pak Kardi menggedor – gedir pintu dengan harapan, tina dan Menik akan segera keluar dan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Pak Kardi menggedor pintu lebih keras lagi. Tentu saja, gedoran pintgu sempat mengganggu ketenangan Tina dan Menik, yang sebenarnya sudah bangun sejak pagi tadi.&lt;br /&gt; Sesaat kemudian, pintu terbuka. Menik dan Tina langsung menyongsong Pak Kardi dengan kalimat – kalimat yang kurang bersahabat.&lt;br /&gt; ‘’ Sekarang apa maumu, Pa!? Apa maumu ?! Ayo jawab!?”, Kata Tina menantang. Tangannya bertolak pinggang. Seakan, ia sedang menghadapi musuh untuk segera bertarung.&lt;br /&gt; Menik hanya berlindung dibelakang Mamanya.&lt;br /&gt; Melihat itu, Pak Kardi merasa terpojok oleh Tina dan Menik. Ia pun bangkit . wajahnya menatap tajam kearah Tina dan Menik. Matanya melotot ke arah anak dan isterinya secara bergantian. Pagi itu, Pak Kardi memang harus mengembalikan posisinya sebagai suami dan seorang Bapak bagi anaknya.&lt;br /&gt; Apa yang telah kalian lakukan dalam koran ini, heh’’, Ujar Pak Kardi sembari memperlihatkan gambar perempuan berpose setengah bugil ke hadapaan mereka. Mereka  berdua hanya mencibir sinis. Karena mereka sudah pasti tahu mengapa itu harus terjadi. Kalu sebelumnya Tina yang menyodorkan koran kepad Pak Kardi, kali ini, giliran Pak Kardi yang menyodorkan kehadapan Tina.&lt;br /&gt; ‘’ Nih, lihat! Ini!’’, Kata Pak Kardi kesal, ketiak melihat Tina dan Menik hanya saling pandang.&lt;br /&gt; ‘’ Trus, sekarang semua sudah terjadi, lalu apa ayang ingin Papa lakukan pada aku da Menik, ayo lakukan saja !”, Tina kembali menantang.&lt;br /&gt; ‘’ Ini merusak nama baik, Ma.. nama baik !!….”&lt;br /&gt; ‘’ hmh ! Nama baik ! Nama baik macam apa yang Papa makd\sud. Nama kali ini bukan lagi waktunya untuk bicara nama baik, Pa ! Papa yang lebih dulu mencemarkan nama baik perempuan yang telah melahirkan kaum laki – laki ! ‘’, Kata Tina sedikit argumentatif.&lt;br /&gt; Sampai di ujung siang, persoalan tak juga selesai. Pak Kardi tetap mempertahankan prinsipnya. Iklan dengan perempuan setengah bugil - nya terus  di-    ekspose oleh Pak Kardi  dan cru. Tentu saja demi keuntungan bisnis. Seminggu setelah kejadian itu, Pak Kardi menjumpai kabar yang lebih buruk lagi tentang anak dan isterinya. Tina dan Menik tampil lebih bugil dari sebelumnya. INI PROTES DARI KAMI, begitu judul besar yang tertulis diatasa cover surat kabar mingguan. Pak Kardi benar – benar tertampar oleh ulah nak dan isterinya hari itu..&lt;br /&gt; ‘’Pak, ada model baru yang bisa kita berdayakan di promo kita, Pak, “ Ujara karyawan Pak Kardi  yang sama sekali tidakmengetahui jika kedua perempuan itu adalah anak dan isteri Pak Kardi.&lt;br /&gt; ‘’ Iyya, Pak, kayaknya model ini tampil lebih berani dari model – model yang kita tampilkan !’, Ujar yang menimpali.&lt;br /&gt;Pak Kardi  diam. Ia hanya tersandar lemas di sofa panjang. Drama Lysistrata, sepertinya sedangan menghujam diri Pak Kardi. Liysistrata, sebuah kisah aksi mofok seks para kaum perempuan, ketika para suaminya tak bersedia menghentikan perang. Berkat protes kaum perempuan itu, akhirnya perang berhenti. Mungkin ini Lysistrata buat Pak Kardi . Ya, Neo Lysistrata.**&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    Palembang, Demang L, daun. 10 Agustus 2000&lt;br /&gt;     Sriwijaya Pos, Minggu 26 September 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-5341417531665996662?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/5341417531665996662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=5341417531665996662&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5341417531665996662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/5341417531665996662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/neo-lysistrata.html' title='Neo Lysistrata'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY634CN3_I/AAAAAAAAAKs/h_1szkgwXxE/s72-c/Untitled-8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3149686905243519698</id><published>2010-12-25T10:25:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:01:06.226-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Ketika Iblis Membentangkan Sajadah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY4K7G_1bI/AAAAAAAAAKk/vuAHDdkrfh8/s1600/sajadah-setan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 314px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY4K7G_1bI/AAAAAAAAAKk/vuAHDdkrfh8/s320/sajadah-setan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554688950724974002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang  menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at.  Saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk. Ia masuk dari segala penjuru. Masuk lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lobang  pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga. Masuk ke dalam  syaraf mata. Masuk ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan  denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga   menempel di setiap sajadah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Hai, Blis!”, Panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. &lt;br /&gt;Iblis merasa terusik.&lt;br /&gt; “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau  larang-larang saya.  Ini hak saya untuk menganggu setiap  orang dalam Masjid ini!”, Jawab Iblis Ketus.&lt;br /&gt;“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci. Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!”,  Kiai mencoba mengusir.&lt;br /&gt;“Kiai, hari ini,  adalah hari uji coba sistem baru”.&lt;br /&gt;Kiai tercenung.&lt;br /&gt;“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.&lt;br /&gt;“Dengan apa?”&lt;br /&gt;“Dengan sajadah!”.&lt;br /&gt;“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”&lt;br /&gt;“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan  saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga,  mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”&lt;br /&gt; “Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, Blis”.&lt;br /&gt;“Bukan itu saja Kiai”.&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”.&lt;br /&gt;“Untuk apa?”&lt;br /&gt;“Supaya, Saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai!”&lt;br /&gt;“Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar, maka barisan shaf akan renggang.  Dan saya ada dalam ke-renganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah. &lt;br /&gt;Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. &lt;br /&gt;Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar, seenaknya saja membentangkan sajadahnya. Tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. &lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil, membentangkan saja sajadahnya. Sehingga, sebagian sajadah yang lebar, tertutupi sepertiganya. Keduanya  masih melakukan sholat sunnah.&lt;br /&gt;“Nah, lihat itu Kiai!”,  Iblis  memulai dialog lagi.&lt;br /&gt;“Yang mana?”&lt;br /&gt;“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk  diantara mereka”.&lt;br /&gt;Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.&lt;br /&gt;Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang  sedang melakukan sholat sunah.  Kiai akan membuktikan apa yang dikatakan Iblis.&lt;br /&gt;Pemilik  sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari  sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya, diatas sajadah yang kecil.  Hingga sajadah yang kecil, kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.  Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat  di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi diatas, ketimbang menerima dibawah. Diatas sajadah, orang sudah beberbut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil.  Sajadah sudah  sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat, harus lebih diatas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah, yang setiap saat akan selalu  menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Diatas sajadah, Iblis telah menjagari orang selalu menguasai orang lain. &lt;br /&gt;“Astaghfirullahal ‘adziiiim”, Ujar Kiai pelan.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Ba’da Subuh. Orang-orang sudah beranjak dari Masjid. Mereka menuju ke rumahnya masing-masing. Dan beberapa menit, atau beberapa jam kemudian, masing-masing orang sudah disibukkan oleh pekerjaan keseharian. Apalagi kalau bukan untuk  mempertahankan hidup. Masjid menjadi lengang dari jamaah. Sementara, Iblis tetap duduk bersimpuh di depan mihrab. Ia begitu khusyuk.  Seolah, Iblis sedang bertaqorrub kepada Tuhan. Dalam keheningan, isak tangis Iblis terdengar samar. Sesekali, Iblis menyeka air matanya yang ber-urai.  &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Kiai datang.  Iblis tak menghiraukan kedatangan Kiai. Sesaat, ia memperhatikan Iblis itu.   Tetapi kemudian, Kiai  mengalihkan pandangannya ke hadapan sajadah, dan melakukan sholat sunnah. &lt;br /&gt;Usai sholat, Kiai kembali memperhatikan gerak-gerik Iblis, yang masih tetap khusyuk.  Dan tidak berapa lama, Iblis mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia baru selesai melakukan ritual ke-agamaan. Matanya masih sembab. Karena sejak pagi tadi,  Iblis itu menangis.&lt;br /&gt; “Blis, Aku  ini heran”, Kata Kiai setelah duduk di sebelah Iblis.&lt;br /&gt;“Kenapa, Kiai?”&lt;br /&gt;“Kau ini aneh.  Kau kan mahluk  yang diusir dari Sorga oleh Tuhan. Tetapi, hari ini, Kau menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan”.&lt;br /&gt;Mata Iblis berbinar. Ia merasa berhasil menarik perhatian Kiai.&lt;br /&gt;“Saya hanya berusaha, Kiai. Siapa tahu, dengan tangisan ini, saya dan kawan-kawan bisa mendapat pengampunan”.&lt;br /&gt;“Tetapi, bagaimana bisa Kau menangis, sementara, selama ini Kau sudah menanam kebencian terhadap Tuhan?”&lt;br /&gt; “Ah, Kiai  bisa saja. Tangisan ini kan konsekuensi dari pangakuan dosa saya”.&lt;br /&gt;Kiai tercenung sesaat.&lt;br /&gt; “Tapi, Blis. Selama ini,  saya tidak pernah bisa menangis dalam beribadah?”&lt;br /&gt;“Ya, mungkin, anda belum khsusyuk”.&lt;br /&gt;Kiai tersentak.&lt;br /&gt;Selama ini, orang desa selalu meng-elu-elukan beribadahnya Kiai.   Tetapi, hari itu, Kiai dikatakan oleh Iblis, Kiai tidak khusyuk beribadah. Ini pukulan berat bagi Kiai. Tetapi,  sekalipun dadanya sesak, Kiai tetap mencoba bijak.&lt;br /&gt;“Kalau boleh tahu, kenapa Kau bisa menangis?”, Kata Kiai mengatur emosi.&lt;br /&gt;“Ya, karena saya pernah melakukan dosa”, Jawab Iblis enteng.&lt;br /&gt;“Dosa yang bagaimana?”&lt;br /&gt;“Dosa apa saja. Bisa membunuh, minum-minuman keras, atau juga berzina”.&lt;br /&gt;Kiai kembali tersentak. &lt;br /&gt;Sebab, seumur hidup-nya, Kiai ini belum pernah melakukan dosa yang disebut Iblis.&lt;br /&gt;“Apakah, kalau saya belum pernah melakukan dosa yang Kau sebut tadi, kemudian, saya tidak bisa menangis setiap sehabis sholat?”&lt;br /&gt;“Wah, ya jelas. Kalau sudah melakukan dosa, kan ada penyesalan. Nah, baru kemudian, Kiai bisa menangis pada saat beribadah atau setiap  sehabis sholat”, Kata Iblis mulai membuat jebakan.&lt;br /&gt;“Tapi, saya  tidak berani berzina. Itu  larangan Tuhan. Itu dosa besar?”&lt;br /&gt;“Membunuh!”, Iblis  memberi alternatif. &lt;br /&gt;“Wah, apalagi membunuh! Saya ini penakut!”&lt;br /&gt;“Ya, kalau begitu, minum-minuman keras saja. Ini yang paling ringan”.&lt;br /&gt;Kiai tercenung lagi.&lt;br /&gt;“Bagaimana? Kalau Kiai Setuju,  nanti malam, saya akan jemput Kiai. Saya akan tunjukkan bagaimana, Kiai harus mulai melakukan dosa, agar nanti, kalau Kiai  sholat, Kiai bisa menangis seperti saya”.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt; Waktu Isyak berlalu.  Iblis dan Kiai keluar dari Masjid. Orang-orang sekitar hanya menatap heran, ketika ada warga baru yang sudah demikian akrab dengan Kiai mereka. Tapi,  tak seorang pun yang berani melarang. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Sementara, Iblis sudah membawa Kiai menembus malam.&lt;br /&gt;Pada sebuah Kedai, agak jauh dari perdusunan, tempat Kiai tinggal. Banyak Laki-laki dan perempuan berkumpul di situ. Kata-kata kotor, dan suara  manja perempuan kampung yang siap melayani para lelaki,  makin jelas terdengar. Bermacam botol minuman keras tersedia di Kedai itu. &lt;br /&gt;“Bagaimana Kiai?”&lt;br /&gt;“Aduh, gila  Kau, Blis!” &lt;br /&gt;“Mau minum apa?”, Tanya Iblis ketika keduanya sudah duduk. &lt;br /&gt;“E…e….”&lt;br /&gt;“Tidak perlu gugup Kiai. Nanti juga terbiasa!”&lt;br /&gt; Dua buah botol dipesan. Iblis menatap Kiai. Kiai tampak ragu. Sementara, Iblis sudah menuangkan minuman ke dalam gelas, yang ada di hadapan Kiai. &lt;br /&gt;“Ayolah, Kiai. Setelah minum ini, saya yakin, Kiai bisa lebih khusyuk, dan bisa menangis, ketika nanti Kiai sholat”.&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit, Kiai terkena rayuan Iblis. Tak berapa lama, Kiai sudah mabuk berat. Iblis beri kode  pada salah satu perempuan. Salah satu perempuan,  kemudian membawa Kiai ke satu rumah,  tepat di belakang Kedai. &lt;br /&gt;Langit gelap. Mata Kiai juga menjadi gelap. Sementara, desah napas Kiai dan perempuan itu menjadi satu gerakan erotis yang menegangkan. Keringat bercucuran. Detak jantung keduanya berdegup kencang. Petikan ayat, hadits dan mutiara hikmah, tak lagi mampu membentengi hasrat Kiai. Yang ada hanya napas yang memburu. &lt;br /&gt;Sepertiga malam terakhir, Kiai terbangun.  Di sebelahnya, ada perempuan tergolek tanpa busana. Kia terkejut. Ia jadi blingsatan. Ia coba ucapkan kata Istighfar, tetapi, lidahnya kelu. Beberapa kali,  Kiai mencoba sebut nama Tuhan. Tapi ia gagal.  Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup. Kiai tak sempat lagi, mengingat rentetan kejadian, yang telah membawanya ke tempat itu. &lt;br /&gt;Matanya menjadi gelap. Hatinya juga tersumbat. Sebuah  pisau pemotong buah di atas meja  ia hunjamkan ke perut perempuan itu. Seketika, jeritan dan lengkingan kesakitan perempuan itu membangunkan warga sekitar. Warga sudah berbondong-bondong. Menggedor dan berkerumun mengitari tempat Kiai dan perempuan itu tidur. &lt;br /&gt; Pagi  tiba. Kiai sudah berada di tiang gantungan.  Sementara, dari kejauhan, Iblis tertawa lebar. &lt;br /&gt;“Kurang ajar kau Iblis. Kau telah menipuku!” Teriak Kiai protes.&lt;br /&gt;“Kiai, tak ada gunanya Kau memprotes.  Kau sudah masuk dalam jeratanku. Kau harus menjalani hukuman berat”.&lt;br /&gt;“Coba Kau selamatkan aku dari tiang gantungan ini, Blis!”&lt;br /&gt;Iblis tertawa. Kali ini lebih lebar.&lt;br /&gt;“Kalau Kiai  ingin selamat dari tiang gantungan itu, bersaksilah atas namaku. Lalu tundukkan muka pada ku. Itu sebagai pengakuan Kiai, bahwa Kiai telah mau dan rela menjadi hambaku!”&lt;br /&gt;“Aku adalah hamba Tuhan!  Aku bukan hambamu!”&lt;br /&gt;“Tapi pada posisi seperti sekarang, yang dibutuhkan Kiai bukan Tuhan, tetapi aku, yang telah membawa Kiai ke tiang gantungan. Maka segeralah tundukkan muka dan bersaksilah atas namaku!”&lt;br /&gt;Kiai terdiam. Kepalanya tertunduk.&lt;br /&gt;Tetapi,  iblis tetap Iblis. Ia tak pernah menyelamatkan Kiai dari tiang gantungan.  Iblis lenyap.  Kembali pada alam-nya. Ia berlari membawa kemenangan. Dan besok atau  lusa, Iblis akan kembali membentangkan sajadah**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lpm ukhuwah-iain rf-Palembang,  &lt;br /&gt;30 November 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3149686905243519698?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3149686905243519698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3149686905243519698&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3149686905243519698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3149686905243519698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/ketika-iblis-membentangkan-sajadah.html' title='Ketika Iblis Membentangkan Sajadah'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY4K7G_1bI/AAAAAAAAAKk/vuAHDdkrfh8/s72-c/sajadah-setan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-7320992172555064520</id><published>2010-12-25T10:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:02:02.565-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Kerbau Desa Peralihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY2tu6Q5JI/AAAAAAAAAKc/lG5n4_GI3ys/s1600/kerbau3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 311px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY2tu6Q5JI/AAAAAAAAAKc/lG5n4_GI3ys/s320/kerbau3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554687349722506386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya seekor Kerbau. Wujud dan bentuk tubuhku, sama dengan Kerbau yang lain. Nama tempat tinggalku Dusun Peralihan. Sebuah Desa, yang terletak di kawasan Tropis, pinggir selat Sunda.Tentang kapan aku lahir, sampai kini, aku sendiri juga bingung. Memang, sejauh ini, sudah banyak para peneliti yang mencoba merunut sejarah, asal-muasalku.  Ada yang bilang, aku ini berasal dari negeri Belanda. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pendapat, bahwa aku muncul ketika Desa Peralihan dilanda banjir. Dan ketika itu aku hadir dari tempat yang tidak diketahui tempatnya, lalu menjadi tumbal, sebagai se-saji, pencegah banjir. Karena, menurut warga desa, banjir  yang menimpa, adalah simbol kemarahan Dewa. Oleh sebab iitu, sejak aku berhasil meng-hentikan banjir, maka sejak itu pula. Aku dipercaya sebagai Dewa penolong. Dan warga pun –menyembah-nyembah aku.   Bahkan, ketika aku berak, orang segera berbondong-bondong, berebut memunguti tinjaku, lalu  menyimpan-nya di dalam  lemari es. Besok pagi, akan  dijadikan se-suhunan,  sebagaimana mereka menyembah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca kemerdekaan, binatang sepertiku, tiba-tiba dilarang untuk dipelihara. Lurah Desa Peralihan, akan marah besar, ketika salah satu warganya, mencoba memelihara Kerbau sepertiku. &lt;br /&gt;“Sejak hari ini, saya melarang dengan keras pemeliharaan kerbau. Sebab, Kerbau adalah binatang yang susah diajak kompromi. Binatang ini, tidak mengetahui tempat yang bersih. Tempat mandinya lumpur. Dan kalau ini terus dipelihara, jelas akan merusak citra Desa Peralihan di  Kabupaten Sukamenang”, Ujar Lurah Desa Peralihan, dalam sebuah pidato resmi, di Balai Desa.&lt;br /&gt;“Sekarang, yang mesti kita pelihara, adalah upaya melestarikan lingkungan yang hijau. Oleh sebab itu, saya mengajak dan mengharuskan, agar warga Desa Peralihan, segera mengganti Kerbau dengan memelihara tanaman. Nah, untuk menyeragamkan, tanaman ini, Bapak-bapak dan Ibu-ibu harus memelihara pohon Wuringin”.&lt;br /&gt;“Dan perlu dikethaui, saudara-saudara. Pohon Wuringin ini, menurut nenek moyang kita, bisa membawa berkah di kemudian hari. Dan dulu, sebelum kita lahir, Pohon ini merupakan se-sembahan para leluhur. Oleh sebab itu, jika warga tidak bersedia memelihara pohon ini, sama saja, telah membunuh warisan leluhur”,  Jelas Lurah Desa Peralihan, seperti pakar sejarah dadakan.&lt;br /&gt;Larangan ini sempat menimbulkan protes warga.&lt;br /&gt;“Ini tidak bisa diterima. Larangan Pak Lurah, jelas melanggar Hak Asasi pemeliharaan binatang”. Kata  seorang warga.&lt;br /&gt;“Betul, sesembahan kita, selama ini bukan pohon. Larangan ini, jelas melanggar kebebasan kita untuk memeluk agama, atau kepercayaan. Ini tidak fair”, Celetuk yang lain, menimpali sebelumnya. &lt;br /&gt;“Ini tidak bisa kita diamkan!” Sela yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pelarangan ini, jelas bentuk penindasan baru!. Kita tidak bisa menerima begitu saja dengan petuah Lurah itu. Kita harus melawannya!”, Kata seorang aktifis, di hadapan warga, yang merasa keberatan dengan pelarangan itu.&lt;br /&gt;Sejak Lurah Desa Peralihan mengumandangkan pelarangan warga memelihara-ku, Desa Peralihan menjadi  Desa yang dihimpit oleh rasa ketakutan, terutama dengan ancaman Lurah, yang akan memenjarakan kepada siapapun yang ketahuan memelihara  binatang sepertiku. &lt;br /&gt;.Persoalan baru pun muncul. Warga Desa Peralihan  mulai terpecah. . Satu  pihak, bagi yang ketakutan ancaman Lurah, mereka berbondong-bondong untuk menjual-ku ke pasar, lalu menggantinya dengan membeli  Pohon Wuringin di koperasi, yang dikelola oleh keponakan Lurah Desa Peralihan. Tetapi, bagi warga yang protes, mereka mencoba tetap memeliharaku, tetapi, dengan cara diam-diam. Segala ancaman dan teror terus bermuncullan, terutama bagi warga yang mencoba memeliharaku.  &lt;br /&gt;Dan dalam lima tahun pertama, aku benar-benar dilibas oleh Lurah Desa Peralihan. Aku benar-benar hilang dari Desa Peralihan. Warga Desa Peralihan, sebagian besar sudah memilih memelihara Pohon Wuringin, ketimbang memeliharaku. Bahkan,   di setiap halaman rumah, tikungan jalan dan pinggir sawah, sudah berjajar pohon Wuringin. Sementara, warga yang berseberangan dengan Lurah Desa Peralihan, masih tetap memeliharaku, sekalipun, mereka harus dalam ketakutan. Pada  kesempatan itu, Lurah Desa Peralihan mengumbar senyum  kemenangan.  Ia merasa, menjadi orang yang paling berhasil merubah kepercayaan Desa Peralihan. Aku yang selama ini menjadi se-sembahan bagi warga Desa Peralihan, kini sudah menjadi sampah. Orang sudah mulai meng-agung-agungkan Pohon Wuringin. Inilah nasib kerbau sepertiku. Aku harus diinjak oleh kewenangan Lurah Desa peralihan, dengan mengganti simbol kebesaran Desa peralihan dengan Pohon Wuringin. &lt;br /&gt;Dalam satu malam, aku hanya merintih, bersama para warga Desa Peralihan yang masih setia memeliharaku.  Tetapi, memang berat, untuk tetap mempertahankanku sebagai kepercayaan warga. Satu bulan lalu, ada puluhan orang, diculik oleh satuan keamanan desa, antek-antek Lurah Desa Peralihan, gara-gara, mereka ketahuan melakukan upacara ritual  yang masih meng-agung-agung-kanku. Dan puluhan orang itu, nasibnya belum jelas rimbanya. Entah, berapa banyak lagi korban berjatuhan, jika warga Desa Peralihan ini, tetap setia memeliharaku, sebagai se-sembahan. &lt;br /&gt; Dukungan Lurah Desa Peralihan makin bertambah, ketika Pohon Wuringin yang telah menjadi se-sembahan itu, benar-benar membawa perkembangan desa. Sudah  lebih dari tiga kali, Desa Peralihan mendapat santunan dan piagam penghargaan, sebagai desa swasembada dari Kabupaten Sukamenang.  Belum lagi, Lurah Desa Peralihan juga membentuk beberapa Lembaga,  yang di-ketuai oleh warga yang Pro Lurah Desa Peralihan. Tidak ada yang lain. Melalui Lembaga-lembaga itu, pelarangan pemeliharaan Kerbau terus dilakukan di beberapa Desa lain, se-kabupaten Sukamenang. Makin kuatlah  posisi Lurah Desa Peralihan.  Oleh sebab itu, dalam setiap kesempatan, Lurah Desa Peralihan, selalu menceritakan tentang berbagai keberhasilannya  dalam setiap programnya, khususnya program penanaman Pohon Wuringin. &lt;br /&gt;Lambat laun, Warga Desa Peralihan meninggalku. Meninggalkan Kerbau yang dulu sempat menjadi se-suhunan warga desa. Aku hanya menjadi barang yang tak ada artinya lagi. Sekelompok warga yang mencoba bertahan tetap memeliharaku, banyak yang berlari, menukarkan-ku dengan bibit Pohon Wuringin. Aku makin terpojok. Suara-suara dari kelompok pemelihara-ku sudah menjadi kelompok pinggiran, yang di-klaim melawan kekuasaan Lurah Desa Peralihan. Siapa melawan, risikonya masuk bui. Inilah yang menimbulkan ketakutan para warga. &lt;br /&gt;Tahun ketujuh, kekuasaan Lurah Desa Peralihan, sepertinya, memang harus diselesaikan. Aku harus membawa citra-ku kembali. Dalam beberapa waktu, bersama warga Desa Peralihan yang masih setia memliharaku, berkumpul menyusun barisan. Aku kumpulkan barisan kerbau. Sementara, diluar pasukan Kerbau, aku juga mengumpulkan barisan binatang lain, yang merasa sakit hati dengan kesewenangan Lurah Desa Peralihan. Semua mahluk menyusun kekuatan. Bahkan, mahluk oportunis, seperti Bunglon, juga bergabung. &lt;br /&gt;“Saudara-saudara, tugas kita adalah merobohkan semua pohon Wuringin di Desa Peralihan, atau di beberapa Desa se-kabupaten Sukamenang. Jangan ada yang pisah dari barisan. Sebab, Pohon-pohon itu, juga dijaga oleh beberapa Srigala, Singa, Harimau dan Ular. Jika kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi bangkai, atau dimakan. Kita tidak boleh mati konyol. Kita harus mati terhormat!”, Aku berpidato, menandingi Lurah Desa Peralihan. &lt;br /&gt;Selama  tiga bulan lebih, gerakan merobohkan pohon Wuringin perlahan berhasil. Hingga, akhirnya, pohon Wuringin tumbang. Sekalipun, masih ada akar-akar yang belum tercerabut.  Darah dan nyawa tidak lagi terhitung. Dan akhirnya, Lurah Desa Peralihan pun mengaku kekuatan  Koalisi Kerbau, bersama  binatang dan para pemeliharanya.  Kemenangan pun diraih. Dan Aku kembali  menjadi se-sembahan warga  Desa Peralihan dan desa lain se-kabupaten Sukamenang. Setiap warga kembali meng-elu-elukan kembalinya aku sebagai Dewa, sekaligus menjadi penguasa.  Tetapi, Kerbau tetap saja, kerbau, aku tak bisa berbuat banyak. Hanya sekedar simbol ke-agungan, yang di-sembah-sembah. Dan  ketika warga Desa  Peralihan terhempas dengan masa paceklik, aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya mengoek, layaknya kerbau yang ada di kandang.  Orang-orang pun kembali mengingat masa kejayaan Lurah Desa Peralihan. Kerbau, ya tetap saja Kerbau. Dalam Desa peralihan, sepertinya, Kerbau sepertiku  tidak bisa berbuat banyak. Sementara, Pohon Wuringin lambat laun mulai menjalar kembali ke perut bumi, yang setiap waktu akan bersemi kembali  Dan kebesaran “kerbau” yang ku-sandang, tak banyak bisa berbuat. Sebab, kewibawaanku, kharismaku, hanya warisan nenek moyang**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang,  17 Nov 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-7320992172555064520?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/7320992172555064520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=7320992172555064520&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7320992172555064520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/7320992172555064520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/kerbau-desa-peralihan.html' title='Kerbau Desa Peralihan'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY2tu6Q5JI/AAAAAAAAAKc/lG5n4_GI3ys/s72-c/kerbau3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1829681392325623895</id><published>2010-12-25T10:14:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:02:33.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Dear, Mr 5 Juta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY1Lh94beI/AAAAAAAAAKU/3LG85TskUxY/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 288px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY1Lh94beI/AAAAAAAAAKU/3LG85TskUxY/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554685662620839394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan terakhir,Mirdan, teman sekost saya sedang dipusingkan oleh persoaalan rezeki, berupa setumpuk uang yang tiba - tiba datang dari berbagai sumber yang tak pernah diduga sebelumnya. Mungkin ini yang sering disebut para kiai Min haitsu layahtasih, rezeki yang datang tak disangka sebelumnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang jelas, rezeki yang didapat oleh teman saya itu bukan hasil rampokan, hasil pungli dan pula dari penyalahgunaan dana instansi tanpa prosedur  yang jelas demi kepentingan pribadi. Kenapa saya berani mengatakan demikian? Karena saya yakin benar dengan integritas Mirdan dalam persoalan uang dan uang. Keyakinan saya berawal dari pergaulan saya dan Mirdan yang telah sepuluh tahun hidup dirumah kontrakan.&lt;br /&gt;Bukan sekali dua kali saja Mirdan mendapat peluang untuk meraup jutaan uang dari beberapa oknum untuk menggolkan anaknya agar dapat bekerja diperusahaan atau instansi tertentu. Tapi berkali - kali pula Mirdan dan hanya tersenyum kecil lantas berucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, sudah terlampau banyak dosa yang pernah saya lakukan. Bagaimana mungkin saya harus menerima dosa yang lain, sementara dosa yang kemarin saja belumtentu terbayar oleh perbuatan baik yang pernah dan sedang saya lakukan".&lt;br /&gt;Sebenarnya, Mirdan bukan seorang pejabat tinggi yang memiliki otoritas tertentu bagi setiap karyawan di sebuah perusahaan atau instansi. Teman saya itu hanya seorang tukang rokok yang hidupnya tak lepas dari razia Tibum, pengusiran kaki lima atau tagihan retribusi bulanan sebagai uang sewa di mana ia berjualan. Kalaupun kini Mirdan menjadi sarjana , itu bukan lantaran kehendak hatinya yang ingin menyandang gelar sebelum namanya disebut atau ditulis dalam sebuah bloknote, tapi hanya memenuhi keinginan orangtuanya yang tak sempat mengenyam pendidikan formal. Berangkat dari sana , sebagai anak satu - satunya harapan orangtuanya, Mirdan menguras diri demi membahagiakan ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan orang - orang sekitar kontrakan yang tiba - tiba percaya bahwa Mirdan mampu menggolkan seberkas lamaran? Entah bagaimana proses terjadinya ketika teman saya itu memiliki kekuatan dari matanya, seperti seekor kucing yang hendak menundukkan tikus.&lt;br /&gt;Ada semacam kekuatan tersembunyi dari balik lensa matanya, sehingga bukan seorang cukong saja yang kemudian gagal memaksa penduduk untuk membebaskan tanah dengan harga minim, tap seekor ular pun cepat - cepat beranjak pergi dari hadapannya ketika teman saya itu menatapnya tajam.&lt;br /&gt;Bukan saya yang mengusir ular itu, tapi karena naluri kebinatangannya sehingga ular itu pergi. Meski hanya binatang, tapi tetap memiliki naluri untuk tidak mau diganggu, apalagi digusur tempat tinggalnya. Mereka juga butuh ketenangan hidup, kemerdekaan untuk berkomunikasi antar binatang, apalagi kita yang tidak saja mempunyai naluri, akal tapi juga dikaruniai hati nurani, kalaupun manusia semacam kita kemudian meninggalkan akal sehat dan ahti nurani, itu sama halnya kita telah menjadi ular yang tak lagi punya naluri", ujar Mirdan pada saya menyembunyikan keistimewaan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Selalu dan selalu begitu jawabannya. Tapi bagaimanapun, tunduknya cukong atau perginya ular dari hadapan Mirdan langsung saja merebak di setiap telinga para tetangga, atas dasar itu menurut dugaan saya, keistimewaan yang dipunyai Mirdan dapat memudahkan seberkas lamaran kerja setiap instansi. Tapi itulah Mirdan, meski diiming - iming dengan bonus jutaan rupiah di luar ongkos kemudahan yang musti disumbangkan kapada siempunya otoritas, teman saya itu terus saja menolak". Saya takut tidak dapat memenuhi amanat sampean", ucapnya merasa keberatan mendapat kepercayaan dari beberapa warga.&lt;br /&gt;Kali ini giliran Mirdan yang ketiban rezeki yang pasti halalan thoyyiba, halal dan baik. Saya sendiri  juga tak mengetahui persisnya bagaimana tiba - tiba seseorang mengantarkan rezeki itu kerumah kontrakan saya. Tapi jelas gepokan uang itu bukan hasil dari sumbangan sukarela setengah mekso (Sususemek) atau hasil dari sumbangan sukarela dengan jeritan (Susudejer).&lt;br /&gt;Anehnya kedatanga rezeki itu bukan membuat Mirdan bahagia, tapi justru menjadikan teman saya itu bingung mencari jalan keluar akan dikemanakan uang sebanyak itu, tanpa harus mendepositokan lantas hidup dari bunga - bungaan.&lt;br /&gt;Kebingungan Mirdan itu tak lepas dari penyakit yang selama ini diidapnya. Teman saya itu punya penyakit tak boleh kaget (terkejut).&lt;br /&gt;Apapun persoalannya, jika sesuatu itu terjadi mendadak, teman saya itu justru seperti setengah beras setengah gula alias setengah waras setengah gila, sulit untuk berpikir jernih, akhirnya bingung meskipun tidak separah Kang Suram, menjadi porkas, putar otak rencana kaya akhirnya sinting. Meski dihatinya tetap bersyukur atas karunia itu, tapi akibat kekayaannya itu Mirdan jadi sering melamun. Tentu bukan melamunkan sesuatu yang tidak bakal terjadi, namun mencoba konsentrasi untuk mengembalikan pikiran jernihnya dengan harapan uang yang didapatnya itu bisa menjernihkan batinnya, bukan memperkeruh aliran darahnya. Hingga suatu ketika teman saya itu keluar dari rumah kontrakan, menitipkan gepokan uang itu pada saya.&lt;br /&gt;Menyalahgunakan kepercayaan itu sama halnya mengasingkan diri dari kekerabatan, sekaligus telah membunuh hati nurani", kata Mirdan ketika saya keberatan mendapat kepercayaan itu.&lt;br /&gt;Ia pun pergi, menerobos keremangan malam yang makin gulita.&lt;br /&gt;Aneh ditengah persaingan hidup yang demikian ketat, dimana orang selalu suntuk mengejar niali rupiah.&lt;br /&gt;Dipinggir sungai Mirdan duduk termenung. Beragam perasaan bergelayut. Bagaimana kalau uang itu kutaburkan di sungai ini--lantas tersebar lantas tersebar mengikuti aliran sungai? Ah, tidak mungkin! Pasti para pencari ikan di sungai ini bermalas - malasan setelah mendapat uang sebanyak itu. Pasti mereka tak mau lagi hidup dalam kenyataan. Atau mereka bakal saling bunuh demi mendapatkan uang yang kutaburkan. Ah, akan terlalu banyak mayat yang akan tenggelam disungai ini, toh sudah banyak korban akibat perebutan jutaan rupiah.&lt;br /&gt;Tapi…apakah ini tidak menguntungkan sipenggali kubur? Lantas akankah pengangguran ini berkurang dengan munculnya banyak mayat di desa ini? Ini sama halnya aku telah membeli mayat!.&lt;br /&gt;Di sebuah surau yang kecil di dapatinya satu keprihatinan. Demi uang, para warga desa sanggup meninggalkan ketertundukan mereka pada si Pembuat Hidup.&lt;br /&gt;Ya, Tuhan hanya karena uangkah mereka harus meninggalkan rumahMu dalam sepi? Inikah kenyataan yang telah kau catat di buku taqdirMu? Adakah keistimewaan bagiku atas jutaan rupiah yang kini kuterima? Setetes air mata itu terus mengalir hingga meleleh dilehernya.&lt;br /&gt;Pada sebuah rumah, Mirdan mendapat seorang gadis duduk dibalik jendela. Ada sebongkah penderitaan batin yang tersemburat pada gadis itu. Mirdan menatap tajam." Itu gadis piningit. Gadis pingitan. Kalau kisanak mau melamarnya harus menyediakan uamg lima juta. Mereka kan keluarga terpandang di desa ini", ujar seseorang orang yang kebetulan lewat setelah ditanya Mirdan.&lt;br /&gt;Serendah itukah harga sebuah kehormatan? Bisik Mirdan lirih. Dalam perjalanannya, Mirdan menjumpai sepuluh wanita piningit yang berstatus sama dengan keluarga satu dan lainnya. Ada segumpal keceriaan yang tiba - tiba menyusup di hati Mirdan. Seakan ia menemukan jalan pemecahan dengan jutaan rupiah yang dimilikinya kini. Lima puluh juta untuk gadis piningit, gadis piningit lima puluh juta, lima juta untuk satu gadis piningit, lalu kali sepuluh…&lt;br /&gt;Saya tak menduga sebelumnya ketika Mirdan lalu mengajak saya untuk melamar sepuluh gadis piningit itu. Lantas mau kau apakan dengan sepuluh gadis itu? Pikir saya. " Tak khawatir, semua sudah kupersiapkan sebuah tempat yang dapat menampung mereka", kata Mirdan menepis kegundahan saya berhadapan dengan para mertua.&lt;br /&gt;Malam kian kelam. Udara malam mulai menembus setiap kamar para gadis piningit yang telah resmi menjadi isteri Mirdan. Sementara saya dan para mertua masih menunggu apa yang dilakukan terhadap kesepuluh gadis piningit itu.&lt;br /&gt;Satu persatu Mirdan keluar masuk kamar para gadis itu, hingga kamar yang ke sepuluh. Saya makin bingung saat Mirdan membawa sepuluh lingkaran membentuk kalung yang dililit dengan gepokan uang. Tepat pada ujung lingkaran itu, selain tertulis label lima juta ada sebuah amplop kecil yang disengaja diselipkan.&lt;br /&gt;Di depan para mertua ia undang kesepuluh gadis piningit itu. Mereka berjajar menatap masing - masing orang tuanya. Saya tetap saja duduk ditempat semula. Satu persatu, lingkaran - lingkaran yang terlilit uang itu dikalungkan pada setiap gadis piningit. Tapi dari sorot mata para gadis itu tergambar lolongan panjang sangat sulit terucap. Ada segumpal pemberontakan batin yang tak kesampaian. Malam ini dan seterusnya aku tak mungkin mendapat cinta mereka dengan paksa! Ini penindasan! Pikir Mirdan protes pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Sejak itu Mirdan benar - benar membebaskan kesepuluh gadis piningit itu, sekaligus mengembalikan mereka pada orang tuanya. Hanya lilitan uang dan untaian kata yang sempat dititipkan pada orang tuanya.&lt;br /&gt;Putri - putrimu adalah simbol keagungan cinta. Mereka hanya dapat bahagia dengan lelaki yang dicintainya. Mereka adalah calon ibu di alam jagad ini,bukan untuk diperjualbelikan dengan 5 juta. Kini kukembalikan putri-putrimu dengantulus tanpa noda yang menyertainya. Bebaskan mereka dari keterpasungan batin. Biarkan mereka menghirup udara cintanya demi memenuhi anugerah Tuhan Sang Pemberi Cinta. **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Palembang, 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Dimuat di Harian Sumatera Ekspres 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1829681392325623895?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1829681392325623895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1829681392325623895&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1829681392325623895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1829681392325623895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/dear-mr-5-juta.html' title='Dear, Mr 5 Juta'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRY1Lh94beI/AAAAAAAAAKU/3LG85TskUxY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-2452585449579171800</id><published>2010-12-25T10:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:03:02.173-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Dalam Perjalanan Pulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYzshEXUoI/AAAAAAAAAKM/mhNPWG-j8P8/s1600/sewaktu-perjalanan-pulang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYzshEXUoI/AAAAAAAAAKM/mhNPWG-j8P8/s320/sewaktu-perjalanan-pulang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554684030292021890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 21.30 Wib lebih sedikit, saya dan Minah, isteri saya keluar darikeramaian undangan. Untuk sampai ke depan pintu gerbang rumah itu, sesekali saya dan Minah harus bersalaman, atau paling tidak melempar senyum pada para undangan, yang rata - rata belum saya kenal. Seharusnya, sayaa dan Minah bahagia,ketika Darwin, salah satu penduduk baru dikompek itu memberi kehormatan bagi manusia semacam kami untuk bertemu dengan para eksekutif rekanan dan kolega Darwin malam itu. Tapi entahlah, di tengah keceriaan para undangan yang hadir, saya danMinah justru merasakan kekakuan, yang membuat kami ingin segera meninggalkan rumah itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; "Mas, para undangan tadi, orang kaya semua?" Tanya Minah setelah kami sudah lima puluh meter keluar dari rumah Darwin.&lt;br /&gt; "Mungkin  ", Jawab saya pendek.&lt;br /&gt; "Lho kok mungkin!" Minah keheranan. &lt;br /&gt; "Ya, memang begitu! Dalam hidup ini kan memang tidak ada tidak ada yang pasti. Semuanya serba mungkin. Mungkin kaya, mungkin miskin. Yang pasti hanya satu, kamatian. Itu pun masih masih serba mungkin, mungkin hari ini, besok atau mungkin tahun depan".&lt;br /&gt; " Jadi pakaian para undangan itu, belum memastikan kalau mereka orang kaya, begitu?!" Ujar Minah, sembari menarik lengan saya, ketika saya selangkah lebih maju di depannya.&lt;br /&gt;" Mungkin!"&lt;br /&gt;" Kok mungkin terus, Mas?!" Minah agak kesal.&lt;br /&gt;Saya tidak langsung menjawab, sebab suara saya tak mungkin mengimbangi derum mesinmobil yang tiba - tiba melintas di jalan itu.&lt;br /&gt;" Ya, kalau bukan mungkin, lantas apa?!" Ucap saya meningkahiderum mesin mobil yang makin terdengar samar.&lt;br /&gt;" Kamu tahu enggak, Min. Pakaian mereka, senyum para undangan, dan kemewahan dirumah Darwin itu, banyak kesemuan hidup yang tidak pasti. Makanya aku bilang mungkin tadi, Min".&lt;br /&gt;Sejenak, Minah menoleh pada saya, lalu matanya kembali pada trotoar jalan yang sebagian banyak termakan oleh arus air yang tak tertampung di got akibat bertumpuknya sampah. Saya tahu, Minah mungkin masih sulit menerjemahkan ucapan saya, sehingga beberapa saat isteri saya itu harus diam.&lt;br /&gt;" Tapi aku kurang yakin, jika para undangan itu bukan orang kaya. Sebab, dari cara berpakaian dan nada bicaranya saja sudah menunjukkan bahwa mereka kumpulan orang - orang yang berkecukupan".&lt;br /&gt;Minah mencoba berargumen, meskipun baru kali itu ia bertemu dan berkumpul atau berjabat tangan dengan para eksekutif.&lt;br /&gt;" Itu karena kamu memandang denganpandangan dhahir. Belum tentu pakaian yang dikenakan, kemewahan yang mereka adakan itu sebagai wujud dari kehidupan nyata bagi mereka. Mungkin stelanan jas itu dapat dari meminjam tetangga, dari studio tailor, dari pinjaman kantor, atau mungkin harus berhutang dengan jaminan sertifikat tanah. Itu sekedar kostum, bukan bentuk kenyataan dari kehidupan mereka."&lt;br /&gt;" Begitu berani Mas mengatakan demikian?!" Minah menimpali.&lt;br /&gt;" Ya! Karena sudah terlalu banyak orang lebih memilih hidup dengan membungkus diri dengan kepalsuan, menyelimuti diri dengan jubah - jubah,menghiasinrona wajahnya dengan bermacam topeng, sehingga dengan semua itu, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi kendaran dari nasu merka sendiri, sementara, hati nurani, akal pikiran, alat pengendali nafsu, justru mereka tinggal jauh di belakang, demi mendapat kebahagiaan sepintas".&lt;br /&gt;Para undangan terlihat masih sibuk dalam kelompok lobinya masing - masing, sementara kami semakin jauh meninggalkan acara menuju biskota yang antri menjemput penumpang. Mungkin hanya kami yang terlihat berpakaian seadanya dibanding dengan para undangan lainnya. Mungkin perasaan percaya diriku membuat acara ini tak berbeda dengan acara atau selamatan dikampungku dahulu. Tapi, justru kewajaran ini membuat tak mau menipu diri. Di dalam biskota, saya dan Minah terus berbicara tentang kesan - kesan selama mengikuti acara. Berulangkali saya  terus mencoba untuk tetap bertahan lebih lama lagi selama mengikuti acara selamatan dirumah Darwin, tapi, begitulah kenyataannya kami harus lebih dahulu meninggalkan para undangan untuk pulang kerumah kembali ke habitat kami yang sebenarnya.&lt;br /&gt;" Mas, aku tadi malu - malu dan minder sekali, tapi setelah mendengar penjelasan, Mas. Minah pikir, apa yang mesti membuat kita malu, apalagi minder. Toh, kita tidak mencuri, bahkan kita juga undangan meskipun dengan pakaian yang sangat sederhana. Justru, kita berdosa kalau kita minder……..", Minah terus berbicara dengan semangat penuh percaya diri. Saya mengangguk membenarkan pembicaraan Minah, sesekali saya menggaris bawahi setiap pembicaraan Minah. Semangat dan percaya diri inilah yang menjadi dayak tari utamanya, hingga ketika hendak memutuskan untuk segera menikah walaupun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan baik secara mental maupun materi, karena setiap saat harus berhadapan dengan pihak keluarganya yang tidak menyetujui hubungan kami terus berlanjut mengingat saya dinilai tidakcukup layak untuk menghidupi keturunan Raden Mas dan Raden Ayu dari Minah. Tapi, Minah memilh taqdirnya dengan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;" Sudah sampai…., Mas !", Minah mengagetkan lamunan.&lt;br /&gt;Tanpa saya sadari, ternyata saya sempat melamun, terbayang masa - masa saat mengambil keputusan untuk segera menikah dengan Minah yang penuh liku - liku dan tantangan. Tapi , disitulah kenangan yang paling manis yang sulit untuk dilupakan.&lt;br /&gt;Kami tepat di mulut Gang Swadaya menuju rumah kami yang hanya berjarak seratus meter dari jalan besar. Sebenarnya jarak antara rumah kami dan rumah Darwin tidak begitu jauh, bahkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja. Tapi , semenjak banyak berdiri bangunan bertingkat dan kompleks - kompleks dengan pagar beton yang menutup jalan kecil membuat para pejalan kaki harus mengikuti arah jalan raya atau mengikuti rute biskota yang lebih banyak berputar - putar keliling kompleks baru sampai pada tujuan.&lt;br /&gt;" Dulu, kita tak perlu repot seperti ini. Tapi, semejak kampung sawah berubah komlek perumahan elite dan berdiri kompleks pertokoan kita jadi mutar - mutar kayak kipas angin", coleteh Minah, tanpa keluh dan sedikti manja.&lt;br /&gt;" Ya, begitulah hidup yang sesungguhnya terjadi. Bukan sesungguhnya yang diingin. Perlombaan materi justru banyak memakan banyak korban. Penduduk kampung sawah yang lahan rumahnya tergusur, kini entah tersebar kemana - mana. Mereka tersingkir oleh derap pembangunan…..", jawabku pelan sambil merangkul pundak Minah.&lt;br /&gt;" Kalau begitu, mereka korban pembangunan",&lt;br /&gt;" Betul, karena mereka tidak berdaya. Mereka tidak mempunyai akses terhadap kebutuhAn strategis sehingga tak mempunyai hak sama sekali terhadap kepentingan mereka sendiri di tengah laju pembangunan. Bahkan lahan kebutuhan fisik merekapun dirampas atas nama pembangunan".&lt;br /&gt;Tanpa terasa kami telah sampai di rumah kontrakantempat kami tinggal. Saya langsung merebahkan diri usai berganti pakaian, sementara Minah sibuk membenahi rumah, lalu bersiap untuk tidur setelah selesai berbenah diri.&lt;br /&gt;Malam semakin larut untuk menidurkan kami, tapi kota tak pernah larut dalam kebisingan. Tinggal menunggu cerita untuk esok dalam episode kepalsuan, penindasan atau cerita tentang penggusuran rumah kumuh untuk pertokohan, supermaket atau perumahan elite. Mungkin esok daerah tempat tinggal kami yang menjadi agenda penggusuran.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat &lt;br /&gt;diHarian Sumatera Ekspres, 30 Januari 1999.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-2452585449579171800?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/2452585449579171800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=2452585449579171800&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2452585449579171800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2452585449579171800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/dalam-perjalanan-pulang.html' title='Dalam Perjalanan Pulang'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYzshEXUoI/AAAAAAAAAKM/mhNPWG-j8P8/s72-c/sewaktu-perjalanan-pulang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-6154723396516309653</id><published>2010-12-25T10:00:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T11:03:52.070-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cinta Bukan Perawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYxpbt2-MI/AAAAAAAAAKE/vJLuogjcdtU/s1600/cinta5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 311px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYxpbt2-MI/AAAAAAAAAKE/vJLuogjcdtU/s320/cinta5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554681778292586690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setipa malam Minggu, rumah kost saya, menjadi pangkalan beberapa orang. Ada Dosen, mahasiswa, seniman, WTS, aktifis, dan lain-lain. Semua kumpul. Pertemuan ini, tidak terjadwal. Tetapi hampir setiap malam minggu, rumah kost saya tidak pernah sepi oleh kawan-kawan, yang kadang-kadang hanya mampir untuk ngopi, lalu pergi tanpa ucapan terima kasih.  &lt;br /&gt;Malam itu, ada perdebatan yang cukup menarik. Persoalan perawan dan cinta, sedang menjadi diskusi.  Semua berjalan saling timpal. Sesekali muncul ketegangan. Sesekali juga muncul ketidak-seriusan. Semua berjalan tanpa moderator. Yang  menjadi moderator,  hanya kecerdasan emosional masing-masing. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mulanya, saya menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki, yang baru saja menikah. Dan pagi harinya, Laki-laki itu, mengusir  dan mengembalikan isterinya kepada orang tuanya, karena ketahuan isterinya tidak lagi perawan. Yang terjadi, adalah perceraian, sehari setelah pernikahan. Pernikahan hanya berjalan satu malam. &lt;br /&gt; “Wah, gila! Itu bukan  tipe laki-laki yang  menghargai cinta”, Tukas  Kenthus, menyela pembicaraan saya. &lt;br /&gt;“Entar dulu, Thus. Ini cerita belum selesai, main potong saja Kau”, Sela Mat Solor kesal. &lt;br /&gt;“Lanjut  Lim!, Kata Mat Solor menyuruh saya meneruskan  ceritanya.&lt;br /&gt;“Terpaksa, isterinya harus pulang ke rumah orang tuanya. Dan sampai sekarang,  dia menjadi janda kembang di desa”.&lt;br /&gt;“Nah, enak juga tuh janda kembang.  Yok kita kesana”, Sela Kathing, tanpa beban.&lt;br /&gt;Cerita saya hanya sampai disitu. Dan cerita saya ini kemudian menimbulkan perdebatan.&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, aku tidak setuju dengan cara laki-laki itu”, Ujar Kenthus, seperti tidak tahan menahan emosi. &lt;br /&gt;“Kalau aku sepakat. Bagaimana akan mencintai, kalau isteri kita tidak lagi perawan. Ini akan mengecewakan kaum laki-laki",”Tukas  yang lain.&lt;br /&gt;“Emangnya, dari mana dia tahu kalau isterinya tidak parawan?” tanya  Benjo lugu. &lt;br /&gt;“Lhah, kau ini gimana Njo. Kalau  saat hubungan intim tidak mengeluarkan darah, ya tentu saja sudah tidak lagi perawan.  Makanya, sering-sering bergaul dengan manusia, Njo, jangan Ngubeg di Pesantren aja…”.&lt;br /&gt;“Lor,  kau jangan bawa-bawa pesantren di sini. Ini nggak ada kaitannya dengan perdebatan malam ini“, Ujar Benjo agak tersinggung. &lt;br /&gt;“Iya deh, maafkan saya Pak Kiai”. Mat Solor meledek.&lt;br /&gt;Kali ini Benjo memilih diam. &lt;br /&gt;“Tapi, Njo, keluar darah pada malam pertama, itu juga bukan jaminan, apakah  perempuan itu perawan atau tidak. Solor itu terlalu sempit”, Kata Likun, anak Fakultas kedokteran, yang baru getol-getolnya berdisikusi. &lt;br /&gt;“Perawan, itu bisa saja pecah, gara-gara olah raga, atau jatuh. Dan pada malam pengantin, bisa saja tidak mengeluarkan darah”. Tambah Likun menjelaskan pada Benjo.&lt;br /&gt;“Kun,  biar Benjo cari info sendirilah. Itu tak perlu Kau jelaskan. Semua orang juga sudah tahu”. Mat Solor agak kesal, karena persoalan jadi mentah, oleh pertanyaan Benjo yang lugu.&lt;br /&gt;“Tapi bener, Kun. Itu perlu Kau jelaskan.  Tidak keluarnya darah pada malam pertama, itu bukan  menjadi  tuduhan, bahwa perempuan itu tidak perawan. Ini cuma akal bulus laki-laki saja”, Ujar Munthul, WTS Kampung baru.&lt;br /&gt;“Jadi itu Njo, Kau  dengar kan?” Solor menimpali.&lt;br /&gt;Benjo  hanya bersungut tidak setuju dengan cara Mat Solor.&lt;br /&gt;“Kalau aku  begini. Seandainya,  perempuan itu mengaku sebelum menikah, aku masih bisa toleran”, Sonop memulai lagi diskusi. &lt;br /&gt; “Wah, bagaimana kau bisa bilang begitu, Nop?  Di dunia ini, hampir setiap laki-laki, meng-idamkan  perawan!” Sela Mat Solor. &lt;br /&gt;“Ya, boleh saja meng-idamkan perawan, tapi kan aku nggak salah, kalau aku lebih menghargai kejujurannya, dari pada harus membuang-nya, hanya lantaran  perempuan itu tidak perawan?!”.&lt;br /&gt; “Jadi kau lebih mencintai kejujuran dari pada keperawanan?”.&lt;br /&gt;“Ya!” Tegas Sonop. “Justeru akan lebih menyakitkan bagi perempuan, jika hanya lantaran dia tidak perawan, lalu laki-laki itu membuangnya”.&lt;br /&gt;“Setuju aku Nop, dengan Kau !” Timpal Munthul merasa dibela.&lt;br /&gt;“Bahkan, aku sangat menghargai dengan Mbak Munthul,  dengan mengaku jujur, dia seorang WTS, ketimbang diam-diam, tetapi tidak lagi perawan”.&lt;br /&gt;“Bagus, Nop”. Timpal Munthul lagi. &lt;br /&gt;“Wah, malam ini, Kau bakal dapat jatah ranjang dengan Munthul. Nop…”&lt;br /&gt;Gelak tawa seketika menggelegak, memecah keseriusan malam. &lt;br /&gt;“Kampang, Kau Lor. Kawan ya kawan, tidur semalam harus bayar, dong. Emangnya,  aku ini milik negara apa?”&lt;br /&gt;“Tapi bener. Kalau laki-laki meng-idamkan perawan, sementara laki-laki itu sudah tidur dengan banyak perempuan, itu kan cuma egois-nya laki-laki. Belum lagi sudah meniduri pacarnya yang dulunya masih perawan. Itu ego…”, Ujar Munthul lagi. &lt;br /&gt;“Tapi, ya nggak bisa begitu dong…”, Sela  Benjo.&lt;br /&gt;“Lha, Iya…” Munthul tak mau kalah. “Laki-laki banyak yang sudah meniduri perempuan. Sementara, dia masih ingin mendapat perempuan yang masih suci, perawan dan ting-ting. Apa itu bukan egosi?!”&lt;br /&gt;“Ya, kalau saya kan belum, Mbak..? Benjo memprotes.&lt;br /&gt;“Sekarang saja Kau masih di Pesantren. Kalau sudah keluar, aku nggak jamin, Kok! &lt;br /&gt;“Sabar, Njo, ini hanya diskusi”,   Saya mencoba menenangkan Benjo, yang sepertinya, malam itu banyak tersinggung. &lt;br /&gt;Maklum, selain umurnya masih relatif muda, Benjo memang orang yang sensitif. &lt;br /&gt;“Kalau Kau Kun?! Tanya Saya pada Markun, yang sedari tadi hanya sibuk main game.&lt;br /&gt;“Ha, …apa…? Markun gugup.&lt;br /&gt;“Wah, Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung goblok!”&lt;br /&gt;“Kacus, Kau!  Aku kan nggak ikut-ikutan. Lanjut sajalah”.&lt;br /&gt;“Tapi, pacarmu itu udah nggak perawan, Kun!” Mat Solor memancing Markun.&lt;br /&gt;“Ya, biarin aja, memang aku yang paling dulu nidurin dia. Kenapa mesti pusing”.&lt;br /&gt;Yang lain bengong. Markun kembali main game.&lt;br /&gt;“Nah, sekarang, gimana dengan kasus, perempuan yang dipulangkan, gara-gara tidak perawan tadi?” Solor mengembangkan topik pembicaraan.&lt;br /&gt;“Kalau aku, mestinya perempuan  menuntut ke pengadilan!”: Sela yang lain.&lt;br /&gt; “Alaah, Sekarang mana ada pengadilan yang adil.  Keadilan  hanya untuk orang-orang berduit..” &lt;br /&gt;“Iya bener, pengadilan kayak pisau. Kalau ke bawah, tajam. Tapi kalau ke atas tumpul”. &lt;br /&gt;“Ya, itu kan hanya ikhtiar..”&lt;br /&gt;“Kalau aku,  tidak akan mengusir atau me-mulangkan perempuan itu ke rumah orang tuanya..” &lt;br /&gt;“Lalu…?” Mat Solor penasaran dengan pendapat saya.&lt;br /&gt;“Ya,  tetap aku jadikan isteri”.&lt;br /&gt;Yang lain menatap saya.  Mereka sedang menunggu lanjutan kata-kata saya. Sebab, saya mungkin agak berbeda dalam menyikapi persoalan ini. &lt;br /&gt;“Kalau dipulangkan ke orang-tuanya. Yang pasti, kita, sebagai laki-laki, akan mendapat  sebutan laki-laki goblok. Kenapa kita tidak selektif memilih perempuan. Kenapa sebagai laki-laki tidak berhasil mengorek keterusterangan perempaun calon isteri kita se-detil mungkin.”&lt;br /&gt;“Ya, bagaimana bisa  dia terus terang. Pasti takutlah perempuan itu. Jangan-jangan akan ditinggal pergi, setelah mengaku”. Ujar Kathing, yang baru beberapa menit  ikut bergabung.&lt;br /&gt;“Ya bisa-bisa kita. Masak sih,  dengan kecintaan kita, perempuan itu tidak bisa kita suruh terus terang? Dan kedua, kalau perempuan itu di-pulangkan hanya lantaran tidak lagi perawan, seluruh keluarga akan malu. Masyarakat yang menjadi tamu,  lambat laun akan segera tahu. Keluarga kita malu, perempuan itu malu. Dan semua telah mempermalukan diri sendiri”.&lt;br /&gt;“Wah, Lu ideal-banget”, Solor menyela.&lt;br /&gt;“Ini kan pendapat. Kau boleh saja  tidak setuju, Lor. Jangan potong aku dulu”.&lt;br /&gt;“Iya deh, aku tahu, ini kan rumah kost-mu. Entar aku nggak boleh tidur sini, gara-gara aku nggak setuju dengan pendapatmu…”&lt;br /&gt;Kembali, gelak tawa memecah keseriusan.&lt;br /&gt;“Dan buat aku, memaknai cinta bukan pada perawan dan tidak perawan. Janda sekalipun, kalau  memang aku cinta, kenapa harus kutolak. Aku justeru tidak jujur pada diri sendiri, ketika aku pungkiri panggilan nuraniku, untuk mengatakan cinta pada janda sekalipun, misalnya”.&lt;br /&gt;“Ah, itu kan karena kau juga sudah tidak lagi perjaka, Lim”, Sela yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;“Tapi nggak bisa begitu. Sekalipun aku masih perjaka, aku tetap pada pendirianku. Bahwa Cinta bukan identik dengan keperawanan”. &lt;br /&gt;“Cinta ya cinta. Cinta adalah anugerah dari Tuhan, yang tidak mesti harus dinodai dengan persengketaan, apalagi dengan persoalan perawan atau tidak perawan”. &lt;br /&gt;“WTS sekalipun!?” tanya Solor.&lt;br /&gt;“Mungkin. Lebih baik punya isteri mantan WTS bermental perawan, dari pada perawan bermental WTS”. &lt;br /&gt;Sudah Jam tiga pagi. Mbak Munthul sudah pergi jam dua belas tadi, untuk  melayani para laki-laki yang tega menghianati cinta isterinya di rumah.  Beberapa kawan juga sudah mendengkur. Mereka tidur tak beraturan.  Mereka membawa mimpinya masing-masing.  Mungkin ada juga yang mimpi tidur dengan perawan.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 18 Nov 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-6154723396516309653?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/6154723396516309653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=6154723396516309653&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6154723396516309653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6154723396516309653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/cinta-bukan-perawan.html' title='Cinta Bukan Perawan'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYxpbt2-MI/AAAAAAAAAKE/vJLuogjcdtU/s72-c/cinta5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-6518323579598347663</id><published>2010-12-25T09:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T09:55:46.030-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>BUMI KETIGA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYv3AJpGMI/AAAAAAAAAJ8/n-GBMWIAvxs/s1600/070424_gliese581c_02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYv3AJpGMI/AAAAAAAAAJ8/n-GBMWIAvxs/s320/070424_gliese581c_02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554679812387838146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergeragap. Sebuah kilat cahaya telah memecah bongkahan batu besar, tempat selama ini aku tidur  di dalamnya. Sulit kuterjemahkan melalui kamus apapun. Sebab, ia datang begitu cepat, sebelum aku sempat membeli kamus dan membukanya dari halaman ke halaman. Mungkin jika kilatan cahaya itu sudah reda,besok atau lusa, akan kutanyakan pada ahli meteorologi, agar aku tidak terus – menerus kebingungan seperti sekarang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, hari itu, aku mendapat bahan penelitian baru yang selama ini belum terdata oleh lembaga penelitian manapun. Ini adalah pengetahuan baru tentang ilmu bumi. Tapi aku ragu. Atau inikah yang disebut sebagai peristiwa alam yang akan mengantarkan manusia kealam baru ? Bumi ketiga ? Ah, terlalu lancang aku mendahului inisiatif Tuhan. Tapi…&lt;br /&gt; “ Plar, palr!” kilatan itu makin menjadi – jadi. Bongkahan – bongkahan batu itu kini pecah berkeping – keping, dengan berbagai bentuk, yang aku sendiri sulit untuk mengelompokkan menjadi satu, sehingga ia terkumpul dalam beberapa etalase, sesuai dengan jenis dan bentuknya; apakah ia batu marmer, batu akik, pualam, intan atau emas sekalipun. Mungkin anaximandros, anaximenes dan ahli astronomi akan segera membuat teori baru jika mereka turut menyaksikan peristiwa menggemparkan ini. atau bahkan, mereka akan segera membuat ralat besar – besar di berbagai media massa, untuk meluruskan teori kejadian alam yang pernah mereka tulis dalam ratusan buku.&lt;br /&gt; Tapi, itu bukan urusanku. Toh, semua teori yang pernah mereka cetuskan sudah terlalu lama mendarah daging, sehingga akan tidak segampang itu menerima kejadian baru untuk disusun menjadi satu disiplin ilmu, atau dirangkum menjadi sebuah buku. Sedang ‘ teori’ Tuhan melalui wahyu saja memakan waktu yang tidak sebentar untuk diakui kebenarannya. Apalagi teori mahluk yang tidak mungkin mengungguli keilmuan Tuhan. Mudah – mudahan, dalam satu kesempatan nanti akan kutemui Tuhan….&lt;br /&gt;Gemuruh longsoran bebatuan yang terpecah oleh kilatan cahaya itu, makin menggumpal, menggelinding dari perbukitan, menuju kedataran rendah, tanp mencari tempat – tempat yang tersembunyi. Seperti daratan kering yang sudah seratus tahun tak tersiram air. bongkahan – bongkahan yang menjadi kerikil terus memapas kilatan cahaya. Secara perlahan, dari pecahan – pecahan yang seakan terburai dari perut bumi, berubah menjadi warna dan panorama baru. Dari ribuan pori – pori yang sulit diukur diagramnya. Itu, terjelma aneka bentuk kehidupan, yang aku sendiri menerka, bahwa aku sedang dalam kebangkitan baru. Aku seperti terbangun oleh sapaan Tuhan, sama ketika Ashabul Kahfi juga dihidupkan Tuhan 309 tahun ia terbaring dalam goa. Atau seperti Nabi Yunus yang hidup kembali setelah sekian tahun berada dalam perut ikan.&lt;br /&gt;Oh, kucoba untuk  menepis cahaya itu, agar sinarnya tak begitu menyilaukan. Kuambil selembar daun kering untuk melindungi sengatan yang makin menyebar di sekelilingku. Aku terus gagal. Kilatan cahaya itu terus berputar – putar bagaikan sinar laser dalam sebuah panggung pementasan. Ia menyorot kemana – kemana, tanpa sedikitpun aku punya kemampuan untuk mengarah cahaya itu.&lt;br /&gt;“Cukup, cukup! Jangan kau hina aku dengan sinarmu! Aku makin kewalahan dengan pancaran yang benderang itu. Bermacam tempat kuraih, agar ia dapat tertampung. Tapi semua nihil. Sesekali, sinar itu singgah dalam tempat – tempat kosong. Tapi sedetik kemudian, ia kembali menjalar kemana – mana, tak ubahnya seperti udara yang selalu menempati ruang – ruang kosong dalam setiap bentuk. Ia masuk dalam botol, cangkir, kotak, kantong baju sampai ke semua lekuk bumi. Tapi tak sesiapa bisa menghalauinya. Ia akan terus berjalan bersama udara.,….&lt;br /&gt;“ Tidak bisakah kau berhenti barang sebentar ?”&lt;br /&gt;Aku kian kebingungan mencari tempat berlindung.&lt;br /&gt;“ Kenapa mahluk sejenismu menjadi bingun dengan kedatanganku ? Ada suara menggema dari balik cahaya itu. “ Bukankah kalian semua yang mengharapkan aku segera hadir disini?”.&lt;br /&gt;Suara itu terus memantul kesegala arah. Aku menjadi gagap untuk menjawabnya. Sebab, sebelum ini, aku hanya tertidur pulas dalam sebongkah batu besar yang bisu. Seakan, aku sudah berada pada alam kematian panjang. Seperti tak ada angin, cahaya atau petir sekalipun yang dapat membangkitkanku dari pusara yang membantu.&lt;br /&gt;Aku makin tak bisa mengendalikan arah cahaya itu. Ia bergerak sesukanya. Membakar semua kebisuan yang gagu. Dalam sebuah bejana, ia menyatu dengan udara, lalu menjelma menjadi air. Berselubung dalam setiap dengus nafas, membasahi pori – pori bumi dengan genangan keringat. Menyusup ke lapisan tanah yang paling bawah, memandikan bumi dengan ribuan mata air, melukis permukaan alam dengan kilauan merah. Cahaya itu telah mencurahkan air mata dan darah. Tak ada yang perlu dipersalahkan . Toh aku dan mahluk sejenisku telah berada dalam wilayah itu. Tak mungkin lagi wahyu turun untuk membuat program transmigrasi ke bumi ke empat.&lt;br /&gt;Cahaya, angin dan udara terus menyatu dalam irama yang sama. Air pun terus bergulung diantara kilatan – kilatan cahaya. Aku, dan mahluk sejenisku makin terasa malu atas ketidak siapan tempat untuk menampung semua itu. Begitu panjang aku terlelap sehingga sama sekali aku tak pernah merasa terlatih untuk membuat bejana – bejana penampungan, yang bisa menempatkan lautan cahaya.&lt;br /&gt;Bumi pekat. Namun, kilatan cahaya itu tak termakan oleh kepekatanannya. Ia berjalan, merambah memasuki setiap rumah, yang setiap penghuninya menjadi gusar, akan kemana cahaya itu diarahkan. Titik – titik embun terus menggelembung dikening para tetangga, menggambarkan ketidakberdayaannya menatap kilauan cahaya. Aku hanya menatap iba. Tak sesuatu pun yang bisa keperbuat sementara, cahaya makin menerpa ke setiap raga. Ke setiap gedung – gedung bertingkat, keujung mercusuar, kemenara pagoda, sampai kesudut desa.&lt;br /&gt;Pagi buta. Petang menjelang, sampai gulita menggulung siang, aku masih menatap cahaya dengan gamang. Aku mengais cuilan – cuilan kerikil yang tersisa kemarin siang. Tapi yang terpantul hanya goresan luka. Dalam sebuah peta, puluhan, bahkan ratusan wajah kehilangan cinta. Dalam hatinya tertoreh sebuah kata: masih adakah cinta disana ? Tak seseiapa yang menjawab, desau angin terhantar, hanya membawa bau anyir darah, dan kabar kematian.&lt;br /&gt;Cahaya masih berada di atas mega. Namun sinarnya takkan terhenti sampai disini. Ia kini bukan saja menjadi air, tetapi juga duri – duri tajam, pedang, sabit, celurit dan segala bentuk rupa yang makin sulit terjamahkan dengan logika. Ia terus bergerak, menembus setiap jendela, menghujam pada semua bejana, meskipun aku dan mahluk sejenisku tetap tak punya kemampuan untuk berjalan beriringan bersama cahaya. Entah, esok, lusa dan sampai kapan, aku dan kami semua terus berada dalam bumi ketiga yang gagap. Kini hanya satu jawaban; besok sebelum subuh tiba, aku akan berlari untuk menjumpai Tuhan, dan belajar dari keagungan-Nya, agar aku tidak terus berkepanjangan merasa bodoh berjalan bersama cahaya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahat, 16 April 1999&lt;br /&gt;Sriwijaya Post, Minggu 13 Juni 199&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-6518323579598347663?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/6518323579598347663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=6518323579598347663&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6518323579598347663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6518323579598347663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/bumi-ketiga.html' title='BUMI KETIGA'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TRYv3AJpGMI/AAAAAAAAAJ8/n-GBMWIAvxs/s72-c/070424_gliese581c_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-2763572056777094910</id><published>2010-12-15T11:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T10:45:05.413-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM'/><title type='text'>AYAM MATI DI MEJA PRESIDEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkdrTSVFHI/AAAAAAAAAJY/1oc0ai9VJGw/s1600/1.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkdrTSVFHI/AAAAAAAAAJY/1oc0ai9VJGw/s320/1.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551000645459580018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq),” itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.&lt;br /&gt;“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran. &lt;br /&gt;“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya. Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Apakah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.&lt;br /&gt;Tetapi menurutnya,  yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor. &lt;br /&gt;“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung. Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak. Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai. &lt;br /&gt;Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.&lt;br /&gt;Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian. Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan. &lt;br /&gt;“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.&lt;br /&gt;“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya. &lt;br /&gt;Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya,  selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebintangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)&lt;br /&gt;“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”&lt;br /&gt;“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!” &lt;br /&gt;“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.&lt;br /&gt;Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.&lt;br /&gt;“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.&lt;br /&gt;Ia hanya mengangguk. &lt;br /&gt;“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memposisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,”  kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.&lt;br /&gt;“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan kesana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah. Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.&lt;br /&gt;“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.&lt;br /&gt;“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”&lt;br /&gt;“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!” &lt;br /&gt;Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia. &lt;br /&gt;“????” &lt;br /&gt;Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan dari akhir cerita ayam dari Kiai Gobloh. &lt;br /&gt; “Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong. Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu. Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”&lt;br /&gt;Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe.&lt;br /&gt;“Tidak sampai disitu perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”&lt;br /&gt;“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.&lt;br /&gt;“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”&lt;br /&gt;Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTN Krg. Asam &lt;br /&gt;Tanjung Enim, 9 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-2763572056777094910?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/2763572056777094910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=2763572056777094910&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2763572056777094910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2763572056777094910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/ayam-mati-di-meja-presiden.html' title='AYAM MATI DI MEJA PRESIDEN'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkdrTSVFHI/AAAAAAAAAJY/1oc0ai9VJGw/s72-c/1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-940825921260731899</id><published>2010-12-15T11:40:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T10:05:07.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>SERIBU AYAM UNTUK TUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkbQhZSAzI/AAAAAAAAAJQ/pUJtmvKLcVU/s1600/2.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 318px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkbQhZSAzI/AAAAAAAAAJQ/pUJtmvKLcVU/s320/2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550997986367111986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar baru menyingsing. Matahari belum sempat menyembul dari persembunyiannya. Ia seakan tak kuasa melawan mendung yang redup pagi itu. Berbeda dengan embun tipis yang menyelinap diantara lapisan ozon yang turun ke bumi. Dengan lembut, titik embun merasuk ke setiap pori-pori mahluk Tuhan. Memasuki lobang hidung langsung ke paru-paru. Sesaat ia berada dalam denyut nadi, menyebar keseluruh tubuh. Dalam hitungan detik kemudian keluar menjadi zat Co2. Kesegaran seketika terasa menyebar ke seluruh tubuh, menggerakkan kaki, tangan dan bibir untuk kemudian mengucapkan alhamdulillahirobbil ’alamiin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diatas mega-mega, mendung kian menggumpal. Tapi seribu wajah dari warga Kampung Bukit Asam tetap menyemburat keceriaan. Diantara mereka telah berbanjar panjang di dalam masjid. Suara Takbir, Tahmid dan Tahlil  terdengar bersahutan dari para jamaah mengiringi tibanya Hari Raya Idul Adha. Gemuruhnya seperti suara lebah madu yang pulang dari petualangannya. Dari arah lain, suara senada dari corong speaker masjid dan musholla yang tak jauh dari kampung Bukit Asam turut meningkahinya. &lt;br /&gt;Sementara di halaman masjid hanya ada tiga ekor kambing yang siap menjadi hewan kurban pagi itu. Pemandangan yang tak sebanding dengan jumlah jamaah yang membludak sampai di halaman masjid. Bukan hanya jamaah, puluhan mobil mewah juga terparkir. Sepeda motor tak lagi terhitung jumlahnya. Tapi hanya tiga ekor kambing yang tertambat di sebuah kayu. Rona wajahnya pasrah dalam ketaatan tergambar jelas di setiap detak jantung tiga kambing itu. Sesekali mereka ingin lepas dari tali yang mengikat. Ada suara kerinduan untuk segera mempersembahkan diri demi ketaatan pada Sang Pencipta. Tak ada tangisan. Tak ada penyesalan. Yang ada kesungguhan kebaktian pada diri setiap kambing, untuk kemudian pasrah demi sebuah penghambaan mahluk terhadap Sang Kholiq.&lt;br /&gt;Tiga ekor kambing, bagi sebuah kampung miskin bisa saja menjadi permakluman. Bahkan sebuah kelebihan. Tapi bagi kampung Bukit Asam menjadi totontonan lucu, di tengah perlombaan materi, yang hanya akan selesai setelah masuk pintu kubur. Rumah mewah berbanjar panjang, menunjukkan kampung Bukit Asam bukan permukiman kumuh apalagi rumah liar. Setiap rumah berpagar besi, yang satu meternya seharga 1 juta rupiah. Belum lagi lantai rumahnya, deretan keramik dari depan sampai belakang sudah cukup untuk membeli lima ekor sapi. Tak puas dengan itu, setiap rumah ada sebuah mobil berkelas dan dua buah sepeda motor. Tak ada yang kurang secara materi. Tetapi di halaman masjid kampung Bukit Asam hanya ada tiga ekor kambing. Jauh dari cukup untuk dibagikan kepada 100 kaum fakir miskin dan anak yatim. Meskipun, menurut Kiai Madjid, pemotongan hewan kurban tak ada hubungannya antara kaum fakir miskin dan orang yang berpunya. Yang ada hari itu adalah sebuah kewajiban setiap hamba Tuhan untuk mengorbankan hewan, memotong sebagian hartanya guna menuju kebaktian yang hakiki. &lt;br /&gt;Gema takbir terus berkumandang. Puluhan bahkan ratusan jamaah mengenakan pakaian putih-putih. Sebagian perempuan mengenakan perhiasan. Mungkin diantara mereka juga ada yang imitasi. Sayang, juntaian jilbab yang seharusnya menutupi kemewahan materi, tapi tidak untuk kali itu. Malah sebaliknya, sebagian perempuan secara sengaja mengeluarkan kalung dan gelang melingkari leher dan tangan di luar baju panjang yang membungkusnya. Gambaran ini sangat kontras dengan jumlah kambing yang tertambat di halaman masjid. Tidak sebanding antara kemewahan materi dan pengorbanan untuk sebuah pengabdian pada Pencipta mahluk.&lt;br /&gt;Tapi ini adalah potret buram di kampung kami; kampung Buki Asam. Kiai Mansur sebagai sesepuh kampung Asdas turut prihatin dengan kondisi itu. Kampung Asdas adalah gambaran nyata betapa di tengah pertambangan besar di Indonesia, masih ada seonggok kampung miskin terisolir secara ekonomi, sosial dan budaya di pinggir komplek warga Bukit Asam. Tapi Kiai Mansur tak bisa banyak berbuat. Ia bukan Superman atau Robinhood yang menghalalkan merampok warga Bukit Asam untuk kemudian membagikan hasil rampokan untuk kaum fakir dan miskin. &lt;br /&gt;”Tidak mungkin kita melakukan shalat dengan sarung hasil curian,” Kiai Mansur berkata di suatu ketika.&lt;br /&gt;Gema takbir seketika berubah gemuruh suara ’amin’ ratusan makmum di dalam dan di luar masjid. Tak lama kemudian suara khotib dari Palembang yang dibayar mahal berapi-api mengumandangkan isi khutbah.&lt;br /&gt;”Sebagai orang yang beriman, kita mendapat panggilan suci melalui Idul Adha. Ini adalah moment penting untuk menumbuhkembangkan semangat berkorban, sebagaimana Nabi Ibrahim yang merelakan Nabi Ismail untuk disembelih, demi persembahan kepada Tuhan!...”&lt;br /&gt;Ratusan jamaah terkesima dengan ulasan sang ustadz. Suasana tampak hikmat dan ta’dzim. Sementara, Kiai Mansur yang berada di barisan belakang tampak biasa-biasa saja. Bukan tidak tertarik. Tetapi Kiai Mansur masih berpikir mencari jalan keluar terhadap daging korban yang sebentar lagi akan dibagikan, sementara di kampung Bukit Asam hanya ada tiga ekor kambing.&lt;br /&gt;Tak sempat permisi, Kiai Mansur beranjak dari barisan jamaah. Ada sebagian jamaah yang memandang heran. Tapi tak dihiraukannya. Di samping masjid, ia berdiri sejenak. Memandangi tiga ekor kambing yang sebentar lagi akan menghadap Tuhan. Satu persatu dielus kepala dan punggungnya.  Setitik air mata Kiai Mansur menetes. Ada kebanggaan menjadi kambing yang siap mengorbankan nyawanya demi ketaatan dan kebaktian sempurna. Sementara Kiai Mansur hanya menjadi sosok lemah yang tak mampu berbuat banyak terhadap suasana Idul Adha pagi itu.&lt;br /&gt;Kiai Mansur kali ini sudah berbisik pada beberapa kelompok remaja masjid yang menunggu parkir. Tidak jelas pembicaraannya. Tetapi beberapa remaja yang mendapat bisikan kemudian masuk masjid, sebagian lagi menyebar menuju arah yang berbeda. Tak lama kemudian jamaah sudah berhambur keluar. Ini pertanda pemotongan hewan akan semakin dekat. Masih ada waktu dua jam bagi Kiai Mansur untuk berpikir, tentang bagaimana membagikan daging kepada para pemegang kupon hewan kurban. &lt;br /&gt;Beberapa karyawan perusahaan bersalaman dengan Kiai Mansur. Jamaah lain juga melakukan hal sama. Tetapi pandangan Kiai Mansur kosong. Yang terpikir di benaknya hanya tiga ekor kambing untuk 100 kupon. Bagaimana mungkin tiga ekor kambing akan dibagi menjadi 100 bagian? Hatinya bertanya pelan. &lt;br /&gt;Beberapa orang remaja masjid berlari mendekati Kiai Mansur. Ada pembicaraan serius antara keduanya. Kiai Mansur seperti memberi komando ke beberapa remaja masjid. Salah satunya meminjam mobil. Kiai Mansur mengeluarkan beberapa lembar kertas uang. Tak jelas tujuannya. Yang pasti ada sekitar tujuh remaja masjid yang kemudian berangkat dengan mobil pick-up. Kiai Mansur terpaku melihat keberangkatan mereka.&lt;br /&gt;“Saudara-sudara, penyembelihan hewan kurban akan dilakukan pukul sembilan. Diharapkan, kepada panitia kurban dan petugas penyembelihan hadir tepat pada waktunya,” pemberitahuan itu membuat Kiai Mansur agak gelisah. Tinggal satu jam lagi harus ada daging tambahan. Tetapi sampai ia termenung belum juga ada kabar yang mengobati kegelisahannya. &lt;br /&gt;Hanya beberapa saat, dari arah berlawanan tiga mobil masuk ke halaman masjid. Jamaah yang masih bercengkrama di serambi dan di halaman masjid heran. Tiga mobil seketika membongkar ratusan bahkan ribuan ayam. Kakinya sudah diikat, supaya tidak berlari. Kiai Mansur tersenyum puas. Ia memberi aba-aba kepada beberapa orang untuk membantu menurunkan ayam dari atas mobil.&lt;br /&gt;“Kiai! Apa-apaan ini!?” Ustadz Zam sedikit marah.&lt;br /&gt;“Ini bukan apa-apa, tapi ayam, ustadz.” Kiai Mansur menjawab sekenanya.&lt;br /&gt;“Iya, tapi untuk apa?” Zam makin penasaran.&lt;br /&gt;Jamaah yang lain ikut nimbrung mengerumuni Kiai Mansur. Ada seribu tanya yang tergambar di wajah para jamaah. Yang lain takut atau segan. &lt;br /&gt;”Kiai mau mengganti kurban kambing dengan kurban ayam? Ini secara fiqhiyah melanggar aturan!” Ham, seorang karyawan perusahaan yang baru belajar agama mencoba menjelaskan kedudukan ayam dan kambing dalam ilmu fiqih.&lt;br /&gt;Kiai Mansur hanya tersenyum. &lt;br /&gt;“Semuanya diturunkan. Atur yang rapi!” Kiai Mansur memberi arahan pada beberapa tukang ayam.&lt;br /&gt;“Kiai, untuk apa ayam sebanyak ini?” tanya yang lain.&lt;br /&gt;“Untuk dipotong!” jawab Kiai sekenanya.&lt;br /&gt;”Untuk hewan kurban, maksud Kiai?!” tanya lainnya heran.&lt;br /&gt;”Wah, ini sudah melanggar hukum agama. Kiai kan tahu kalau yang boleh untuk kurban hanya kambing, sapi atau onta, hewan lain tidak boleh!”&lt;br /&gt;”Tapi memotong dan membagikan daging ayam pada hari raya Idul Adha tidak dilarang agama!” tukasnya tanpa beban.&lt;br /&gt;“Iya, tapi ini akan menimbulkan salah penafsiran bagi sebagian warga, Kiai. Nanti warga menganggap ayam bisa menjadi pengganti kambing atau sapi?!” Zam makin gusar dengan ulah Kiai Mansur.&lt;br /&gt;”Pengorbanan itu bukan dilihat dari jenis binatangnya. Tapi kesungguhan seorang hamba untuk mengorbanan harta yang dimiliki!”&lt;br /&gt;”Berarti kiai ingin mengganti kambing dengan ayam-ayam ini sebagai hewan kurban, begitu?!”&lt;br /&gt;“Itu kan mulut kamu yang bilang. Kalian tidak tahu kan isi hati saya, ayam ini untuk apa? Jadi ndak usah ribut soal ayam-ayam ini. Nanti kalian juga akan tahu,” Kiai Mansur tak mau menjelaskan secara detil.&lt;br /&gt;Sebagian jamaah dan panitia kurban bingung. Tak ada yang bisa mencegah Kiai Mansur dengan ribuan ayam-ayamnya.&lt;br /&gt;Diiringi dengan takbir, tahmid dan tahlil, penyembelihan dimulai. Darah segar mengucur dari tiga leher kambing. Sementara, Kiai Mansur dan beberapa tenaga tukang ayam juga melakukan hal yang sama. Sebagian lagi menyediakan air panas untuk membersihkan bulu ayam. Tak satu pun panitia kurban yang membantu Kiai Mansur. Hanya sekelompok remaja masjid dan beberapa tukang ayam yang melakukan pembersihan ayam. Ada dua blok di halaman masjid. Blok pertama mengolah kambing. Blok kedua mengolah ayam. Keduanya memotong-motong daging hewan yang berbeda. &lt;br /&gt;Hanya sekitar dua jam, pembersihan dan pemotongan hewan selesai. Ribuan ayam sudah terbagi menjadi seratus kantong plastik. Sementara, tiga ekor kambing hanya terbagi menjadi 50 kantong plastik. Beberapa panitia berbisik. Tak jelas pembicaraan mereka. Tapi intinya mereka sedang berpikir tentang 50 kupon yang tidak bisa terlayani oleh pembagian tiga ekor kambing. Kiai Mansur hanya melihat dari kejauhan. &lt;br /&gt;Teriakan, ejekan dan hujatan seketika terdengar. Semuanya tertuju ke panitia kurban. Sesekali ada yang emosi. Melempar gelas bekas air kemasan.&lt;br /&gt;”Oi, awak gaji besak, kurban cuma tiga ekor kambing!”&lt;br /&gt;“Lagaknyo bae kayo, kurban sikok kambing be ndak sanggup. Berentilah jadi karyawan perusahaan!”&lt;br /&gt;“Pacak ngajak berkurban, tapi diri dewek ndak kurban! Pacak nian mbudike wong miskin!”&lt;br /&gt;“Puih!” seseorang meludah di depan panitia.&lt;br /&gt;Tak ada yang berkutik. &lt;br /&gt;Kiai Mansur mendekati kerumunan orang.&lt;br /&gt;”Kiai, gimana kami yang tidak kebagian ini? Kami ini nak makan daging jugo, bukan kamu be!”&lt;br /&gt;Kiai Mansur hanya senyum. &lt;br /&gt;”Tenang, semua akan kebagian. Tapi saya bertanya dulu. Kalau seandainya kalian tidak dapat daging kambing, kemudian saya ganti dengan daging ayam, mau menerima atau tidak?”&lt;br /&gt;Seketika warga yang belum kebagian daging bersorak.&lt;br /&gt;“Jadi, Kiai, dari pada dak makan daging!”&lt;br /&gt;”Ndak apo-apo Kiai, yang penting anak kami pacak makan daging!”&lt;br /&gt;“Daging kambing atau ayam samo bae, yang penting halal!”&lt;br /&gt;Macam-macam jawaban warga. Bukan hanya 50 orang yang kebagian daging ayam pagi itu. Tetapi lebih dari dari itu. Tak ada desak-desakan. Mereka antri dengan teratur. Ada rona berbinar di wajah mereka. Sementara panitia kurban hanya terpaku melihat kejadian itu. &lt;br /&gt;Suasana kemudian hening setelah warga bubar. Mereka sudah siap memasak daging di rumahnya masing-masing. Walau hanya daging ayam, tetapi perasaan mereka tetap seperti mendapat daging kambing. Hati Kiai Mansur lega melepas mereka pergi.&lt;br /&gt;“Hari ini saya bukan sedang mengganti hewan kurban dengan ayam. Tetapi saya sedang menyamakan perasaan bahagia antara umat satu dan lainnya. Meski daging yang mereka masak bukan daging kambing atau sapi, tetapi perasaan mereka tetap terjaga dalam kebahagiaan meskipun hanya menerima daging ayam. Semuanya sama-sama daging mahluk Allah”&lt;br /&gt;”Kedua, ini pelajaran bagi sebagian warga untuk bersedia berkurban yang mereka punya. Idul Kurban, tidak ada hubungannya antara si kaya dan si miskin. Jadi tidak baik bila kemudian dengan alasan keterbatasan uang, lalu membenarkan kita untuk tidak mengeluarkan hewan kurban. Saya juga bukan sedang mengganti hewan kurban dengan ayam, bukan sama sekali! Tetapi saya ingin mengajak mereka untuk sadar, betapa Nabi Ibrahim merelakan harta termahal, yaitu anaknya sendiri Nabi Ismail untuk disembelih demi ketaatannya kepada Sang Khaliq. Kalau dari sekian banyak warga tidak mampu kemudian bersedia iuran untuk membeli ayam sebagai bentuk pengorbanan pada hari raya ini, apalagi kalian yang jelas-jelas gajinya melebihi dari penghasilan mereka?”&lt;br /&gt;”Jadi ayam-ayam tadi...?”&lt;br /&gt;”Iya, sebagian uangnya dari saya. Sebagian lagi hasil iuran mendadak dari sebagian warga tidak mampu, yang belum sanggup mengeluarkan hewan kurban, tetapi mereka siap berkurban walau hanya sedikit. Nilai pengorbanan bukan dilihat besar kecilnya bentuk benda. Tetapi kesungguhan seorang hamba untuk berkurban demi kataatannya kepada Sang Pencipta. Itu yang akan menjadi nilai lebih dari seorang hamba di hadapan Tuhan”&lt;br /&gt;Beberapa jamaah hanya saling pandang. Ada seberkas cahaya Ilahi yang masuk ke setiap relung hati mereka. Bibirnya terkatup rapat. Tetapi hati mereka mengucap ampun kepada Sang Khaliq. Kiai Mansur beranjak dari hadapan mereka. Sampai akhirnya ia hilang di belokan di masjid.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTN. Krg. Asam - Tanjung Enim, &lt;br /&gt;Idul Adha 1429 H / 8 Desember 2008 M&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-940825921260731899?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/940825921260731899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=940825921260731899&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/940825921260731899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/940825921260731899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/12/seribu-ayam-untuk-tuhan.html' title='SERIBU AYAM UNTUK TUHAN'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/TQkbQhZSAzI/AAAAAAAAAJQ/pUJtmvKLcVU/s72-c/2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-6069411375869895426</id><published>2010-03-21T10:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-21T11:06:54.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>PEREMPUAN  YANG MENIKAH DENGAN ANJING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S6Za4nA7XpI/AAAAAAAAAIo/_bNmLJC9Sz8/s1600-h/wanita-nikahi-anjing-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S6Za4nA7XpI/AAAAAAAAAIo/_bNmLJC9Sz8/s320/wanita-nikahi-anjing-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451144327570611858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cik Pay. Begitu orang banyak memanggil perempuan itu. Wajahnya putih. Rambutnya mayang mengurai. Dagunya seperti lebah bergantung. Jalannya seperti harimau lapar; gemulai. Alisnya nanggal sepisan; seperti semut berbaris yang mendapat aba-aba Nabi Sulaiman. Sorot matanya bak rembulan terang di malam lima belas purnama. Setiap lelaki yang menatapnya akan tertunduk oleh keteduhan pandangannya. Ucapannya bisa meluluhlantakkan gemuruh dan emosi yang menggumpal. Itulah Cik Pay yang kukenal di kampung kami. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cik, adalah panggilan bagi warga keturunan rumpun melayu. Bagi marga Besemah Sumatra Selatan, Cik menjadi panggilan bagi bibi, tante atau paman. Tetapi di kampung kami, panggilan Cik bagi perempuan itu tak punya sejarah dengan rumpun melayu. Hanya karena kebiasaan warga saja sehingga setiap perempuan dewasa yang belum dikenal namanya sering di panggil Cik. Ini sama halnya warga suku jawa yang memanggil mbak bagi perempuan yang baru dikenalnya. Sementara di kampung kami, Pay adalah nama belakang anjing yang enam bulan lalu patah kaki akibat tergilas sebuah mobil. Anjing itu terguling-guling di aspal. Tetapi mobil terus melaju tak pandang kasihan terhadap penderitaan  Pay. &lt;br /&gt; “Kaing! Kaing!” lolongan anjing itu menembus ruang-ruang kosong diantara suara derum mesin mobil di jalan Sudirman Palembang. Ada jeritan yang menyayat akibat menahan rasa sakit. Suaranya nyaring mengabarkan akan datangnya kematian. Tetapi tak sesiapa yang kemudian menolong, ketika kemudian anjing itu tergelepar di bawah trotoar. Perempuan yang kemudian dipanggil Cik Pay secara tiba-tiba muncul dari kerumunan orang. Cik Pay adalah salah satu pelacur yang tinggal di kampung kami. Tak ada beban sedikit pun ketika Cik Pay kemudian mengambil anjing itu dan dibawanya ke rumah. Sejak perempuan itu merawat dan memelihara anjing, akhirnya warga banyak memanggil perempuan itu dengan Cik Pay, alias bibi-nya anjing Pay. Tapi anehnya, julukan itu disambut dengan senyum. Tak ada rona yang menggambarkan dirinya dihempas keterhinaan dengan sebutan; bibi anjing.&lt;br /&gt; Ulah aneh Cik Pay ini kontan saja menjadi perbincangan warga di kampung kami. Tak urung juga, keanehan Cik Pay yang membawa anjing ke rumahnya di dengar para tokoh masyarakat, agama dan unsur pemerintah. Bahkan kampung sebelah juga turut memperbincangkan Cik Pay. Satu hari setelah kejadian, warga merangsek ke rumah kepala lingkungan di kampung kami.&lt;br /&gt; ”Saudara, saudara! Kelakuan Cik Pay di kampung ini menjadi pertanda, bahwa di kampung kita akan segera datang musibah besar. Oleh sebab itu, saya selaku kepala lingkungan akan segera memberi teguran kepada Cik Pay, sebagaimana permintaan warga,” ujar War, berpidato di hadapan warga, menanggapi perilaku Cik pay.&lt;br /&gt; Di kampung kami, anjing dianggap binatang najis. Oleh sebab itu, tak ada anjing yang bisa keluar dengan selamat dari kampung kami. Sudah pasti, setiap anjing yang masuk akan menjadi bangkai. Sampai saat ini tak banyak warga yang mengetahui latarbelakang, mengapa anjing begitu dibenci di kampung kami. Tetapi sebagian warga mengatakan, kebencian warga terhadap anjing di kampung kami, dilatari oleh sejarah pertikaian anjing dan kucing. Sebagian tokoh agama menyebut, kucing adalah mahluk yang sangat dikasihi nabi. Sementara dalam sejarah, hampir tidak ada cerita damai antara anjing dan kucing. Keduanya selalu berkelahi. Dengan sejarah itu, kemudian sebagian warga menterjemahkan; membiarkan anjing di kampung kami, sama halnya memelihara musuh kucing yang sangat dikasihi nabi.&lt;br /&gt; Protes warga di kampung kami memang terasa aneh. Di saat Cik Pay memelihara dan merawat anjing yang cacat, mendapat hujatan warga. Tetapi warga di kampung kami tidak pernah protes terhadap film Tom and Jerry, yang mempertontonkan kucing yang selalu menjadi bulan-bulanan sekelompok tikus. Padahal penghinaan kucing dalam film ini lebih ideologis ketimbang sekedar protes pada Cik Pay. Tetapi aku kemudian cukup maklum. &lt;br /&gt;Sebab, meskipun dalam otak manusia berisi angka, huruf dan simbol, tetapi hanya 20 persen sebagian manusia yang bisa menangkap simbol-simbol, apakah kehinaan dan simbol keagungan. Sehingga simbol kehinaan kucing dalam film Tom and Jerry tak juga menjadi perhatian warga.&lt;br /&gt; Kebanyakan warga di kampung kami lebih melihat sesuatu dari satu sudut pandang, sehingga yang muncul bukan makna dibalik simbol, tetapi hanya angka dan huruf. Oleh sebab itu, ketika melihat Cik Pay memelihara anjing yang sakit, kontan saja menimbulkan sinisme warga. Masalahnya sederhana, sebagian warga di kampung kami hanya melihat dari kenyataan yang didepan mata. Tak pernah diantara warga kampung kami mencoba melihat dai sudut pandang yang berbeda, apalagi harus menggunakan teori berpikir memutar, melihat dibalik simbol dari Cik Pay dan anjingnya. &lt;br /&gt;Hanya tiga hari Cik Pay berhasil mempertahankan anjing di rumahnya. Setelah itu Cik Pay tak kuasa menahan desakan warga yang meminta agar anjing piaraannya harus segera dibuang.  Sebagian warga meminta agar Pay segera dibunuh. Tetapi Cik Pay keberatan.&lt;br /&gt; “Sekarang pilih, anjing itu harus kami bunuh, atau kamu berdua yang keluar dari kampung kami!” ujar warga setengah mengusir.&lt;br /&gt; “Kamu tetap boleh tinggal di kampung kami, tetapi Pay harus mati!” kata lainnya.&lt;br /&gt; Perilaku warga di kampung kami terhadap Cik Pay, mengingatkan aku pada persitiwa serupa ketika aku masih tinggal di India. Tepatnya di Distrik Jaipur, India Timur. Bedanya, kalau di kampung kami sekarang, anjing dan perempuan yang merawatnya diperlakukan hina. Tetapi di negara bagian Orissa, India Timur itu justru terjadi pernikahan antara Sagula, bayi laki-laki berumur 2 tahun dan Jyoti, seekor anjing lokal. Yang aku tahu, pernikahan Sagula dan Jyori adalah bagian tradisi dari adat Suku Munda. Menurut tradisi mereka, pernikahan Sagula dengan anjing, kelak ketika Sagula dewasa akan terlindungi dari serangan binatang liar, seperti harimau dan sejenisnya. Tapi meski sudah menikah dengan Jyoti, Sagula tetap akan bisa menikah dengan perempuan yang dicintainya tanpa harus bercerai dengan Jyoti. Dengan pernikahan ini, penampilan Sagula diyakini akan membuat binatang liar, seperti harimau, takut menyerangnya. Para dewa dari suku juga akan memberkati dan melindungi Sagula roh jahat.&lt;br /&gt;”Kami melakukan perkawinan ini untuk menghalau segala kutukan yang menimpanya dan kami,” ujar Sanarumala Munda, ayah Sagula.  Bayi yang baru tumbuh gigi ini digiring ke sebuah kuil desa, di sana seorang pemuka agama mengawinkannya dengan Jyoti, anjing milik tetangga pengantin laki-laki.&lt;br /&gt;Peristiwa serupa terjadi pula ketika aku berkunjung ke Dhanbad. Masih di India. Seorang gadis berusia 7 tahun warga kota pertambangan Dhanbad, Negara Bagian Bihar, India Timur, menikah dengan seekor anjing liar. Ini adalah bagian dari ritual untuk melenyapkan pengaruh buruk yang ada dalam dirinya. Adanya ciri-ciri khusus pada susunan geligi Shivam Munda, bocah perempuan itu. Dianggap oleh orang-orang suku Santhal, sebagai pertanda buruk. Kundan Munda, ibu Shivam mengatakan, anaknya menikah dengan anjing hanya untuk menghilangkan kekuatan jahat yang bisa menyebabkan kesialan. Ritual menikah dengan anjing harus dilakukan agar kelak ia bisa menikah dengan seorang laki-laki. Seperti pernikahan biasa, antarwarga suku Santhal, perkawinan Shivam Munda dengan seekor anjing geladak juga berlangsung sampai 3 hari-3 malam dan dihadiri segenap kerabat, teman dan handai taulan. &lt;br /&gt;Terhadap Cik Pay, aku tidak tahu persisnya apakah dia juga akan menjalani ritual yang sama dengan Sagula dan Shivam Munda atau tidak. Tetapi, yang aku lihat, kedekatan Cik dan Pay sudah mirip kasih sayang antara suami dan isteri. Seolah keduanya saling membutuhkan. Cik Pay tak sedikitpun menghiraukan umpatan warga yang melihat jijik dengan ulah Cik Pay. Sampai warga menghujatnya, Cik Pay masih tetap dalam pendiriannya; mengasihi dan menyanyangi Pay, anjingnya.&lt;br /&gt;Pay masih dalam gendongan Cik Pay. Beberapa kali Cik Pay mengelus bulu-bulu anjing itu. Elusan tangan Cik Pay, seperti jelmaan tangan Tuhan yang selalu menebar Rahman dan Rahim terhadap hamba-Nya. Tetapi itu tak tampak diantara detak jantung emosi warga. Justru pancaran kasih sayang Cik dan anjingnya terbinar di antara kegersangan batin di sebagian warga.&lt;br /&gt;“Kalian tidak pernah berpikir, seandainya kalian bernasib seperti Pay sekarang?” Cik Pay mulai bicara. &lt;br /&gt;“Kalian berniat membunuh Pay, padahal sebenarnya kalian tidak punya hak sedikitpun untuk mencabut nyawa setiap mahluk, walau seekor nyamuk sekalipun!” &lt;br /&gt;“Alaaah, kamu itu lonthe, tidak usah ceramah! Kamu dan anjing sama saja!”&lt;br /&gt;”Sudah, sekarang lemparkan anjing itu, dan kamu bisa tidur nyenyak, supaya nanti malam kamu bisa melayani banyak laki-laki,” tukas warga lainnya, ditingkahi gelak tawa secara spontan.&lt;br /&gt; Cik Pay beranjak masuk. Warga terdiam sesaat. Tak lama, Cik Pay keluar membawa sebuah, tas, kardus dan plastik pelindung hujan. Beberapa warga berbisik. Sebagian warga menganggap Cik Pay sudah gila oleh anjing peliharaannya, sampai akhirnya sanggup berkorban hanya untuk seekor anjing.&lt;br /&gt; “Mau kau apakan, anjing itu?”&lt;br /&gt; ”Bukankah kalian yang meminta agar aku dan anjingku ini keluar dari kampung ini? Aku akan turuti keinginan kalian, tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh membunuh anjing ini,” kata Cik Pay, sambil melangkah pergi meninggalkan kerumunan.&lt;br /&gt; ”Dasar perempuan sinting! Anjing dipelihara!” &lt;br /&gt; Sejak Cik Pay pergi, warga kampung sedikit reda. Ada sekitar satu pekan warga kampung kami tidak lagi meributkan Cik Pay. Tetapi masuk dua pekan, kabar tentang perilaku Cik Pay terdengar lagi oleh sebagian warga. Cik Pay menyembunyikan anjingnya di pojok gerobak bekas pedagang bakso yang sudah rusak. Dengan penuh kasih dan sayang, Cik Pay merawat anjingnya. Menurut warga yang melihat, setiap malam, siang dan sore Cik Pay selalu mengunjungi Pay dan mengantar makanan. Warga di kampung kami makin heran dengan ulah Cik Pay. &lt;br /&gt;“Kelakuannya makin yang tak masuk akal!” &lt;br /&gt; “Jangan-jangan, Cik Pay sudah benar-benar gila!” &lt;br /&gt; “Mungkin karena anjingnya lai-laki, gantinya suami ya anjing itu!” &lt;br /&gt; Banyak nada ejekan dan hinaan yang menimpa Cik Pay. Tapi Cik Pay tetap keukeh merawat anjingnya. Tak peduli dengan cercaan warga. Toh, di mata Cik Pay, warga kampong kami tidak mengetahui ungkapan hatinya. Inilah kelemahan sebagian warga kampong kami. Melihat kenyataan sosial hanya dari pandangan lahir. Tidak pernah membaca dan menggali data-data ghoib atas kejadian di alam dan sekitarnua.&lt;br /&gt; Memasuki bukan kedua, Cik Pay kembali ke kampung kami. Kali ini Pay tidak dibawa. Cik Pay tahu persis, kalau anjing peliharaannya dibawa akan kembali mengundang reaksi warga. Tetapi setiap ba’da maghrib, Cik Pay selalu keluar rumah. Ada bungkusan plastik hitam ditangannya. Sebongkah nasi dan sepotong ikan asin ia sediakan untuk anjingnya. &lt;br /&gt; Tak urung juga warga kian hari penasaran terhadap ulah Cik Pay. Sebagian warga membuntuti dari belakang. Mereka ingin membuktikan cerita tak masuk akal tentang Cik Pay. Sebagian warga kampung kami kian hari justru kian sakit dengan dirinya sendiri. Sibuk mengurusi pekerjaan Cik Pay, sementara dirinya tidak pernah diurusi. Mencari-cari kelemahan Cik Pay yang kemudian mereka anggap merawat anjing yang terkena musibah dianggap sebuah tindakan yang hina.&lt;br /&gt;Hanya dari jarak yang dekat, sebagian warga kampung kami melihat langsung bagaimana Cik Pay membelai anjingnya. Persis seperti ketika Cik Pay dihadapan warga satu bulan sebelumnya. Ia belai anjingnya dengan kasih sayang. Melihat kejadian itu, warga makin bingung. Tetapi Cik Pay tidak ambil pusing. Sejak Pay terhempas oleh sebuah mobil, kini Cik Pay kemudian punya dua pekerjaan. Selain menjadi pelacur, ia kini menjelma menjadi pemelihara anjing, seklaigus ibunya, yang setiap saat dengan setia memberi makan dan memandikannya.&lt;br /&gt; Cik Pay melihat langit mendung malam itu. Ini tak baik bagi Pay. Diam-diam, Cik Pay membawa anjingnya pulang. Tak salah memang. Sesampai di rumah, hujan deras mengguyur kampung. Angin begitu kencang menerpa. Sesekali suara gemuruh terdengar, bersaamaan dengan riuh redamnya jutaan tetesan air dari langit. Pay dalam pelukan Cik Pay. &lt;br /&gt;Selembar kain ia bentangkan di tubuh Pay. Dengan penuh kasih dan saying, Cik memeluk anjing itu. Persis seperti seorang ibu yang tidak ingin anaknya masuk angina karena kedinginan.&lt;br /&gt; Pagi harinya, warga berkerumun. Ada beberapa pohon tumbang akibat terpaan angin kencang tadi malam. Tak ada korban. Tetapi rumah beberapa warga sempat porak poranda. Sebagian warga ingatannya kembali pada Cik Pay dan anjingnya.&lt;br /&gt;“Benar yang pernah dikatakan Pak War! Selama Cik Pay dan najingnya masih hidup, kampung ini tidak akan tenang. Sekarang hujan dan angin, besok mungkin banjir!” kata warga emosi.&lt;br /&gt; “Tidak ada pilihan lain, Cik Pay kita usir dan anjingnya harus kita bunuh!”&lt;br /&gt;Warga kampung kami secara serentak mendatangi rumah Cik Pay. Tak di sangka, Cik Pay sudah di depan rumah. Seolah ia mengetahui tentang rencana warga pagi itu. Cik Pay dengan kasih sayang masih menggendong Pay. Bulunya mulai halus. Kakinya mulai pulih walau harus berjalan pincang.&lt;br /&gt; ”Hei, bibi anjing! Sebenarnya apa maumu?!”&lt;br /&gt;”Mestinya kamu pelihara laki-laki jadi suamimu, dari pada memelihara anjing kurap seperti Pay?!&lt;br /&gt;Cik Pay hanya memandangi beberapa warga secara bergantian. Tak ada emosi yang terpancar dari wajahnya. Bahkan kecerahan tersemburat di wajah Cik Pay pagi itu. Beberapa warga saling pandang. Mereka heran dengan Cik Pay. Seperti tak ada rasa takut sedikitpun dengan ancaman warga.&lt;br /&gt;“Dengar semuanya,” Cik Pay berdiri. &lt;br /&gt;“Aku memelihara anjing ini seperti halnya kalian menyanyangi dan mencintai anak dan isteri,” katanya rendah.&lt;br /&gt;”Hei! Jangan kamu samakan anjing dengan anak dan isteri kami!” protes warga.&lt;br /&gt;”Aku, kalian, anjing ini, anak dan isteri kalian sama. Artinya sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Jadi, sesama mahluk kita tak punya hak untuk saling menyakiti, apalagi membunuh. Menyakiti mahluk di muka bumi, sama halnya kalian telah menyakiti yang menciptakan mahluk. Kalian membenci anjing ini, sama halnya kalian telah membenci yang menciptakan anjing. Alasanku memelihara dan merawat anjing ini hanya satu...” ucapan Cik Pay terhenti.&lt;br /&gt;Sebagian warga hanya saling pandang. Mereka masih menunggu kalimat lanjutan dari mulut Cik Pay. &lt;br /&gt;”Aku merawat anjing ini, karena aku cinta dengan yang menciptakan anjing. Aku memelihara anjing ini, karena aku cinta dengan yang menciptakan mahluk. Aku tidak ingin melihat anjing ini kesakitan. Membiarkan anjing ini kesakitan, sama halnya kita telah menyakiti yang menciptakan anjing. Aku tidak membalas amarah kalian, karena kalau aku membalasnya, itu sama saja aku sedang menghujat yang menciptakan kalian! Sama halnya aku telah menebar amarah terhadap yang menciptakan kalian!” kalimat Cik Pay tak bisa terbendung lagi. Ucapannya menggelontor bagai Dam air yang jebol. Suara Cik Pay terus membanjiri relung-relung kegersangan batin warga. &lt;br /&gt;Warga termangu. Suasana menjadi hening. Tak ada amarah. Tak ada hinaan. Ada kerinduan dan cinta yang kemudian menyeruak di setiap batin warga. Sementara Cik Pay dan anjingnya sudah hilang di balik pintu rumahnya. Warga kemudian bergegas ingin masuk. Tetapi sampai di dalam rumah, tak dijumpai lagi Cik Pay dan anjingnya. Warga tak tahu kemana Cik Pay dan anjingnya pergi. Ia hilang ditelan bumi.(*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTN Krg.Asam,&lt;br /&gt;Tanjung Enim, 5 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : http://anitasoraya.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-6069411375869895426?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/6069411375869895426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=6069411375869895426&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6069411375869895426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/6069411375869895426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/03/perempuan-yang-menikah-dengan-anjing.html' title='PEREMPUAN  YANG MENIKAH DENGAN ANJING'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S6Za4nA7XpI/AAAAAAAAAIo/_bNmLJC9Sz8/s72-c/wanita-nikahi-anjing-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1100485398503621555</id><published>2010-01-11T19:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T20:06:51.197-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>T U M O R</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0v01F2_Z7I/AAAAAAAAAH4/SMJg6lgAGrs/s1600-h/rsud-bima_tumor1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0v01F2_Z7I/AAAAAAAAAH4/SMJg6lgAGrs/s320/rsud-bima_tumor1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425699369040963506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tumor ganas yang kini menjalar di kepala saya, memaksa saya harus tetap terbaring. Lima tahun kuarang satu minggu, penyakit yang konon telah banyak menelan korban itu terasa maikin menyayat sel – sel otak di kepala saya. Ia seakan mengiris – ngiris kepala saya sedikit demi sedikit. Ada berjuta mahluk mengerokan yang kini menancapkan taring – taringnya, unutk kemudian menguras daya tahan tubuh saya. Tak jarang saya terpaksa menjerit menahan sakit, sembari memegangi kepal saya yang kian hari makin membesar. Saat saya merintih dan mengaduh, mahluk – mahluk kecil yang tak pernah saya kenal sebelumnya itu justru makin mengaduk – ngaduk luka menganga yang ada di kepala saya.  Ketiak saya terlelap, sebentar kemudian, jutaan mahluk aneh itu membuat bara api dikepala saya, lantas bersorak – sorak, membuat pesta besar, menunggu jeritan saya yang sekian kalinya. Dengan beragam cara mereka terus mengusik ketenangan saya. Seperti ada segumpal dendam yang tersirat dari sorot jutaan mahluk itu. Setiap kali mata say terpenjam, setiap kali itu pula mereka menancapkan ketajaman kuku, yang sengaja dipersiapkan untuk mengoyak jaringan otak di kepala saya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, sipembawa virus tumor di kepala saya itu menendang, menggigit, mencabik – cabik dan melakukan apa saja yang dapat menambah rasa sakit yang tak kunjung reda. Hampir tak diberinya kesempatan saya untuk tenang, atau beristirahat barang sebntar. Ketika kebencian saya samapi diubun – ubun melihat tingkah dan ulah mereka, justru membangkitkan semangat mereka untuk terus - menerus memacu kerjanya dalam penyiksaan di setiap urat di kepala. Tak jenuh - jenuhnya mereka senantiasa melobangi, memperlebar areal penyiksaan yang sebelumnya sudah terluka. Tak ada daya lagi yang tersisa di tubuh saya ketika mereka mengisap dan meneguk darah saya, lalu mengubahnya menjadi nanah yang menjijikkan.&lt;br /&gt;Dari gumpalan nanah yang sedikit demi sedikit berrubah menjadi bulatan - bulatan kecil itu, secara perlahan - lahan mengeluarkan ratusan, bahkan jutaan akar yang kemudian menyebar disetiap sudut kepala saya. Akibatnya, besok, lusa dan seterusnya kepala saya mengalami pembengkakan. Kali itu saya benar - benar merasakan tengah menjadi orang yang besar kepala, sehingga tak kuasa lagi saya bangkit dari pembaringan, atau tak mampu turun saat saya sudah diatas kursi dan menyandarkan kepala di dinding kamar.&lt;br /&gt;Malam terpejam. Rembulanpun telah enggan tersenyum menerangi atap dan sekitar rumah saya. Ia seperti tengah membuat kegelapan sendiri di kawasan kekuasaannya. Tapi di ujung gang seperti sinar dewi malam itu masih rela menerangi beberapa bocah dusun yang asyik bermain go back to door. Ternyata hanya kepada saya sinar itu enggan bersahabat. Sesaat, saya mencoba meraihnya kembali, tapi cepat - cepat tumor ganas itu mencegahnya, agar saya terbiar dalam kegelapan panjang.&lt;br /&gt;"Tumor!" Saya mulai protes." Kenapa kau terus - menerus menindasku, menyiksaku dengan taring - taringmu!? Apa salahku sehingga kaubegitu kejam terhadapku!?&lt;br /&gt;" Apa yang kau rasakan saat ini, belum seberapa jika dibandingkan penderitaan rakyat kecil di pinggir perdusunan yang harus menanggung beban hidup akibat kekotoran pikiranmu, selama kau menjadi lurah di sini!" Satu per satu gumpalan tumor itu menjelaskan alasan mereka, mengapa mereka tetap suntuk bersemayam di kepala saya.&lt;br /&gt;" Kalau memang aku kotor! Aku tidak amanah dalam mengemban kepercayaan rakyat, lantas apa kesalahanku!?.&lt;br /&gt;" Dengar mantan lurah yang kini terbaring! Melihat kesalahan sendiri itu memang jauh lebih sulit dari pada melihat kesalahan orang lain. Yang terpikir dalam otakmu selama ini, bahwa kaulah yang selalu benar, selalu pintar, selalu berkuasa, sehingga dengan kekotoran pikiranmu itu, rakyat kecil tidak selalu salah, rakyat kecil yang buta huruf , rakyat kecil yang hanya tahu keperluan makan hari ini, rakyat kecil yang terlalu banyak menelan kepahitan hidup, rakyat kecil yang selalu di hinggapi kekhawatiran dan ketakutan, hanya kau jadikan simbol pemerataan. Hanya kau jadikan tumbal kepintaranmu, lantas kau sulap mereka menjadi bih di lautan, hingga mereka makin kesulitan untuk menentukan masa depan, kebingungan untuk bersikap, ketakutan untuk bersuara, lalu hanya menjerit dalam kepasrahan, menunggu datangnya pagi tiba".&lt;br /&gt;Begitu banyak tumor itu mengingatkan kelalaian saya selama ini.&lt;br /&gt;Meski rasa nyeri di kepala saya belum reda, saya mencoba untuk mengingat masa lalu yang tiba - tiba tenggelam begitu saja. Kruek! Kruek! Gerombolan tumor itu beraksi lagi. Saya menggeliat kesakitan. Tapi itu tak menghentikan aktivitas mereka.&lt;br /&gt;" Jangan harap aku menerima kebisuan dan lamunanmu setelah kau mendengar penjelasan tentang kekotran pikiranmu". Salah satu dari tumor itukembali bersuara.&lt;br /&gt;" Baik! Aku tidak akan hanya membisu dan melamun." Saya menurut keinginan mereka. " Tapi maaf, aku masih bingung  untuk mengembalikan akal sehatku, sehingga aku masih sulit memahami tentang ucapanmu itu". Lantas apa maumu?" Tumor itu seakan memberi peluang saya untuk mengajukan permohonan. Saya memang harus menipu mahluk itu agar gerombolan tumor itu segera enyah dari kepala saya, bisik hati saya.&lt;br /&gt;Begini, aku minta, untuk beberapa saat tolong kau dan teman - temanmu itu pergi dari saluran darah di kepalaku. Dengan begitu, mungkin akan memudahkanku untuk emikirkan dan menghayati apa yang telah kau katakan. Sebab, kalau kau dan teman - temanmu masih bersemayam diotakku, aku akan menemui kesulitan untuk menyadari kekotoran pikiranku itu, kata saya menyusun permainan dengan para tumor itu, dengan harapan, melalui akal bulus itu, saya akan segera terbebas adri cengkeraman keganasan tumor.&lt;br /&gt;" Jangan kau anggap aku dan teman - teman itu mahluk yang bodoh. Meskipun anggotaku hanya terdiri dari nyawa yang kecil, tapi jumlah kami melebihi jumlah manusia di alam ini. Jangan kau anggap bahwa mahluk kecil itu selamanya akan kecil. Kau harus ingat, munculnya kebesaran itu juga berangkat dari adanya yang kecil. Dulu kepalamu kecil, tapi karena jumlah kami banyak, akhirnya kami berhasil memperbesar dan membuat bengkak seluruh bagian kepalamu. Oleh sebab itu jangan harap kami yang jutaan ini akan termakan tipu dayamu. Sufah terlampau banyak aku dan teman - teman mengetahui sikap manusia sepertimu ketika tertimpa penderitaan seperti sekarang. Hanya sesaat mereka teringat dengan kelalaiannya. Setelah mahluk seperti kami meninggalkan tubuh manusia, maka saat itu pula kau dan sebangsanya itu kembali pada kealpaan yang sering mengorbankan orang banyak demi kemakmuran sepihak".&lt;br /&gt;Ternyata, saya harus mengaku kalah malam itu. Meski hanya mahluk kecil, tapi memang tidak salah jika mulai hari ini dan seterusnya saya mau dan menerima ucapan dan kritik mereka terhadap ketamakan, kerakusan dan perbuatan buruk yang pernah saya lakukan. Tapi hingga saya terbaring di sini, saya masih belum ingat keburukan - keburukan apa yang telah banyak makan korban itu.&lt;br /&gt;" Tumor!" Saya kembali membuka pembicaraan." Setelah aku mendengar ucapanmu , kini aku sadar bahwa setiap kita, mahluk yang melata di alam ini punya hak yang sama terhadap kenikmatanNya. Tapi ada satu hal, kau harus buktikan keburukan yang bagaimana sehingga dengan keras kau menuduhku telah banyak mengorbankan rakyat kecil yang semestinya kuayomi itu?!"&lt;br /&gt;" Sulit aku sebutkan satu per satu,'' ucap salah satu wakil tumor sembari terus mengerogoti syaraf di kepala saya. " Mungkin dalam satu minggu, kelalaian manusia itu belum habis aku ceritakan. Apalagi masa pengabdianmu sampai berdarsawarsa, sehingga masyarakat yang kau pimpin dulu kini sudah beralih generasi baru yang belum banyak tahu tentang seluk beluk desa yang pernah kau pimpin. Kalupun mereka tahu , paling - paling hanya dapat menggangguk, menggeleng, lantas pergi membawa tanda tanya besar yang masih menunggu jawaban. Mereka juga tetap akan diselimuti dengan ketakutan seperti ketakuanmu ketika kau berselingkuh dengan Winarsih, sekretarismu, yang kemudian kau harus membayar seseorang untuk segera mengawinnya dan meninggalkan desa yang keu pimpin, demi menjaga reputasimu sebagai lurah".&lt;br /&gt;Dua kosong untuk kemenangan tumor dan gerombolannya. Hati saya semakin terisak dalam kepiluan saat para tumor itu membongkar aib yang pernah saya lakukan dulu. Tuhan, seberat inikah siksa yang mesti saya terima? Hingga kau mesti meneurunkan penyakit tumor di otakku? Masih ada harapankah saya untuk hidup, lalu kembali pada jalan-Mu? Perbuatan baik apa dan bagaimana yang dapat menebus dosa - dosa yang telah lalu?.&lt;br /&gt;Hanya angin malam yang kemudian mengabarkan penderitaan saya itu kepada seluruh warga. Sementara tumor ganas yang berselubung di kepala saya makin menguras daya tahan hidup saya. Tak ada lagi protes yang dapat saya lakukan, baik, terhadap tumor atau pada siapapun yang telah menjerumuskan saya, hingga saya harsu menerima penyakit menakutkan itu. Terbersit sebuah penyesalan yang teramat sangat. Tapi semuanya sudah terlambat.&lt;br /&gt;Sampai sudah nafas saya di tenggorokan. Alunan surat Yasin pun tak lagi saya dengar. Semuanya jadi gelap. Sangat gelap, hanya tanah dan kain kafan yang menyertai saya dalam kegelapan itu. Na'udzubillahi min Dzalik!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sriwijya Post, Minggu 16 Agustus 1998.                     &lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1100485398503621555?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1100485398503621555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1100485398503621555&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1100485398503621555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1100485398503621555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/t-u-m-o-r.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;T U M O R&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0v01F2_Z7I/AAAAAAAAAH4/SMJg6lgAGrs/s72-c/rsud-bima_tumor1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-708703866637747820</id><published>2010-01-11T19:50:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T19:53:33.421-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Surat Untuk Saeri </title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vyIlYFQVI/AAAAAAAAAHw/dSGYC68HOTE/s1600-h/surat-surat.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 309px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vyIlYFQVI/AAAAAAAAAHw/dSGYC68HOTE/s320/surat-surat.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425696405383889234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore selepas ashar, saya masih duduk di bangku panjang, di depan rumah kontrakan saya, dimana dulu saya dan Saeri, teman akrab saya bidup bersama, senasib sepenanggungan. Namun karena roda waktu yang demikian cepat, tak terasa bahwa sebenarnya teman karib saya itu sudah empat tahun meninggalkan saya disini. Mungkin karena keterbatasan daya penglihatan saya, sehingga jarak pandang saya dan Saeri harus terhalang oleh puluhan perkampungan, ratusan tembok tinggi, jutaan rerumputan, atau mungkin terlalu panjangnya kelokan jalan antara lahat dan Kotabumi. Saya tidak tahu persisnya, tiba – tiba Saeri sudah menjadi seorang Bapak. Ya, bapak yang sudah seharusnya menanggung amanat untuk tidak merelakan anaknya terjerumus kedalam jurang kebiadaban zaman. Bagaimana lucu dan mungilnya buah hati Saeri , sampai saya kembali terduduk di atas bangku panjang ini. seperti ketika kami masih bersama, semuanya hanya terlintas dalam bayang. Tak dapat saya gambarkan , jika nanti saya juga mendapat titipan Tuhan yang sama; anak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sampai adzan Mahgrib menggema, kerinduan untuk kembali bercengkeramah dengan Saeri masih bergelayut menembusi setiap batin saya, yang kian hari kian ditempa beragam bentuk kenyataan. Mungkin saatnya saya harus mengobati rindu ini, meski hanya mengarungi lautan tinta, bersama desau angin yang mudah – mudahan dapat menyampaikan salam saya kepada Saeri dan keluarganya di Kotabumi.&lt;br /&gt;Saeri , satu kata tertulis diatas kertas folio mengawali surat itu, Entah apa yang harus saya katakan kepada Tuhan, jika nanti tiba – tiba Tuhan bertanya ; bentuk musibah apalagi yang masih kuat kau terima? Ataukah daerah mana lagi yang kuberi pelajaran dengan kerusuhan.&lt;br /&gt;Sungguh ! Ri, mungkin saya gelagapan untuk menjawab jika nanti pertanyaan itu sampai kepada saya. Sebab kenyataan pahit dari perjalanan hidup saya sudah cukup menyayat. Bahkan, jika berwujud pisau, sudah merobek jantung saya, mengobrak abrik usus dan lambung saya. Tapi, Ri, setiap malam saya terus bertafakur bertaqrrub kepada-Nya, meminta, agar kenyataan - kenyataan pahit segera usai. Dalam setiap kesempatan itu pula, saya selalu memohon, agar jangan dulu Tuhan mencabut nafas saya. Sebab, saya sadar, Ri, mungkin segala sesuatu yang telah atau akan menimpa saya, lebih merupakan teguran dari pada cobaan buat saya. Alangkah sombongnya saya, jika kenyataan pahit itu sebagai cobaan. Toh, sudah pasti belum mampu membayar hutang saya terhadap jasa – jasa Tuhan. Ini bukan pesimis, Ri! Tapi sebuah kesadaran dari batin saya yang paling dalam, bahwa saya telah banyak mempermainkan Tuhan. Kenapa tidak? Hari ini saya minta pengampunan dosa, tapi besok, lusa saya kembali membuat dosa baru, yang kadang - kadang nilai dosanya lebih besar ketimbang sebelumnya. Tapi, Ri, bagaimanpun jauh dan lamanya kita berpisah, saya masih ingat dengan keyakinan terhadap ampunan Tuhan , seperti yang pernah kamu katakan kepada saya empat tahun silam. Menjelang tidur, saya sering mengutip ceramah yang pernah kamu sampaikan di masjid Wathoiniyah Telatang Lahat : Hidup harus optimis ! jangan takut gagal, jika kegagalan itu justru akan lebih mendewasakan dalam menyikapi hidup.&lt;br /&gt;Beragam kata yang pernah teruntai dalam kultum itu, sedikit banyak telah memberikan kekuatan tersendiri buat saya. Buat kejiwaan saya. Nurani saya. Atau bahkan sikap hidup saya, ketika saya harus kehilangan semuanya. Mungkin ratusan, bahkan ribuan turut menyaksikan peristiwa duka yang menimpa saya, ketika oktober lalu rumah kontrakan saya habis terbakar. Hanya bangku panjang yang tengah saya duduki ini saya sempat saya selamatkan. Paling tidak, bangku ini menjadi saksi bahwa saya dulu pernah mempunyai teman karib yang bernama Saeri, yang dengan papan – papan bekas telah sanggup menarik orang sekitar kontrakan untuk beberapa saat duduk, sembari menikmati gandum goreng dirumah kita. Kalaupun saya harus mengatakan rumah kontrakan ini juga rumah kita bersama, itu tidak lain karena saya masih ingat bahwa kamu paling suka mencari rumah kontrakan yang murah, sama seperti yang kutempati sekarang. &lt;br /&gt;Ri, satu hal yang makin saya merasa terhempas, adalah munculnya berbagai kebohongan, maraknya ketidak jelasan hidup didalam negeri ini, atau hilanganya seuntai bunga yang pernah saya siram sepanjang hari, bahkan sepanjang tahun. Terbakarnya rumah kontrakan, ternyata melulu lantakkan semua kejujuran, semua cita dan cinta yang pernah bersemai. Semuanya hilang bersama pengapnya negeri, bersama banyaknya slogan dan verbalitas yang mungkin terus memanjang.&lt;br /&gt;Belum sempat saya melanjutkan goresan itu, seseorang mengetuk pintu. Saya kenal betul dengan desah suara itu, Santi sepupu pemilik kontrakan.&lt;br /&gt;“ Kak Im, minta uang listrik dan air”, Santi menagih pajak rutin PLN dan PAM. Sudah saya duga sebelumnya , Santi tidak ada kepentingan lain untuk datang kecuali sekedar menagih iuran bulanan itu.&lt;br /&gt;“ Besok pagi ,Dik. Akan saya antar kerumah”, saya menjawab sekenanya, sembari berpikir akan kemana mencari uang pinjaman, sebatas melunasi kewajiban saya sebagai penghuni kontrakan. Sengaja pintu depan tidak saya tutup rapat, dengan harapan ada saja teman yang mampir seperti biasanya. Kesempatan itu, mudah - mudahan dapat sedikit memperoleh pinjaman atau bantuan sekedarnya.&lt;br /&gt;Denting gitar para remaja tetangga rumah kontrakan tak begitu saya hiraukan. Toh mereka juga  tidak tahu jika ketika itu saya memotar otak untuk mencari jalan keluar untuk memenuhi kewajiban pada tuan rumah. Prek! Masa bodoh ! paling – paling selepas isak akan ditegur Pak Er Te. Saya kembali ke kamar, menjumpai kembali pena dan kertas yang sempat saya tinggal. &lt;br /&gt;….Ri, saya kembali menulis. Yang sampai sekarang saya tidak mengerti ada maksud apa Tuhan menyampaikan pesan pada saya harus dengan beragam kegetiran yang berlarut – larut. Saya tahu, Ri, kalau pengalaman batin seperti saya alami ini tak pernah didapat dibangku kuliah perguruan tinggi manapun. Bahkan jika saya diperbolehkan mengadakan tawar – menawar dengan Tuhan sebelum saya lahir, akan saya katakan ; Tuhan! Mungkin dulu lebih baik kau jadikan saya ini menjadi sebuah bukit atau tanah saja, sehingga saya tidak akan merasakan kepahitan hidup seperti manusia! Atau kau jadikan saya ini sebagai angin, agar saya banyak berjasa pada setiap bentuk kehidupan!.&lt;br /&gt;Ini mustahil, Ri! Mustahil! Toh Tuhan sudah bicara lain terhadap  perputaran sejarah hidup saya. Meskipun saya tahu persis, bahwa Tuhan Maha Demokratis. Maha Pemberi kebebasan terhadap setiap hamba. Tapi bagaimanapun, saya memang harus kembali menelanjangi diri, bahwa sebenarnya sayalah yang harus terus - menerus mengenali jalan saya, lantas berbenah diri, untk kemudian menerima ketentuan Tuhan, setelah sebelumnya saya harus menempuh jalan, sebagai tanda ikhtiar seorang mahluk lemah semacam saya.&lt;br /&gt;Ri, kalaupun saya harus menuangkan segala bentuk kenyataan ini pada kamu, bukan berarti saya bermaksud mengeluh dengan kebijakan Tuhan terhadap nasib saya. Tapi melalui surat yang saya kirim ini, saya mencoba kembali untuk membaca diri saya , bercermin pada muara batin, tempat dimana semua keputusan akan saya lakukan, tanpa harus merugikan saya, juga para tetangga saya, selain itu, saya tidak bermaksud mengganggu aktivitas kamu, yang sudah pasti disibukkan oleh berbagai watak dan sifat para murid sekolah. Paling tidak, saya hanya ingin kamu mengerti, bahwa saya tidak ingin menambah berbagai kepedihan di tengah zaman yang sudah terkoyak oleh bermacam kerusuhan atau fluktuasi ekonomi  yang belum jelas ujungnya. Sungguh! Saya hanya berkeinginan berbagi rasa dan mengabarkan, sebelum negeri ini pengap dan basah oleh ratusan tetesan darah di berbagai daerah, jauh sebelumnya, saya teman karib yang pernah hidup bersama kamu, sudah lebih dulu merasakan kepenatan hidup, memeras darah untuk sebuah kejujuran, meskipun banyak orang menilai bahwa kenyataan itu terlalu pribadi. Itu bukan urusan saya, Ri. Terserah bagaimana orang akan menilai. Namun yang pasti, saya telah merasakan runtutan kebohongan, ketidak mampuan manusia untuk lebih bersikap rendah hati ditengah keangkuhan diri. Dan korbannya adalah saya, atau bahkan orang orang lain yang sebelumnya telah sengaja dikorbankan untuk sebuah kebohongan.&lt;br /&gt;Terakhir, saya sampaikan bahwa saya sama sekali bukan sedang menyalahkan satu pihak, atau mengkambing hitamkan seseorang yang sidah hitam, atau punya keinginan mencela. Toh saya dan kamu punya cermin kecil di bilik jantung. Yaitu nurani. Hanya itulah yang mudah – mudahan dapat mengantarkan saya atau siapapun orangnya pada kejernihan batin. Dari kejernihan inilah, Ri, saya kemudian menemukan kembali satu bunga yang bersemi dari sebuah muara. Muara itu adalah air jernih, yang mata airnya dari alam pedesaan, lalu mengalirkan sidar kejujuran, ketulusan dan ketidak engganan untuk selalu mengalir pada sebuah tangan tergadah. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telatang lahat,2 Januari 1999       Sumek, Jumat, 26 maret 1999  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-708703866637747820?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/708703866637747820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=708703866637747820&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/708703866637747820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/708703866637747820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/surat-untuk-saeri.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Surat Untuk Saeri &lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vyIlYFQVI/AAAAAAAAAHw/dSGYC68HOTE/s72-c/surat-surat.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3368882804196972224</id><published>2010-01-11T19:34:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T19:38:33.460-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>BANGKAI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vukKQqiQI/AAAAAAAAAHo/rwaH96lzPdg/s1600-h/Picture20.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 176px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vukKQqiQI/AAAAAAAAAHo/rwaH96lzPdg/s320/Picture20.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425692481094846722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tertunduk di depan cermin, menekuri tentang diri yang telah beralih rupa. Wajahku bukan lagi simbol dari sebuah kewibawaan, seperti ketika aku masih bertengger sebagai Presiden di pabrik terbesar.  Saat itu, kekuasaanku sampai keluar lintas batas darat Sabang sampai Merauke. Senyum khas yang kumiliki, kini bukan lagi sebagai keramahan, yang setiap orang berjumpa, di situlah mereka harus sedikit menundukkan badan sebagai penghormatan terhadapku. Tuan Firjaw, begitu banyak orang memanggilku.  Keluasan wilayah kekuasaanku, kini justru membenamkan aku ke dalam air comberan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Petuahku yang dalam kurun waktu puluhan tahun sebagai ucapan ‘dewa kebenaran “, kini tak lagi mampu menjadi pengharum setiap perkampungan dunia. Malah sebaliknya, semua ucapanku, sudah menjadi barang busuk, yang setiap orang akan segera menutupi telinga dan hidung, agar tak mendengar dan mencium hawa mulut atau cipratan ludah yang keluar dari lipatan bibirku. Seluruh penghuni perdusunan, sepertinya memang benar – benar muntah setelah sebelumnya perutnya mual dalam beberapa menit ketika wajahku dipampang oleh wartawan di surat kabar dan televisi.&lt;br /&gt; Sore kemarin, kucoba untuk berhias diri. Kubeli kosmetik ternama dengan harga miliaran rupiah hasil tunjanganku. Dari parfum kelas ratusan ribu sampai seharga se-unting daun kemangi yang harganya turut melonjak, ikut menjadi ramuan. Aku ingin  kembali menjadi Tuan Firjaw yang dulu menjadi pewangi bagi setiap penghuni, yang dulu selalu di-elu-elukan jasa dan pengabdianku.&lt;br /&gt;Sembari melumuri dan memandikan diri dengan perasaan daun kemangi, dalam batin, aku hanya berucap; &lt;br /&gt;“Tuhan, seandainya aku tahu, kekuasaanku akan membawa petaka dalam perjalanan hidupku, aku akan memilih kemiskinan sebagai tiang dalam rumahku. Kalau saja aku mengetahui semua ini akan menimpaku, aku akan menjadi tanah atau gunung, yang hanya akan patuh dan tunduk dengan semua perintah dan kekuasaan-Mu”&lt;br /&gt;Aku bersimpuh, menatap kembali cermin kecil  yang berada dibalik nuraniku. Sesaat aku tersadar, bahwa ruang kecil, tempat berkumpulnya nurani itu telah lama tidak kusinggahi. Padahal, dari sanalah seharusnya semua kebijakan itu diputuskan. Semestinya, memang tempat itu yang menjadi sumber atau mata air dari semua kebijaksanaanku. Tapi begitu lama aku meninggalkan ruang kecil itu. &lt;br /&gt;“Oh, hati nurani, kini memang aku harus kembali menyusuri dari awal untuk memasuki wilayah itu. Meskipun aku, sekujur tubuhku, keringatku, darahku telah berlumur air air got yang berbau”.&lt;br /&gt;Sekali lagi aku bersimpuh. Aku tak mampu lagi menterjemahkan air mata yang tiba – tiba masih mau keluar dari muara kecil di mukaku yang makin keriput. Sulit kupilah, mana air mata penyesalan, mana air mata kepedihan dan air mata taubat. Semuanya berkumpul menjadi satu genangan, yang setiap penghuni negeri ini tak mau lagi kena cipratannya, meskipun para pengikutku masih ada sebagian yang menunggu kehadiranku kembali, meski aku harus menjelma dan menyulusup dalam tubuh lain.&lt;br /&gt;Beberapa bulan kucoba untuk tetap bertahan diatas penghinaan dan cercaan massa yang tak kunjung pudar. Kukumpulkan kembali gumpalan daging yang sempat tercecer. Ada yang  di permukaan air comberan. Ada yang menjadi satu dengan tumpukan sampah. Dengan susah payah kerenggut seluruh kekuatanku yang masih tersisa. Daging dan serat-serat tubuhku  yang berserakan, kembali kurangkai. Lalu, kusewa darah para preman untuk membantu dalam menebar keharuman,  sehingga kebusukan itu akan segera beralih pada muara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brooooot!” Kuberaki Banyuwangi dengan darah dukun santet. Mayat terkapar. Ratusan dukun santet menebar kebusukan baru. Anyir darah diatas aspal Banyuwangi tercium ke setiap sudut perdusunan. Aku terkekeh girang. Tanpa sadar, sebenarnya aku telah kembali  meninggalkan kemuliaan muara nurani. Sebuah pertikaian baru segera bermula. Para penghuni negeri memendam beragam kebencian, meskipun mereka juga bingung tentang siapa yang mesti dibenci. Permainan kembali mencuat, terangkat di surat kabar dan kamera elektronik, menyebar keseluruh pelosok negeri.&lt;br /&gt;Aku makin tertawa lebar saat pengikutku berhasil mengumpulkan puluhan orang gila yang sudah berlumur darah kambing hitam. Sedikit banyak, bau busukku lambat laun mulai reda, berpindah pada bau anyir darah dari Banyuwangi. Percekcokan antar bagian mulai terlihat. Sebuah pemandangan apik jika ini terus berkelanjutan, harapku dilubuk hati kelam.&lt;br /&gt;Pergolakan darah dukun santet makin merambah kebeberapa kota. Sehingga aku punya waktu istirahat untuk memoles diri dengan cairan perasaan air kemangi, atau istirahat mandi pagi dengan parfum yang kubeli dengan harga miliaran itu. Sembari menyaksikan peperangan antar bagian, di setiap canel teve, kuundang seorang mantan kepala sekolah untuk segera menyusun administrasi baru sebagai kelanjutan dari permainan Banyuwangi.&lt;br /&gt;Sore kian beranjak malam. Orang – orang sekitar terus sibuk dengan persoalannya masing – masing, sambil membersihkan puing – puing kerusuhan yang beberapa waktu lalu terjadi. Perlahan, bau busuk nafasku sedikit reda. Kali itu, rasanya ingin kuucapkan terima kasih pada sekumpulan orang gila yang telah menutupi bau busukku dengan darah kambing hitam. Mereka cukup berjasa dalam permainan ini. Tapi sayang, aku tak lagi berwenang  memberi penghargaan putra terbaik bangsa dengan piagam bintang maha putera. Biarlah,  toh mereka juga orang gila. Bagaimanapun piagam penghargaan juga tak akan menyembuhkan kegilaan mereka. Justru akan berbahaya jika mereka sadar bahwa mereka aku pecundangi. Jika ini terjadi sangat mungkin bau keringatku akan semakin busuk dari bulan sebelumnya.&lt;br /&gt;Luka menganga telah merobek sudut negeri. Bau anyir darah, sepertinya tak mungkin aku akhiri sampai disini. Semuanya harus berlanjut sampai bau air comberan di tubuhku bisa kembali bau harum, meskipun hanya sebatas harumnya ketek WTS kelas teri.&lt;br /&gt;Dari atap rumahku, kupantau kejadian – kejadian disetiap ujung gang, perkampungan, sampai di depan rumahku, yang ternyata masih terkepung oleh penjaga setia, meskipun aku tak tahu persisnya apakah mereka juga merasakan bau busuk keringatku atau tidak.&lt;br /&gt;“Tuan Firjaw !”, mantan kepala sekolah itu tiba – tiba muncul tepat berada di bawah  saat aku bertengger di atas rumah.&lt;br /&gt;“Tuan jangan dulu memunculkan diri. Kondisi seperti sekarang belum cukup aman untuk memunculkan strategi baru. Turunlah! Istirahatlah kembali!.&lt;br /&gt;“Istirahat itu urusan gampang! Apa yang kau katakan tentang genangan darah di Banyuwangi beberapa waktu yang lalu?.&lt;br /&gt;“Beres Tuan! Semua sudah saya sampaikan kepada para wartawan bahwa kejadian itu hanya kriminal biasa. Tenang saja, Tuan! Semuanya sudah berjalan sesuai dengan skenario!”.&lt;br /&gt;“Lantas apa rencanamu sekarang?” Aku menagih janji pada mantan kepala sekolah itu, setelah aku turun dari atap rumah.&lt;br /&gt;“Saya memiliki beberapa pasukan ninja. Dan mereka bisa kita berdayakan, untuk permainan baru”.&lt;br /&gt;Aku tenang sesaat.&lt;br /&gt;“Bagus! Ternyata idemu tetap cermelang meskipun kau hanya mantan kepala sekolah”,  Kataku memuji ide jitu yang dilontarkan orang terdekatku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan ninjapun bergentayangan. Mereka membuat permainan baru di tengah kecemasan para penghuni negeri terhadap kondisi yang belum tenang. Kabar teror, telepon gelap terhadap para kiai memulai operasi ninja. Sehingga hampir seluruh perkampungan dilanda ketidaktenangan yang berkepanjangan. Satu - persatu gerakan ninja menumpahkan anyir darah. Lagi, mayat terkapat tanpa identitas. Cras! Cras! Pedang menyambar, darah tercurah, keringat telah menjadi darah.&lt;br /&gt;Aku makin lupa diri dengan permainan ini. Ini harus berkelanjutan! Sebab, permainan ini, akan memancing surat kabar, sehingga mereka akan tersumbat, tidak lagi mencium bau busuk darah dan keringatku lagi. &lt;br /&gt;Satu menit baru saja aku menarik nafas lega. Sebuah guncangan kembali menggegerkan pagar di sekitar rumahku. Aku terkesiap. Aku bangkit, menyingkap horden jendela. Tak kuduga, sekelompok orang masih tetap mencium bau busuk darah dan keringatku. Aku jadi nanar. Keringat dingin mengucur. Ia membasahi setiap lekuk tubuhku. Sesekali kuusap. Lalu kusemprot dengan parfum sekujur tubuh. Tapi bau busuk tetap saja menyengat keluar rumah. Tak ada jalan lain, mereka pasti kembali membenamkan aku ke air comberan. &lt;br /&gt;“Ah, ternyata, daging dan sekujur tubuhku memang benar – benar telah membusuk! Ucapku, sembari berlari menuju kamar kecil.  &lt;br /&gt;Mungkin di sini, aku akan lebih aman. Mudah – mudahan mereka akan kesulitan membedakan bau busuk keringatku dengan bau busuk tinja”, Kataku sambil melumuri badan dengan tinja – tinja yang tersisa. Kini, orang akan susah membedakan aku dengan warna dan bau tinja. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Kontrakan di Jl. Letnan Yasin - Palembang, 25 Mei 1998&lt;br /&gt;(Tiga hari setelah Jatuhnya Rezim Soeharto 21 Mei 1998)&lt;br /&gt;                      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3368882804196972224?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3368882804196972224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3368882804196972224&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3368882804196972224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3368882804196972224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/bangkai.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BANGKAI&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vukKQqiQI/AAAAAAAAAHo/rwaH96lzPdg/s72-c/Picture20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-1143067543902928645</id><published>2010-01-11T19:28:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T19:31:10.742-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Surat Untuk Ayah </title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vs034MCSI/AAAAAAAAAHg/EMCBAuIHuKw/s1600-h/surat-untuk-ayah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vs034MCSI/AAAAAAAAAHg/EMCBAuIHuKw/s320/surat-untuk-ayah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425690569194866978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam kian kelam. Aku terbaring diatas balai bambu, menerawang menatapi diri yang makin termakan usia. Tiba – tiba kamar terasa sumpek, panas, dan beraroma kurang sedap. Desiran angin menembus kamarku hanya membawa kabar yang sulit diterka. Aku menangis ketika kamarku dicabik,cubit atau digilas oleh realita. Kucoba menagabarkan pada orang sekitar, tetapi mereka hanya menggelang, meninggalakan tapak tak berbekas. Kadang mereka menatapku sinis, lalu pergi tanpa ucapan maaf. Mungkin, saatnya aku harus mengabarkan ini pada ayah, pikirku. Aku bangkit, dan merapikan kamar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; “Ayah,’’ tulisku mengawali surat itu. Meski kau akan menangis setelah membaca surat ini, tapi segeralah kau usap air mata itu. Jangan kau biarkan air mata berurai dipipimu. Aku malu jika ayah hanya bisa menangis tanpa suara, dan berbisik tanpa kata. Ayah, anakmu kini sedang dalam keprihatinan, bertarung dengan masa depan, berlindung di bawah buramnya cahaya malam.&lt;br /&gt; Cahaya lampu 100 watt yang ayah belikan dulu, sepertinya tak mampu memancarkan suasana baru dalam kamarku. Bahkan Ayah, kamarku kini pengap disusupi oleh cerobong asap pabri, udara kendaraan bermotor atau angin penderitaan, yang datangnya dari pinggir trotoar.&lt;br /&gt; Aku berhenti menulis ketika ratih, istriku menerobos masuk kamar. Ia pun duduk dan menatapku dalam diam. Aku hanya melirik ketika ia memunguti dan mengumpulkan kertas – kertas yang berserakan dilantai kamar. Ratih yang ceria, kini bias karena keadaan. Sapa mesranya yang dulu menggiurkan setiap lelaki, kini hanya sebatas senyum hambar yang tak bermakna. Aku sendiri kadang sulit menerjemahkan, gerangan apa yang sedang dirasakannya.&lt;br /&gt; “ Mas im”, Ratih membuka kebisuan. Aku hanya menoleh. Tubuh semampai itu kuamati dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kubiarkan saja ketika Ratih duduk merapat dan membaca surat yang belum sempat selesai kutulis.&lt;br /&gt; “Sebaiknya, Mas Im tak menulis surat untuk Ayah. Keadaan kamar kontrakan kita yang makin dilalaikan tuan rumahnya, tak semestinya diketahui Ayah. Toh, surat – surat yang sudah terkirim, sampai tak ada yang dibalas. Mungkin, sekarang Ayah lebih sibuk dengan tugas adan aktivitasnya sendiri, ketimbang memikirkan kondisi kamar kita yang dibanjiri air mata ini,” katanya.&lt;br /&gt; Aku tercenung mendengar ucapan Ratih. Namun batinku terus bergolak.” Ratih, tolong simpan kata – katamu”, ucapku coba memberi pengertian. Ratih kemudian memandangku tajam. Ia pun hanya diam saat aku melanjutkan pembicaraan.&lt;br /&gt; “Aku tahu, kesibukan Ayah telah banyak menyita kepedulian terhadap kita. Namun, bergantinya struktur desa dan dengan jabatan kepala dusun dipegang Ayah, adalah peluang kita mengabarkan, bagaimana naisb kita dikamar ini kelak”, kataku optimis.&lt;br /&gt;‘’Tapi, Mas,” sergah Ratih pelan.” Aku belum yakin benar jika surat ini akan mengubah sikap Ayah. Sebab, digantinya aparat desa, belum menjamin kemandirian Ayah untuk bersikap. Apalagi, kepergian kita ke kamar ini sudah di latar belakangi, dengan pertentangan dengan Ayah. Sulit rasanya…”&lt;br /&gt;“Ratih,” potongku tiba – tiba. “ Kegetiran masa lalu membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu hari ini. Tapi, masa lalu membuat kita bijak, meskipun kita kesulitan menerjemahkan kebijaksanaan itu sendiri. Sebenarnya Ayah bukan manusia yang tak pernah memikirkan nasib anaknya. Tapi, dia telah masuk lingkaran struktural, jadi apapun yang dikerjakannnya, tentu tidak lepas dari kepentingan itu,” kataku.&lt;br /&gt;Batinku terus bergejolak. Suasana makin menghimpit. Dadaku tersengal sesak ketika tiba – tiba kepulan asap mengitari sekeliling kamar. Kucoba menghalaunya. Namun aku tersingkir kebawah meja. Hanya sobekan kertas dan pena yang sempat kepegang. Besok atau lusa, surat ini harus segera kukirim pada Ayah pikirku.&lt;br /&gt;Aku hanya menurut saja, saat Ratih muncul dan memapahku ke pembaringan. Seberkas kekhawatiran tergambar diwajah Ratih. Isak tangis Ratih yang selama ini kurindukan tiba – tiba menyeruak ketelinga. Sebongkah kebahagiaan seketika menyusup dalam kalbuku. Ratih kini telah menyuarakan penderitaannya yang sekian lama terpendam.&lt;br /&gt;“Ratih, aku tidak apa – apa,” ucapku menenangkan perasaannya. Dengan pandangan sedikit kabut, kutatap wajah Ratih yang lusuh. Namun hanya kepedihan yang tersemburat di sana. Dada kiriku terasa sesak, namun kucoba terus bertahan. Ratih memandangiku dengan kepedihan dalam, dan isak tangisnya menggema keluar ventilasi kamar, kesetiap telinga tetangga.&lt;br /&gt;“Ratih, berhentilah kau menangis. Tak perlu mereka tah, kita sedang menderita di kamar ini. Kalaupun mereka mendengar, itu hanya menambah beban mereka. Sementara nasib mereka tidak berbeda dengan kita,” kataku meredam gejolak batin Ratih sore itu. Tangis Ratih pun reda.&lt;br /&gt;Azan Magrib menggema, membangkitkanku dari pembaringan dan Ratih pun mengikuti. Aku melangkah, lalu menundukkan diri kehadapan Sang Khalik. Dalam penghambaanku malam itu, kutuangkan segala do’a untuk Ayah, pribadi, dan istriku.&lt;br /&gt;“Ya Allah, semoga Ayah kami di kampung terkuak kejernihan pikirannya memandang seluruh isi kamar ini, demikian desa kami yang sedang dalam genggamannya, serta dalam manapat diri dia sendiri.”&lt;br /&gt;“Ya Allah, anugerahkanlah kami khusnul khatimah kepada Ayah kami. Taburkanlah rezeki rohani kedalam ubun – ubunnya, sehingga peran yang diambilnya adalah peran yang sesungguhnya nyepuhi, bukan fungsi fighter.&lt;br /&gt;Segala beban batin kutuangkan di atas sajadah malam ini, semoga hati Ayah untuk membalas surat – surat kami.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat &lt;br /&gt;di Harian Umum Sriwijaya Pos. Minggu 1997       &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-1143067543902928645?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/1143067543902928645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=1143067543902928645&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1143067543902928645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/1143067543902928645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/surat-untuk-ayah.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Surat Untuk Ayah &lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vs034MCSI/AAAAAAAAAHg/EMCBAuIHuKw/s72-c/surat-untuk-ayah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-3393919039668049879</id><published>2010-01-11T19:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T19:24:39.904-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Negeri Kelelawar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vrWRfd7VI/AAAAAAAAAHY/2wYu9n9_j7A/s1600-h/fruit_bat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vrWRfd7VI/AAAAAAAAAHY/2wYu9n9_j7A/s320/fruit_bat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425688943982931282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lepas Ashar, setiap kali aku duduk di serambi masjid, aku selalu  menyaksikan puluhan, bahkan ratusan Kelelawar. Maklum, di depan masjid itu, ada sebatang pohon beringin yang cukup besar. Dan diatasnya, bergelantungan buah kecil-kecil, yang sepertinya memang disukai oleh Burung dan Kelelawar.  Sehingga wajar saja, jika tiap sore menjelang, hampir semua kelelawar, burung, berkumpul, dan beterbangan, dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting. Tujuannya, apalagi  kalau bukan untuk memetik rubuan buah pohon beringin, yang tampak ranum. Kalau saja, aku seekor kelelawar, mungkin aku juga akan ikut berebutan seperti mereka.  Mereka datang berbondong-bondong, saling sikat , saling sikut, untuk mendapat buah incarannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjelang maghrib, jumlah kelelawar makin banyak. Sementara,  puluhan burung, malah sebaliknya. Satu persatu, burung-burung yang sebelumnya ikut berebut buah, justeru mulai lenyap. &lt;br /&gt;Besoknya,  lepas dluhur, aku masih duduk di serambi masjid. Kali ini,  aku tidak lagi menjumpai ratusan kelelawar.  Tetapi, di bawah pohon, muncul puluhan binatang lain. Ada Kambing, Kancil, dan beberap binatang darat , binatang melata dan mamalia lainnya.&lt;br /&gt;Sepertinya, tujuan mereka sama.  Mereka datang untuk mengais sisa buah pohon beringin yang berserakan di bawah pohon.  Sebenarnya, mereka punya keinginan untuk mendapat buah aslinya, dan bukan buah sisa. Tetapi, apa boleh buat, mereka tak punya sayap sebagaimana burung dan kelelawar. Dan mau tidak mau, mereka  harus menerima sisa dan makan buah bekas gigitan kelelawar dan puluhan burung. &lt;br /&gt;Untuk beberapa bulan,  ratusan binatang darat ini, masih saja menerima, ketika mereka harus makan sisa dari kelelawar dan burung. Tetapi, lama-lama, mereka juga jenuh dan bosan, jika sepanjang hidupnya, harus makan sisa dari kelelawar dan burung. Mungkin bukan saja kambing, kancil, aku juga tidak mau jika harus makan bekas orang. Apalagi, kalau makan sisa kelelawar.&lt;br /&gt; Ketidakpuasan ini, akhinrya dilaporkan ke raja hutan.&lt;br /&gt; “Lapor Sang Raja”, Ujar Kancil di depan Singa.&lt;br /&gt; “Ada apa Kancil?”&lt;br /&gt; “Anu, Sing…E, …”.&lt;br /&gt; “Kenapa kau gugup?”&lt;br /&gt; “Ah, enggak kok.  Saya hanya mau laporan. Sebenarnya, ini bukan kemauan saya, tetapi, kemauan semua binatang darat di hutan ini?’&lt;br /&gt; “Maksudmu?”&lt;br /&gt; “Yaaa, ini usulan  dari binatang yang tidak bisa terbang macam kita”. &lt;br /&gt; “Hmmm….apa  keinginan kalian dan kawan-kawan?”&lt;br /&gt; “Kita ini kan punya hak yang sama, Sing.  Jadi, di hutan ini,  siapapun juga, setiap binatang, juga memiliki wewenang yang sama untuk memilki keaslian, seperti buah phon beringin yang ada di depan masjid itu”.&lt;br /&gt;“To  the point saja, Cil, aku tak punya banyak waktu”.&lt;br /&gt;“Apakah akan selamanya ,  binatang macam kita, hanya akan makan buah pohon beringin, sisa dari kelelawar dan burung?”.&lt;br /&gt; “Lalu?”&lt;br /&gt; “Ya, keinginan saya dan kawan-kawan sih, bagaimana kalau  Singa si raja hutan, bisa memperjuangkan hak-hak kami, yang selama ini, hanya dapat makanan sisa. Ini kan diskriminatif. Sementara, kita sering bicara pemerataan dan persamaan hak”.&lt;br /&gt; Sejenak, Singa garuk-garuk kepala yang tidak gatal.  Raja hutan ini, tampak mulai berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bagaimana Sing?” Sela Kancil tidak sabar.&lt;br /&gt; “Cil, sebenarnya, aku sih mau-mau saja memperjuangkan &lt;br /&gt;keinginan  kawan-kawan. Tapi, semua ini mesti dirapatkan dulu dengan majelis hutan. Tidak bisa usulanmu ini, selesai dalam satu hari. Belum lagi, para pengawal kerajaan hutan ini, juga harus berkirim surat ke beberapa pejabat terkait, untuk diajak musyawarah tentang hal ini”.&lt;br /&gt; “Ya, nggak apa-apa. Tapi jangan lama-lama”.&lt;br /&gt; “Tapi semua ini perlu birokrasi, Cil”.&lt;br /&gt; “Lha, birokrasi itu kan diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk menyulitkan?”&lt;br /&gt; “Ah, kau ini makin pintar saja, Cil?”&lt;br /&gt; Kancil jadi kikuk. &lt;br /&gt; “Tapi, Sing, kawan-kawan sudah tidak betah lagi, makan sisa-sisa kelelawar dan burung”.&lt;br /&gt;Paginya, Singa menggelar rapat khusus.  Rapat dipimpin oleh Harimau.&lt;br /&gt; “Saudara-saudaraku, para binatang darat, melata dan mamalia, yang kami hormati”, Harimau membuka rapat.&lt;br /&gt; “Dalam surat edaran yang kami kirim satu hari lalu, tentu saudara, sudah mengetahui, apa tujuan kita di sini berkumpul. Yaitu membahas usulan Kancil dan kawannya, agar binatang sebangsa kita, tidak selalu makan buah sisa dari kelelawar. Dan pagi ini, rapat saya buka. Dan silakan, saudara memberi masukan atas gagasan ini”.&lt;br /&gt; “Mohon bicara pimpinan sidang”, Srigala membuka pembicaraan.&lt;br /&gt; “Apa usulmu, Sri?”&lt;br /&gt; “Saya bukan usul, tapi keberatan!”&lt;br /&gt; Majelis sejenak diam.  Mata para binatang tertuju pada Srigala.&lt;br /&gt; “Bagi saya, usulan agar binatang sebangsa kita tidak lagi mendapat sisa dari kelawar, itu tuntutan yang tidak masuk akal. Kita ini kan tidak punya sayap. Lagi pula, saya juga tidak pernah doyan yang namanya buah pohon beringin, saya ini makan daging kerbau, daging banteng…”&lt;br /&gt; “Interupsi pimpinan sidang!”, Kambing menyela pembicaraan.&lt;br /&gt; “Interupsi diterima, silakan, mBing!”&lt;br /&gt; “Pernyataan Srigala itu terlalu pribadi. Apa yang dikatakan itu, tidak lebih hanya menyangkut kepentingan individu, karena Srigala tidak pernah makan buah,! atau jangan-jangan, Srigala sudah melakukan konspirasi dengan para kelelawar dan burung…!”&lt;br /&gt; “ Itu tuduhan yang mengada-ada!” Srigala Protes.&lt;br /&gt; “Tenang..tenang…”, Pimpinan sidang menenangkan suasana rapat yang mulai tegang.&lt;br /&gt; “Ada usulan lain?”&lt;br /&gt; “Kalau saya begini”, Kucing hutan mencoba memberi gagasan. “Persoalan makan sisa dari kelelawar ini kan sudah lama. Kalau kita akan protes, kenapa kita tidak protes dengan Tuhan saja, kenapa kita diciptakan tanpa sayap”.&lt;br /&gt; “Konret! Konret…”. Teriak binatang yang lain.&lt;br /&gt; “Ya, maksud saya, kenapa kita tidak nyatakan perang saja, dengan bangsa burung dengan kelelawar. Siapa yang menang, nanti bisa menguasai pohon beringin, sekaligus bisa memiliki buahnya”.&lt;br /&gt;“Mohon bicara pimpinan sidang!” Kancil angkat bicara. “Usulan Kucing hutan terlalu ekstrim. Kenapa kita tidak lebih dulu melakukan pendekatan kultural saja. Yang perlu dilakukan pendekatan ersuasif, bukan represif. Sebab, kalau kita menyatakan perang, ini sama artinya, kita akan saling bunuh, sesama kita. Yang jadi korban, mungkin bukan para pejabat di ruang sidang ini, tetapi, binatang kecil, yang mungkin mereka tidak bersalah. Saya tidak setuju! Ini sama saja kita melakukan pembinasaan hak masyarakat kelelawar dan burung. Sekali lagi, perang hanya dimililki oleh  militer. Dan kita bukan militer!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan terus berlangsung seru. Ketegangan, adu argumen dan beragam kepentingan muncul dalam ruang sidang pansus. Tetapi, keputusan, akhirnya diambil dengan cara voting. Dan gagasan Kucing hutan, lebih mendominasi. Dengan sendirinya, keputusan akhir adalah melakukan perang dengan  bangsa kelelawar dan burung. &lt;br /&gt; “Payah, kucing hutan, terlalu banyak bergaul dengan para buaya, anak-anak singa dan anak harimau. Makanya dia usulannya ya represif”. Ujar Kancil menggerutu.&lt;br /&gt; “Ya wajar kan, kucing hutan dengan singa, harimau, itu kan punya selera yang sama. Belum lagi, kucing hutan kan sering mencarikan daging buat singa, harimau dan buaya. Ya sudah tentu, dalam rapat tadi, bangsa kita yang kecil kalah. Saya tadi kan sudah bilang, sidang ini jangan diputuskan dengan voting. Kalau voting pasti kita kalah.  Konspirasi mereka terlalu kuat”,  Ujar kambing hutan yang juga kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa boleh buat. Semua sudah menjadi keputusan sidang pansus. Mau tidak mau, semua binatang harus menerima. Sementara, semut, kadal,  ulat, hanya ancang-ancang mencari tempat bersembuyi, kalau-kalau saja, perang benar-benar terjadi.&lt;br /&gt; Di balik itu, ternyata, masyarakat kelelawar dan burung sudah dapat bocoran. Merekapun melakukan rapat singkat, mengatur strategi. &lt;br /&gt; “Kenapa tidak kita tolak saja. Ini pasti akan banyak membawa korban”. Kata Burung Jalak keberatan dengan istilah perang.&lt;br /&gt; “Ya tidak bisa. Ini sudah keputusan mereka. Kita harus hadapi”, Ujar Gagak seakan sudah siap  berperang dengan binatang darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun mengatur taktik sedemikian rupa. Dan mulai hari itu, mulai di data, semua binatang yang bakal masuk dalam pasukan perang. Kelompok binatang tebang, dipimpin oleh Burung Elang. Sementara, dari pihak binatang darat,  melata dan mamalia dipimpin langsung oleh Harimau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran dimulai. Di balik kesibukan panitia menerima pendaftaran. Pimpinan Kelelawar menyusup ke kawasan binatang darat. &lt;br /&gt; “Saya kelelawar, ingin mendaftarkan diri, bergabung dengan kalian”, Ujar Kelelawar di hadaoan Harimau.&lt;br /&gt; “Lho, ya tidak bisa. Kau kan masuk dalam binatang  yang terbang”.&lt;br /&gt; “Tapi, saya punya kesamaan dengan kalian. Saya ini kan beranak. Jadi sekalipun saya binatang terbang macam burung, tetapi, saya binatang mamalia juga. Sama seperti kalian”.&lt;br /&gt; Harimau berpikir sejenak. Ia berbisik dengan panitia yang lain. &lt;br /&gt; “Tapi bagaimana di kelompokmu? Apa tidak akan di protes?”&lt;br /&gt; “Ah, itu kan urusan saya. Tenang saja, mereka tidak bakal tahu, kalau saya ikut bergabung di sini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, di kelompok bangsa burung, kelelawar, juga didaftar sebagai pasukan inti. Dan bangsa burung pun tidak protes. Sebab, kelelawar memang masuk dalam binatang yang terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat hari jadi berperang, masing-masing kelompok belum masuk ke arena perang.  Keduanya masih menunggu kedatangan satu pasukan. Apalagi kalau bukan kelompok kelelawar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan ini, mendorong Harimau mengutus  Kancil untuk menunda perang, karena masih menunggu pasukan kelelawar.&lt;br /&gt; “Maaf, saya utusan dari bangsa binatang darat, meminta agar perang ini ditunda sesaat. Sebab kami masih menunggu, pasukan kelelawar”.&lt;br /&gt; “Ha!” Semua binatang bangsa burung terkejut.&lt;br /&gt; “Kenapa?” Tanya Kancil heran.&lt;br /&gt; “Kami juga sedang menunggu pasukan kelelawar”.&lt;br /&gt;Mendengar laporan itu, baik kelompok  Elang dan kelompok Harimau menjadi geram.  Keduanya merasa dipermainkan oleh kelelawar.   Sebab, sampai dua hari, meraka kemudian harus  mencari kelelawar. Kedua kelompok ini, tidak kurang kalah pintar. Mereka menghadang, di tempat biasa kelelawar mengambil makanan. Dimana lagi kalau bukan di kawasan pohon beringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat, kelelawar sedang pesta pora, memakan buah pohon beringin yang sedang dipersengketakan.&lt;br /&gt; “Turun kau kelelawar!” Bentak Gagak hitam geram.&lt;br /&gt; Semua kelelawar ketakutan. Perlahan, meraka turun.&lt;br /&gt; “Kurang ajar Kau kelelawar! Kau sudah menangguk keuntungan, di tengah kericuhan ini.  Kau sudah menodai bangsa binatang yang terbang. Kau mau enak sendiri. Dan membiarkan kami perang! Cuih!”&lt;br /&gt; “Sekarang begini, kawan-kawan!” Elang, mencoba memberi penjelasan ke semua bangsa binatang. “Kali ini, Kelelawar telah melakukan kesalahan. Sekalipun dia menyelamatkan kita dari peperangan, sekarang kita tahu, watak kelelawar. Ternyata, kelelawar, hanya akan mencari keuntungan, di balik perseteruan kita.  Ideologi kelelawar, yang mau cari keuntungan dari kerusuhan ini, harus dibunuh. Ini mentalitas yang sama sekali tidak bisa diterima oleh siapapun. Sebab, siapa saja yang bermental seperti kelelawar, pasti akan membuat keonaran, tetapi di balik semua itu, dia akan mengambil keuntungan, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya”.&lt;br /&gt; “Yang terpenting adalah, kita bagun kesadaran universal, dan bukan kesadaran sektarian kayak kelelawar”, Teriak Kancil.&lt;br /&gt; “Lalu hukuman apa yang akan ditimpakan kepada kelelawar?”, Tanya Kambing hutan.&lt;br /&gt; “Nah, karena kita ada dua kelompok, hukuman ini bisa diberikan dari kedua belah pihak”, Harimau memberi jalan keluar.&lt;br /&gt; “Oke, sekarang dari pihak binatang darat dulu”.&lt;br /&gt; “Baik, kalau begitu, kami sepakat, menghukum kelelawar, tidak boleh keluar siang. Dia hanya boleh keluar malam saja”, Ujar Singa mewakili binatang darat, melata dan mamalia.&lt;br /&gt; “Dari  kami, hukumannya, kelelawar, harus tidur tergantung dengan kaki diatas”, Ujar Elang mewakili bangsa burung dan biantang yang terbang. &lt;br /&gt;Mulai hari itulah, Kelelawar, hingga sekarang, hanya keluar malam, dan setiap tidur, dia harus bergantung dengan kaki diatas. &lt;br /&gt;Tetapi, sepertinya, hukuman ini,  tak memudarkan bangsa kelelawar, untuk menyebar ideologinya. Hingga sekarang, negeri ini, masih banyak dihuni oleh manusia-manusia yang punya ideologi kelelawar. Mencari keuntungan dari kerusuhan dan konflik sesama, demi keuntungan pribadi. Dasar negeri kelelawar. Mestinya, mereka juga harus dihukum seperti kelelawar.  (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DL.Daun – Palembang, akhir Juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-3393919039668049879?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/3393919039668049879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=3393919039668049879&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3393919039668049879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/3393919039668049879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/negeri-kelelawar.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Negeri Kelelawar&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vrWRfd7VI/AAAAAAAAAHY/2wYu9n9_j7A/s72-c/fruit_bat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-2700750374714695715</id><published>2010-01-11T16:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T19:08:42.063-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>YANG TERHORMAT HAJI FEODAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vnmJxcf-I/AAAAAAAAAHI/WwYyV0P9Exg/s1600-h/arafah01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vnmJxcf-I/AAAAAAAAAHI/WwYyV0P9Exg/s320/arafah01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425684818742247394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Harga kopi merangkak naik. Warga Desa Sukaningrat bersuka ria. Sebagian warga ada yang mengadakan acara khusus di rumahnya dengan membaca Suroh Yasin sebagai bentuk syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa. Gelak tawa dan suka cita ini sekaligus mengembalikan semangat warga Desa Sukaningrat untuk kembali merawat kebun kopi yang beberapa tahun mereka lakukan tanpa harapan. Raut wajah sumringah dan menebar senyum petani kopi Desa Sukaningrat telah menghibur mereka, setelah dalam kurun waktu 10 tahun mereka didera oleh anjloknya harga kopi. Pasca kepemimpinan Presiden Habibie harga kopi sempat terpuruk hingga Tiga Ribu Rupiah per kilogramnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak warga Desa Sukaningrat yang kemudian harus banting setir menyulap kebunnya dengan menanami Palawija. Tetapi keuntungannya tidak sebanding dengan hasil kopi. Mereka akhirnya hanya hidup segan mati tak mau.&lt;br /&gt; Derai air mata petani kopi kini telah usai. Mereka pantas tersenyum lega. Setiap warga bisa menikmati hasil antara 15 juta dalam setiap satu hektarnya. Sementara, warga Desa Sukaningrat mayoritas memiliki lahan kopi lebih dari 3 hektar. Sungguh, ini menjadi jawaban kesabaran yang mereka tahan selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt; Dari hasil kopi, ada sekitar 40 warga yang kemudian menunaikan ibadah haji ke Kota Makkah Mukarromah. Ritual keagamaan mereka lakukan saat mereka pulang kembali ke Desa Sukaningrat. Tidak disangka, dalam waktu relatif singkat, di Desa Sukaningrat yang dikenal rawan kriminalitas kini berubah menjadi “Desa Santri” Betapa tidak? Adanya 40 orang yang kemudian menulis di depan namanya dengan “haji” menjadi simbol ketokohan seseorang, terutama dalam bidang agama. Mereka merasa banga dengan gelar itu.&lt;br /&gt;“Apa? Ketokohan?! Penguasaan ilmu agama?!” Abah mencibir pada gelar itu. “Saya tidak akan menggunakan gelar haji, meskipun saya sudah 2 kali pergi ke Makkah, jauh sebelum 40 orang itu berangkat ke Makkah,” Abahku protes keras &lt;br /&gt;dengan rencana pertemuan 40 haji yang baru saja pulang di Balai Desa.&lt;br /&gt;“Lim, coba kamu pikir! Gelar haji itu bukan gelar istimewa. Pergi ke Makkah bukan hanya sekedar ingin mendapat gelar haji setelah pulang ke Indonesia! Tapi gelar haji sebuah pertanggungjawaban moral, bagaimana sikap muslim dalam menyikapi hidup ini dengan lebih bijak, lebih arif dan lebih manusiawi setelah mereka pulang!” suara Abah makin meninggi. Wajahnya menunjukkan kekecewaan terhadap sebagian haji yang hanya bangga dengan gelarnya. Dadanya serasa penuh. Kalau sampai meledak, mungkin dapat menghempaskan semua isi rumah. Tangannya mengepal menekan permukaan meja. Emosinya seperti menyalur kebeberapa sudut meja. Air teh tadi sore juga ikut bergetar. Abah seperti seperti dendam Ikan Paus terhadap Ikan Hiu yang memakan anaknya. Dalam posisi itu, sebaiknya aku harus menjauh. Tapi kalau itu aku lakukan aku bisa menjadi sasaran amarahnya.&lt;br /&gt; “Kalau setiap orang pulang dari Makkah digelari haji, kenapa jutaan orang muslim yang syahadat, shalat, zakat, puasa tidak disebut Bapak Syahadat, Tuan Shalat Hasan! Yang terhormat Bapak Zakat Hasan dan Bapak Puasa Hasan! Yang ada Haji Hasan! Kenapa hanya haji yang mereka letakkan di depan nama mereka?!" &lt;br /&gt; “Mungkin karena Haji harus mengeluarkan uang banyak, sehingga mereka…!”&lt;br /&gt; “Brak!” Abah menggebrak meja. Aku terkejut. Aku jadi sasaran kali itu.&lt;br /&gt; “Lim, dengar oleh kamu. Uang yang diserahkan itu untuk biaya transportasi dan keperluan di Makkah, bukan untuk membeli haji!” Abah menatapku tajam.&lt;br /&gt;“Abah mau minum air putih?” kataku meredakan emosinya. Abah tak menolak saat kemudian aku menuangkan air putih dan menyodorkan di hadapannya. Syukur Alhamdulillah, Abah kemudian menenggak air putih sampai tak tersisa setetespun. Melihat caranya minum, Abah seperti orang yang baru saja menahan puasa tiga hari tiga malam. Untung gelas yang dipegang tidak remuk oleh getaran emosinya.&lt;br /&gt; “Astaghfirullahaladziiim,” beberapa kali Abah mengucap istighfar, mohon ampunan kepada Tuhan. Ia sadar kalau emosinya telah mengundang syetan di ballik jantungnya. Ia menengadahkan kedua tangannya keatas. Aia setengah menyesal.&lt;br /&gt; Ia sodorkan lagi gelas kosong padaku. Kutuangkan lagi. Untuk kali kedua, Abah menenggak air putih sampai tak tersisa. Ia menghela napas. Aku lega. Air putih itu ternyata telah sedikit mengurangi ketegangan otot syaraf di kepala Abah. Mungkin tidak salah jika aku mulai lagi dengan perdebatan yang lebih dingin. Kucoba mencari kalimat rendah, agar emosi Abah tak naik lagi.&lt;br /&gt;“Bah, menurutku, kita tidak mungkin bisa merubah tradisi itu, Bah,” kataku pelan. Aku berharap dengan kalimat ini tidak menaikkan spaning. “Bukan di kampung ini saja, Bah. Tetapi di semua pelosok tanah air Indonesia ini, gelar haji seakan menjadi gelar istimewa. Setiap haji kemudian diberi hak untuk memimpin kegiatan keagamaan, walaupun sebenarnya mereka tidak menguasai. Dari menjadi imam shalat, berdoa, sampai menjadi khotib jumat,” kataku setengah mengamini pendapat Abah.&lt;br /&gt; “Nah, itu yang Abah maksud, Lim,” pancinganku kena kali ini. Abah tak pula terlalu emosi. Kali ini bicaranya lebih dingin dari sebelumnya. Nadanya rendah. Kecerdasan emosional Abah baru mulai tampak. Detak jantungku juga reda.&lt;br /&gt; “Penguasaan ilmu agama, alim atau tidak alim itu bukan diukur dari gelar haji. Sebab mereka berangkat ke Makkah untuk memenuhi panggilan Allah, bukan untuk mendapat gelar haji. Setelah pulang, bukan berarti kemudian mereka harus diangung-agungkan.  Tapi itulah Lim, bisa kau lihat sendiri, kan? Saat ini masih banyak orang menyandang gelar haji, tapi masih juga korupsi. di Makkah, mereka melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syetan. Tetapi setelah pulang ke Indonesia, mereka berkawan lagi dengan syetan,” Abah seperti ustadz sedang berceramah di masjid.&lt;br /&gt; “Tapi kenapa gelar haji di Indonesia ini seperti sesuatu yang sakral, Bah,” aku memperlebar pembicaraan. &lt;br /&gt; “Belanda sudah lama meninggalkan kita. Jadi negeri ini tidak perlu mewarisi tinggalan Belanda itu!,” kalimat Abah melenceng jauh dari pertanyaanku. Aku bertanya soal haji, mengapa Abah bercerita tentang Belanda. Sesaat aku diam. Abah menatapku. Ia kemudian tertawa lebar. Aku makin tidak mengerti. Abah tahu persis kalau aku sedang bingung kali itu.&lt;br /&gt; “Belanda?!” aku bertanya pelan. Aku masih menunggu ucapan lanjutan dari mulut Abah. Kali kedua Abah tertawa lebar. Mulutnya masih mengepulkan asap rokok. Ia bangkit. Kali ini Abah duduk lebih dekat. Ia raih bahu kiriku. Seperti ada pesan serius yang akan ia sampaikan. Mataku mengikuti gerakan Abah, sampai ia duduk di dekatku.&lt;br /&gt; “Lim, berapa lama Belanda menjajah kita?”&lt;br /&gt; “Kalau menurut sejarah di buku 350 tahun,” jawabu pendek.&lt;br /&gt; “Lalu berapa lama negeri ini dijajah oleh bangsa asing?”&lt;br /&gt; “Maksud Abah?” aku makin penasaran.&lt;br /&gt; “Belanda, Jepang menjajah kita dihitung oleh sejarah dengan bilangan angka. Tetapi penjajahan bangsa asing setelah itu tak terhitung dengan urutan matematika,” aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan Abah.&lt;br /&gt;  “Penjajahan 350 tahun dan Jepang 3 tahun. Itu penjajahan yang berbentuk fisik. Mortir, bom dan mesiu, dor..dor..tembak!, itu yang 350 tahun, Lim,” Abah menjelaskan dengan gaya teaterikal. Ia peragakan bagaimana para pejuang menembak mati Belanda. Abah seperti sedang kembali pada masa lalunya, saat bergerilya bersama Panglima Jenderal Sudirman melawan Kolonial Belanda dan Jepang.&lt;br /&gt; “Lantas apa hubungannya haji dengan Balanda, Bah?” aku mengembalikan tema pembicaraan yang menurutku melenceng jauh.&lt;br /&gt;“Walaupun kata orang kita sudah lepas dari penjajah, tapi sebenarnya sampai saat ini kita masih terjajah, Lim. Penjajahan sekarang tidak bisa dihitung dengan angka-angka,” Abah masih menceritakan penjajah. Lantas bagaimana hubugannya dengan haji? Aku berpikir keras untuk mencari titik temu antara haji dan Belanda.&lt;br /&gt;“Penjajahan pemikiran dan ideologi, sampai saat ini masih begitu mengakar. Kita lepas dari mortir, bom Belandadan Jepang! Tapi perilaku, pola pikir dan cara pandang, tata budaya kita masih seperti Belanda. Dan salah satu warisan itu bernama, Haji!” Abah bicara sangat dekat dengan telingaku. Ia seakan menekankan kalimat “haji” sebagai inti pokok persoalan yang ingin ia sampaikan padaku.&lt;br /&gt;“Haji!?” aku masih penasaran.&lt;br /&gt;“Yap! gelar haji adalah warisan feodalis Belanda,” tegas Abah tanpa ragu. &lt;br /&gt;“Jutaan orang Islam pergi ke Kota Makkah menunaikan ibadah haji. Tetapi hanya Indonesia saja yang kemudian digelari haji oleh masyarakat. Di Negara lain, mana ada gelar haji, Lim!” Abah melebarkan bibirnya hingga tampak sebagian giginya yang hitam kuning-kuningan akibat terlalu lama Abah mengisap nikotin.&lt;br /&gt;“Abah kok jadi ngelantur?” &lt;br /&gt;“Masyarakat kita yang ngelantur, akhirnya salah kaprah dengan gelar haji,” kata Abah ringan. Aku menunggu argumentasi Abah tentang tuduhan haji sebagai warisan Belanda. Tapi Abah masih diam memandangku. Abah makin mengaduk-aduk otakku kali itu. Aku masih penasaran.&lt;br /&gt;“Pendapat Abah ini bisa membuat orang marah, Bah. Sebab sampai saat ini hampir tidak ada yang tahu kalau haji itu warisan Belanda,” aku memancing argumentasi Abah. Ingin aku segera mendegar penjelasan Abah. Sebab ini adalah kabar baru yang tak pernah kudapat sebelumnya.&lt;br /&gt;“Itulah pentingnya belajar sejarah, Lim. Tapi berapa banyak masyarakat kita yang peduli dengan sejarah? Malah sebaliknya, sebagian orang sedang berusaha membunuh dan memutarbalikkan sejarah. Soeharto dengan penumpasan PKI, sedang membunuh sejarah perjuangan Soekarno, dengan tuduhan Soekarno terlibat PKI. Bagaimana mungkin Soekarno melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri, sementara dia sedang dalam posisi sebagai presiden seumur hidup? Kalau mau, Soekarno kan bisa saja memecat para jenderal yang tidak satu jalan dengan dia, tidak mesti dibunuh! PKI yang dituduh sebagai otak pemberontakan, mengapa dia tidak siap saat dilakukan penangkapan oelh Soeharto!? Mestinya, dengan jumlah 3 juta anggotanya, PKI bisa melakukan perlawanan. Tapi ini tidak, Lim!?” kalimat Abah makin tidak fokus. Abah makin liar. Kalau dibiarkan, akan menaikkan spaning Abah. Wajahnya sudah mulai serius. Sebentar lagi Abah akan kembali ke masa lalunya. Dendam terhadap Belanda itu bisa meledak di rumah ini seketika. Gawat!&lt;br /&gt;“Bah, Abah tu cuma minum teh dan air putih. Tapi kenapa Abah jadi seperti orang mabuk. Sampai-sampai cerita PKI-lah, Sorekarno-lah. Yang kita bahas ini Haji! Haji, Bah!” aku makin kesal dengan Abah yang makin tidak jelas. Tapi dengan kalimat ini aku ingin mengambalikan ingatan Abah.&lt;br /&gt;“E, iya. Sori. Abah terlalu ngelantur. Tadi apa? Haji?”&lt;br /&gt;“Iya Haji itu warisan Belanda. Jadi Belanda sengaja menerapkan strategi politik struktural feodalistik dengan gelar-gelar ningrat dan gelar haji,” Abah kembali pada kesadarannya.&lt;br /&gt;“Kenapa Belanda melakukan itu, Bah?” &lt;br /&gt;“Ini untuk memudahkan Belanda dalam memetakan para tokoh, siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh. Kalau diantara mereka melakukan pembelotan bersama rakyat terhadap pemerintah Kolonial Belanda, dengan mudah Belanda menciduk dan mengasingkan mereka. Makanya, beberapa tokoh agama di negeri ini yang menggali ilmu ke Mesir, Kairo dan sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah, setelah pulang disambut oleh Belanda dengan penobatan gelar haji. Anehnya, masyarakat kita menerima saja. Mereka tidak berpikir kalau gelar ini adalah perangkap Balanda. Ya, sama dengan gelar ningrat. Siapa yang mendapat gelar haji atau gelar ningrat, dalam setiap pertemuan akan menjadi tamu kehormatan. Keturunan mereka diberi hak untuk ikut sekolah Belanda. Setiap bulan mereka mandapat semacam gaji bulanan sebagai bentuk penghargaan. Ini kata mereka!” api kebencian terhadap Belanda itu mulai meranjak ke ubun-ubun Abah. Mata Abah mulai membulat seperti purnama. Tapi sinarnya tidak terang kekuning-kuningan. Ia memerah seperti matahari yang hendak tenggelam diufuk barat.&lt;br /&gt;“Bah! Abah!” seseorang memanggil dari luar. Aku bersyukur. Suara itu kemudian membuyarkan api dendam yang hampir membara. &lt;br /&gt;“Nanti malam, Abah diminta mengukuhkan haji di Balai Desa,” Udin bicara tak melihat suasana emosi Abah.&lt;br /&gt;Abah memandang Udin serius. Udin jadi kikuk. Bibirnya gagap seperti tersangka sedang diperbal polisi. Bola matanya melompat-lompat kearah Abah dan kearahku secara bergantian. Udin menunggu jawaban Abah. Tak ada suara dari bibirnya. Abah melangkah lebar meninggalkan kami. Aku dan Udin hanya saling pandang. Kami tidak mengerti dengan sikap Abah. Sesaat kami berbincang seadanya mengisi suasana yang gagu. Tak lama Abah kembali. Selembar kertas diserahkan pada Udin. Ada tulisan besar di atasnya; “Atas nama kebencian terhadap Belanda, saya gelari anda sebagai Haji Feodal!” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTN Krg. Asam - Tanjung Enim, &lt;br /&gt;21 September 2008 M&lt;br /&gt;21 Ramadhan 1429 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-2700750374714695715?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/2700750374714695715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=2700750374714695715&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2700750374714695715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2700750374714695715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/yang-terhormat-haji-feodal.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;YANG TERHORMAT HAJI FEODAL&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0vnmJxcf-I/AAAAAAAAAHI/WwYyV0P9Exg/s72-c/arafah01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-843651267599744161</id><published>2010-01-11T10:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T10:13:50.721-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Seekor Belut </title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0tqP-CoyhI/AAAAAAAAAF4/-TAKRuHP_KM/s1600-h/anguilla-japonica-japanese-eel-belut-jepang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0tqP-CoyhI/AAAAAAAAAF4/-TAKRuHP_KM/s320/anguilla-japonica-japanese-eel-belut-jepang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425546998682536466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seekor belut. Kata orang, aku ini  seperti ular. Badanku panjang. Bedanya, kalau ular, memiliki kulit yang bervariasi. Sedang aku, lebih didominasi oleh warna cokelat tua. Dan sisi paling bawah dari badanku agak kekuning-kuningan. Kepalaku seperti peluncur dalam permainan catur. Kata John, orang sebelahku, mahluk seperti aku sulit yang sulit dipegang, apalgi ditangkap. Bukan apa-apa. Sebab, sekujur tubuhku memang mengandung lendir yang sangat licin. Dengan lendir di sekujur tubuhku, aku bisa leluasa untuk berkelit. Memutar badan, ke kanan dan ke kiri. Atau memutar, sehingga aku bisa lepas dari jeratan apapun. Sehingga, tidak semua orang bisa menangkapku. &lt;span class="fullpost"&gt; Selihai seorang pawang binatang, mungkin, tidak akan semudah itu bisa menjeratku. Sekalipun, sesekali, aku ditangkap, lalu dibantai lalu digoreng. &lt;br /&gt;Bahkan di Magelang atau di Yogyakarta, aku sudah menjadi komoditi non migas. Dijual di berbagai toko. Dibungkus sedemikian rupa. Lalu ditempel dengan harga bersaing. Tetapi, sekali lagi. Aku tetap saja seekor belut. &lt;br /&gt;Sampai kini, aku juga masih menjadi belut. Tak tahu persisnya, kapan aku mulai berada di Indonesia. Konon, aku berasal dari negeri cina. Bahkan, menurut teman-temanku, di negeri Tionghoa ini, aku dibudidayakan. Diternakkan, dan diperjual belikan. Hingga akhirnya, aku sampai di Indonesia. Di negeri Pancasila ini, aku ditumbuh kembangkan di wilayah Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya. Di dua kota ini, aku kemudian berkembang di setiap kawasan sawah. Bagi para pembajak sawah, akan selalu bertemu dengan aku. Dan pada malam hari, tidak jarang, para warga sekitar, sering mencari dan memburuku untuk lauk di meja makan. Kata, salah satu pakar belut, aku ini punya gizi tinggi. Sekalipun, aku masih kalah dengan gizi sapi atau ayam. &lt;br /&gt;Di  dua kota ini, aku sudah masuk di super market atau pasar swalayan. Kadang aku dibuat keripik, atau semacam peyek. Dan tidak jarang, aku juga banyak dijumpai di hotel-hotel kawasan Yogyakarta dan Magelang. Bahkan, aku kini sudah menjadi komoditi ekspor non migas. Tetapi, di kota lain, seperti Palembang.  Aku justeru menjadi mahluk yang kurang digemari. Sebab, pamorku masih kalah dengan ikan seluang,  Betok, ataupun ikan Patin. Tetapi, kurang gemarnya warga palembang untuk menjadikanku sebagai bahan tambahan ekonomi Sumsel, tidak membuatku merasa terusir dari Palembang. Teman-teman sebangsaku di air dan di lumpur, cukup toleran dengan kehadiranku.  Kami tak kenal pembedaan perlakuan. Kalau pun harus bertengkar, itu hanya sebagai warna hidup dalam komunitas kami. &lt;br /&gt;Aku hanya seekor belut. Aku hidup dalam ketergantungan cuaca. Pada musim hujan tiba, aku sering muncul di pojok-pojok selokan. Atau muncul di permukaan sawah. Bahkan tak jarang, aku muncul juga di bawah rumah panggung yang permukaanya lembab. Hadirnya aku di bawah kolong, kadang-kadang menjadi incaran para mahasiswa yang kebetulan kost, tempat aku bersembuyi. Kalau senja menjelang, para mahasiswa mengintai rumahku, lalu memasukkan kail penjerat. Untuk kemudian, aku akan dijadikan lauk pada malam harinya. Katanya sih, untuk membantu tambahan gizi. Paginya, aku sudah berubah menjadi tinja, setelah sebelumnya, aku harus bercampur aduk dengan segala makanan di perut.  Tetapi, aku masih saja seekor belut, yang hanya bisa hidup di tempat-tempat basah atau sedikit lembab, mengandung air. Kalau musim kemarau tiba, aku segera membenamkan diri ke dalam perut bumi.  Menyembunyikan diri, sambil menunggu musim hujan tiba. Hanya sesekali aku keluar ke permukaan. Ya, hanya sekedar membantu pernapasan, demi kelangsungan hidup di dalam tanah. Tapi celakanya, aku juga tidak jarang tertangkap oleh para pencaribelut. Sebab, di kawasan Magelang, paling tidak satu Minggu sekali, apalagi jika purnama tiba. Banyak para pencari ikan yang kemudian mengalihkan buruan. Siapa lagi kalau bukan aku yang menjadi sasaran. Tersiksa memang, tetapi itulah caraku untuk mentaati hukum alam. Karena Tuhan telah menciptakanku menjadi belut. Seperti  juga kambing punya cara sendiri untuk mentaati titah Tuhan. Setiap hari raya Kurban, setiap kambing harus bersedia untuk dipotong, sebagai bentuk kedekatan manusia pada Sang Pencipta. &lt;br /&gt;Aku masih tetap seekor belut. Aku hidup seperti mahluk yang lain. Tetapi, aku tak pernah menjalani perkawinan seperti hewan lain, kecuali bekicot, atau hewan sejenisku. Kapan saja, dimana saja, aku bisa saja melakukan persenggamaan. Tak perlu harus menunggu lawan jenis untuk mendekatiku--lalu melakukan persenggamaan, seperti halnya manusia. Aku adalah hewan hermaprodit. Memiliki dua kelamin. Jadi, aku tak mesti susah-susah jika aku sedang menginginkan naluri kebinatanganku. Bagiku, hubungan badan bukan semata-mata hanya untuk mengumbar naluri hewani. Namun, bagiku, persenggemaan kewajiban. Dan ini adalah fitrah setiap mahluk hidup. Secara simbolis, Tuhan telah menciptaku dengan dua kelamin. Itu artinya, kami juga tidak kenal dengan perzinaan. Hanya manusia saja yang kadang-kadang tidak bisa menahan ekor kebinatangannya, lalu tanpa sadar, manusia sering meniru-niru caraku, atau tidak jarang mereka juga memposisikan sebagai binatang hermaprodit. Melakukan persenggamaan dengan dirinya sendiri. Ah, dasar manusia! &lt;br /&gt;Aku hanya seekor belut. Sulit ditangkap. Pintar berkelit. Jika aku dalam jeratan, aku akan mengecilkan badan. Ini adalah caraku untuk lepas dari dekapan. Diatas wajan penggorengan pun, aku masih menggeliat. Aku memang pintar mencari celah untuk berlari dari ranjau. Setiap ada rencana penagkapan, akan kugunakan segala cara, untuk lepas dari perangkap. Bahkan diatas wajan penggorengan pun, aku masih mencoba menggeliat, untuk melompat dari panasnya minyak dan bara api. Memang, ini adalah pekerjaan sia-sia. Tetapi, selagi ada kemampuan untuk berlari, aku akan terus berkelit, berputar, mengecilkan badan, membelit atau juga menggigit. Kecuali, jika  Tuhan sudah memintaku untuk kembali. &lt;br /&gt;Aku hanya seekor belut. Bisa dikata, aku juga hewan yang mudah kompromi. Dalam air, aku bisa renang,  dalam arus besar sekalipun. Apalagi dalam riak-riak yang kecil. Dalam setiap cara aku bisa bermain. Tetapi, tidak pada setiap cuaca aku bisa hidup. Sebab, sekali lagi, aku hanya hewan yang hidup di tempat yang basah. Jadinya, aku tak pernah bermain di tempat yang kering. Aku tahu, cuaca kemarau yang kering, hanya akan melemahkanku, atau bisa juga akan membunuhku. Makanya, aku memilih tempat yang basah, ya paling tidak pada tempat yang lembab, supaya aku tetap bisa survive.&lt;br /&gt;Aku hanya seekor belut. Aku bisa bermain culas. Bis lebih culas dari seekor Kancil. Aku juga bisa menipu. Bisa lebih pintar dari labi-labi atau kura-kura yang sering menipu menjadi batu. Aku licin. Lebih licin dari ular, ikan, lintah atau pacet. Dalam setiap gerakan tipu, aku  sulit terperangkap oleh jeratan.  Sebab, aku pintar bermain. Bisa berteman dengan semua jenis ikan sungai. Kalau sudah terpojok, aku juga sering menggunting dalam lipatan, demi kelangsungan hidup di komunitasku. Itulah aku,  yang kini tetap menjadi belut.&lt;br /&gt;Aku hanya seekor belut. Kemarin, aku tertangkap. Dibantai. Perutku dibedah. Seluruh isi dikeluarkan. Dicuci dan digarami. Pedih!&lt;br /&gt;“Boleh saja kalian membantaiku, namun, aku akan tetap ada”.&lt;br /&gt;Ayah bengong mendengar suara itu.&lt;br /&gt;“Siapa yang berkata barusan?”&lt;br /&gt;Ayah bertanya-tanya.&lt;br /&gt;“Aku!”&lt;br /&gt;“Siapa?”&lt;br /&gt;“Aku, belut yang ada dalam ember!”&lt;br /&gt;“Tak mungkin. Tak mungkin. Kau sudah mati!”&lt;br /&gt;“Ya aku memang sudah mati. Tetapi cara hidupku, dan semua kepintaranku bermain dalam arus apapun, sudah menjelma kepada setiap manusia!”&lt;br /&gt;“Manusia yang mana? Aku tidak!”&lt;br /&gt;“Aku ada dalam tubuh para poitisi!”&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Para ekonom, bisnisman, preman, bisa para petinggi negara dan...”&lt;br /&gt;“Blek..blek!..”&lt;br /&gt;Sebuah benda keras kembali memukulku. Aku mengeliat.&lt;br /&gt;“Kau pukul aku? Tak ada artinya. Sebab aku tetap seekor belut”&lt;br /&gt;“Blek...blek!”,  Kali ini Ayah memukul lebih keras.&lt;br /&gt;Aku mati. Dan mungkin, aku hanya hidup dalam setiap watak setiap mahluk. Termasuk juga manusia. Keculasan, pintar berkelit, mencuri lendir pelicin, mudah kompromi, dengan setan sekalipun. Selagi itu menguntungkan aku. Kenapa? Sebab aku seekor belut. **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkatan45-Palembang, Januari  2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-843651267599744161?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/843651267599744161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=843651267599744161&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/843651267599744161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/843651267599744161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/seekor-belut.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Seekor Belut &lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0tqP-CoyhI/AAAAAAAAAF4/-TAKRuHP_KM/s72-c/anguilla-japonica-japanese-eel-belut-jepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-2501945663970795094</id><published>2010-01-11T09:56:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T10:06:58.627-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Nyanyian Hutan Perawan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0topAdyk5I/AAAAAAAAAFw/0ereJdBkDss/s1600-h/forest12.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0topAdyk5I/AAAAAAAAAFw/0ereJdBkDss/s320/forest12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425545229806769042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi menjelang fajar aku sudah berkemas. Jaket, parang, pisau pinggang, minyak, lampu, korek, botol minum, dan sedikit singkong rebus sudah masuk kedalam ransel. Kuputuskan, pagi itu, aku harus pergi ke hutan. Aku tidak bisa terus menerus hidup dalam perkampungan yang pengab. Suhu udara, suhu politik dan suhu kebudayaan di kampungku tak bisa membuatku tenang lagi. Aku harus pergi!&lt;br /&gt;"Pagi-pagi buta seperti ini kau akan pergi?", Tanya Non, yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Er masih pakai telekung. Ia sepertinya baru saja pulang dari surau. Non adalah salah satu perempuanku dari golongan ningrat yang gagal kunikahi lantaran dulu aku tak mampu membeli kain songket dan membayar maskawin. &lt;br /&gt;"Lebih cepat lebih baik. Sebab sebentar lagi orang kampung akan segera berhambur keluar. Dan aku tak mau dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh mereka. Kujelaskan sedetil apapun, mereka juga tidak akan tahu, kenapa aku harus pergi ke hutan". &lt;br /&gt;Non, masih terpaku. &lt;br /&gt;"Tetaplah hidup dengan suamimu di sini. Tak ada gunanya kau melarangku pergi". &lt;br /&gt;"Lalu bagaimana dengan aku?", sebuah suara muncul dari arah belakang. Tiba-tiba saja Hay muncul menyela pembicaraan aku dan Non. &lt;br /&gt;Hay, adalah perempuan keduaku, yang belum sempat kunikahi, lantaran sampai tahun ini orang tuanya masih bersikeras untuk menyuap seorang pegawai kabupaten agar Hay menjadi PNS. Makanya, aku tetap bertahan untuk menolak menikah, sampai Hay mengharamkan suap. &lt;br /&gt;"Kau tidak sendirian disini, Hay. Banyak orang yang akan melindungimu. Semua akan menjagamu". &lt;br /&gt;"Apa keputusanmu sudah bulat, Nak?", Ibuku ikut muncul tak mau ketingalan melepas kepergianku.&lt;br /&gt;Ibuku, adalah perempuan yang kuangungkan di alam raya ini. Tanpa darah, keringat dan air mata ibu, aku takkan lahir. "Ini sudah menjadi tekadku Bu," jawabku dengan suara lebih pelan dan--aku mendengarnya sendiri-- tak terlalu meyakinkan seperti kepada Non dan Hay.&lt;br /&gt;"Tapi, hutan bukan duniamu?". &lt;br /&gt;"Tidak Hay, semua milik Tuhan. Dan kita berhak hidup dimana kita suka. Di hutan, akan kutemukan kedamaian dan kejujuran. Di hutan, aku akan temukan kesejukan angin yang bersih dari cerobong pabrik, dan telingaku akan lepas dari bisingnya mesin, atau kasak-kusuk aksi suap menyuap dalam suksesi Bupati, Walikota dan Gubernur". &lt;br /&gt;"Kalau hanya itu alasanmu, kenapa kau mesti ke hutan? Apa ini bukanlah sikap kerdilmu, untuk menghindar dari kekalahan?" &lt;br /&gt;"Cukup Hay! Biarkan aku pergi. Jangan seperti orang kampung ini, yang tak mau lagi peduli, bagaimana menempuh perjalanan panjang untuk perubahan". &lt;br /&gt;Ketiga perempuan itu hanya terpaku.&lt;br /&gt;"Bu, dan kepada kalian berdua, Hay dan Non, aku pergi. Fajar akan segera tiba. Dan katakan pada ayah, akau akan kembali". &lt;br /&gt;Tepat jam lima pagi, aku sudah keluar dari dusun. Aku tidak akan pusing lagi dengan sapaan basa-basi dari orang-orang dusun. Kalau aku terus berjalan, berarti pada sore nanti, aku sudah sampai di hutan, tempat aku akan bercengkerama dengan alam. &lt;br /&gt;Matahari mulai memancar dari ujung timur. Embun yang menempel di dedaunan perlahan mengering. Berapa butir peluh sudah membasahi tubuhku. Entah berapa kali, aku harus menyeka keringat yang mengalir dari pinggir kening. &lt;br /&gt;Sesaat, aku harus berhenti untuk turun minum. Pada sebuah lereng aku berhenti. Beberapa potong singkong rebus sudah masuk dalam perut. Beberapa teguk air, sudah berhasil mengusir rasa haus yang beberapa jam tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus melangkah. Tak sesiapa yang kutemui. Sesekali, hanya ocehan burung yang terdengar samar. &lt;br /&gt;Seekor Elang terlihat sedang mengejar induk Pipit. "Wush!", Elang berhasil menyambar burung induk Pipit. Tak ada perlawanan, karena Pipit hanya sendirian. Dan Elang pun melenggang puas. Sementara, beberapa ekor Pipit di sarangnya, pasti masih menunggu induknya pulang membawa makanan. Anak-anak Pipit itu tidak tahu mereka telah kehilangan induknya lantaran seekor Elang, yang lebih kuat sedang ingin memangsa mahluk yang lemah. &lt;br /&gt;Ada keprihatinan yang tiba-tiba melintas. Serangan Elang terhadap induk burung pipit, tak ubahnya seperti kenyataan hidup di kampungku. &lt;br /&gt;Aku ingat Mang Likin, seorang abang becak di kampungku, yang masuk rumah sakit karena dikeroyok lima oknum polisi. Perkaranya sepele, karena becaknya tidak memiliki SIM yang diatur Perda Nomor 39 Tahun 2002. Mang Likin rupanya sudah ditegur beberapa kali tapi tetap tak juga mengurus SIM. Pada suatu malam naas, oknum polisi yang merasa dikerjain Mang Likin itu lepas kendali dan memanggil empat temannya untuk memberi pelajaran versi mereka kepada Mang Likin. Begitulah cerita Pak Lurah kepada istri dan anak Mang Likin.&lt;br /&gt;Dan belum sempat sembuh total dari sakitnya, surat tagihan rumah sakit dan denda lima juta rupiah harus ditanggung Mang Likin. Karena tak mampu, terpaksa Mang Likin menebus dengan penjara 3 bulan. Istri dan kedua anaknya, kini harus mencari hidup sendiri, sambil menunggu Mang Likin bebas dari penjara. Kelima polisi yang mengeoroyok Mang Likin masih kulihat lalu lalang seperti biasa di pos polisi. &lt;br /&gt;Aku kembali melangkah. Matahari sudah ada diatas kepala.&lt;br /&gt;Berarti, setengah hari lagi, aku akan segera sampai. Aku akan temukan ketenangan disana. Crus! Crus! Beberapa kali, aku harus memangkas ranting-ranting pohon. Aku percepat langkahku, saat di lembah lereng, mataku menatap aliran sungai. Aku makin bergegas untuk membasahi badan, bayang-bayang kesegaran memanggilku buru-buru. &lt;br /&gt;Belum lagi aku sempat mencelupkan tangan ke dalam sungai, kulihat seekor buaya melintas. Aku melompat. Aku tidak ingin mati konyol hanya gara-gara buaya. Aku berhenti di tengah sungai, menyamar menjadi balok kayu. Lama aku duduk di tepi sungai menunggu buaya itu pergi.  Tapi, aku merasa matahari sudah bergerak sedikit ke arah Barat dan buaya itu tetap disitu. &lt;br /&gt;Menjelang maghrib, sekelompok rusa muncul dari semak-semak. Mereka bergerombol. Sepertinya mereka hendak minum ke sungai. Aku masih menatap ke arah buaya, yang masih pura-pura diam di tengah sungai. Ratusan rusa yang tak tahu kalau buaya sedang menunggu mangsa. &lt;br /&gt;Byur! Pyak! Pyak! Slep!, gerakan cepat buaya tak diduga oleh rusa. Seekor rusa disantap oleh buaya. Ratusan rusa lainnya lari menjauh dari sungai dan diam berdiri menyaksikan seekor teman mereka dimangsa buaya. Tak ada perlawanan.&lt;br /&gt;Lagi, sebuah kesewenang-wenangan penguasa air memunculkan ketakutan kepada rusa dan juga aku yang ikut terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkenang Mak Ijah, tukang jual sayur di pajak sore dekat terminal. Dia menjual kangkung dan tomat dari hasil kebun di halaman belakangnya, jadi bukan kelas pedagang sayur yang punya modal untuk sewa kios. Anaknya lima, dua sudah putus sekolah setamat SD dan yang sulung jadi kenek angkutan kota sedang yang nomor dua kerja tukang parkir di Rumah Pemotongan Hewan. Tiga lagi, waktu itu sekitar satu tahun lalu, masih sekolah.&lt;br /&gt;Suatu hari Mak Ijah, yang jualan di atas selembar tikar ditabrak Toyota Land Cruiser  yang membanting stir ke kiri karena ada motor yang nyelonong dari arah depan. Mak Ijah terserempet badan mobil bagian belakang dan kakinya patah. Satu bulan Mak Ijah tak bisa kerja menunggu kakinya pulih dan supir Toyota Land Cruiser ngotot tidak mau mengganti uang pengobatan atau uang ganti rugi karena Mak Ijah jualan di bagian jalan raya, bukan di kaki lima. &lt;br /&gt;Polisi membenarkan supir itu -aku dengar-dengar karena supir merasa lebih untung menyogok 100 ribu kepada polisi daripada membayar uang pengobatan dan ganti rugi sebesar 500 ribu. &lt;br /&gt;Setelah Mak Ijah sembuh, dia tak bisa lagi jualan sayur karena halaman belakangnya sudah dijual untuk pengobatan dan biaya hidup selama tidak bekerja. Sekarang ketiga anak Mak Ijah putus sekolah dan membantunya mengangkati beras di pasar. &lt;br /&gt;Aku lihat langit yang mulai malam dan wajah ketiga anak Mak Ijah meliuk-liuk di antara bintang. Tak terasa malam mulai menjelang. Suara binatang sahut-sahutan terdengar. Sementara, mataku sudah berat setelah seharian berjalan tanpa memejamkan mata sedetikpun. Rasa kantuk tak tertahan. Aku terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah auman Singa membangunkanku dari tidur. Aku cepat-cepat beringkas. Jangan-jangan, Singa sudah mengintaiku. Aku masuk berlindung ke dalam semak-semak dan mengintip. &lt;br /&gt;Auww! Gludug! Gludug! Auwww! Aku lihat seekor singa tiba-tiba berguling-guling.&lt;br /&gt;Kedua kakinya seperti mengorek-ngorek telinganya. Beberapa kali, Singa itu terguling-guling. Ada sesuatu yang sepertinya sedang ditahan dalam telinganya. Singa itu terguling-guling terus sekian lama tak jauh dari tempatku bersembunyi. &lt;br /&gt;Lambat laun ia melemah dan terguling tanpa daya. Sesaat kemudian, Singa itu tak bergerak lagi dan burung-burung pemangsa bangkai sudah mengitarinya. Aku lempar sepotong kayu ke Singa itu dan tetap tidak ada gerakan. Aku coba mendekat perlahan-lahan. Singa itu masih tetap tak bergerak. Aku makin berani mendekat dan kulihat sebuah luka menganga di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam telinganya jutaan semut merah sedang berpestapora, seakan sedang merayakan kemenangan. Semut dan burung pemakan bangkai saling berbagi. Raja hutan ini menjadi santapan burung pemakan bangkai setelah dikeroyok jutaan semut merah. &lt;br /&gt;Aku korek-korek benak kenanganku, mencari-cari apakah aku pernah menyaksikannya yang seperti ini di dunia manusia. Sempat terlintas peristiwa Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, tapi cepat-cepat aku buang jauh-jauh kenangan itu. Aku ragu apakah memang ribuan mahasiswa memang berhasil menjatuhkan seorang raja lalim atau hanya menganti raja lalim yang satu dengan raja lalim yang lain. Entahlah. &lt;br /&gt;Gelap masih menyelubung dan aku duduk tak jauh dari burung bangkai yang bersantap malam. Aku mengenang kembali Mang Likin yang dikeroyok lima polisi, Mak Ijah dan tiga anaknya yang mengangkat beras di pasar, burung Pipit yang disambar Elang, dan rusa yang dimangsa buaya. Aku juga mengenang semut-semut merah di kuping Singa, dan juga di kampungku. &lt;br /&gt;Sinar matahari pagi mulai menyebar di ufuk Timur dan aku beranjak pulang dengan kaki ringan. Rasa lelah tadi malam hilang begitu saja dimakan semangat untuk mengabarkan kepada orang-orang di kampungku tentang semut-semut merah yang perkasa.&lt;br /&gt;Selepas magrib aku memasuki rumahku diam-diam dan ketiga perempuanku terhentak, seperti melihatku bangkit dari liang kubur. Aku melempar senyum bahagia kepada mereka. &lt;br /&gt;"Ibu, Non  dan Kau Hay, sampaikan kepada semua perempuan di kampung ini untuk tidak pernah berhenti melawan kesewenangan. Kita lemah jika berdiri sendirian tapi kokoh jika bersatu."&lt;br /&gt;"Tapi kita perlu pemimpin," potong ibuku.&lt;br /&gt;  "Ini," Kataku menunjuk perut  Hay yang sebentar lagi melahirkan seorang bayi.  “Dari janin-janin yang bersih inilah, kita akan mencapai perubahan," kataku amat yakin. "Aku mau keliling kampung," Tambahku memutus keterpanaan mereka. &lt;br /&gt;Di benakku terlintas istri Mang Likin di rumahnya berlantai tanah yang sempit, Mak Ijah yang mengumpulkan tumpahan beras di pasar untuk makan malamnya, dan semut-semut kampung lainnya. &lt;br /&gt;Pulang keliling kampung, kutemui tiga perempuanku berdzikir. Aku berjinjit perlahan-lahan, mendengar keinginan ibu agar aku segera menikah. Keyakinanku akan semut-semut merah yang perkasa jadi berkurang sedikit, tapi aku sudah terlalu lelah dan menyelinap ke kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Demang Lebar Daun - Palembang, 26 Mei 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://uangpanas.com/?id=imronsumsel"&gt;&lt;img src="http://img89.imageshack.us/img89/5904/logo125x125fn7.gif" alt="lowongan kerja di rumah" width="125" height="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://uangpanas.com/script/popundermember.php/?id=imronsumsel"&gt;&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4215600486413891280-2501945663970795094?l=sastramusi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastramusi.blogspot.com/feeds/2501945663970795094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4215600486413891280&amp;postID=2501945663970795094&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2501945663970795094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4215600486413891280/posts/default/2501945663970795094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastramusi.blogspot.com/2010/01/nyanyian-hutan-perawan.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Nyanyian Hutan Perawan&lt;/span&gt;'/><author><name>IMRON SUPRIYADI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/Sg8ZDM9zW2I/AAAAAAAAABc/_DK5IFSeLLE/S220/imron-02.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0topAdyk5I/AAAAAAAAAFw/0ereJdBkDss/s72-c/forest12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4215600486413891280.post-6410041276726629248</id><published>2010-01-11T09:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T09:55:23.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Parodi Surat Pembaca </title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen Imron Supriyadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0tl5lPy9CI/AAAAAAAAAFI/I5svBzPQ4gg/s1600-h/battala_lagi_tiarap-resize.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 243px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k1UtbUxYoMs/S0tl5lPy9CI/AAAAAAAAAFI/I5svBzPQ4gg/s320/battala_lagi_tiarap-resize.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425542216023208994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Budi, salah seorang wartawan teman dekatku di Palembang, tiba-tiba uring-uringan. Dari wajahnya, sepertinya, kawanku itu benar-benar marah. Sekalipun gaya marah Budi memang tidak seperti marahnya seorang redaktur kepada Kepala Humas, yang lalai memberi amplop seusai jumpa pers. &lt;br /&gt;Marahnya Budi biasanya terlihat biasa-biasa saja, sama seperti marah-marah sebelumnya. Semula, aku tidak mau tahu dengan sikap Budi. Aku tahu persis cara marah Budi. Paling-paling beberapa menit. Sudah itu sudah. Menit ini kesal, maka beberapa menit kemudian sudah kembali normal. Seperti marahnya orang yang antri di depan WC hanya lantaran kebelet buang air besar. Marahnya hanya ketika menahan ledakan bom isi perut saja. Setelah dapat giliran, maka sekeluarnya dari WC&lt;br /&gt;pasti akan lebih ramah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku merasa marahnya Budi terasa agak lain. Biasanya dia marah meledak-ledak, mencaci-maki, membanting pintu, menghantam meja, tapi matanya tetap lembut mengalirkan kesegaran hidup. Kali ini sorot matanya memerah dan amat tajam menusuk ke ulu hati orang-orang, dan dia juga lebih banyak diam daripada mencaci-maki. Dia menutup pintu seperti biasa, dia menggeser kursi seperti seorang pembersih yang mau menyapu kolong meja, dia juga tak banyak cakap seperti biasanya. Terus aku sempat pula mendengar dia menyatakan ''aku sedang marah,'' dan bukannya mencaci maki sumber kemarahan. &lt;br /&gt;Aku yakin ini marah serius, dan aku yakin dia bisa mencabik-cabik jantung dan hati si sumber kemarahan dengan matanya yang tajam dan liar itu. Jadi aku harus mencari tahu sumber kekesalan Budi -sekaligus mencegah sebuah pembunuhan dan mencegah Budi menghabiskan tahun-tahunnya di penjara. Mataku tertancap pada sebuah nama Budi di dalam kolom surat pembaca, lengkap dengan identitasnya. Dari gaya bahasanya, aku makin yakin komentar itu kiriman Budi, teman dekatku itu. &lt;br /&gt;Aku tercenung heran. Gaya bahasa sebagus itu kok masuk dalam surat pembaca. Isinya pun bagus, menurutku. Ia menyimpulkan konflik politik antara DPR dan Presiden dengan menohok. "Era euphoria yang ditinggalkan kepemimpinan Habibie benar-benar cuma menjadi wajah dari praktek demokrasi jaman city-state orang-orang Yunani pada abad ke lima Sebelum Masehi. Bedanya orang Yunani berdebat untuk kepentingan rakyat, sedang di Indonesia, di abad 21, legislative dan eksekutif berdebat hanya untuk berdebat. Tak ada yang substantif, atau tepatnya asal omong keras…" begitulah salah satu paragrafnya. Aku bingung; masak sih Budi serendah itu menghargai tulisannya --yang cukup lumayan bagus-- jadi surat pembaca. Bukannya surat pembaca tak bernilai, tapi jelas motif surat pembaca lebih pribadi, sedangkan dalam tulisan Budi aku menangkap motif kepentingan demokratisasi, kepentingan khalayak umum. &lt;br /&gt;Nggak mungkin, pikirku. "Atau jangan-jangan…," aku mulai menerka-nerka. Begitu aku ketemu, langsung aku tembak. "Tulisanmu bagus." &lt;br /&gt;"Itulah, Coi, yang namanya taik kucing!", balasnya tanpa meledak-ledak. Sorot matanya yang memerah tajam ia lempar ke samping -tentu dia tidak mau membunuh seorang teman dekatnya. &lt;br /&gt;Berhasil pancinganku. Berarti, surat pembaca itu yang menjadi sumber kemarahan Budi. Tapi kenapa mesti marah. Aku pancing lagi dia. &lt;br /&gt;"Tulisan ini opini, bukan surat pembaca. Eh, tahunya dimuat jadi surat pembaca. Tai kucing nian!" Suaranya mulai naik satu oktaf, tapi mata yang merah dan tajam itu tetap tidak dia arahkan padaku. Artinya tidak ada masalah kalau aku teruskan penyelidikanku; dia tidak mungkin akan membunuhku dengan sorot matanya. &lt;br /&gt;Aku lepaskan tawaku. "Ya kalau tulisanmu tidak laik jadi opini, sudah baguslah dimuat jadi surat pembaca!" &lt;br /&gt;"Alaah, semua sudah tahu, Coi. Mana ada Surat pembaca sepanjang itu. Tulisanku itu ukuran opini, bukan surat pembaca! Lagi pula, di ujung kiri atas juga sudah jelas, aku tulis, Opini, bukan Surat pembaca. Masak sih, redakturnya nggak baca!" &lt;br /&gt;"Ya, protes saja ke sana! Tanyakan, kenapa tulisanmu jadi surat pembaca". &lt;br /&gt;Budi terdiam. Aku menangkap getaran rasa malu Budi pagi itu. Dia tampaknya merasa singkuh, tak enak hati, kalau sampai harus memprotes tulisannya. Aku bayangkan dia memprotes, berhasil, lantas pulang dari aksi protes dia dapat 35 ribu rupiah, sebagai honor tulisan opini, bukan surat pembaca yang gratisan. Dan Budi memang tidak sampai protes. Mungkin kalau dia protes, mukanya pasti digambar oleh redaktur opini seharga 35 ribu rupiah. Syukurlah Budi bukan wajah 35 ribu-an. &lt;br /&gt;Tapi aku tahu soal itu masih mengganjalnya. Beberapa hari kemudian matanya masih merah dan masih tajam, walau tidak liar lagi. Dia tampak sudah sepenuhnya bisa mengendalikan sorot mata itu. Aku pun lebih berani mengganggunya, "Ada Departemen Komunikasi dan Informasi di kabinet baru, masa kau biarkan saja lewat. Tulislah." &lt;br /&gt;"Ah nanti dijadikan pula iklan ucapan selamat atas Menteri Komunikasi dan Informasi," katanya sinis. Jadi masih ada yang mengganjal, cuma tak ada saluran. &lt;br /&gt;Satu minggu kemudian, Budi bertemu dengan redaktur opini sumber masalah. Serunya, tak hanya si redaktur saja yang hadir, juga pemimpin redaksi. Acaranya seminar Kabinet Gotong Royong dan Kebebasan Pers. Semua petinggi pers, wartawan dan para kepala humas berserta antek-anteknya hadir lengkap. Dari awal aku langsung duduk menjauh dari Budi supaya bisa mengamatinya dengan cermat. Aku lihat dia gelisah terus, bukannya memperhatikan pembicara di depan. Dan ini membuat aku juga jadi tidak mendengar serius karena makin serius mengamati Budi. &lt;br /&gt;Usai rehat kopi, Aku terus menguntit ulah Budi. Matanya masih merah dan tajam, tapi aku sudah amat yakin dia bisa mengendalikannya tanpa harus mencabik-cabik jantung dan hati si redaktur opini. Ia terus mengincar gerak-gerik redaktur. &lt;br /&gt;Namanya redaktur tidak bermutu, begitulah kesanku, dia nempel terus sama pemimpin redaksi. Ini tipe redaktur tukang jilat. Acara seminar di luar kantor malah nempel sama pemimpin redaksi, bukannya ngobrol sama orang-orang lain. Akupun jadi agak paham kenapa opini Budi terdampar jadi surat pembaca. &lt;br /&gt;Kebodohan akan selalu menghasilkan penjilatan dan kekeliruan, atau penjilatan dan kekeliruan akan selalu menghasilkan kebodohan. Yang manapun sama saja, dan si redaktur opini ini adalah salah satu bukti nyatanya, yang hidup, bernafas, dan berkeringat bau tengik. &lt;br /&gt;Budi makin gelisah, karena si redaktur tak lepas dari pemimpin redaksi. Si redaktur bodoh itu --pengamatanku sudah membuat aku berani menyimpulkan dia memang bodoh dan tolol-- terus ngobrol dan tertawa lebar kalau pemimpin redaksinya tertawa. Tak ada kesan kalau redaktur menyadari kesalahan sedikitpun, sementara puluhan wartawan yang hadir di seminar itu sudah mendengar masalah Budi akibat kebodohan redaktur itu. "Ya, itu sama persis dengan monyet yang tidak bisa membedakan mana cermin dan mana loyang," kata seorang teman. &lt;br /&gt;Bagaimanapun kesabaran ada batasnya, begitulah kata orang bijak, dan aku lihat Budi meranjak ke meja depan. Kemarahan sudah hampir meledak, matanya semakin membulat merah dan tetap tajam -seperti bola api yang mau terlontar dari ketapel. Dengan gerakan halus aku mendekat juga sambil membawa salah satu makalah. Aku duduk tak terlalu jauh, supaya bisa mendengar dialog mereka, namun tidak terlalu dekat supaya tidak kentara. Ini ilmu spion Melayu jaman Orde Lama, tapi ternyata masih mujarab juga karena Budi, redaktur bodoh penjilat, dan pemimpin redaksi tampaknya tak merasakan pengamatanku. &lt;br /&gt;"Oi, kamu Bud?" Sapa sang redaktur dengan wajah tanpa dosa -orang-orang bodoh yang selalu merasa naïf tapi tolol. &lt;br /&gt;"Ya siapa lagi, memang aku," Budi menanggapi dingin. &lt;br /&gt;"Bagus tulisanmu yang minggu lalu itu," tukas sang redaktur memuji. &lt;br /&gt;Aku angkat kepalaku dari makalah yang sedang pura-pura kubaca dan terlihat seluruh permukaan wajah Budi merah menahan loncatan aliran darahnya naik ke kepala mau meledak. Budi makin marah, aku yakin. &lt;br /&gt;"Sorry, aku harus potong tulisanmu, makanya aku jadikan saja surat pembaca, bukan opini." &lt;br /&gt;"Tapi gaya dan kualitasnya masih opini, atau kalau mau dibuat surat pembaca, minta ijin dululah," kata Budi, jelas-jelas menantang. Aku tak tahu lagi apa yang sedang aku baca dan aku siap-siap melompat ke arah mereka untuk mencegah pembunuhan, persisnya untuk menyelamatkan masa depan seorang teman -aku tak keberatan si redaktur opini itu mati, tapi biarlah orang lain yang mencincangnya. Suara Budi benar-benar sudah matang untuk terjun ke medan perang sekalipun. &lt;br /&gt;"Saya minta maaf, dik. Tulisanmu bukan masuk dalam artikel, tapi masuk di surat pembaca," pemimpin redaksi masuk menenangkan ketegangan. &lt;br /&gt;Budi berkerut kening. Aku yakin mata Budi berkata 'Bodoh kali kau!' &lt;br /&gt;"Sekali lagi, kami minta maaf, dik," kata pemimpin redaksi, tenang tapi otoritatif. Aku intip si redaktur sudah diam saja mengamini apa kata pemimpin redaksinya. Dasar bodoh, pikirku sambil merenggangkan kembali persiapanku untuk menarik Budi keluar dari insiden pembunuhan. &lt;br /&gt;"Sebenarnya, tulisan itu sudah mau masuk ke opini...," kata si redaktur, tapi belum selesai ia sudah dipotong sama Pemimpin Redaksi. &lt;br /&gt;"Bung Budi kan tahu, sejak beberapa harian ibukota cetak jarak jauh di Palembang, tiras kita menurun. Jadi perlu mengurangi pengeluaran dana operasional, makanya ada kebijakan untuk mengalihkan opini ke surat pembaca. Tulisan Bung Budi dimuat, tetapi dalam surat pembaca. Nggak apa-apa kan? Selama dimuatkan pesannya sampai kepada pembaca. Saya pikir, itu yang lebih esensial. Bukan begitu, Bung?" &lt;br /&gt;Budi mengerutkan kening, tapi tetap dingin. ''Itu persoalan intern perusahaan anda, yang mungkin saya bisa mengerti jika sebelumnya dijelaskan. Persoalan sekarang ini adalah kesemena-menaan mengubah opini menjadi surat pembaca. Kalau sejak awal saya diberitahu, pasti saya akan menolak perubahan itu, dan itu hak saya, hak seorang penulis. Kalau anda bekerja di bidang pers, pertama-tama anda harus memahami hal itu atau lebih baik buka kompleks pelacuran saja.'' &lt;br /&gt;Di dalam hati aku acungkan keempat jempolku untuk Budi, sambil tersenyum ikut menikmati kemenangan Budi. Para pemimpin redaksi dan redaktur memang orang-orang yang perlu diberi pelajaran bahwa kekuasaan pada akhirnya di tangan penulis, bukan di tangan redaktur atau pemimpin redaksi. Kekuasaan bukan pada lembaran 35 ribu perak, tapi sepenuhnya berada pada sisi kreatifitas. &lt;br /&gt;Di depan Budi, baik si redaktur bodoh dan pemimpin redaksi -yang terkena pukulan KO itu-- seperti tak ada harganya. Aku pikir tema seminar Kabinet Gotong Royong dan Kebebasan Pers sebaiknya diganti dengan Kekuasaan 35 Ribu Perak Atau Kemurnian Kreatifitas. Pembicara utama si pemimpin redaksi, dan penanggap utama Budi, lantas redaktur opini cukup jadi notulen -karena dia tak punya otak selain bebas buta huruf. Aku penyelanggaranya sajalah. &lt;br /&gt;Kotbah Budi tentang hak penulis betul-betul menohok keduanya. Memang tak jelas apakah karena keduanya benar-benar sudah sadar akan kesalahan cara pandang mereka atau cuma sekedar takut  sama Budi. Maklumlah Budi sudah tergolong wartawan senior, yang di atas kertas bisa mengguncang dengan berita-berita investigasinya. Dan pengaruh Budi bukan hanya lokal Palembang tapi juga nasional, karena dia sering jadi tempat bertanya dari para petinggi pers raksasa di Jakarta. Bahkan semua orang tahu ketika pegiat Article 19 dari London dan Human Rights Watch dari New York datang ke Palembang, Budilah orang pertama yang mereka temui untuk mengumpulkan pelor, sebelum menyerang habis para pejabat sipil dan militer dalam soal pengekangan pers dan intimidasi terhadap wartawan. &lt;br /&gt;Wajar kalau aku meragukan apakah redaktur goblok dan pemimpin redaksi memang memakan bulat-bulat inti pernyataan Budi atau cuma karena sekedar takut. Aku intip keduanya terdiam persis seperti anak kelas tiga SD yang dimarahi Kepala Sekolah karena tertangkap basah mengintip WC anak perempuan. Takut, tapi sekaligus mengakui kesalahan dan juga menyadari kalau kesalahan mereka itu tergolong hina. Si redaktur takut dicopot dari jabatannya, si pemimpin redaksi&lt;br /&g
